
Apa itu cinta? Cinta adalah kamu rela membiarkan perasaanmu
menjadi rentan saat bersama dengan dirinya.
****
Tapi tiba-tiba sebuah suara mengagetkan mereka. Membuat mereka
tersadar dan kembali ke alam nyata.
“Maaf tuan ..., mengganggu waktu anda.” Anak buah Rendi datang.
Rendi pun segera menyingkir dari tubuh Nadin dan menormalkan suasana hatinya.
Rendi membenahi kemejanya yang sempat berantakan.
“Ada apa?” ia kembali dengan wajah dinginnya. Rendi menatap anak
buahnya.
“Di bawah ..., nyonya Aruni datang membuat kekacauan ...”
“Aruni ...?” ucap Nadin dan Rendi bersamaan.
Rendi pun segera meninggalkan balkom, meninggalkan Nadin, ia turun
di ikuti anak buahnya. Mereka menuju ke tempat Agra. Sedangkan Nadin masih
bingung siapa yang di maksud dengan Aruni itu? Tak mau berasumsi sendiri
akhirnya Nadin pun memutuskan untuk menyusul Rendi.
***
Setelah selesai dengan sambutannya, Agra pun segera mengajak Ara
turun, mereka menyalami tamu yang hadir .
Tapi langkahnya terhenti pada tamu yang sebelumnya memang sudah di
duga Agra akan hadir walaupun tanpa undangan. Dia Aruni. Dia datang untuk
mengacau acara Agra dan Ara.
Aruni membuat berita bohong, ia memanfaatkan awak media untuk
menjatuhkan reputasi Agra.Untung saja anak buah Rendi mendengar keributan itu
dan segera memberitahu Rendi , Rendi segera masuk dan menghampiri tempat terjadinya
keributan.
“nyonya Aruni ...”
“eh ... ternyata di sini juga ada peliharaannya Ratih ya ...”
ucapnya sambil menatap Rendi yang berdiri tak jauh dari mereka.
‘jaga ucapan anda nyonya ...” ucap Rendi dingin dengan mengepalkan
kedua tangannya
“bukankah saya berkata benar..., kau memang peliharaan Ratih kan
sama seperti ayah kamu itu, siapa ...? Salman ...., ya Salman ....”
“jika anda tetap bicara tidak sopan di sini, saya akan menyeret
anda keluar”
“saya bicara yang sebenarnya loh ....., bukankah benar jika
pernikahan mereka di sembunyikan itu karena ada sesuatu yang memalikan,
seharusnya seluruh dewan direksi finity Group tahu soal ini dan memikirkan
ulang untuk menjadikannya CEO perusahaan”
“jika itu mau nyonya, maka kami akan mengadakan rapat direksi, kami
tunggu kedatangan anda, dan untuk saat ini silahkan anda pergi dari sini”
“baiklah ..., kami akan datang ...”
Aruni langsung meninggalkan Rendi dan Agra dengan penuh kemenangan.
Nadin ternyata juga ikut turun, ia bisa melihat bagaimana Rendi menyelesaikan
masalah, ia bertambah suka pada pria itu, rasa cintanya semakin dalam. Nadin menatap
Rendi begitu dalam, hingga tanpa sadar sudah ada seseorang yang berada di
sampingnya, ia menepuk bahu Nadin.
“Iya ...” Nadin tersadar dari lamunannya, dan menatap siapa yang
menghampirinya. “Kak ...”
“Nadin..., aku pulang dulu ya.” Ucap Jerry. Jerry pun memeluk
Nadin, memberi ucapan selamat malam.
“Iya kak, hati-hati di jalan.” Nadin membalas pelukan Jerry. Tapi tatapannya
tak beralih dari Rendi.
Lagi-lagi Rendi melihatnya, membuatnya semakin muak. Entah kenapa
dia emosi melihatnya.
Dia benar-benar menguji kesabaranku ..., beraninya dia ...., Batin Rendi.
