
"Pak, buk! Ada tamu!" ucap bibi.
"Bagus ...., memang sudah di tunggu, langsung suruh masuk saja!" ucap papa Dini tapi dengan ekspresi yang berbeda dengan saat menghadapi Ajun. Papa Dini tersenyum.
"Baik pak!" bibi itu pun berlalu kembali meninggalkan mereka. Tapi suasana di ruangan itu semakin hening saja, papanya Dini tidak lagi melanjutkan pertanyaannya mungkin memang sedang menunggu seseorang.
"Selamat sore, om, tante!"
Seorang pria datang dari arah belakang Dini dan Ajun. Mendengar suara yang begitu familiar membuat Dini dan Ajun menoleh secara bersamaan.
"Sore Juna, duduklah ....!" perintah papa Dini. Dini dan Ajun hanya saling berpandangan.
Juna duduk di sofa yang sama di duduki oleh Ajun dan Dini.
"Mas Juna!" Dini terus menatap Juna yang berada di samping nya dengan terpisah sandaran tangan pada sofa.
"Hallo Din, Ajun!" sapa Juna.
"Jadi kalian sudah saling kenal?" tanya papa Dini saat melihat Juna menyapa Ajun dan seperti biasa, Ajun hanya tersenyum.
"Iya om tante, jadi rumah saya berada di depan rumah sahabatnya Dini. Tanpa sengaja kami bertemu beberapa kali, kalau Ajun dia asisten pribadi suami sahabatnya Dini!" ucap Juna panjang lebar, "Iya kan Ajun?"
Ajun yang di tanya hanya tersenyum tipis, ia tetap stay cool aja.
Sok tahu sekali orang ini .....
"Pa ...., ma ...., kenapa mas Juna juga ada di sini?" tanya Dini bingung karena tiba-tiba saja tentara muda itu berada di rumahnya. Sejak kapan mama dan papa nya mengenal pria itu.
Atau jangan-jangan .....
Hahhhhh .....
Dini memastikan lagi, "Pa?"
"Baguslah kalau kalian sudah saling kenal, jadi papa nggak perlu lagi mengenalkan kamu sama nak Juna ini!" ucap papa nya Dini.
"Maksud papa?" tanya Dini di lagi memastikan sesuatu.
"Jadi maksud papa, Juna ini adalah pria yang papa bicarakan kemarin. Nak Juna ini putra teman papa dari jawa. Kami berencana menjodohkan kalian ....!" ucap papa Dini.
Di jodohkan ....., Ajun benar-benar terkejut mendengarkan hal itu.
Tapi Dini juga tidak kalah terkejutnya. Ia tidak tahu harus senang atau malah sedih, ia sedang dilema. Sebenarnya cintanya sama Juna apa sama Ajun? Dini menatap Juna dan Ajun bergantian. Ia berusaha meyakinkan sesuatu.
Tapi jika ia memilih menolak, pasti dai jadi gadis paling bodoh karena menolak pria seganteng, semapan, sebaik dan perhatian Juna. Ia tidak mungkin terus memikirkan pria yang jelas-jelas tidak pernah menyukainya.
"Bagaimana Dini? Apa kau setuju untuk berjodoh dengan Juna?" tanya papanya lagi.
wiiiiiisssss ....., bingung sumpah ....., ini lebih susah dari pada soal matematika dan fisika. Masa depan ada di tangan mulut ku kali ini ...., tapi aku harus menentukan jawabanku ..
Dini menghela nafas panjang, melihat ekspresi Ajun yang sama sekali tidak terkejut membuatnya yakin untuk menerima perjodohan itu. Lagian masih perjodohan, berarti kan belum tentu cocok. Kalau cocok yang lanjut kalau nggak, nggak tahu deh ....
"Dini m_!"
Sreeekkkkkk
Ucapan Dini menggantung saat tiba-tiba Ajun menarik tubuhnya dalam pelukannya.
Kardus .....
"Maaf om, tante kalau sebelumnya saya lancang! Saya rasa Dini tidak akan menerima perjodohan ini!" ucap Ajun membuat Dini mendongakkan kepalanya mencoba mencari jawaban apa yang sebenarnya terjadi. Ia berusaha keras untuk melepaskan pelukan Ajun, tapi pria kardus itu semakin mengeratkan pelukannya.
