MY BLOCK OF ICE

MY BLOCK OF ICE
Senyum dikit dong mas



"Senyum dikit dong mas ...., biar manis!" Goda Nadin, Rendi hanya memicingkan matanya dan berlalu keluar dari kamar Nadin.


Berusaha menyembunyikan semburan euforia yang keluar dari dalam dirinya, seperti ada percikan-percikan kecil warna warni yang keluar dari atas kepalanya.


Senyum yang tadi berusaha keras ia sembunyikan seketika keluar saat sudah berada di balik pintu dengan tangan kanan yang masih memegangi dadanya yang seperti mau meledak.


"Dia benar-benar ingin.membuatku jantungan!" gumam Rendi dengan senyum yang masih tersemat di bibirnya.


Ceklek


"Nah gitu dong ...., senyum!" ucap Nadin saat kepalanya nongol di balik pintu, membuat Rendi terkejut, ia segera menampilkan wajah datarnya lagi.


"Siapa yang senyum?"


"Mas tadi!"


"Sudah masuk!"


Setelah Nadin kembali masuk, Rendi pun segera menutup kembali pintunya, ia hanya bisa menggelengkan kepalanya.


Ia segera meninggalkan kamar Nadin, mencari sarapan untuknya dan Nadin.


"Rend ...


, lo di sini?!" sapa seseorang yang menyapanya seperti itu hanya ada satu orang yaitu dokter Frans.


"Gue cari sarapan!"


"Kenapa dengan wajah lo?"


"Memang ada apa dengan wajah gue?" tanya Rendi sambil memegangi wajahnya.


"Sedikit terlihat manis hari ini ...., sudah sadar kalau jatuh cinta?"


"Apaan sih Lo!"


"Dulu aja sama Ara nggak gitu-gitu amat Lo, sekarang yang sudah sah, masih aja dingin!"


"Nadin masih kecil, belum waktunya memikirkan hal-hal yang lain selain kuliahnya!"


"Lo terlalu naif!"


"Terserah Lo lah ...., gue kembali ke kamar Nadin!"


"Iya ...., selamat berdua-duaan, gue bakal datang satu jam lagi, manfaatin waktu Lo!" teriak Dr. Frans saat Rendi sudah meninggalkannya.


"Terserah!" teriak Rendi balik tanpa berbalik menatap dr. Frans.


***


Rendi kembali lagi ke kamar Nadin, Nadin sudah duduk di tempat tidurnya.


"Cepet banget mas kembalinya?" tanya Nadin pada Rendi.


"Mau aku tinggal lama?" ucap Rendi sambil meletakan makanannya di samping Nadin.


"Ya nggak lah mas, kalau bisa sih inginnya tetap dekat dengan mas Rendi."


"Sudah cepetan makan!"


"Siapin!" ucap Nadin manja.


"Cehhh...!" walaupun dengan mengeluh, tapi Rendi tetap menyuapkan makanannya ke mulut Nadin.


"Makanannya enak banget mas!" ucap Nadin dan Rendi pun hanya mengerutkan keningnya tak percaya. "Coba aja mas kalau nggak percaya!"


Rendi pun menyiapkan satu siapa pada mulutnya sendiri.


"Biasa aja!"


"Masak sih, coba suapi aku lagi!" Rendi pun segera menyuapi Nadin kembali.


"Emmmm ...., sekarang aku tahu apa bedanya mas."


"Apa?"


"Soalnya ada rasa cinta dari suamiku yang masuk ke dalam makananku!" ucap Nadin dengan senyum manisnya.


"Jangan suka gombal!"


"Nggak perlu gombal mas buat ngungkapin cinta!"


"Sudah diam dan makan!"


"Iya ...!"


"Dan lagi, jangan tersenyum seperti itu di depan pria selain suamimu, mereka bisa salah paham, mereka akan mengira kalau kau mencintainya!"


"Iya ...., aku sudah tahu!"


"Aku serius!"


"Aku juga serius mas, ini sudah yang ke berapa puluh kali mas mengatakan ini!"


"Bagus kalau kau tahu!"


Rendi pun menyelesaikan menyuapai Nadin, ia kemudian bergantian membuka makanannya sendiri.


"Mau gantian aku suapi mas?" tanya Nadin.


"Kamu makan sendiri saja susah, mau nyuapi orang lain!" ucap Rendi dengan memicingkan mata dinginnya itu.


