
Setelah itu, ia hari ini hanya ingin merebahkan
badannya, melepas segala kepenatan. Tapi tetap saja tidak bisa, bayang-bayang
Nadin selalu menari-nari di pelupuk mata. Ia teringat pada sesuatu, selembar
kertas yang pernah Nadin tulis untuknya dan sebuah hasil tes kehamilan milik
Nadin masih ia simpan di dompetnya. Setiap kali ia merindukan wanita yang
telah menjadi istrinya itu, kertas itu yang selalu menjadi obat untuknya, ia
seperti bisa melihat anak dan istrinya dalam kertas itu.
“Tokki …, apa kau tidak merindukanku …!” Rendi
mendekap kertas yang bertuliskan tangan istrinya. Memeluknya seperti sedang
memeluk istrinya.
Rendi mengambil kertas hasil tes kehamilan milik
Nadin, menciumnya beberapa kali, mungkin jika ada yang melihatnya, Rendi akan
terlihat seperti orang gila, berbicara pada selembar kertas yang sudah lusuh
karena seringnya di sentuh.
Tulisan positif itu memberi arti tersendiri pada
hidupnya, tulisan itu yang membuatnya kini bisa tetap bangkit dan berdiri,
tidak hanya meratapi kepergian istrinya, harapan suatu hari nanti bisa bertemu
dengan istri dan anaknya begitu besar, segala usaha telah ia kerahkan untuk
mencari istrinya, tinggal beberapa langkah lagi, hampir menemukan titik terang.
Rendi kembali memperhatikan surat dokter itu, ia perhatikan dengan seksama, ada yang mengganjal di sana.
“Tanda ini, symbol ini …!” Rendi terus saja
mengingat di mana ia melihatnya. Simbul yang sudah terpotong sebagian karena
ulah Nadin, untung saja masih tersisa sedikit dan sedikit terbaca.
“Di rumah sakit itu …!” gumam Rendi.
Rendi bergegas bangun dari tempat tidur, ia menyambar jaketnya yang sempat ia lepas begitu saja, menghubungi resepsionis hotel untuk menyiapkan mobilnya kembali. Dengan
langkah cepat, harapannya seakan tumbuh kembali. Ada seseorang yang sedang
menantinya di sana.
Saat sampai di lobi hotel, mobil sudah terparkir di depan hotel. Rendi segera memasuki mobilnya dan dengan cepat menjalankan mobilnya menuju ke tempat tadi, di mana ia berhenti. Rumah sakit di persimpangan jalan itu, hanya dalam waktu setengah jam akhirnya Rendi sampai juga.
Sedikit berlari pria itu menghampiri perugas
resepsionis. Seakan jika dia sedikit terlambat saja semuanya sudah tidak akan
bisa bertemu kembali.
“Maaf apa saya bisa Tanya tentang ini?” Rendi memperlihatkan dan menyerahkan lembar kertas lusuh itu pada petugas resepsionis rumah sakit.
“Ini hasil tes kehamilan pak!” jawab petugas itu.
“Iya saya tahu!"
"Lalu?"
"Apa kertas ini di keluarkan dari rumah sakit ini? apa aku bisa meminta kertas yang sama
seperti ini?"
Resepsionis itu mengambil sebuah kertas yang seukuran dengan kertas itu tapi bedanya masih utuh dan menempelkannya pada kertas yang di bawa oleh Rendi, dan ternyata dugaan Rendi
benar, ada kesamaan pada potongan itu.
“Iya pak, ini di keluarkan dari rumah sakit ini!”
"Terimakasih!" ucap Rendi sambil berlalu meninggalkan petugas itu, air matanya tak terasa menitik di sudut mata.
Ada kelegaan dari diri Rendi, ada tirik terang dari pencarian panjang ini, ia kembali memegang kertas itu, adaharapan besar di
sana. Tinggal selangkah lagi. Ia keluar dari rumah sakit itu dengan harapan
baru.
“Kelinci kecilku …, akhirnya aku menemukanmu …!”
senyum yang telah lama hilang itu kini kembali muncul.
“Aku pasti akan menemukanmu, jadi selama ini kau
bersembunyi di tempat ini, kenapa aku begitu bodoh, sebegitu dekatnya kamu,
tapi aku kesulitan untuk menemukanmu!”
Rendi segera masuk kembali ke dalam mobilnya.
Sepertinya hari ini ia kana menbatalkan keputusannya telah membebaskan tugas
untuk Ajun.
