
🌷🌷🌷
Rendi menarik tangan Nadin melalui beberapa karyawan, tentu membuat pertanyaan di setiap orang, orang nomor dua di perusahaan itu sedang mengagadeng tangan anak magang, apa hubungan mereka?
Akhirnya mereka sampai juga di depan ruangannya, ia berhenti masih dengan cengkeramannya di tangan Nadin.
"Vina ..., Jangan ada yang menggangguku, sampai saya menghunbungi!" ucap Rendi tegas seperti biasanya tanpa mempedulikan Nadin yang kesakitan.
"Baik pak!" ucap Pina menunduk.
Rendi segera membawa Nadin ke dalam ruangannya, ia mengunci pintu ruangannya, Nadin hanya bisa pasrah, sudah cukup hari ini ia merasakan jantungnya seperti mau benar-benar berhenti berdetak, ia tidak bisa berfikir lagi, apa yang akan suaminya itu lakukan setelah ini.
Rendi mendekati Nadin, menatapnya begitu tajam, ada kilahan kemarahan di sana. Ia menarik lengan atas Nadin begitu kencang.
"Mas sakit ....!" Air mata Nadin kembali meluncur tanpa dapat di tahan.
Bukannya mendengarkan penjelasan istrinya, Rendi mendekatkan tubuh Nadin membungkam mulut Nadin dengan bibirnya, ia sangat terbakar cemburu saat melihat Divta memengang baju Nadin, apa lagi tepat di dada Nadin ia melihat kancin Nadin terbuka.
Dengan penuh amarah ia mencium Nadin, Nadin hanya bisa pasrah dan mengeluarkan air matanya, dengan rakusnya Rendi mencium Nadin.
Rendi kembali menarik tangan Nadin, menyeretnya ke sofa. Kemudian dia menghempaskan tubuh Nadin di sofa ruang kerjanya.
BRUUUKKK
Nadin terjatuh ke atas sofa dengan keras. Sebelum dia menyadari apa yang terjadi Rendi tiba-tiba sudah berada di atasnya. Mengunci dan menindih tubuhnya. Dengan satu tangan Rendi memegang kedua tangan Nadin sedangkan tangannya yang lain mencengkram wajah wanita itu.
"Apa yang sudah kau lakukan, apa kau lupa siapa aku?" Tanya Rendi dengan kilatan amarah.
“Mas ...., Kamu salah faham ...., Tidak seperti itu kejadiannya!" Dengan sisa kekuatannya Nadin berusaha untuk menjelaskannya.
"Salah faham yang bagaimana? Jika aku salah melihat jika pria itu sudah memegang dadamu seperti ini!" Ucap Rendi sambil memegang dada Nadin.
"Atau seperti ini ...!" Ucap Rendi sambil meremas buah dada Nadin membuat Nadin sedikit meringis kesakitan.
"Mas ...., sakit .....!" ronta Nadin di sela rontahannya.
Mata Rendi tidak fokus, ia terlalu di kuasai kemarahan, kemudian dia kembali menutup mulut Nadin dengan bibirnya, ******* habis bibir wanita itu. Tangannya mengunci wajah Nadin agar tidak bisa menghindar dari ciumannya.
Nadin senang jika suaminya menyentuhnya, tapi tidak seperti ini, ia berusaha berteriak. Namun suara Nadin tak keluar, ia mulai menangis. Bulir demi bulir air mata mulai mengalir di sudut matanya.
Sementara Rendi masih terus menciuminya. Menekannya dengan keras dan menggigitnya. Ciuman yang brutal, penuh kemarahan.
Tangan Rendi mulai menjelajah.
Menarik paksa baju Nadin sehingga membuat kancing-kancing baju itu terlepas dan berserakan dimana-mana. Rendi menatapnya dengan mata nanar. Pancaran api gairah dan kemarahan terlihat dimatanya. Secepat kilat dia menerkam Nadin.
Tapi kemudian matanya melihat memar merah di pipi Nadin, membuat Rendi segera menarik kembali tubuhnya, memar yang sedari tadi tidak ia perhatikan, memar bekas tamparan membekas di pipi Nadin.
Nadin masih terus menangis, ia terlalu kalut dengan apa yang di alami, ia tidak menyangka jika suaminya akan sekasar itu.
Rendi berdiri, ia meninggalkan Nadin , mengambil jasnya yang tergeletak di lantai, baju Nadin sudah sangat berantakan, Rendi kembali dan mengaitkan kembali tali bra di punggung Nadin dan memakaikan jasnya di bagian depan agar tidak terbuka.
Ia kembali mendudukkan Nadin, Rendi mengusap air mata Nadin.
"Maafkan aku, aku terlalu emosi!" Suara Rendi melemas, kemudian ia mengecup punggung tangan Nadin. Sedangkan Nadin masih tetap diam, mulutnya masih terlalu kaku untuk bicara.
"Maafkan aku, karena tidak berusaha mendengar penjelasanmu!" Rendi kembali mengecupi wajah Nadin. Ia merasa sangat bersalah atas apa yang di lakukannya. Kemudian meraih tubuh Nadin dan memeluknya.
