MY BLOCK OF ICE

MY BLOCK OF ICE
Isyarat Cinta



"Hustttt ....!" Rendi segera menutup mulut Nadin dengan jari telunjuknya. "Diam dan bantu aku memasak!"


Rendi pun memilih pergi ke dapur dan menyiapkan masakan, Nadin hanya bisa membantu sebisanya.


"Kenapa masak sendiri?"


"Nunggu bibi kelamaan ...!"


"Tapi kan bibi bentar lagi datang!"


"Kenapa sih harus cerewet?"


"Ini sudah bawaan dari orok, coba kalau aku balik tanya kenapa sih harus sedingin itu?"


"Cehhhh ....!"


Dia pintar sekali membolak-balik kan ucapan, kenapa nggak jadi pengacara saja ....


"Maaf tuan saya terlambat!" ucap bibi yang tiba-tiba datang, membuat Rendi segera menghentikan pekerjaannya.


"Baguslah bibi datang, buat makanan dengan porsi yang lebih banyak, akan ada tamu!"


"Baik tuan!"


"Saya akan pergi sebentar mencari camilan!"


"Aku ikut!"


Rendi mengerutkan keningnya, mungkin maksudnya kenapa harus ikut?


"Aku kan istrimu, mana mungkin aku tidak ikut!"


"Terserah ...!" Rendi segera menyambar jaketnya, Nadin sudah mengikutinya berjalan mengekor di belakang. Rendi segera menghentikan langkahnya, membuat Nadin terkejut.


"Kenapa tiba-tiba berhenti?"


"Kenapa mengekoriku?"


"Aku ...., tadi kan katanya boleh ikut!"


"hehhh ...., maksudku, jangan di belakangku!"


"Terus ...., bagaimana dong?"


Bagaimana agar dia faham ya ...., dasar biji jagung .....


Nadin masih terdiam di tempatnya, ia bingung harus melakukan apa, masih banyak tatapan yang belum bisa ia terjemahkan, seperti saat ini.


Iiiihhhh kenapa sih orang ini bicaranya pakai mata, mulut di gunakan buat apa?


Srekkkk


Tiba-tiba tangan Nadin di tarik oleh Rendi, hingga kini posisi Nadin berada di sampingnya.


"Ayo ....!"


Iiih ...., gitu doang? terus saja pakek bahasa tubuh yang aku nggak ngerti


Nadin terus saja menggerutu sepanjang perjalanan, mereka tidak perlu pakek mobil untuk sekedar membeli cemilan, karena di lantai paling bawah apartemen itu ada mini market yang cukup lengkap.


Mereka masih dengan tangan yang saling bertaut masuk ke dalam mini market dan langsung di sambut oleh pelayan mini market di sana.


"Selamat datang!" seperti biasa Rendi hanya akan stay cool, sedangkan Nadin dapan tersenyum dengan renyahnya.


Saat ada pelayan pria yang juga tersenyum pada Nadin, Rendi menyadari tatapan itu. Tatapan kagum yang di tujukan pada Nadin. Dengan sigap Rendi langsung membekap mulut Nadin.


"Ummm ...., ummmm ....!" Nadin berusaha melepaskan bekapan Rendi, setelah berada di salah satu lorong minimarket barulah Rendi melepaskan bekapannya.


"Apasih mas?" tanya Nadin kesal dengan ulah manusia balok es itu. Bukannya menjawab Rendi malah mengambil sesuatu di salah satu gantungan, sebuah masker motif hello Kitty.


"Pakai!" perintah Rendi.


"Buat apa?" Nadin benar-benar di buat bingung dengan ulah Rendi.


"Pakai, atau kita tidak jadi belanja!"


"Ihhh ...., ancaman macam apa itu, kenapa tidak sekalian suruh pakek kaca mata hitam!" ucap Nadin bersungut sambil mengambil masker dari tangannya dan mengenakannya.


"Itu ide bagus!"


"Hah .....!"


Rendi, pria es itu menuju ke lorong yang menggantung berbagai macam kaca mata jalan, Rendi mengambil sebuah kaca mata hitam dan kembali menghampiri Nadin.


Enak saja orang itu ingin melihat senyummu ....


"Bagaimana aku belanja kalau pakek kaca mata hitam di dalam ruangan kayak gini!"


"Sudah diam, dan ikuti aku!" Rendi segera menarik tangan Nadin, mereka berkeliling mencari berbagai cemilan untuk Sagara dan Sanaya, Nadin juga mengambil beberapa es krim dengan berbagai varian rasa, terutama coklat, karena kedua makluk kecil itu sangat menyukai coklat.


