
"Kak Davina!" Pekik Nadin setelah tahu siapa yang menarik tangannya.
"Ikut aku!" Ucap Davina sambil menajamkan matanya.
"Kemana?" tanya Nadin yang sudah mulai terlihat panik karena melihat Davina yang sepertinya sangat marah.
"Kita harus bicara!"
Ternyata Davina membawa Nadin ke tangga darurat yang sepi, memang jarang ada orang yang menggunakan tangga darurat, malah mampir tidak pernah, karena kalau harus lewat tangga darurat akan memakan waktu yang banyak karena bosnya jelas tidak mau menunggu.
"Lepaskan kak, tangan Nadin sakit!" Ucap Nadin memelas. Davina pun segera melepas tangan Nadin dengan mendorong tubuh Nadin dengan sangat kasar hingga tubuh Nadin membentur ke dinding yang ada di belakangnya.
"Augh ....!" Keluh Nadin. "Ada apasih kak?" Tanya Nadin sambil memegangi pergelangan tangannya yang memerah. Ia sudah bersender di dinding karena Davina berhasil mendorongnya.
"Sekarang katakan sejujurnya, apa benar kau menikah dengan pak Rendi?" Tanya Davina sambil menarik kerah baju Nadin, hingga kancing bajunya terlepas satu yang paling atas.
"Iya ...., Kakak benar, aku menikah dengan mas Rendi!" ucap Nadin yang sedikit tertahan karena Davina menekan lehernya.
"Mas ...., Sejak kapan kau memanggilnya mas? Sejak kapan ....hah ...?" Davina semakin mengencangkan tarikannya, Nadin yang berusaha melepaskan cengkeraman Davina tak bisa melepaskannya.
"Sudahlah kak ..., Lupakan semuanya. Mas Rendi sudah memilih Nadin sebagai pendampingnya, seharusnya kakak terima!" Nadin berusaha untuk menjelaskannya.
"Hehh ..., Mudah sekali ya kamu bicaranya, kau tahu aku sakit!" Ucap Davina yang terlihat begitu marah.
Plakk
Davina mendaratkan tamparannya ke pipi sebelah kiri Nadin, hingga pipi Nadin memerah karena tamparan itu.
"Kak ..., Sakit!" Nadin sudah tidak bisa menahan air matanya, pipi nya terasa panas dan sakit.
"Aku tidak bisa terima, kenapa kau yang selalu menang? Kenapa?" Teriak Davina sambil menghubungkan tubuh Nadin ke belakang.
"Kak ...., Jangan seperti ini!" Nadin begitu takut jika Davina akan menyakitinya lebih dari ini.
"Aku membencimu ...., Benar-benar membencimu ...., Kau harus mati, kau harus mati!" Teriak Davina, wanita itu benar-benar sudah di butakan dengan rasa iri. Nadin semakin di buat takut, ia tidak menyangka jika kakak sambungnya benar-benar kalut seperti ini.
"Kak sadar kak .....!" Air mata Nadin benar-benar sudah membanjiri bibinya hingga ke kemejanya.
"Menangislah sekarang sepuasmu!" Ucap Davina dengan senyum sinis, senyum yang terlihat begitu menakutkan, ia gunakan tangan kirinya untuk mengusap air matanya yang keluar, sedangkan tangan kanannya tetap di kerah baju Nadin.
"Dengar adikku yang manis ...., Seharusnya aku yang menikah duluan, hidup ini tidak adil, kau di beri ayah yang pengertian, baik, sedangkan aku ayah yang suka mabuk-mabukan, judi, menyakiti ibuku, dan sekqrang kau dan kakak tercintamu itu, mendapatkan suami yang sangat baik, kenapa?
Apa aku tidak pantas mendapatkan semaunya? Aku cantik, aku pintar, aku smart ...., Tapi kenapa kebentungan selalu menjauh dariku, hanya luka yang selalu aku terima? Kenapa?" Teriak Davina sambil mendorong kepala Nadin hingga membentur dinding di belakangnya.
"Kak ...., Banyak pria baik di luar sana, tapi bukan kak Agra, atau mas Rendi!"
"Kau harus mati!" Ucap Davina sambil berbisik, membuat Nadin semakin di buat takut.
"Kak sadar ...., Ayah dan ibu pasti akan terluka!"
"Diam .... , Bagaimana jika aku mendorongmu ke tangga ini, pasti kau akan mati, kalau tidak kau pasti akan amnesia atau cacat!" Ucap Davina dengan senyum sarkasnya.
"Kak jangan!" Teriak Nadin saat Davina berusaha mendorong tubuh nafins upaya jatuh dari lantai atas, tapi ternyata tidak semudah itu, tenaga Nadin sama kuatnya, ia berusaha mempertahankan diri agar tidak terjatuh, terjadi duel panas antara bersaudara itu.
Hingga Davina yang memakai sepatu hak tinggi terpeleset satu anak tangga membuatnya terjatuh, tubuh Davina berguling-guling di anak tangga, beruntung Nadin berhasil menarik tubub Davina hingga tidak sampai jauh tubuh davina melesat ke bawah.
"Kak .....!" teriak Nadin saat tangan Nadin berhasil meraih tangan Davina, air mata Nadin kembali leleh. Kening Davina mengeluarkan darah, sangat banyak, membuat Nadin semakin panik, tapi Davina masih dalam keadaan sadar.
"Kak keningmu berdarah!" Ucap Nadin hendak memegang kening Davina, sedangkan Davina sedang berusaha mengembalikan kesadarannya, ia memejamkan matanya sejenak lalu membukanya kembali.
"Pergi! Jangan sentuh aku ....!" Ucap Davina pelan.
"Kak ...., Kakak terluka!"
"Pergi kataku ...., Jangan pedulikan aku!" Sekarang Davina sudah teriak. Membuat Nadin memundurkan langkahnya, ia pun segera meninggalkan Davina
πΊπΊπΊπΊ
**BERSAMBUNG
Jangan lupa untuk kasih dukungan ke author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku juga ya
Tri.ani5249
Happy Reading πππππ**