
Nadin dengan cepat menyelesaikan mandinya, setelah
mandi, ia kembali di bingung kan dengan pakaiannya, ada banyak tanda kepemilikan
di leher dan dadanya.
Astaga …, aku harus pakai baju yang bagaimana ini …., dia benar-benar ingin
mengurungku seharian di rumah …..
Nadin memilah baju yang bisa untuk di gunakan menutupi bagian lehernya, sebuah baju dengan lengan panjang menjadi pilihannya, ia tidak bisa mengenakan kaos tanpa kancing di depan karena ia harus menyusui, akhirnya ia mengenakan kaos lengan panjang dengan kancing di bagian depan, tapi nyatanya lehernya masih terbuka.
“Harus aku tutupi bagaimana lagi ini?” keluh Nadin, ia mendesah, menghembuskan nafas kasarnya berharap bisa mendapatkan solusinya.
Mata Nadin menatap sebuah syal yang tergantung di samping jaketnya. Akhirnya
Nadin mengambil syal itu dan melilitkannya di lehernya.
Setelah selesai, ia pun segera keluar dari kamar
untuk menemui baby El dan ternyata Rendi sudah siap di meja makan dengan
berbagai makanan yang tersaji di atas meja. Baby El juga di letakkan di tempat
duduknya, entah dapat tempat duduk bayi dari mana lagi pria itu, seolah-olah
semua bartang-barang datang dengan sendirinya.
“baby El belum boleh duduk!” teriak Nadin. Membuat Rendi menoleh padanya.
“Aku tidak mendudukkannya sayang …, lihat baby El tiduran!”
Setelah memastikannya, Nadin bernafas lega. Bayi berusia tiga bulan mana bisa duduk. Ternyata kursi itu bisa di luruskan seperti
tempat tidur bayi.
“Tuh boy …, bunda sudah keluar, kita sarapan
sayang!” rendi berdiri dan menggeserkan sebuah kursi untuk Nadin. Nadin pun
hanya terus menurut, dia masih dalam mode terkejut seperti biasanya.
“Sayang …, makan yang banyak ya, kamu pasti lapar karena olah raga kita tadi malam!”
Rendi dengan cekatan mengambilkan makanan untuk Nadin dengan berbagia lauk dan sayur.
“Kamu butuh banyak nutrisi untuk menyusui putra kita, jadi makan yang banyak ya!”
Sedangklan nadin hanya bisa terdiam, ia pasrah
dengan segala kelakuan aneh Rendi hari ini.
“Mau aku suapi?” Tanya Rendi lagi sambil mengedipkan matanya.
“Nggak perlu!” Nadin pun dengan cepat melahap
makanannya sebelum pria itu melakukan hal aneh lagi. Berbuat romantic dan
perhatian bukan kebiasaan dari pria dingin itu.
Tok tok tok
Belum benar-benar habis mekanan Nadin, pintu
rumahnya sudah di ketuk membuat Nadin menghentikan makannya.
“Siapa sih pagi-pagi bertamu?” keluh Nadin, ia pun
berdiri dan menuju ke depan untuk membukakan pintu.
“Alex!”
“Pagi Nad ….! Mana baby El?” Tanya Alex sambil
celingukan, mengedarkan pandangannya.
“Baby El sama ayahnya!’ ucap Rendi yang tiba-tiba
nongol dari dalam membuat hati Alex mencelus.
Rendi segera berdiri di belakang nadin dan
mengaitkan tangannya di pinggang Nadin.
“Suruh masuk sayang temannya!” ucap Rendi dengan
senyum yang sungguh terlihat begitu aneh membuat Nadin tak mampu mengelak.
“Ma-masuk Lex!”
Saat hendak menjawab permintaan nadin, Alex kembali
di kejutkan dengan beberapa tanda kepemilikan yang menghiasi leher jenjang
Nadin. Hati Alex seketika patah saat itu juga.
“Tidak perlu, sepertinya saya sudah tidak ada urusan
lagi di sini, kalau begitu saya permisi!”
Alex berbicara begitu formal tidak seperti biasanya
lalu pergi begitu saja membuat Nadin merasa tidak enak, Nadin hendak mengejar
Alex tapi segera di tahan oleh Rendi.
“Lex …, Alex …, tunggu!”
“Biarkan dia pergi! Aku tak butuh orang ke tiga atau
ke empat atau ke lima untuk keluarga kita!” ucap Rendi tegas sambil menahan
tangan nadin agar tidak menyusul Alex.
