
π·π·π·π·
Setelah puas berkeliling di istana Changdeok, Ara mengajak Nadin, Sanaya dan Sagara untuk kembali ke pintu gerbang, karena Agra sudah menghubunginya bahwa mereka sebentar lagi sampai.
"Kenapa buru-buru banget sih kak?" Nadin masih sangat ingin berkeliling, ia membayangkan kalau ia bisa berfoto dengan suaminya di istana dengan pakaian khas Korea, pasti sangat bagus.
"Agra sama Rendi bentar lagi datang, kamu mau di omelin sepanjang waktu?" ucap Ara dengan mencebirkan bibirnya.
"Nggak mau lah kak ....!"
Dan benar saja, tak berapa lama Agra dan Rendi sudah menyusul mereka.
"Pap ....!" Sagara dan Sanaya berlari memeluk papinya.
"Emmmm ...., Anak-anak papi, sudah puas jalan-jalannya?" Agra mencubit pipi tembem kedua buah hatinya itu.
"Mom cama aunty jalan teyus dali tadi, mau campai capek!" Keluh Sanaya pada papinya.
"Ah jahat banget Momi kalian, tega-teganya momi buat anak-anak papi kecapekan!"
Ara sudah menajamkan matanya mendengar perkataan suaminya itu. Sekarang bagaimana dengan Nadin ya, ia segera menghampiri suaminya itu, dan berbisik padanya.
Nadin menarik kemeja Rendi supaya sedikit menunduk, setelah Rendi menunduk, ia menempelkan bibirnya ke telinga Rendi.
"Mas ...., Aku mau foto sama mas Rendi, kita masuk ke dalam lagi ya?" Bukannya menjawab, Rendi malah mengerutkan keningnya, ia menajamkan matanya.
"Jangan gitu ah mas, ekspresinya!" Protes Nadin, Agra dan Ara sudah lebih dulu meninggalkan mereka bersama Sagara dan Sanaya.
"Kita ikut mereka!" ucap Rendi tegas, ia sama sekali tidak tersenyum membuat Nadin sedikit takut.
"Tapi mas ....!?" Nadin masih mencoba bernegosiasi.
"Jangan bantah!" ucapan r ndi yang satu ini benar-benar berhasil membuat Nadin diam.
Akhirnya Nadin harus pasrah, Rendi benar-benar berbeda jika di tempat umum, wajah dinginnya yang selalu muncul dan mendominasi, ia benar-benar pandai menyembunyikan rasa rindunya, padahal jika di dalam kamar ia akan segera menerkam Nadin.
"Dasar kepala batu!" Gerutu Nadin. dan ternyata Rendi masih bisa mendengarnya, ia menghentikan langkahnya dan berbalik pada Nadin.
"Kau bicara apa?" Nadin terhenti juga dalam langkahnya, ia berada satu langkah di belakangnya.
"Aku tidak bicara apa apa!" Nadin mencoba mencari alasan.
"Jangan bohong, aku mendengarnya, awas saja nanti ...!" Rendi kembali membalik tubuhnya dan berusaha menyusul Agra, Nadin begitu kesal dengan kelakuan suaminya itu.
Memang dia mau apa? Aku cuma bicara apa adanya .....
πΊπΊπΊ
Pagi di puncak
Davina mengernyitkan matanya, berusaha membuka matanya dengan susah payah, ia merasakan seluruh tubuhnya seperti remuk, ia seperti habis mengangkat batu satu truk dalam semalam.
"Ahhh ...., Kenapa badanku capek sekali ...., Sakit semua!" Davina meregangkan otot-otot nya, tapi saat meliukkan badannya, tangannya menyentuh sesuatu di sampingnya.
"Apa yang terjadi denganku?" Davina menatap wajah lelap itu, mengamati wajah lelap itu, ia mengumpulkan ingatannya dari kepingan-kepingan memori yang terpisah pisah itu, ia mulai merangkainya.
"Apa yang sudah aku lakukan?" Davina membuka selimutnya dan mendapati tubuhnya tanpa pakaian sehelai benang pun, air matanya meleleh, ia sudah menyerahkan kesuciannya pada orang yang bahkan tidak mencintainya.
Davina menangis tanpa mengeluarkan suara, ia menutup mulutnya agar tidak mengeluarkan suara. Tapi punggungnya bergetar.
Divta yang merasakan getaran di sebelah tempat tidurnya, membuatnya terbangun, ia mendapati Davina sudah terduduk dan menundukkan kepalanya, punggungnya bergetar, gadis itu sedang menangis.
"Davina!" Divta ikut bangun dan memegang punggung Davina.
"Jangan menyentuhku!" Davina menghempaskan tangan Divta, ia sangat malu untuk melihat pria itu. Ia ingin membenci tapi ia merasa tak semua menjadi kesalahan pria di sampingnya, seandainya ia tidak mabuk mungkin ia tidak akan terjebak dalam situasi ini.
"Davina ....!" Divta pun ikut duduk, menarik tubub Davina ke dalam pelukannya. Ia merasa bersalah tapi ia tidak mau dipersalahkan.
"Apa yang harus aku lakukan div, semuanya sudah berakhir! Hidupku sudah hancur!"
Davina menumpahkan air matanya, ia menggulung tubuhnya dengan selimut. Dan menyandarkan kepalanya ke bahu Divta.
"Semua akan baik-baik saja, tenanglah ....!" Divta berusaha untuk menenangkan Davina walaupun ia sendiri tidak punya solusi atas masalahnya.
"Bagaiamana aku bisa tenang div, bagaimana kalau sampai aku hamil ...., Aku tidak mau!"
"Tidak akan seperti itu, tenanglah ....!"
"Tapi semuanya sudah hilang, aku tidak punya apa-apa untuk aku banggakan, mahkotaku sebagai wanita hilang!"
"Maafkan aku, aku tidak tahu kalau kamu masih ...., Jika aku tahu aku pasti akan bisa menahannya!"
"Ini bukan salahmu, ini salahku ...., Pasti karena aku terlalu mabuk!"
"Tenanglah ...., Semua akan baik-baik saja!"
Divta mengelus punggun Davina, menenangkan Davina agar tidak semakin sedih, ia menyesal sudah membuat Davina seperti ini, ia tidak tahu jika semuanya akan seperti ini.
"Aku mandi dulu ya, nanti kita bicara lagi!" Divta beranjak dari tempat tidur dan.menuju ke kamar mandi. Membersihkan tubuhnya dan mengganti pakaiannya, ia kembali mendekati Davina.
"Mau mandi? Biar aku antar sampai kamar mandi!" Davina pun mengangguk, ia membopong tubuh Davina hingga ke kamar mandi.
"Mau mandi sendiri atau di mandiin?" Davina segera menggelengkan kepalanya,
"Nggak usah div, aku bisa sendiri!"
"Baiklah ...., Aku menunggu di luar ya!" Divta mengusap kepala Davina dengan lembut, membuat perasaan Davina menghangat. Ia merasa di cintai oleh pria itu.
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan ke author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Happy Reading πππππ