"Maksud kamu apa? Kenapa memeluk putriku seperti itu?" tanya papa Dini.
"Iya nak, ini ada apa?" mama Dini tidak kalah syoknya walaupun ia tahu bagaimana kemarin di video call itu.
"Saya dan putri anda sudah tinggal serumah, jadi saya mohon jangan jodohkan dia dengan pria selain saya! Kami saling mencintai!" ucap Ajun. Jelas saja perkataan Ajun berhasil membuat mama nya Dini syok berat.
"Dini ...., ini apa-apaan ....?" ucap mama Dini sambil memegangi kepalanya yang sudah terasa begitu pusing.
"Ma ....., mama nggak pa pa?" Dini segera mendorong tubuh Ajun dan menghampiri mamanya. Tapi mama Dini segera menepis tangan Dini.
"Jangan sentuh mama, kamu sudah membuat mama malu ....!"
"Nggak ....., bukan gitu ma kejadiannya, kami memang tinggal serumah ....!"
"Ya Allah pa ...., gimana ini anakmu pa .....?!" Mama Dini semakin tersedu saja dalam tangisnya, papa Dini tidak kalah syoknya.
"Bukan gitu ma, Ajun jelasin sama mereka!" ucap Dini, ia menatap Ajun. Tapi pria itu tetap dengan wajah tenangnya sedangkan Dini sudah panik setengah mati.
"Tenang om tante ....!" ucap Juna membuat papa dan mama Dini segera memperhatikan Juna.
"Bagaimana om bisa tenang, putri om tinggal serumah dengan seorang pria tanpa status apapun, dan dia siapa, kami tidak mengenalnya!" ucap papa Dini dengan wajah berapi-api sambil menunjuk Ajun.
"Saya percaya sama Dini om ...., dia tidak akan melakukan hal yang aneh-aneh walaupun satu rumah dengan seorang pria jika belum ada hubungan!" ucap Juna dengan begitu yakin.
Dia cari muka sekali ...., Ajun hanya menatap malas pada pria yang duduk tak jauh dari tempatnya duduk saat ini, dan Juna malam membalasnya dengan senyum penuh kemenangan.
"Tuh lihat bagaimana nak Juna mempercayaimu dan kamu sebagai seorang putri hanya membuat malu papa saja!" hardik papanya pada Dini dan Dini hanya bisa menangis dan meminta maaf.
"Sudah om, saya yakin Dini pasti punya alasan yang kuat dalam hal ini! Jadi biarkan ini jadi urusan kami bertiga. Jika Ajun juga menginginkan Dini makan saya siap untuk bersaing!"
"Maksud nak Juna?"
"Beri kami waktu satu bulan untuk mendapatkan cinta Dini dan siapapun yang di pilih oleh Dini maka salah satu dari kami harus bisa terima kekalahannya!"
"Satu bulan?"
"Iya om, saya rasa itu bukan waktu yang lama om!"
"Baiklah ...., om dan tante setuju, iya kan ma?" tanya papa Dini pada mamanya.
"Terserah papa saja, mama sudah kehabisan kata-kata!"
"Tapi ada syaratnya, Ajun dan Dini tidak boleh tinggal satu rumah lagi apapun itu alasannya!" ucap papa Dini, terutama itu di tujukan pada Ajun.
"Baik, om!"
"Untuk hari ini Dini nginep di rumah, kalian boleh pulang!"
Setelah di persilahkan pulang. Mereka berdua keluar dari rumah itu bersama-sama. Ajun menghentikan langkahnya mensejajarkan dengan pria yang akan menjadi saingannya satu bulan ke depan itu.
"Kenapa kamu yakin sekali jika kami tidak melakukan apapun selama tinggal bersama?" tanya Ajun dengan gaya sok coolnya itu.
"Saya kenal siapa anda dan siapa Dini, jika saya menyukai seseorang makan saya akan mencari tahu bagaimana masa lalu atau keseharian seseorang itu, termasuk Dini!"
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Happy Reading 🥰🥰🥰