
Setelah Nadin terlelap kembali, ternyata sinpungyung bidang belum bisa tidur, bagaimana bisa tidur jika di sebelahnya ada orang.
Dengan pelan Rendi membalik badannya, menghadap ke arah Nadin, menatap gadis itu sedang terlelap membuatnya tersenyum.
"Beraninya dia ....!" ucap Rendi pelan,
Rendi semakin menatap dalam, gadis itu. Semakin di pandang semakin membuatnya tak bisa berpaling.
"Mungkin aku boleh memeluknya kan!"
Rendi mengangkat tangannya, segera meletakkan nya pelan di atas pinggang istri kecilnya. Ia kembali tersenyum.
"Beraninya meluk kalau orangnya sudah tidur!" tiba-tiba suara itu membuat Rendi terkejut, ia segera menarik tangannya kembali.
Mata Nadin mulai terbuka kembali, Rendi terkejut di buatnya.
"Kau belum tidur?!"
"Tadi sudah akan tidur, tapi tiba-tiba ada yang sengaja memelukku!"
"Beraninya kau mengerjai ku!" ucap Rendi, lalu berbalik memunggungi Nadin. Nadin hanya bisa tersenyum.
"Marah ya?" tanya Nadin, tapi pria dingin itu tidak menunjukkan pergerakan.
Nadin menusuk-nusuk punggung Rendi yang hanya terlapisi kaos putih tipis itu.
"Beneran marah ya?"
Ternyata cara Nadin berhasil, pria es itu segera membalik tubuhnya menarik tangan Nadin hingga separuh badannya berada di atas tubuh Nadin.
Mata mereka kembali bertemu, sengatan yang sama mengalir di darah mereka, panas ...., ya rasanya sangat panas.
Cup
Tiba-tiba Rendi mendaratkan ciuman ke bibir Nadin, ini ciuman yang ke tiganya. Cukup lama Rendi menempelkan bibirnya, tak ada pergerakan di sana, hanya ada bibir manis yang saling menempel, menikmati setiap detik perasaan yang luar biasa itu.
Setelah cukup lama, akhirnya Rendi menjauhkan bibirnya, Nadin masih terdiam terpaku dengan apa yang di lakukan suaminya.
"Tidurlah ....!" ucap Rendi, kali ini bukan lagi memunggungi, tapi memeluk tubuh istrinya dan membenamkan wajah istrinya ke dalam dada bidangnya hingga Nadin dapat mendengar sekeras apa detak jantung manusia es itu.
Nadin menarik kembali kepalanya, menatap manusia es itu.
"Ada apa lagi?"
"Kenapa jantungnya berdetak sangat kencang?" tanya Nadin dengan polosnya, dia benar-benar tidak tahu sekeras apa pria itu berusaha menutupi perasaannya, tapi dengan entengnya Nadin malah semakin membuatnya grogi.
"Cehhhh ...!"
"Aku kan cuma bertanya!" ucap Nadin polos.
"Tidur dan diam!" ucap Rendi sambil menarik kembali kepala Nadin.
...Aku kan cuma penasaran .....,...
Nadin pun akhirnya menyerah, ia tidak mau semakin membuat pria es itu marah padanya.
Sampai kapan aku bisa bertahan seperti ini, ingin rasanya melakukannya ...., tapi ....
Rendi segera memejamkan matanya, menghilangkan segala pemikiran buruk tentang hal itu. Walaupun sudah menjadi haknya, tapi sikapnya yang dingin cukup sulit baginya untuk mengungkapkan segalanya.
Di dinginnya angin malam begitu tenang mengiringi keindahan suasana kamar itu. Sayup-sayup terdengar dentingan jam yang mengalun bagai pengingat waktu.
Udara terasa dingin menyegarkan tapi tak membuat mereka kedinginan, Rendi semakin mengeratkan pelukannya, Nadin semakin menyusupkan kepalanya.
πΊπΊπΊπΊ
Pagi ini terasa hangat, mereka masih saling berpelukan, tiba-tiba suara ponselnya berhasil membuatnya bangun.
Mata Nadin mulai terbuka, hari ini hari libur. Pria dingin itu masih tertidur di tempatnya. Senyum mengembang di bibirnya saat melihat pria itu.
"Dia benar-benar suamiku ....!" gumam Nadin. Nadin segera menjauhkan tubuhnya dari Rendi, ia mengambil ponselnya yang teronggok di atas nakas.
"Kak Ara....!"
Nadin pun segera membaca pesan yang di kirim oleh kakaknya.