Rendi mengambil ponselnya, menghubungi anak buahnya
itu.
“Iya pak!” Ajun langsung menyahut di seberang sana, mungkin pria itu sekarang sedang menggerutu dalam hati karena bos nya poin plan, perasaan belum sampai satu jam bosnya mengatakan kalau hari ini di bebas tugaskan, tapi ternyata ia sudah di hubungi lagi, jika seperti itu berarti ada tugas menantinya.
“Aku sudah menemukan keberadaan Nadin!”
“Di mana pak?”
“Di sini, selidiki data kelahiran rumah sakit ibu
dan anak untuk dua bulan yang lalu!”
Rendi memutuskan sambungan telponnya, senyum itu
kembali muncul.
“Sudah sangat dekat…, mungkin dia juga tinggal di sekitar sini, aku akan jalan-jalan sebentar di sini!”
Rendi memutuskan untuk kembali berkeliling sebelum
besok di sibukkan dengan pekerjaannya.
Alex beberapa hari terakhir jarang berkunjung ke rumah Nadin, ia punya pekerjaan di Jakarta yang mengharuskannya untuk pulang
pergi ke Jakarta. Hari ini urusannya di Jakarta sudah selesai, ia menyempatkan
diri untuk mengunjungi Nadin dan Elan.
“Lex …, nggak kerja?” Tanya Nadin, ia sedang
mengganti popok Elan.
“Libur …, besok dan seterus aku aka nada pekerjaan di sini, jadi akan banyak waktu untuk Elan, iya kan El …!” ucap Alex sambil
mengajak bicara Elan yang sebenasrnya tidak begitu mengerti dengan ucapan Alex,
tapi baby itu tersenyum senang saat Alex mengajaknya bicara.
“Memang ada apa?”
“Ada proyek besar yang akan di adakan di sini,
teknologi alternative untuk beberapa cabang teknologi yang akan mendukung
pergerakan global!”
“Ahh …, entahlah …, aku tidak tahu kamu ngomong apa!”
Nadin menyerah, yang ia tahu selama ini hanya ilmu akuntansi, bukan
bidangnya jika bicara tentang teknologi. Memang akhir-akhir ini Elex sedang
mengembangkan usahanya di bidang teknologi, ia memanfaatkan bakatnya yang telah
lama terpendam.
“Apa hari ini tidak ada acara?’ Tanya Alex lagi.
“Ada?”
“apa?”
“Bermain bersalama Elan …!” ucap Nadin sambil bergelak, senyum Nadin mengembang menertawakan kekepoan Alex.
“Mau jalan-jalan? Tapi ini bukan pertanyaan sih,
keharusan …., kalau tidak mau, biar aku ajak Elan saja …., iya kan El …, mau
jalan-jalan sama daddy?” dan Elan terkekeh melihat ekspresi Alex. Sedangkan Nadin
hanya benghela nafas kesal karena Alex yang suka sekali memaksa.
“Baiklah …, biarkan aku bersiap dulu!”
Akhirnya Alex mengajak Nadin dan Elan jalan-jalan
menikmati suasana sore kota Surabaya. Mereka memutuskan untuk berhenti di salah
satu rertauran yang cukup dekat dengan taman sehingga sambil makan sambil
menikmati pemandangan taman Surabaya yang menyegarkan mata.
Mereka tidak bepergian terlalu jauh, hanya di
dekat-dekat rumah Nadin saja, kasihan Elan, dia masih terlalu kecil untuk
perjalanan jauh.
Alex mendorong kereta bayi Elan, mereka memasuki
sebuah restaurant. Dan duduk di salah satu bangku yang dekat dengan jendela,
jadi dapat dengan mudah mentaap keluar, melihat ramainya tamandi sore hari.
“Mau makan apa?” Tanya Alex.
“Apa aja!”
“baiklah, aku pesankan seperti biasa saja!”
Alex pun berdiri dan berjalan menuju meja kasir,
Alex ikut antri bersama pelanggan lainnya, tapi langkahnya terhenti ketika
seseorang yang ia kenal sedang berjalan mendekatinya.
“Rend …!” Alex terpaku.
“Hai Lex, kamu di sini?” rendi mendekat , sepertinya
ia juga sedang antri untuk memesan makanan.
“Iya aku sedang makan!”
“Sama siapa?” Tanya Rendi lagi.
“Sama istri dan anakku!”
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
tri.ani.5249
Happy Reading 😘😘😘😘😘