
Mereka sudah sampai di depan lobby apartemen, Rendi meminta pak security untuk mendekat. Hanya dengan sekali lambaian tangan, pak security sudah mendekat.
"Iya pak!"
"Ambilkan mobilku!" ucap Rendi, tapi saat akan menyerahkan kunci mobilnya, Nadin segera mencegahnya.
"Nggak usah pak biar kami ambil sendiri saja!" ucap Nadin sambil meraih kunci mobil yang hampir di serahkan kepada pak security.
Rendi mengerutkan keningnya penuh tanya. "Kenapa?"
"Kita ambil sendiri!"
Walaupun protes dengan apa yang di lakukan Nadin, tapi Rendi tetap saja menurut. Mereka berjalan ke parkiran. Setelah menemukan mobilnya mereka berhenti dan masuk ke dalam mobil.
"Kenapa terus cemberut seperti itu?"
"Bisa nggak, tidak selalu membuatku susah?"
"Aku tidak ingin membuatmu susah, coba aku tanya sudah berapa lama mas Rendi tinggal di apartemen ini?"
"Kenapa?" Rendi benar-benar tidak percaya dengan apa yang di tanyakan oleh Nadin. Menurutnya itu bukan pertanyaan yang penting untuk di jawab.
"Jawab saja!"
"Tujuh tahun!"
"Sudah berapa kali masuk ke parkiran?"
"Pertanyaan macam apa itu?" lagi-lagi Rendi harus mengeluh dengan pertanyaan Nadin.
"Sudah ku bilang, jawab aja!"
"Baru kali ini!"
"Iya kan! Makanya jangan terlalu mengandalkan kekuasaan agar kau bisa tahu segalanya, sesekali lakukan hal yang berbeda agar hidupmu lebih menyenangkan!"
Kalau aku pikir-pikir benar juga apa yang di katakan nya ...
"Kenapa malah diam?"
"Sudah diam jangan banyak bertanya, aku mau melakukan mobilnya, kita kemana?"
"Bagaimana kalau kita ke mall!"
"Aku nggak suka berada di tempat ramai!"
"Ayo lah ...., kita kan belum pernah berkencan, pernah sekali itu pun gagal, aku rasa sekarang waktunya buat kita untuk berkencan kan?"
"Kencan?"
"Tahu kan kosa kata itu artinya apa?!"
"Apa?"
"Astaga ....., kau ini manusia dari planet mana sih sampai berkencan saja tidak tahu!"
"Jangan meledek!"
"Berkencan itu dua sejoli, sepasang kekasih yang menghabiskan waktu berdua saja, dengan makan es krim, nonton film, berbelanja pernak pernik, pergi ke taman hiburan, minum di gelas yang sama dengan dua sedotan, berkeliling mall sambil bergandengan tangan, dan masih banyak lagi!"
"Memang ada kegiatan yang seperti itu? Membuang waktu saja!"
"Hehh ...., ternyata mas Rendi manusia yang tidak manusiawi!"
"Maksudnya?"
"Walaupun kak Agra yang anak sultan dengan segudang fasilitas, tapi kehidupan sebagai anak sultan yang menjalaninya mas Rendi, jadi dapat aku simpulkan kalau mas Rendi ini tidak manusiawi!"
"Apa menurutmu aku ini orang yang aneh?"
"Bukan seperti itu!"
"Lalu?"
"Mas Rendi hanya belum tahu aja cara menjalani hidup yang normal!"
"Kau ini ya sudah terlalu banyak bicara, jadi bicaramu nglantur begitu!"
Akhirnya mereka sampai juga di sebuah pusat perbelanjaan, Rendi kali ini harus hanya mengandalkan dirinya sendiri, biasanya Rendi yang selalu dengan anak buahnya, tapi kini untuk mengomando mereka Rendi tidak punya alatnya.
Mereka turun dari mobil.
"Kita mulai kencan hari ini!" ucap Nadin semangat. Rendi hanya bisa menatap gadis itu heran.
Hanya dengan kata kencan ....., anak ini bisa sebahagia ini ...
Rendi segera menyusul Nadin yang berjalan di depannya, ia mensejajari langkah Nadin dan menautkan jari-jarinya ke jari-jari Nadin, membuat Nadin tercengang.