"Kita pulang, nanti jelaskan di rumah!" Ucap Rendi, ia pun beranjak untuk mengambil ponselnya, tapi tangannya lebih dulu di tahan oleh Nadin.
"Jangan ke rumah paman ....!" Ucap Nadin lemah.
"Baiklah ...., Kita ke apartemen!"
Setelah mengambil ponselnya, Rendi segera membopong tubuh Nadin, ia keluar dari ruangannya.
"Jika ada yang mencari, katakan saya pulang!" Ucap Rendi pada Vina, sekretarisnya.
"Tapi pak ...!" Vina tampak bingung, karena setelah ini Rendi seharusnya masih ada jadwal untuk menemui Agra membicarakan tentang rencana akhir tahun.
Rendi kembali melangkahkan kakinya menuju ke pintu lift, ia tidak peduli dengan orang-orang yang menatapnya, yang terpenting sekarang adalah membawa Nadin pulang. Ia sudah sangat bersalah pada Nadin.
Mobil sudah menunggu mereka di depan gedung kantor, sopir sudah membukakan pintu untuk mereka, Rendi menurunkan Nadin di dalam mobil, ia segera ikut masuk, pak sopir pun sudah menutup kembali pintu mobilnya dan berlari memutari mobil untuk sampai di kursi kemudi.
"Kita ke apartemen!" Perintah Rendi.
"Baik pak!"
Rendi meraih ponselnya, mengirim pesan pada ayahnya dengan berbagai alasan bahwa ia dan Nadin tidak bisa kembali ke rumah.
Mobil pun melaju menuju ke apartemen, rencana mereka untuk kembali ke rumah Salman gagal.
Nadin merasa tidak enak jika datang ke sana dalam keadaan yang sangat kacau. Dalam mobil itu Nadin hanya bisa diam, ia masih enggan untuk menjelaskan, sedangkan Rendi dengan sabarnya menunggu hingga Nadin bersedia menjelaskan.
Mereka pun akhirnya sampai di apartemen, Rendi kembali membopong tubuh Nadin, membawanya langsung ke dalam apartemen di bantu oleh pak sopir.
Sesampai di apartemen Rendi menurunkan Nadin di sofa,
"Terimakasih, kamu boleh kembali!"
"Baik pak, saya permisi!" Pamit pak sopir, setelah pak sopir meninggalkan mereka, Rendi kembali menghampiri Nadin.
Ia berjongkok di depan Nadin yang masih memeluk tubuhnya sendiri dengan kedua kaki di angkat dan menjadikan lututnya sebagai tumpuan dagunya.
Rendi berjongkok di depan Nadin, memegang tangan Nadin kemudian mengelus pipi Nadin yang merah bekas tamparan.
"Siapa yang melakukannya?" Tanya Rendi lembut. Menatap Nadin dengan penuh kasih,
"Jangan memaksaku mas!" Ucap Nadin saat sudah mulai bisa menguasai diri.
"Aku hanya ingin tahu ...., siapa yang melakukannya!" ucap Rendi, tapi lagi-lagi Nadin hanya terus saja terdiam.
"Baiklah ...., tapi jangan salahkan aku jika aku akan mencari tahu sendiri!" Ucap Rendi,
"Jangan lakukan apapun, jika kau tahu sesuatu!" ucap Nadin dingin, bukan lagi mas ..., tapi kau, sungguh membuat hati Rendi teriris, ia pun berdiri dan menyahut ponselnya yang sempat ia letakkan di atas meja, ia pun keluar dengan sedikit membantik pintu membuat Nadin terkejut.
🌷🌷🌷🌷🌷
Di tempat lain, Divta sedang merencanakan sesuatu, Divta di klub biasa tempat ia menghabiskan malam, di ruangan khusus itu ia di temani oleh beberapa orang dan wanita yang menemani mereka.
"Apa nih bos tugas kita?" Tanya salah satu dari mereka, pria itu sambil meneguk minumannya.
"Nanti ada waktunya, akan aku kasih tahu tempatnya kalau sudah waktunya!" Ucap Divta sambil sibuk memutar-mutar gelas di depannya, seorang wanita sudah siap di sampingnya tapi tampak Divta sama sekali tidak tertarik.
Divta masih belum bisa menghilangkan kebiasaan buruknya di luar negri, apalagi kini hatinya sedang terluka, ia lebih suka menghabiskan waktunya di klub malam dari pada mencari teman untuk di ajak bertukar perasaan, ia sering bertemu dengan Davina juga di tempat itu, Davina mendapatkan teman dengan pergaulan bebasnya, teman-teman yang tempat mainnya di klub malam.
"Siapa wanita itu bos?" Tanya pria itu lagi.
"Wanita yang biasa ke sini bersama teman-temannya!" Ucap Divta, dan pria itu tampak terkejut.
"Bukankah dia temannya bos?"
"Aku tidak suka teman yang picik!"
Malam itu Divta menghabiskan malam di tempat itu dengan di temani satu wanita, Divta biasa melakukan seks bebas.
BERSAMBUNG
Kira-kira apa yang bakal di lakukan sama bang Divta ini?
Jangan lupa untuk kasih dukungan ke author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya
follow Ig aku ya
Tri.ani5249
Happy Reading 😘😘😘😘