Dia tidak suka Nadin dekat dengan pria lain, tapi dia juga tidak
mau memberikan hatinya untuk Nadin.
“Gue duluan ya bro, gue barengan sama Jerry.” Ucap dr. Frans saat
menghampiri Rendi dan Agra. Rendi hanya mengangguk, tapi matanya menatap tajam
pada Nadin.
“Sepertinya bakal ada perang dunia ke dua nih ...” gumam dr. Frans.
“ gue duluan ya Gra, selamat atas semua kesuksesan lo.” Ucap dr. Frans pada
Agra yang juga masih berdiri di samping Rendi.
“Terimakasih, bro. Hati-hati di jalan.”
Akhirnya dr. Frans pulang duluan dengan Jerry, ya setelah kejadian
tadi mereka menjadi dekat. Banyak hal yang sama yang ia sukai dan dr. Frans pun
orang yang sangat friendly, berbeda dengan Rendi yang kaku dan dingin. Jadi bukan
persoalan sulit bagi dr. Frans akrab dengan siapapun.
***
Setelah acara selesai,, Agra
pun menyuruh Ara untuk beristirahat karena tamu sudah banyak yang meninggalkan
acara, jam sudah menunjukkan angka sepuluh, Agra masih ada urusan dengan Rendi.
sebenarnya tak tahan Rendi ingin segera menghampiri Nadin dan memberi pelajaran
pada gadis itu. Tapi ia juga tak bisa mengabaikan Agra, sahabatnya.
Ara pun hanya mengangguk
menuruti perintah suaminya, ia cukup syok dengan kejadian tadi. Agra sangat
menghawatirkan kandungan istrinya. Agra memanggil Nadin yang sedang
membersihkan meja tamu, Agra meminta Nadin untuk menemani Ara.
Nadin pun tak menunggu
perintah dua kali, ia segera menghampiri kakaknya dan memapahnya ke atas. Sebenarnya
banyak sekali pertanyaan yang ingin dia lontarkan, tapi saat melihat keadaan
kakaknya yang tak cukuo baik. Nadin sudah cukup bijak untuk mengertiu
situasinya.
untuk bicara berdua.
Agra menunjuk ke luar ruangan yang cukup sepi dengan orang yang
lalu lalang, ia memilih kursi panjang di depan taman menghadap ke kafenya.
Setelah mereka duduk perdampingan, dinginnya angin malam menambah
suasana dingin di antara mereka, mereka cukup lama terdiam dengan pikirannya
masing-masing.
“gue cukup bingung dengan situasi sebenarnya ...” ucap agra sambil menghela
nafasnya yang berat.
“gue maklum itu ...., nyonya sengaja nutupin semuanya dari lo,
supaya lo nggak memikirkannya”
Akhirnya Rendi menceritakan semuanya dari awal pada Agra, konpirasi
pembunuhan tuan Wijaya, ayah Agra , bukti-bukti penggelapan uang perusahaaan,
pengiriman Agra ke panti asuhan dan keterlibatan Aruni dalam segala
kejahatannya. Bagaimana Ratih berusaha melindungi agra dari berbagai konpirasi
yang di lakukan Aruni dan orang-orangnya.
“gue harap lo mau menghadiri
rapat direksi, Cuma lo harapan nyonya saat ini ...., bawa sekalian bukti itu”
Tanpa mereka sadari ternyata dari atas sana, sedari tadi Nadin
memperhatikan mereka dari balik jendela. Ia menatap pria dengan kemeja putih
itu, ia sangat menawan.
Kenapa aku begitu mengaguminya, aku tak tahu ini cinta atau hanya
sekedar rasa kagum saja ....Batin nadin.
“kira-kira apa ya kak yang mereka bicarakan?” tanya Nadin pada Ara
yang sedang duduk di atas tempat tidur sambil menyenderkan punggungnya di
senderan tempat tidur.
“Bukan urusan kita, dek ....” ucap Ara.
