MY BLOCK OF ICE

MY BLOCK OF ICE
Bonschap 34 (Dini)



Dini pun akhirnya memutuskan untuk tidur di kamar tamu apartemen Ajun, bukan cuma gara-gara hukumannya, tapi ia juga merasa kasihan sama pria itu. Dia tidak bisa melakukan apapun sendiri gara-gara dirinya, dan takut jika sewaktu-waktu pria aneh itu menemukan tempat tinggal Ajun sedangkan Ajun dalam keadaan yang masih belum bisa melawan.


Gadis dengan kuncir kuda itu dengan lincahnya masuk ke dalam kamar yang katanya kamar tamu, memang sepertinya tidak seluas kamar utama walaupun Dini belum pernah masuk ke dalam kamar itu, pria kardus itu selalu mengunci kamarnya setiap kali meninggalkan kamar atau berada dalam kamar.


Langkah Dini terhenti saat melihat jendela lebar itu, dari sana ia bisa melihat indahnya kota Jakarta dengan lampu berbagai warna yang seperti sedang menari-nari indah di bawah gelapnya malam.


"Nggak sadar kalau view nya bagus banget ....!" bukannya menutup gorden transparan itu, Dini malah semakin membukanya.


Dini merentangkan tangannya, dan berjalan menuju balkon melewati jendela yang memang begitu rendah sehingga ia bebas melangkah. Dini merogoh ponselnya yang ia letakkan di saku celananya, dan membidikkan kamera ke sembarang arah agar dapat view yang benar-benar bagus.


Tapi kemudian kameranya mengarah pada kamar yang ada di seberang kamarnya, dari gorden yang menutupi jendela itu ia masih bisa melihat dengan jelas bayangan pria yang ada fi dalamnya.


"Walaupun dari kegelapan gini, kalau udah ganteng tetep aja bayangannya ganteng!" gumam Dini sambil tersenyum, ia membidikkan kameranya dan menemukan berbagai pose pria itu.


"Ehh ...., ehhh ...., dia mau keluar!" ucap Dini dan dengan lincahnya Dini segera masuk ke dalam kamar dan menutup kembali gordennya. Ia segera pura-pura tidur.


Ajun ternyata juga melakukan hal yang sama, ia memang suka menikmati pemandangan malam dari balkon kamarnya, sesekali memperhatikan kamar yang sekarang tidak lagi kosong.


"Kenapa lampunya masih menyala, apa dia belum tidur!?" gumam Ajun, ia pun segera mengeluarkan ponselnya dan mengetikkan sebuah pesan.


//Cepetan tidur ...., awas kalau besok sampai bangun kesiangan, aku siram air dingin ....//


Ajun pun segera mengirim pesan itu pada Dini, Dini yang memang masih memainkan ponselnya sedikit terkejut.


"Kardus, ngapa-ngapain dia kirim pesan ke aku? Apa jangan-jangan dia tahu kalau aku sudah diam-diam fotoin dia?"


Dini pun segera membuka pesan itu,


"Dia benaran tahu kali ya?!"


Ajun yang melihat pesannya sudah berwarna biru, tapi Dini tidak juga membalasnya.


"Kenapa tidak di bales, dasar cewek aneh!"


//Kalau tidur matiin lampunya, aku nggak mau ya kamu di sini aku bayar lampunya dua kali lipat!!!!!!!!!!!!!!//


Melihat pesan masuk lagi, Dini pun kembali segera membukanya.


"Ihhh dasar perhitungan banget jadi cowok! Mana tanda serunya banyak banget ....!"


Dini pun segera meletakan ponselnya dan mematikan lampu kamarnya. Ia harus segera tidur kalau tidak mau kena omel sama si kardus.


***


Dini sepertinya lupa menghidupkan alarm, hingga ia keduluan Ajun bangunnya. Pria itu sudah siap dengan kaos olah raganya tapi kamar gadis kuncir kuda itu masih tertutup sempurna.


