MY BLOCK OF ICE

MY BLOCK OF ICE
Sudah sangat dekat



Setelah itu, ia hari ini hanya ingin merebahkan


badannya, melepas segala kepenatan. Tapi tetap saja tidak bisa, bayang-bayang


Nadin selalu menari-nari di pelupuk mata. Ia teringat pada sesuatu, selembar


kertas yang pernah Nadin tulis untuknya dan sebuah hasil tes kehamilan milik


Nadin masih ia simpan di dompetnya. Setiap kali ia merindukan wanita yang


telah menjadi istrinya itu, kertas itu yang selalu menjadi obat untuknya, ia


seperti bisa melihat anak dan istrinya dalam kertas itu.


“Tokki …, apa kau tidak merindukanku …!” Rendi


mendekap kertas yang bertuliskan tangan istrinya. Memeluknya seperti sedang


memeluk istrinya.


Rendi mengambil kertas hasil tes kehamilan milik


Nadin, menciumnya beberapa kali, mungkin jika ada yang melihatnya, Rendi akan


terlihat seperti orang gila, berbicara pada selembar kertas yang sudah lusuh


karena seringnya di sentuh.


Tulisan positif itu memberi arti tersendiri pada


hidupnya, tulisan itu yang membuatnya kini bisa tetap bangkit dan berdiri,


tidak hanya meratapi kepergian istrinya, harapan suatu hari nanti bisa bertemu


dengan istri dan anaknya begitu besar, segala usaha telah ia kerahkan untuk


mencari istrinya, tinggal beberapa langkah lagi, hampir menemukan titik terang.


Rendi kembali memperhatikan surat dokter itu, ia perhatikan dengan seksama, ada yang mengganjal di sana.


“Tanda ini, symbol ini …!” Rendi terus saja


mengingat di mana ia melihatnya. Simbul yang sudah terpotong sebagian karena


ulah Nadin, untung saja masih tersisa sedikit dan sedikit terbaca.


“Di rumah sakit itu …!” gumam Rendi.


Rendi bergegas bangun dari tempat tidur, ia menyambar jaketnya yang sempat ia lepas begitu saja, menghubungi resepsionis hotel untuk menyiapkan mobilnya kembali. Dengan


langkah cepat, harapannya seakan tumbuh kembali. Ada seseorang yang sedang


menantinya di sana.


Saat sampai di lobi hotel, mobil sudah terparkir di depan hotel. Rendi segera memasuki mobilnya dan dengan cepat menjalankan mobilnya menuju ke tempat tadi, di mana ia berhenti. Rumah sakit di persimpangan jalan itu, hanya dalam waktu setengah jam akhirnya Rendi sampai juga.


Sedikit berlari pria itu menghampiri perugas


resepsionis. Seakan jika dia sedikit terlambat saja semuanya sudah tidak akan


bisa bertemu kembali.


“Maaf apa saya bisa Tanya tentang ini?” Rendi memperlihatkan dan menyerahkan lembar kertas lusuh itu pada petugas resepsionis rumah sakit.


“Ini hasil tes kehamilan pak!” jawab petugas itu.


“Iya saya tahu!"


"Lalu?"


"Apa kertas ini di keluarkan dari rumah sakit ini? apa aku bisa meminta kertas yang sama


seperti ini?"


Resepsionis itu mengambil sebuah kertas yang seukuran dengan kertas itu tapi bedanya masih utuh dan menempelkannya pada kertas yang di bawa oleh Rendi, dan ternyata dugaan Rendi


benar, ada kesamaan pada potongan itu.


“Iya pak, ini di keluarkan dari rumah sakit ini!”


"Terimakasih!" ucap Rendi sambil berlalu meninggalkan petugas itu, air matanya tak terasa menitik di sudut mata.


Ada kelegaan dari diri Rendi, ada tirik terang dari pencarian panjang ini, ia kembali memegang kertas itu, adaharapan besar di


sana. Tinggal selangkah lagi. Ia keluar dari rumah sakit itu dengan harapan


baru.


“Kelinci kecilku …, akhirnya aku menemukanmu …!”


senyum yang telah lama hilang itu kini kembali muncul.


“Aku pasti akan menemukanmu, jadi selama ini kau


bersembunyi di tempat ini, kenapa aku begitu bodoh, sebegitu dekatnya kamu,


tapi aku kesulitan untuk menemukanmu!”


Rendi segera masuk kembali ke dalam mobilnya.


Sepertinya hari ini ia kana menbatalkan keputusannya telah membebaskan tugas


untuk Ajun.