Alex meninggalkan rumah Nadin dengan luka yang
besar, dengan luka yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Berharap memiliki
milik orang lain adalah sebuah kesalahan besar.
Nadin hanya bisa menatap kepergian Alex tanpa mampu
mencegahnya, itu sebenarnya yang ia mau, bisa lepas dari pria itu. Berada di
dekat pria itu membuatnya semakin merasa bersalah karena terus membayangi hidup
“Apa sangat berat melepaskan pria itu?” Tanya Rendi
saat melihat Nadin terlihat begitu terluka dengan kepergian Alex.
“Tidak, bukan itu!” ucap Nadin lalu ia kembali masuk
ke dalam rumahnya. Membersihkan meja makan yang tadi sempat ia tinggalkan, ia
sudah enggan untuk melanjutkan sarapannya, sedangkan Rendi hanya bisa terus
mengikuti setiap gerak Nadin dan meletakkan baby El di dalam kereta bayinya.
Nadin memasukkan makanan yang sudah tidak di makan
ke dalam kemari pendingin, dan mencuci piringnya. Ia sama sekali tidak
berkomentar. Rendi yang melihat Nadin tetap terdiam segera mendekati Nadin dan
memeluknya dari belakang.
“Apa kau marah?” Tanya Rendi sambil melingkarkan
tangannya di perut Nadin.
“Mas …, lepaskan! Ini tidak benar!” ucap Nadin
sambil menghentikan pekerjaannya.
“Apanya yang tidak benar? Semuanya benar, semuanya
telah kembali ke tempatnya! Kau dan baby El adalah milikku, jadi akan kembali
kepadaku!”
“Kau belum menjelaskan apapun padaku, mas!”
“Kita jalan-jalan dulu, nanti akan aku jelaskan
padamu, dandan yang cantik!” ucap Rendi sambil meninggalkan kecupan di tengkut
Nadin lalu melepaskan pelukannya dan kembali menghampiri baby El. Rendi memilih
keluar dari rumah Nadin dan menuju ke rumahnya sendiri, ia menemui Ajun yang
sudah siap di dalam rumah dengan berbagai berkas di depannya.
“Pagi pak!” sapa Ajun.
“Pagi, Ajun. Bagaiman apa semuanya sudah siap?”
“Sudah pak, kafe dan segala persiapannya sudah
mencapai 90%! Pak Rendi tinggal membawa ibu Nadin ke sana saja, keluarga di
Jakarta juga sudah siap, tuan Agra sendiri yang turun tangan mengkoordinasi
semuanya!”
“Bagus …, segeralah bersiap ke sana, aku akan
membawa Nadin ke tempat lain dulu!”
“Siapa pak!”
Setelah selesai urusannya dengan Ajun, Rendi pun
kembali ke rumah Nadin, hanya cukup lima langkah saja sudah sampai di rumah
Nadin, rumah sederhana yang begitu nyaman, rumah tempatnya kembali ke
pemiliknya, rumah yang memberi begitu banyak cinta untuknya.
Rendi bisa melihat istrinya itu sedang berdiri di
depan pintu, sepertinya wanita itu juga sedang menunggunya.
“Aku harus menyusui baby El!” ucap Nadin saat Rendi
sudah mendekat, Rendi pun segera menyerahkan baby El pada Nadin. Memang
semenjak bangun tidur nadin belum sempat menyusui Baby El, sepertinya baby El
terlalu senang karena bisa bersama dengan ayahnya sehingga membuatnya tak rewel.
Nadin duduk di sofa, ia memangku baby El hendak
menyusui. Tapi ekor matanya menangkap Rendi yang masih berdiri di depannya tak
juga beranjak.
“Bisa nggak mas pergi dulu, aku mau nyusui baby El!”
“Aku akan membantu!” si keras kepala itu malah duduk
di samping Nadin, membuat Nadin mendengus kesal.
“Bagaimana aku bisa menyusui El, mas. Kalau ada mas
di sini!” protes Nadin. Ia tidak terbiasa menyusui baby El di depan orang lain.
“Kenapa? Aku suamimu…, kita sudah melakukannya lagi
semalam, jadi jangan protes apapun lagi!”
Akhirnya Nadin pun menyerah, menyusui baby El di
depan Rendi. Walaupun sebenarnya malu, tapi setiap kali Nadin berusaha menutupi
dengan syall nya , Rendi selalu membukanya lagi sambil sesekali mengelus kepala
baby El.
Dasar keras kepala ….
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
tri.ani.5249
Happy Reading 😘😘😘😘