
Tok tok tok
Tiba-tiba terdengar suara ketukan dari luar. Wajah Ajun berubah panik hingga ia berdiri dari duduknya.
Bug
Hingga ia lupa jika Dini berada dalam pangkuannya. Dini terjatuh di antara kursi dan meja kerja Ajun. Ajun sudah berdiri dengan sigapnya.
"Aughhhhh ....!" keluh Dini sambil memegangi kepalanya yang terbentur meja. Ia hampir saja berdiri tapi Ajun segera menekan kepala Dini agar ia tetap berada di dalam setelah tahu siapa ya masuk ke dalam ruangannya.
Ceklek
"Pak Rendi!" ucap Ajun. Ia berusaha bersikap setenang mungkin saat Rendi mendekat padanya. Tapi tangan Ajun tetap berada di kepala Dini dan menahannya agar tidak keluar.
Tetap diam di sana ...., jangan sampek pak Rendi melihat Dini di sini ...., batin Ajun sambil terus tersenyum pada bosnya itu.
Dini yang mendengar Ajun menyebut nama Rendi, menjadi sangat merasa cemas.
Pak Rendi ....., gumam Dini dengan hanya menggerakkan bibirnya, ia tidak berani mengeluarkan suara. Ia semakin menyembunyikan dirinya apalagi tangan Ajun sengaja menekan kepala Dini agar tidak muncul dan terlihat oleh Rendi.
Tapi karena posisinya sedang dalam posisi yang kurang tepat, kakinya masih tertekuk dan sedikit sakit membuat Dini sulit dalam posisinya hingga kepalanya beberapa kali menyendul junior Ajun hingga membuat Ajun beberapa kali mengerang.
Issshhhh ...., apa-apaan sih si kuncir kuda ini ...., bisa-bisanya ia bergerak terus seperti ini, tidak tahu apa yang sedang ia sendul ini bisa menerkamnya ...., batin Ajun sambil beberapa kali menyeka keringatnya.
"Pagi Ajun, nanti aku ada acara bersama menteri luar negri! Kamu bisa kan gantikan saya meeting dengan para pengelola lapangan!" ucap Rendi setelah sekian menit mengamati ruangan anak buahnya itu.
"Ba-baik pak!" ucap Ajun dengan suara yang sedikit bergetar. Ia benar-benar dalam masalah besar hari ini.
Rendi sudah hampir meninggalkannya tapi kembali berbalik, "oh iya ....!" ucap Rendi kembali sambil menoleh ke Ajun dan memperhatikan wajah Ajun.
"Iya pak, ada apa?" Ajun berusaha bersikap normal walaupun di bawah sana dia sedang protes ingin keluar, rasanya celananya terasa lebih sempit sekarang.
Rendi merasa curiga karena Ajun terlihat gugup tidak seperti biasanya.
"Kamu tidak sedang sakit kan?" tanya Rendi menyelidiki karena melihat wajah Ajun yang terlihat pucat dengan keringat yang tampak menyembul di wajahnya.
"Tidak pak!" jawab Ajun dengan pasti.
"Tapi kamu terlihat gugup, dan itu ..., kenapa keringetan seperti itu?"
Mendengarkan pertanyaan dari Rendi, Ajun berusaha keras untuk mencari alasan. Kemudian ia teringat dengan AC yang beberapa hari rusak dan teknisinya belum juga datang.
"Tidak pa pa pak, mungkin memang AC nya tidak terlalu berfungsi dengan baik!"
"Oh ....! Mungkin kamu sudah lama tidak olah raga fisik! Lakukan latihan fisik jika tanganmu sudah sembuh!"
"Baik pak!"
Saat ini saja rasanya pengen banget olah raga fisik .....
Rendi pun meninggalkan ruangan itu, Ajun bisa bernafas lega dengan menghembuskan nafasnya begitu dalam dan kembali duduk di tempat duduknya tapi tetap saja juniornya tidak bisa duduk dengan tenang.