//Dek ...., hari ini kami akan berkunjung ke tempatmu ..., bilang sama suami robotmu itu jangan kemana-mana, kak Agra sudah aku kasih tahu untuk tidak memberinya tugas apapun hari ini//
Senyum mengembang di bibirnya, ia pun segera mengetikkan balasan untuk kakaknya.
//Siap kak, kami menunggunmu!//
Setelah selesai mengirim pesan, Nadin segera menaruh kembali ponselnya, ia mengamati wajah tampan suaminya ketika sedang tidur, sangat tampan.
Iya kan, siapa coba yang nggak jatuh cinta sama dia, si mr perfect ini benar-benar tidurpun bikin orang meleleh di buatnya.
Nadin menaikan selimut suaminya, sepertinya dia kedinginan. Nadin semakin mendekatkan wajahnya, ingin sekali menciumnya.
Saat jarak sudah tinggal satu centi saja, tiba-tiba mata Rendi terbuka, membuat Nadin terhuyung ke belakang.
"Ada apa?" tanya Rendi dengan kaya cool nya.
"Tidak ....!" ucap Nadin sambil menggelengkan kepalanya.
"Sini!" perintah Rendi, Nadin yang was was segera mendekatkan kembali wajahnya, dengan gerak cepat, Rendi menarik tengkuk Nadin hingga bibir mereka kembali beradu.
Cukup lama, mereka terdiam. Hingga Rendi menyudahi ciumannya.
"Kenapa?" tanya Rendi setelah menyelesaikan ciumannya.
"Kenapa menciumiku tiba-tiba?"
"Memang kenapa? Apa kau perlu ijin untuk mencium istri sendiri?" tanya Rendi sambil bangun dari tidurnya.
"Tapi kan aku belum siap-siap!"
"Cehhh ...., aku mau mandi dulu!" ucap Rendi sambil berlalu meninggalkan menuju ke kamar mandi.
"Mas!" panggil Nadin saat langkah Rendi sudah berada di ujung pintu kamar mandi.
"Ada apa?"
"Nanti kakak mau ke sini!"
"Lalu?"
"Kakak meminta mas Rendi, nggak kemana-mana!"
"Itu aja?" Nadin pun mengangguk. Rendi tak memberi pertanyaan lagi, ia langsung masuk ke kamar mandi. Setelah memastikan pintu kamar mandi tertutup sempurna, Rendi segera memegangi jantungnya yang sudah mau copot karena ulahnya sendiri.
"Dia benar-benar membuatku senam jantung, sampai kapan ini akan berlangsung, masak setiap dekat dengannya, tubuhku langsung terasa panas!"
Rendi benar-benar di buat kelabakan tak karuan, ia segera mengguyur tubuhnya dengan air dingin supaya rasa panas itu tidak semakin menjadi.
Nadin yang belum mandi, segera mandi di kamar sebelah, sambil menunggu Rendi keluar dari kamar, ia sudah menyiapkan coklat panas, kalau cuma buat coklat saja, bisalah ....
Tak berapa lama, Rendi sudah keluar dengan pakaian santainya, bukan lagi jas yang ia kenakan sehari-hari.
"Minumlah ...!" ucap Nadin sambil menyerahkan coklat panasnya di atas meja, Rendi sudah siap dengan layar datarnya.
"Kenapa hari ini tidak ada jadwal sama sekali?" gumam Rendi sambil terus mengawasi layar datarnya itu. Nadin yang tidak sengaja mendengar segera menyahutinya.
"Tadi kakak sudah bilang, kalau kak Agra tidak akan memberi tugas untukmu seharian ini, dia membiarkan kita libur untuk beberapa hari ke depan!"
Rendi mengerutkan keningnya, sekarang Nadin sudah sedikit paham dengan isyarat si manusia es itu.
"Bisalah ....., atasanmu kak Agra, tapi atasan kak Agra sekarang kak Ara."
"Cehhh ...., wanita memang tak bisa di percaya!"
"kenapa mengatai wanita seperti itu, aku juga wanita tahu!" ucap Nadin bersungut sambil berkacak pinggang.
"Hustttt ....!" Rendi segera menutup mulut Nadin dengan jari telunjuknya. "Diam dan bantu aku memasak!"
Rendi pun memilih pergi ke dapur dan menyiapkan masakan, Nadin hanya bisa membantu sebisanya.
**BERSAMBUNG
Jangan lupa untuk kasih dukungan ke author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Happy Reading πππππ**