Rendi mengambil ponselnya, menghubungi anak buahnya


itu.


“Iya pak!” Ajun langsung menyahut di seberang sana, mungkin pria itu sekarang sedang menggerutu dalam hati karena bos nya poin plan, perasaan belum sampai satu jam bosnya mengatakan kalau hari ini di bebas tugaskan, tapi ternyata ia sudah di hubungi lagi, jika seperti itu berarti ada tugas menantinya.


“Aku sudah menemukan keberadaan Nadin!”


“Di mana pak?”


“Di sini, selidiki data kelahiran rumah sakit ibu


dan anak untuk dua bulan yang lalu!”


Rendi memutuskan sambungan telponnya, senyum itu


kembali muncul.


“Sudah sangat dekat…, mungkin dia juga tinggal di sekitar sini, aku akan jalan-jalan sebentar di sini!”


Rendi memutuskan untuk kembali berkeliling sebelum


besok di sibukkan dengan pekerjaannya.


Alex beberapa hari terakhir jarang berkunjung ke rumah Nadin, ia punya pekerjaan di Jakarta yang mengharuskannya untuk pulang


pergi ke Jakarta. Hari ini urusannya di Jakarta sudah selesai, ia menyempatkan


diri untuk mengunjungi Nadin dan Elan.


“Lex …, nggak kerja?” Tanya Nadin, ia sedang


mengganti popok Elan.


“Libur …, besok dan seterus aku aka nada pekerjaan di sini, jadi akan banyak waktu untuk Elan, iya kan El …!” ucap Alex sambil


mengajak bicara Elan yang sebenasrnya tidak begitu mengerti dengan ucapan Alex,


tapi baby itu tersenyum senang saat Alex mengajaknya bicara.


“Memang ada apa?”


“Ada proyek besar yang akan di adakan di sini,


teknologi alternative untuk beberapa cabang teknologi yang akan mendukung


pergerakan global!”


“Ahh …, entahlah …, aku tidak tahu kamu ngomong apa!”


Nadin menyerah, yang ia tahu selama ini hanya ilmu akuntansi, bukan


bidangnya jika bicara tentang teknologi. Memang akhir-akhir ini Elex sedang


mengembangkan usahanya di bidang teknologi, ia memanfaatkan bakatnya yang telah


lama terpendam.


“Apa hari ini tidak ada acara?’ Tanya Alex lagi.


“Ada?”


“apa?”


“Bermain bersalama Elan …!” ucap Nadin sambil bergelak, senyum Nadin mengembang menertawakan kekepoan Alex.


“Mau jalan-jalan? Tapi ini bukan pertanyaan sih,


keharusan …., kalau tidak mau, biar aku ajak Elan saja …., iya kan El …, mau


jalan-jalan sama daddy?” dan Elan terkekeh melihat ekspresi Alex. Sedangkan Nadin


hanya benghela nafas kesal karena Alex yang suka sekali memaksa.


“Baiklah …, biarkan aku bersiap dulu!”


Akhirnya Alex mengajak Nadin dan Elan jalan-jalan


menikmati suasana sore kota Surabaya. Mereka memutuskan untuk berhenti di salah


satu rertauran yang cukup dekat dengan taman sehingga sambil makan sambil


menikmati pemandangan taman Surabaya yang menyegarkan mata.


Mereka tidak bepergian terlalu jauh, hanya di


dekat-dekat rumah Nadin saja, kasihan Elan, dia masih terlalu kecil untuk


perjalanan jauh.


Alex mendorong kereta bayi Elan, mereka memasuki


sebuah restaurant. Dan duduk di salah satu bangku yang dekat dengan jendela,


jadi dapat dengan mudah mentaap keluar, melihat ramainya tamandi sore hari.


“Mau makan apa?” Tanya Alex.


“Apa aja!”


“baiklah, aku pesankan seperti biasa saja!”


Alex pun berdiri dan berjalan menuju meja kasir,


Alex ikut antri bersama pelanggan lainnya, tapi langkahnya terhenti ketika


seseorang yang ia kenal sedang berjalan mendekatinya.


“Rend …!” Alex terpaku.


“Hai Lex, kamu di sini?” rendi mendekat , sepertinya


ia juga sedang antri untuk memesan makanan.


“Iya aku sedang makan!”


“Sama siapa?” Tanya Rendi lagi.


“Sama istri dan anakku!”


Bersambung


Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya


Follow Ig aku ya


tri.ani.5249


Happy Reading 😘😘😘😘😘