Setelah di rasa kakaknya sudah tenang, Nadin pun memutuskan untuk
segera berpamitan, karena hari sudah semakin larut, ia pulang sendiri karena
ayahnya sudah pulang semenjak sore.
***
Nadin melintas di depan Agra dan Rendi yang sudah selesai bicara. Ia
akan berpamitan dengan kakak iparnya.
“Aku pulang dulu ya kak” pamit Nadin pada kakak iparnya .
“kamu sendiri?” tanya Agra.Agra tampak khawatir, apalagi setelah
apa yang terjadi dengan keluarganya. Bukan tidak mungkin jika Nadin bisa jadi
sasaran selanjutnya.
“Iya ...”
“Ini sudah malam, sebaiknya kamu pulangnya bareng Rendi aja ya,
motornya biar di sini. Nggak pa pa kan Rend kalau aku titip adik aku?” tanya
Agra meminta persetujuan Rendi, Rendi pun hanya mengangguk. Tapi matanya
menatatap tajam pada Nadin seperti siap menerkam.
Astaga si balok es ini, menakutiku saja .....
Akhirnya Nadin pun menuruti ucapan kakak iparnya, ia pulang di
antar oleh Rendi. sesaat mereka dalam keheningan. Nadin tidak tahu apa yang
sebenarnya sedang di pikirkan oleh laki-laki di sampingnya itu. Ekspresinya sulit
di artikan.
“Pak...” ucap Nadin memulai pembicaraaan saat mereka sudah berada
di dalam mobil.
“Hemmm.” Jawab Rendi.
“Pak Rendi jatuh cinta sama seseorang ya?” ucapan Nadin seketikan
membuat Rendi terkejut, jatuh cinta? Dengan reflek, Rendi menginjak
pedal rem, membuat mobil terhenti mendadak, untung saja keadaan jalanan sedang
sepi karena hari sudah sangat larut. Nadin begitu terkejut, hingga tubuhnya
terpental ke depan, keningnya terbentur dasbordb depan mobil.
“Aughhh ...., sakit!” keluh Nadin sambil memegangi keningnya yang
terbentur. “Pak ..., apa yang pak Rendi lakuin?”
Rendi menatap Nadin dalam.
Ia diam dengan tatapan tajamnya membuat Nadin bergidik ngeri. Tatapan itu
seolah-olah bisa menembus kulit Nadin. Seandainya saja tatapan itu bisa
membakar, mungkin tubuh Nadin akan terbakar. Tapi bagi Nadin tatapan tajam
Rendi malah membuat hatinya beku. Serasa mendapat tatapan dari frogen, si
manusia es.
“Itu tadi kata dr. Frans pak, jadi jangan marah ..., kata dr. Frans
pak Rendi sedang patah hati.” Ucapan Nadin polos, ucapannya tertahan di
tenggorokan. Rasanya hatinya membatu bersama tatapan Rendi.
Rendi mengalihkan pandangannya, ia seperti sedang mengendalikan
emosinya yang terasa sudah di ubun-ubun. Setelah emosinya mereda, ia pun kembali
menjalankan mobilnya, ia tak mau terpancing lagi dengan ucapan Nadin. Kenapa
dia marah? Saat mengingat kedekatan Nadin dengan Jerry, kenapa hatinya tidak
terima? Tapi dia tidak memberi kesempatan pada Nadin untuk mengetuk hatinya.
***
Cinta itu seperti lagu-lagu Top
40 yang sering diputar radio. Kamu tidak bisa menghilangkan lirik-lirik
lagu tersebut walaupun terkadang muak mendengarnya. Tapi ketika lagu-lagu
tersebut terputar, kamu akan tetap tersenyum dan langsung menyanyikannya.
BERSAMBUNG
Jangan lupa kasih dukungan ke author
dengan memberikan LIKE dan KOMENTARNYA ya
Kasih VOTE juga ya
Yang banyaaaaak
Terimakasih
Happy Reading