
Akhirnya Dini hanya bisa ngeluh sepanjang jalan, bukannya ketemu gebetan malah kena apes dua kali. Ban bocor sama mecahin kaca manusia kardus.
"Mana udah dandan mehoy lagi ....!" keluh Dini yang sudah duduk di depan bengkel tambal ban, tangannya sedang sibuk memegangi kakinya yang lecet karena sepatu hak tingginya yang tinggal sebelah.
"Aduh ...., sakit ... !" keluhnya lagi saat melihat telapak kakinya ada yang lecet karena telanjang kaki sambil ndorong motor.
"Dini .....!" seseorang memanggil namanya membuatnya mendongakkan kepalanya.
Astaga ....., dia di sini ...., mana hancur lagi dandananku .....
Dini malah semakin menutupi wajahnya yang sudah acak kadut, pengen banget sembunyi di kolong kursi tapi nggak muat.
"Beneran Dini kan?" tanyanya lagi, dia adalah Juna. Yang datang di waktu yang tidak tepat.
ilfeel benaran nih bakalan sama aku .....
Karena tidak mungkin bersembunyi lagi akhirnya Dini terpaksa menunjukkan wajahnya dengan senyum yang penuh keterpaksaan.
"Hai Juna .....!"
"Ada apa di sini?" tanya Juna, jika melihat penampilan Dini yang memakai dress dan make up yabg tidak biasanya, pasti ada acara.
"Ban nya bocor!" akhirnya Dini terpaksa menunjuk sepeda motor metic nya yang masih di bongkar.
"Mau ke mana atau dari mana?"
Mau ke hati kamu .....
Melihat Dini hanya diam saja sambil senyum-senyum membuat Juna bingung, dia pun melambai-lambai kan tangannya di depan wajah Dini.
"Din ....., ada apa?"
Pertanyaan Juna berhasil membuyarkan lamunannya, ia sudah membayangkan cowok di depannya itu mengajaknya makan siang.
"Eh ...., tidak! Eh maksudku ..., aku mau pulang!"
"Bagaimana kalau aku antar saja, biar motornya di sini aja! Besok aku antar ke rumah kamu motornya!"
Sebenarnya seneng banget, tapi Dini tetaplah berlagak jual mahal, "Memang nggak ngrepotin?"
Enggak ....., enggak ...., engga .....
Dini benar-benar berharap pria tampan dan gagah di depannya itu menjawab enggak.
"Kebetulan sedang nggak ada acara! Bagaimana? Kalau keberatan nggak pa pa sih!"
"Enggak ....! Maksudnya nggak keberatan!" ucap Dini dengan senyum malunya karena hampir saja keceplosan.
"Ya udah ayo ....!"
Dini pun langsung berdiri, ia sampai lupa jika kakinya kini sedang terluka.
Aughhhh .....
Pekik Dini membuat Juna kembali menoleh pada Dini dan melihat kaki Dini yang memang berdarah.
"Kakimu berdarah!" Juna yang sudah memakai helm nya kembali ia lepaskan dan menghampiri Dini,
Juna berjongkok di depan Dini membuat Dini terkejut.
Dini pun segera memundurkan tubuhnya, "Tidak pa pa, berdirilah ....!"
"Tidak pa pa gimana, kakimu berdarah! Duduklah ....!" perintah Juna pada Dini, Dini pun akhirnya kembali duduk.
Juna kembali ke motornya dan mengambil air mineral yang selalu ia bawa kemana-mana. Ia kembali menghampiri Dini dan meminta Dini menyelonjorkan kakinya di atas paha Juna.
"Beneran nggak pa pa?" tanya Dini yang merasa tidak enak.
"Nggak pa pa! Ayo mana aku bersihkan!"
Dini pun akhirnya melakukan seperti apa yang di perintahkan oleh Juna.
Juna segera menuangkan air mineral itu ke kaki Dini yang terluka dan membersihkannya, lalu merogoh sakunya, ia mengambil sebuah sapu tangan dan membalut luka di kaki Dini dengan sapu tangan itu.
"Makasih ya!" ucap Dini saat Juna selesai merawat lukanya.