"Kamu bukan orang lain mas, kamu tuh suami aku!" ucap Nadin, mendengar kata suami, lagi-lagi membuat hati Rendi bergetar. Ia masih belum terbiasa dengan status barunya, menjadi seorang suami dari seorang perempuan.


"Sudah diam, aku mau makan!"


"Baiklah ...!"


Akhirnya Nadin membiarkan Rendi melahap makanannya dengan tenang, ia memandangi suaminya itu. Sungguh hal yang belum terbayangkan sebelumnya bisa sedekat ini dengan Rendi, pria dingin yang pernah mengagumi kakaknya.


"Kenapa menatapku seperti itu?" tanya Rendi saat sadar dirinya sedang di tatap.


"Memang ada aturan yang melarang seorang istri menatap suaminya?"


"Kau ini kalau di kasih tahu suka ngeyel ya!"


Rendi pun menyelesaikan makannya, setelah meneguk air mineral. Ia membuang sampah ke tempat sampah, kemudian menghampiri Nadin lagi.


"Aku akan pergi sebentar, tetaplah di kamar, sebentar lagi Frans akan datang melepas slang infus mu!"


"Mau ke mana?"


"Jangan banyak tanya, sudah turuti saja!" Rendi pun segera meraih dompet dan ponselnya, ia segera keluar kamar meninggalkan Nadin.


***


Benar saja tak berapa lama setelah Rendi keluar dari kamar Nadin, dr. Frans datang.


"Selamat pagi Nadin!" sapa dr. frans.


"Selamat pagi, dok!"


"Gimana keadaannya, apa sudah lebih baik?"


"Sudah sangat baik, dok!"


"Biar aku periksa dulu ya!" ucap dr. Frans sambil memasangkan alat untuk mengecek tekanan darah dan denyut jantung Nadin.


"Ini sudah bagus semua, jangan makan seafood lagi ya!"


"Iya dok!"


Kini cairan di kantong infus Nadin sudah habis, dokter Frans sudah sedang melepas jarum infus di tangan Nadin.


"Dimana si manusia kulkas?" Tanya dr. Frans untuk mengalihkan perhatian Nadin dari jarum itu.


"Nggak tahu katanya keluar sebentar, ternyata Sampek selama ini!" Ucap Nadin meluapkan kekesalannya.


"Dasar balok es, memang minta di kasih pelajaran tuh anak, istrinya sakit bukannya menemani malah keluyuran tak jelas." gerutu dr. Frans. Nadin terlihat meringis menahan sakit saat jarum sudah mulai di lepas.


"Sudah selesai!" Ucapnya lagi saat sudah berhasil melepas jarum infusnya.


"Cepet banget?"


"Kalau lama-lama megang tangan kamu kayak gini, manusia robot itu bisa ngebunuh aku!"


Ha ha ha


"Kenapa tertawa?"


"Ternyata dokter takut juga sama dia!"


"Bukan takut, tapi malas berdebat, nggak ada ujungnya kalau sama dia!"


"Emang iya pak Rendi bisa berdebat? Dia kan suka mendikte, bukan mendebatkan."


"Nah itu tahu .....! Makasih ya sudah mau hadir di hidup manusia es itu, buat hidupnya menjadi penuh warna dengan warna-warna yang telah kau bawa!"


"Memang saya pelangi apa, pak dokter nih ada-ada aja!"


"Senyum itu akan memberi warna di hidupnya yang hanya ada hitam dan putih."


"Wiiihhhh ...., dokter puitis juga!"


"Kalau di kasih tahu orang tua jangan menggoda terus, mau aku jitak!!"


"Ampuni aku dokter!" ucap Nadin sambil mengatupkan kedua tangannya di depan dada seperti minta ampun.


"Makanya jangan macam-macam sama orang tua!"


"Iya percaya kalau dokter sudah tua!"


"Eh ...., ngledek lagi dia!"


Ha ha ha


Mereka pun tertawa berjamaah, setelah puas tertawa. Mereke kembali diam untuk beberapa saat.


"Kapan dok aku boleh pulang?" tanya Nadin tak sabar. memecah keheningan.


"Saat ini juga, juga sudah boleh pulang!"


"Tapi dia nggak kembali-kembali ....! Bagaimana mau pulang?"


"Nanti pulang sama aku aja kalau dia tidak kembali!"


BERSAMBUNG


Jangan lupa untuk kasih dukungan ke author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya


Follow Ig aku ya


Tri.ani5249


Happy Reading 😘😘😘😘