
"Ada yang sedang menunggu anda, Pak!"
"Siapa?"
"Presdir Group H!"
Mendengar hal itu, Agra tersenyum smirtt, ia seperti sudah tahu apa yang akan di bicarakan oleh pak presiden direktur group H.
"Mari kita temui dia!"
Mereka berjalan beriringan menuju ke pintu Lift. langkah mereka terhenti tepat di depan pintu lift menunggu hingga pintu itu terbuka. Rasanya tidak sabar ingin segera bertemu dengan pria itu.
Saat pintu lift terbuka Agra dan Rendi segera masuk dan di ikuti oleh pria itu.
"Apa menurutmu ini pertanda baik?" tanya Agra pada Rendi yang berada di sebelahnya.
"Akan lebih baik jika ada sedikit tantangan!" ucap Rendi tapi kali ini diikuti dengan senyum di bibir tipisnya.
"Aku setuju denganmu!"
Mereka akhirnya berhenti di depan sebuah ruangan.
"Silahkan pak!" pria itu mempersilahkan mereka untuk masuk setelah pintu terbuka. karena pria itu adalah kepala cabang jadi mereka memerintahkan pria itu untuk ikut masuk.
Di dalam ruangan itu sudah menunggu seorang pria paruh baya, pria itu segera berdiri dari duduknya saat Rendi dan Agra datang.
"Duduklah pak Barata!" perintah Agra, tapi pria itu malah mendekati Agra dan Rendi dengan wajah yang penuh penyesalan. Dan menjatuhkan dirinya ke lantai sambil bersimpuh, ia juga menakup kan kedua tangannya di depan dada membuat pria yang berada di belakang Rendi dan Agra begitu terkejut.
"Pak Agra, pak Rendi! Tolong ampuni saya dan putri saya! Saya janji tidak akan menggangu atau mengusik finityGroup lagi!"
"Bangunlah dan berhenti bersikap seperti itu, anda benar-benar membuat saya seolah-olah begitu kejam saja!" ucap Agra sambil duduk meninggalkan pria itu, Rendi pun tetap mengikuti langkah Agra dan berdiri di belakangnya.
Pak Barata pun bangun dan kembali menghampiri Agra dan Rendi.
"Saya siap di hukum apa saja asal jangan anda hancurkan perusahaan saya!"
"Baiklah ...., kalau begitu saya akan mencabut laporan saya dan ada cabut ijin bangunan anda di tempat yang sedang saya bangun!"
"Baik, tentu saya pasti akan melakukan hal itu!"
"Ya sudah saya rasa sudah tidak ada urusan lagi antara kita, jadi silahkan anda meninggalkan tempat ini!"
"Baik, terimakasih banyak, saya permisi!"
Setelah pak Barata meninggalkan ruangan itu, kini di tempat itu tinggal bertiga.
"Tadi kamu sudah mendengarnya sendiri, jadi segera selesaikan proyeknya dan saya tunggu hasilnya dua bulan lagi!"
"Baik pak, kalau begitu saya permisi!"
***
Sore ini mereka sudah kembali ke rumah, meeka masih ada tugas satu lagi. Membuat pesta untuk Revita, mengembalikan semua teman-temannya.
"Ingat gra, ini adalah Reoni jadi buat dirimu setampan mungkin!" ucap Rendi dengan masih bermain dengan Tab nya.
"Tidak perlu seperti itu, di lihat dari sudut manapun aku ini memang sudah tampan!"
"Cetttthhhhh ...!" Rendi hanya mencebirkan bibirnya mendengarkan kenarsisan sahabatnya itu.
Rendi segera terperanjat ketika mengingat sesuatu, wajahnya berubah panik.
"Lo kenapa? Ngagetin aja! Kesurupan ya?"
"Sekarang gantian bantu aku!"
"Apa?"
"Nadin ngidam aku bawakan sesuatu yang tidak ada di jakarta, cari ide apa itu! Kita masih punya waktu lima jam untuk sampai di acara pesta, sebelum pesta reoni itu kita harus sudah mendapatkannya!"
"Ayo ....!"
Tanpa berlama-lama Rendi segera menarik tangan sahabatnya itu dan mengajaknya ke mobil.
"Cari sesuatu di pencarian internet, aku yang menyetir!!" ucap Rendi, ia tampak begitu panik ia tidak bisa membayangkan wajah kecewa istrinya saat ia pulang tanpa membawa apa-apa.
Mobil pun mulai melaju memecah keramaian kota Surabaya di sore hari, beberapa kali Rendi menghentikan mobilnya di pusat perbelanjaan atau pun pusat oleh-oleh.
"Sudah ketemu belum?"
"Bagaimana kalau rujak cingur saja?"
"Memang rujak cingur nggak ada di jakarta?"
"Ada sih tapi kan aslinya dari sini!"
"Cari yang lain aja!"
"Baiklah ....!"
Agra kembali mengetikan sesuatu di hp pintarnya.
"Ini ketemu! 22 oleh-oleh yang wajib anda bawa pulang dari Surabaya!"
"Apa aja?"
"Almond Crispy, Spikoe Resep Kuno, Kue Lapis Surabaya, Kerupuk Ikan Kenjeran, Sambal Bu Rudy, Kue Mente, Kue Bikang Peneleh, Siropen Telasih, Bunarendang, Sirup Mangrove, Bebek Djangkep, Snack Guna-Guna, Keripik Buah Kane-Kane, Belinjo Udang, Kerupuk Udang Lobster, Pohong Tata, Bandeng Asap, Kopi Bandrek, Oseng Tuna Asap, Abon Sapi Padmosusastro!" Agra menyebutkan semua nama oleh-oleh itu.
"Ya udah kita beli semuanya saja!"
"Semuanya? Yakin!?"
"Iya ....! Sekarang cari tempat yang menjual semua oleh-oleh itu!"
Kurang ajar ...., gue jadi di suruh-suruh nih ...., gila apa mau beli semuanya, mau bikin toko kali nih Rendi di rumah ...., Batin Agra.
"Gimana sudah ketemu tempatnya belum? Sekarang kita ke mana?"
"Astaga ....., nggak sabaran banget jadi orang ya ....!"
Mereka pun kembali diam, Agra mencari tempat pusat oleh-oleh yang bisa mereka kunjungi.
"Baiklah, berdasarkan pencarian ini kita harus ke pasar genteng, pasar turi dan toko sambal hu Rudi!"
"Baiklah kita ke sana!"
Rendi segera memacu mobilnya, sesampai di tempat oleh-oleh ternyata Rendi bukan cuma mencari makanan saja, ia juga mencari pernak-pernik yang kira-kira Nadin akan suka.
Jok belakang mobil Rendi hampir saja penuh gara-gara barang belanjaan Rendi, karena kualahan dengan barang belanjaannya sendiri terpaksa mereka memanggil anak buahnya untuk membawakannya.
Agra hanya bisa terus menggerutu sepanjang jalan gara-gara ulah sahabatnya itu. Ia tidak menyangka jika ternyata Sahabat ya itu punya hobi gila belanja.
"Sekarang kita tinggal bersiap ke pesta!" ucap Rendi setelah setengah hati membuat kaki Agra seperti mau lepas.
"Kau benar-benar ingin membunuhku ya!" keluh Agra, ia sudah duduk di tepi trotoar, kakinya benar-benar mau patah.
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
tri.ani.5249
Happy Reading 🥰🥰😘❤️