"Lain kali kalau ketemu sama aku jangan pas terluka lagi ya!" ucap Juna sambil mengusap puncak kepala Dini.
"Mana bisa!"
"Kenapa nggak bisa?"
"Karena kamu yang akan menyembuhkan setiap lukaku!"
"Anak kecil jangan belajar menggombal!" ucap Ajun sambil meninggalkan Dini menuju ke motornya.
"Ihhhh ...., siapa yang anak kecil, usiaku sudah dua puluh empat tahun, sudah matang untuk berumah tangga!"
Juna hanya tersenyum mendengarkan celotehan Dini,
"Sudah ...., ayo ....!"
***
Setelah melakukan perjalanan selama setengah jam akhirnya mereka pun sampai di depan tempat tinggal Dini, bukan rumah yang besar, tapi rumah itu ia cicil dengan hasil kerja kerasnya sendiri.
"Mau masuk dulu?"
"Lain kali saja ya!"
"Jadi masih ada lain kali?! Ups .....!!!" Dini segera membungkam mulutnya sendiri karena keceplosan.
Juna hanya tersenyum melihat kepolosan Dini, "Boleh kan kesini lagi?"
"Bolehhhh ....., boleh banget malah ...!"
"Syukurlah ...., ya sudah aku pergi dulu ya, moga kakinya cepet sembuh!"
Juna kembali mengenakan helmnya yang sempat di lepas tapi tidak turun dari motornya.
"Makasih ya, mas ... Juna!"
Juna senang di panggil mas oleh gadis bertubuh mungil itu.
"Bye ....!" Juna melambaikan tangannya sebelum meninggalkan rumah Dini.
***
Pagi ini Dini terlambat datang ke kafe karena ia harus pesan ojek on-line, motornya belum di ambil, ia berencana mengambil motornya sepulang dari kafe.
Walaupun kafe itu milik ayahnya tetap saja Dini harus bekerja keras. Ia di gaji seperti karyawan lainnya jika dia sering bolos maka gajinya juga akan di potong.
"Pagi mbak Dini!" sapa satpam yang kebetulan sedang bertugas.
"Pagi mas Je! Sudah rame ya?"
"Lumayan mbak!"
"Ya udah aku masuk dulu ya!"
Dini pun segera masuk ke dalam kafe dan mengganti bajunya dengan seragam kafe.
Mulai bekerja seperti karyawan lainnya, ia juga mencuci piring, mencuci gelas, meracik minuman seperti lainnya atau membantu chief yang sedang memasak.
Bedanya Dini hanya di beri waktu kerja pagi jam delapan pagi sampai jam empat sore.
Seperti yang di rencanakan, dia harus mengambil sepeda motornya dari pada besok naik ojek on-line lagi.
Ting
Saat Dini berdiri di depan kafe menunggu ojek on-line nya, ponselnya berbunyi menandakan ada pesan masuk.
Dini kembali merogoh tas kainnya dan mencari benda pipih itu.
Setelah ketemu, ia segera melihat siapa yang mengirim pesan untuknya.
"Mas Juna!"
Dini pun segera membukanya
//Aku ke rumah kamu mengembalikan motor, tapi kayaknya kamu nggak ada ya? Apa aku bawa pulang lagi aja ya motornya soalnya kalau aku tinggal takut ilang//
Dini pun segera mengirimkan jawabannya
//Sebenarnya aku udah mau pulang mas, tapi kalau mas Juna buru-buru! Nggak pa pa deh di tinggal//
Dan ternyata tanpa menunggu lama, ia kembali dapat balasan.
//Ya udah nggak pa pa deh aku tunggu dari pada balik lagi//
Dini begitu senang karena ngerasa di tungguin,
Tapi saat akan memasukkan ponselnya kembali, ada pesan yang belum sempat ia baca.
Dini sudah sempat menyimpan nomor pria ini,
"Kardus? Ngapain manusia kirim pesan ke aku?" Dini pun segera membacanya.
//Jangan lupa jam lima, aku tunggu! Kalau tidak datang berarti siap-siap besok di jemput polisi//
"Iihhhh ....., kesel banget, ganggu aja orang lagi happy ....!"
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
tri.ani.5249
Happy Reading 🥰🥰🥰🥰