MY BLOCK OF ICE

MY BLOCK OF ICE
Pesta



Mereka pun akhirnya berpamitan, dan menunggu di teras rumah, setelah setengah jam menunggu akhirnya mobil yang di tunggu-tunggu sudah datang.


Tapi kali ini Rendi tidak datang sendiri, ia bersama seseorang. Seseorang yang paling tidak di sukai oleh Davina. Dia adalah dr. Frans.


Rendi dan dr. Frans keluar dari mobil bersama-sama.


"Kenapa dokter Frans juga ikut?" gumam Davina.


Aku harap dia tidak akan mengacaukan rencanaku ....


"Hay .....!" sapa dr. Frans dengan senyum renyahnya.


"Hai pak dokter ....!" sapa Nadin, Nadin melirik pria es itu, tapi tak ada perubahan ekspresi. Rendi kembali masuk ke dalam mobil tanpa menunggu yang lain masuk.


Bisa nggak sih senyum sebentar ....., lalu kasih koment dengan penampilanku ...., dasar balok es ....!


Nadin pun segera berjalan menghampiri mobil di ikuti oleh Davina, awalnya Davina akan duduk di depan, tapi lagi-lagi dr. Frans sudah berhasil mencegahnya dan mengajaknya duduk di belakang.


Nadin kembali tersenyum saat sudah duduk di sampong Rendi.


"Hai ....!" sapa Nadin. Tapi Rendi tak menggubrisnya.


Dasar kaku .....


"Pak Rendi ....., pak Rendi tampan sekali .....!"


"Bisa diam ...?!" perintah Rendi sambil memasak sabuk pengamannya. "Pakai seathbelt mu ....!" perintah Rendi.


Nadin tampak kesusahan memasangnya, seathbelt nya seberti tersangkut hingga sulit untuk di tarik, Rendi yang menyadari hal itu, tiba-tiba Rendi mendekatkan tubuhnya pada Nadin.


Deg


Deg


Deg


Jantung Nadin serasa mengajak berdisko, Nadin memejamkan matanya, mencium aroma tubuh pria itu sedekat ini, membuatnya kehabisan oksigen.


Apa yang sedang kau lakukan balok es .... ,kau membuatku grogi ....


"Buka matamu ....!" perintah Rendi. Nadin enggan membuka matanya, karena ia masih bisa merasakan nafas Rendi begitu dekat.


"Ayo ...., buka matamu ...!"


Karena mendengar perintah Rendi yang kedua tampak lebih tegas, membuatnya mau tak mau membuka matanya. Tepat saat membuka matanya, ia menemukan mata Rendi di sana, matanya terkunci. Seperti memintanya untuk hanya menatap matanya.


"Apa ....?" tanya Nadin dengan suara yang tercekat di tenggorokan.


"Angkat bokongmu ....!"


"Hahhh ....?" Nadin gagal mencerna perintah Rendi.


"Seathbelt nya ...., sebagian talinya kau duduki ....!" ucap Rendi. Seketika wajah Nadin memerah karena menahan malu. Nadin pun dengan segera mengangkat tubuhnya hingga membuat jarak mereka semakin menipis.


Mata Rendi terus menatap Nadin, ia tak mengalihkan tatapannya sedetik pun. ia memasangkan seathbelt milik Nadin dengan perlahan.


"Kamu cantik ...!" ucap Rendi sedikit berbisik setelah selesai memasangkan seathbelt Nadin, seketika itu juga Nadin tak percaya dengan yang ia dengan. Saat ingin memastikan apa yang ia dengar, Rendi sudah lebih dulu berpindah ke tempatnya dan menyalakan mesin mobilnya.


**Astaga ...., apa aku salah dengar ....? Dia bilang aku cantik? Benarkah ......


Aaaahhhhh ......


Nadin tak hentinya memperhatikan Rendi yang sedang mengemudikan mobilnya. Ia sampai lupa jika di belakang ada penghuni lainnya.


Dr. Frans tetap dengan senyumnya, ia puas melihat pemandangan itu, setidaknya mungkin tak akan lama lagi sahabatnya itu akan segera berhenti melajang.


Sedangkan Davina, jangan tanya lagi. Dia pasti sudah seperti bola api yang siap meledak.


Setelah melakukan perjalanan selama setengah jam, akhirnya mobil memasuki gedung hotel berbintang.


Rendi menunjukkan undangan VVIP, jadi dia bebas membawa siapa saja, resepsionis mempersilahkan mereka masuk.


Di dalam gedung itu sudah begitu banyak tamu, acara baru saja di mulai. Kedatangan mereka langsung di sambut oleh seseorang yang sepertinya kerabat dari Rendi.


"Hai hai ...., apa aku tidak salah ...., ini Rendi kan ..., si sibuk ini sekarang datang ...."


Menanggapi hal itu, Rendi hanya tersenyum kaku.