Rendi terus saja menggandenga tangan Nadin, seperti takut saja wanita itu akan lari atau di ambil orang.


"Sudah selesai?" tanya Rendi.


"Sudah!" jawab Nadin ketus, ia benar-benar menjadi pusat perhatian di mini market itu. "Sekarang boleh aku melepasnya?"


"Siapa suruh, tetap pakai!"


Astaga ..., kenapa dia jadi menyebalkan sekali ...., untung aku cinta kalau enggak .....


"Jangan suka mengatai suami dalam hati!"


Hahh ...., dia juga punya keahlian membaca pikiran orang ya?


"Pikiranmu langsung kebaca oleh ku, jadi jangan berpikir macam-macam!"


"Lalu aku harus apa? Berpikir pun kau sudah tahu!"


"Diam dan jadilah anak yang baik!"


Sambil terus berjalan menuju ke kasir, Nadin tak habis-habisnya menggerutu, ingin rasanya mengatai suaminya tapi ia cinta.


Rendi meletakkan keranjang belanjaannya ke atas meja kasir. Kasir cewek itu paling suka kalau yang belanja Rendi, benar-benar seperti mendapat angin sejuk di pagi hari. Kasir itu memperlambat kerja nya agar bisa berlama-lama menatap wajah ganteng di depannya.


"Bisa lebih cepat!" ucap Rendi yang merasa risih karena terus menjadi pusat perhatian oleh pegawai minimarket yang sedang berdiri di balik meja kasir.


"Maaf mas sebentar ya!"


"Istriku ini sudah tidak sabar, bisa lebih cepat kan!" ucap Rendi sambil mencium punggung tangan Nadin.


Hahhh ...., kenapa dia bawa-bawa aku ....


Nadin hanya bisa tersenyum masam, walaupun senyumnya itu tidak bisa di lihat.


Tatapan mendamba dari para pegawai minimarket pad Rendi seketika sirna, saat Rendi mengatakan istri.


Mungkin mereka akan mengatakan, ah sayang ganteng-ganteng udah punya istri! Ah ..., aku kecolongan, kenapa bukan aku yang istrinya?


"Selesai mas, semuanya xxxcc!" ucap kasir itu sambil menunjukkan nominasi yang harus di bayar, Rendi pun segera mengeluarkan dompetnya dan mengambil sebuah kartu dari dalam sana.


Setelah menyelesaikan pembayarannya, Rendi dan Nadin segera menuju ke pintu keluar, pintu itu sudah di bukakan oleh seorang security yang cukup tampan, sepertinya seumuran Rendi.


"Terimakasih ...., selamat datang kembali!" ucap security tampan itu, dan seperti biasa Rendi tak terpengaruh, sekarang Nadin senyum pun juga tak kelihatan.


Mereka segera kembali ke apartemen, Nadin masih dengan atributnya, karena Rendi melarangnya melepaskan sebelum sampai di apartemen.


"Aku masukin ke kulkas ya belanjaannya!" ucap Nadin dan Rendi pun hanya mengangguk, Nadin segera menuju ke dapur dengan membawa kantong belanjaannya sedangkan Rendi lebih memilih duduk di sofa sambil kembali mengecek beberapa pekerjaan yang mungkin akan ia limpahkan ke orang lain beberapa hari ke depan karena perintah Agra.


Nadin sesampai di dapur segera di sambut oleh bibi.


"Biar saya saja nona, yang memasukkan!"


"Nggak pa pa bi, kalau cuma masukin aja bisa, maaf ya karena dapurnya saya buat berantakan!"


"Nggak pa pa non!"


Kemudian bibi memperhatikan penampilan istri tuannya itu, ada yang aneh.


"Apa di luar sangat panas? Ya memang tadi matahari bersinar cerah non!" ucap bibi mencoba meralat ucapannya, tapi terlambat Nadin sudah terlanjur tahu maksudnya.


"Nggak bi, ini tadi ulah mas Rendi, dia minta aku pakek kaca mata hitam sama masker!"


Ingin rasanya menertawakan tuannya itu, tapi takut di pecat.


"Jangan tersenyum seperti itu bi!" ucap Nadin sambil melepas semua atributnya.


"Maafkan saya non!"


**BERSAMBUNG


Jangan lupa untuk kasih dukungan ke author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya


Happy Reading 😘😘😘😘😘**