"Ayo jalan ....!" ucap Rendi dan Nadin tersenyum.
"Mau nonton film apa?" tanya Rendi, ia sebenarnya sudah sangat kesal karena seharian harus menuruti Nadin. Tapi mau bagaimana, menolak pun ia tidak mampu.
"Yang romantis aja ya!"
"Nggak mau, nanti kamu nangis lagi!"
Nadin terlihat berfikir, dan akhirnya menemukan ide.
"Komedi aja ....!"
"Action aja!"
"Aku nggak suka action!"
"Ya udah action komedi!"
Kenapa tadi pakek acara bertanya kalau ujung-ujungnya dia yang milih juga ....
Akhirnya mereka memilih action komedi. Mereka tak lupa membeli pop corn dan minuman dingin.
Nadin terlihat begitu menikmati, ia tertawa kadang sampei memukul-mukul pundak Rendi, dan sesekali meremasnya karena tegang.
Sedangkan Rendi hanya memperhatikan Nadin seorang, saat berdua seperti ini ia jadi teringat dengan kejadian tadi pagi.
Apa yang harus aku lakukan? Apa iya aku akan bertahan sampai satu setengah tahun, baru beberapa hari saja seperti ini ....
Rendi segera menggelengkan kepalanya, kembali fokus ke layar di depan, tapi lagi-lagi Nadin menyentuhnya, membuatnya kembali merasa seperti tersengat aliran listrik.
Lagi-lagi Rendi harus menghindar dari menatap Nadin, tapi tidak bisa, jantungnya bekerja ekstra untuk ini.
Apa aku harus mencobanya ya ...., tapi apa dia mau?
Setelah berfikir keras akhirnya Rendi memutuskan.
"Din!" bisik Rendi di telinga Nadin, seketika Nadin menoleh padanya.
"Ada apa?"
"Apa kita perlu mencobanya?"
Kening Nadin berkerut, menandakan kalau ia tidak paham dengan apa yang di katakan oleh Rendi.
"Mencoba apa?"
Kenapa dia nggak peka sih ...., aku harus ngomong bagaimana?
"Mencoba itu!"
"Itu apa?" Nadin mencoba berpikir. "Maksudnya kencan? Atau pergi ke taman hiburan?"
"Bukan itu, maksudku mencoba itu!" ucap Rendi sambil menusuk-nusuk punggung telapak tangan Nadin dengan jari telunjuknya.
Sebenarnya mau bicara apa sih? Apa otakku yang lefelnya rendah ya ...., kenapa sekarang nambah lagi bahasa yang nggak aku ngerti ....
"Mas kan tahu, otakku hanya sebesar biji jagung, jadi jangan di suruh mikir yang berat-berat!"
"Ya sudah lah ...., terserah kau saja!" Rendi menarik tangannya, ia kesal karena Nadin tak juga paham dengan apa yang di katakan nya. Tapi bukan salah Nadin sepenuhnya juga, ia juga nggak tahu cara menyampaikannya.
Setelah selesai nonton bioskop, tak banyak percakapan yang di lakukan, sepertinya rendi masih marah, lalu mau marah sama siapa? Mungkin benar apa yang di katakan Nadin dan Agra kalau dia nggak lulus pas ujian bahasa, kosa katanya dikit banget.
"Aku akan mengantarmu pulang!" ucap Rendi ketika sudah di dalam mobil.
"Lalu kamu mau ke mana?" tanya Nadin yang tidak terima, sudah di cuekin di tinggal pula.
"Aku akan ke tempat Frans, mungkin cukup lama, karena aku nggak tahu di mana dia sekarang!"
"Di hubungi aja!"
"Bagaimana caranya? aku bukan orang yang bisa telepati!"
"Ponselnya?"
"Memang ponselmu ada?"
Ah iya aku lupa kalau sampai tiga hari ke depan aku harus terpisah dengan ponselku
Setelah mengantar Nadin, Rendi langsung putar balik, biasanya ia tidak suka menunggu tapi sekarang harus menunggu hingga berjam-jam hanya untuk menemui sahabatnya yang tak tahu tempatnya itu, Rendi memilih menunggu di rumah Frans saja dari pada di rumah sakit.
**BERSAMBUNG
Jangan lupa untuk kasih dukungan ke author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
Tri.ani5249
Happy Reading 😘😘😘😘**