"Hai Alex ...." sapa dr. Frans.


"Wahh Frans ...., senang kau juga bisa hadir, lalu siapa gadis-gadis ini?" tanya pria yang di panggil Alex itu saat melihat Nadin dan Davina.


"Oh ...mereka ...." belum sempat Dr. Frans melanjutkan, seseorang sudah lebih dulu memanggilnya.


Kedatangan Rendi benar-benar menjadi pusat perhatian. Banyak yang mengagumi penampilannya apalagi saat ini ia datang bukan hanya sendiri, ia membawa dua gadis sekaligus.


"*Putra pak Salman benar-benar luar biasa *ya ...."


"Iya ..., tampan dan mapan."


"Mana ya yang calonnya?"


"Iya ...., kedua gadis itu cantik..."


"Pasti salah satunya pasangan temannya ...!"


Banyak sekali yang mereka pertanyakan dari kedatangan Rendi. Tak berapa lama, Rendi dan Dr. Frans di hampiri oleh teman mereka yang sudah lama tidak bertemu. Akhirnya mereka pun meninggalkan Nadin Dan Davina.


"Bagaimana kalau kita makan saja kak ....!" ajak Nadin.


"Ayo ....!"


Mereka pun menuju ke tempat di sediakan berbagai jamuan untuk tamu.


Langkah Nadin terhenti saat melihat siapa yang sedang sibuk memilah makanan di sana.


"Kak Jerry .....!"


Pria dengan piring kecil di tangannya itu pun segera menoleh ke sumber suara.


"Nadin ...., kau di sini?" tanya Jerry tak percaya.


"Iya kak ...., di ajak pak Rendi, kak Jerry kok bisa di sini?" tanya Nadin balik.


"Ini acara nikahan temanku ....!"


"Wah ...., kebetulan sekali."


Mata Jerry kemudian tertuju pada gadis yang datang bersama dengan Nadin.


Nadin menyadari arah pandangan Jerry, ia pun segera angkat bicara.


"Oh ....iya ..., kenalkan kak, ini kakak baruku ..., namanya kak Davina!"


"Hah ...., kakak baru?"


"Iya ...., kak Davina ini putri dari saudara kembar ayah, karena saudara kembar ayah sudah meninggal, maka ayah mengambil alih tanggung jawabnya dengan menikah dengan ibu dari kak Davina."


"Oh ...., begitu ...., Kenalkan ..., aku Jerry. Teman sekaligus kakak buat Nadin."


"Hai salam kenal ....!" jawab Davina di huat semanis mungkin.


Mereka pun akhirnya mengambil tempat duduk dan makan bersama dalam satu meja, obrolan mereka tampak begitu menyenangkan, hingga memancing tatapan tajam pada pria yang berdiri jauh di sana.


Ya ...., Rendi sedari tadi tidak fokus dengan obrolannya bersama teman-teman nya, ia terusengawasi gerak gerik Nadi. Dr. Frans yang sedari tadi mengawasi arah pandang Rendi, ia tersenyjm senang.


Setelah mengobrol cukup lama dengan Nadin dan Davina, obrolan itu harus terhenti saat ponselnya berdering, menandakan ada sebuah panggilan.


"Aku terima telpon dulu ya ..." ucap Jerry sambil berlalu meninggalkan meja mereka.


"Apa kakak ada yang mau di makan lagi? biar aku ambilkan ....!" tanya Nadin menawarkan diri.


Davina tersenyum licik, seperti ada sesuatu yang sengaja ingin ia lakukan.


Ok ...., aku akan memberimu sedikit pelajaran.


Nadin segera berdiri dari duduknya, Davina mengikuti langkah Nadin dari belakang, ia dengan sengaja menarik rok tutu yang di kenakan Nadin hingga tutu itu sobek.


"Kak ...., apa yang kakak lakukan?" ucap Nadin begitu terkejut, kini Rok Nadin hanya meninggalkan lapisan dalam dari gaun itu, kain tipis yang hanya beberapa centi menutupi paha Nadin, hingga menampilkan paha Nadin yang putih bersih.


"Maaf aku tidak sengaja ....!" ucap Davina.


Semua mata menatap ke arah mereka, tak terkecualai Rendi dan dr. Frans. Begitu juga dengan Jerry yang masih dengan ponsel yang menempel di telinganya.


Wajah Nadin sudah memerah menahan malu, ia menjadi pusat perhatian ...., Pahanya yang mulus kini menjadi konsumsi publik. Nadin hanya terpaku dengan mata yang berkaca-kaca, menatap tak percaya dengan apa yang di lakukan Davina.


BERSAMBUNG


jangan lupa kasih dukungan ke Author dengan memberikan LIKE dan KOMENTARnya ya


Kasih Vote juga ya yang banyak


Terimakasih


Happy Reading 😘😘😘😘😘