Ajun yang tidak sabar menunggu gadis itu bangun menghampirinya ke dalam kamar dan benar saja gadis itu masih asik di alam mimpi.


"Dasar pemalas ....!"


Ajun mengambil gelas yang berisi air di atas nakas tempat tidur, dan segera menyiramnya ke wajah Dini yang terlelap.


"Mama .......! Dini ngantuk jangan disiram!" ucap Dini dengan masih memejamkan matanya walaupun ia sudah terduduk.


"Pemalas ...., ini bukan rumah mama kamu ...!" ucap Ajun.


Dan Dini pun segera memicingkan matanya, menatap siapa yang sudah menyiramnya dnegan air, ia hampir lupa jika ia sedang di rumah Ajun.


"Kardus!"


"Hey kuncir kuda, ini udah jam berapa? Enak banget ya tidurnya?!"


"Emang sekarang jam berapa?"


"Jam lima?! Masih jam lima, kardussss!"


"Emang aku terima kos gratis, kamu di sini kerja jadi ikuti aturan aku, kamu sudah terlambat satu jam, masih kurang! Ayo cepetan bangun!"


Kenapa dia jadi cerewet banget sih ...., kayak mertua yang lagi ngambek aja .....


Dini pun sambil menggerutu segera bangun dan menuju ke dapur, ia harus membuatkan sarapan untuk pria itu.


Ajun sudah berada di ruang olah raganya, ia hanya melakukan olahraga ringan saja karena tangannya masih tidak bisa di gerakkan, butuh waktu dua minggu untuk sembuh itupun tidak boleh melakukan aktifitas yang berlebih.


Setelah selesai berolah raga, Ajun segera mandi dan membersihkan diri. Ia begitu kesusahan memakai bajunya, kemarin ia sampai mendatangkan anak buahnya untuk membantunya memakai baju.


"Terpaksa deh minta bantuan Si kuncir kuda!" gumam Ajun, ia hanya bisa memakai celana kolor nya saja.


Tapi sebelum itu ia harus menyingkirkan barang-barang yang tidak boleh dilihat oleh Dini, setelah memastikan kamarnya aman, ia pun segera memanggil Dini.


"Ada apa sih pagi-pagi udah teriak-teriak?" tanya Dini ketus saat mendongakkan kepalanya ke dalam kamar.


"Ups ....!" Dini segera menutup matanya dengan telapak tangannya saat melihat Ajun masih telanjang dada.


"Kenapa nggak pakek baju?" gerutu Dini.


"Bagaimana aku pakek baju kalau tanganku kayak gini!"


"Jadi maksudnya, tugas tambahannya bantu ki pakek baju juga!"


"Iya!"


Ahhhh dasar kardus ...., seneng sih tapi takut khilaf aja ....


"Cepetan sini!"


Dini pun perlahan masuk, ini pertama kalinya ia masuk ke dalam kamar itu, tidak ada yang aneh hanya kamar khas cowok dengan warna maskulin.


"Kamu beneran nggak takut kalau aku khilaf?" tanya Dini memastikan, ia sampai kesulitan menelan salivanya sendiri.


Ajun tersenyum tipis, "Memang kenapa? Nggak mau khilaf ...., lihat tubuhku berotot banget loh!" Ajun malah tambah menggoda Dini.


Bug


"Aughhhh .....!" pekik Ajun saat Dini dengan begitu keras memukul tangannya yang cidera.


"Ups ....., maaf-maaf ...., nggak sengaja! Siapa suruh godain orang!"


"Gila ...., kami benar-benar ya mau bikin tanganku nggak bisa di gunakan lagi nih ....!"


"Kan sudah aku bilang nggak Sengaja!"


"Ya udah cepetan pakek in baju aku!"


Dini pun melepas gendongan tangan Ajun dan segera mengambil kemeja yang sudah berada di atas tempat tidur dan perlahan mengenakannya di tubuh Ajun.


Bersambung


Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya


Follow Ig aku ya


tri.ani.5249


Happy Reading 🥰🥰🥰