Dini juga bisa lega, ia segera keluar dari persembunyiannya dengan berdiri diantara dua paha Ajun karena Ajun tidak juga beralih dari tempatnya.
"Kardus .....! Engap tahu di dalam!" protes Dini sambil berdiri tapi sayang posisinya kurang tepat karena saat ia berusaha berdiri tangannya berpegangan pada sesuatu.
"Aaaaaaaa ....!"
"Aaaaaaa .....!"
Teriak Ajun dan Dini bersamaan karena sama-sama terkejut. Ternyata tangan Dini memegang junior Ajun.
"Ajun kenapa itunya keras banget?" tanya Dini kesal.
"Astaga .....! Kamu ih ...., jorok banget sih!?"
"Itu bukan jorok, tapi aku pria yang normal! Kalau dia nggak bangun pas posisi kayak gitu berarti kamu perlu takut!"
"Kenapa?"
Ajun mendekatkan wajahnya pada Dini dan beralih ke daun telinganya.
"Kamu nggak akan bisa puas denganku!" bisik Ajun dan kemudian....
Cup
Meninggalkan kecupan di pipi Dini membuat Dini terpaku di tempatnya saat Ajun sudah kembali dengan pekerjaannya.
Tok tok tok
Seperti sebelumnya, Dini dan Ajun begitu panik. Dini kembali bersembunyi di bawah meja Ajun.
Ceklek
"Permisi pak Ajun, meeting nya sudah siap!" ucap wanita yang muncul dari balik pintu ternyata sekertaris Rendi.
"Iya, makasih ya Rani!"
"Sama-sama pak!"
Setelah wanita bernama Rani itu keluar dari ruangan Ajun, Dini kembali keluar dari dalam persembunyiannya.
"Karena aku mau meeting, jadi kamu tetap di sini!" ucap Ajun sambil kembali mengenakan jas nya yang menggantung di sandaran kursinya.
"Nggak mau! Aku pulang aja!" ucap Dini, ia sudah mengambil tasnya.
Melihat hal itu, Ajun segera meraih tangan Dini dan menekannya tubuh Dini di antara tubuhnya dan juga sofa.
"Ajun ....., lepasin!" ucap Dini sambil berusaha mendorong tubuh Ajun.
"Kalau nggak mau, berarti ikut aku meeting!" Ucap Ajun sambil membisik di telinga Dini.
Tapi Dini tersenyum dan berbalik berbisik pada Ajun, "Beneran nggak takut nih sama pak Rendi!"
"Tapi sayangnya Pak Rendi nggak ada di sana!" ucap Ajun sambil berdiri meninggalkan Dini dan merapikan kembali jasnya.
"Iiiiihhhhhh .....!" ucap Dini kesal sambil beralih ke posisi duduk dan menatap pria kardus itu.
"Baik-baik saja ya di sini, tunggu aku sampai kembali!" ucap Ajun dan segera berlalu meninggalkan Dini sendiri di dalam ruangannya.
Setelah kira-kira lima menit, Dini kembali berdiri dan menuju ke pintu itu. "Enak aja aku nggak boleh ke mana-mana!" ucap Dinj dengan penuh kemenangan.
Dini memutar kenop pintu beberapa kali tapi pintu itu tidak juga terbuka.
"Sial ....!" umpat Dini sambil menendang pintu itu, "Dia sengaja kunci'in aku di dalam lagi!"
Jangan takut untuk mengungkapkan rasa cinta itu, karena bisa jadi satu ungkapan bisa mengubah semuanya, Kadang memang pria itu terlalu gengsi untuk mengatakan cinta, ia hanya akan mengatakan jangan pergi. Jadi mengertilah wahai wanita, jika lelakimu mengatakan jangan pergi itu sama dengan Cinta~MBOI
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Happy Reading 🥰🥰🥰