
"Gimana, sudah lebih baik?" tanya pak Tama yang sudah ikut duduk bersama mereka di rumah pak Tama.
"Sudah lebih baik pak, terimakasih!" ucap Rendi menanggapi sambil memakai kembali kaosnya.
"Sebenarnya apa yang sedang kalian lakukan dan kenapa mangga itu ada di tangan kalian?" tanya pak Tama sambil menunjuk buah mangga yang ada di tangan Ajun.
"Maafkan saya paman, sebenarnya ini semua salah saya!" Nadin segera memberi alasan pada pak Tama.
"Maksudnya?"
"Saya sedang ngidam pak, pengen banget makan mangga muda yang di petik langsung sama mas Rendi di pohonnya pak Tama, tapi tadi saya sudah ijin sama bibi kok paman!"
Ha ha ha ha
Pak Tama malah tertawa terpingkal-pingkal mendengarkan penjelasan dari Nadin membuat Rendi dan Nadin saling pandang.
"Kenapa bapak malah tertawa?" tanya Rendi heran.
"Mau bagaimana lagi!"
"Saya kira bapak akan marah sama saya!"
"Saya pernah muda, saya juga pernah mengalami hal yang sama seperti yang kamu alami saat ini, bahkan lebih parah!"
Hah ...., mungkin aku harus belajar banyak dari bapak ini ....
"Waktu istri saya ngidam, pernah tuh malam-malam dia minta ketoprak yang harus di tempat langganan biasanya, padahal penjual langganan lagi pulang kampung, bapak sampek harus nyusul ke kampung gara-gara nyariin ketopraknya!" pak Tama melayangkan matanya seperti mengingat kembali masa itu, kadang terlihat senyum di bibirnya tapi juga menyisakan titik air di sudut matanya.
"Paman ......, aku jadi terharu!" ucap Nadin sambil hampir memeluk pria yang seumuran dengan ayahnya itu tapi segera di cegah oleh Rendi.
"Jangan peluk-peluk paman, tuh suamimu posesif sekali tuh!" pak Tama malah tersenyum melihat tingkah Rendi yang posesif.
"Baiklah ....., apa mangga mudanya mau di buat rujak?" tanya pak Tama pada Nadin.
"Iya paman!"
"Bagaimana kalau makan rujaknya di sini saja, kebetulan di lemari es ada banyak buah lainnya, biar bibi yang buatin sambalnya!"
"Apa tidak merepotkan paman?"
"Tidak ...., paman malah seneng kalau kamu mau, sekalian nemenin paman. Biar pria-pria ini menemanimu sambil minum kopi, kita juga bisa main catur!"
"Ide bagus paman!"
Pak Tama pun berdiri dari duduknya, ia memanggil asistennya yang tadi katanya akan membangunkan tapi ternyata nggak kembali-kembali.
"Imah ....., buatkan sambal untuk rujak buah!"
"Baik tuan!" ucap bi Imah dengan cekatan. Bi imah segera kembali dengan membawa cobek lengkap dengan sambalnya dan juga buah yang sudah di kupas dan di iris, Nadin di luar sudah sibuk mengiris mangga mudanya dan sesekali melahapnya tanpa merasa keasaman.
"Sudah selesai ....!" ucap bi Imah. Di depan Rendi dan ajun sudah ada secangkir kopi begitu juga dengan pak Tama, pak Tama juga sudah mulai menata papan caturnya.
"Bi Imah tetep di sini ya, temenin Nadin makan rujak buahnya!" ucap Nadin.
"Tapi bibi nggak suka rujak neng, suka mules perutnya!"
"Nggak pa pa, temenin aja!" Nadin sudah menyantap dengan lahapnya rujak buah itu, membuat Rendi begitu gemas untuk mencegahnya.
"Nadinda Aulya Putri, jangan banyak-banyak makan rujak buahnya!"
"Iya mas ...., tapi bantu Nadin habisinnya ya!"
"Biar Ajun saja yang bantu menghabiskan!" ucap Rendi sambil menatap Ajun, Ajun yang belum siap jawaban hanya bisa terbungkam sendiri. Mau nolak takut di pecat.
Mules ...., mules aja deh perut, asap nggak di pecat aja ....
"Ya sudah ayo kita mulai main caturnya!" ucap pak Tama yang sudah siap dengan papan caturnya, bermain catur bukan soal sulit bagi Rendi karena ia sudah terbiasa memainkan bersama ayahnya dulu. Tapi ikut makan rujak buah, ia bahkan tidak pernah memikirkannya.
Setelah beberapa kali permainan dengan skor seri, Nadin terlihat belum selesai juga makan rujak buahnya.
"Sudah ya makan rujak buahnya, ini sudah malam sekali!" Rendi berkali-kali memperingatkan istrinya itu.
"Tapi belum habis mas ...., paman saja nggak keberatan kok, iya kan paman?"
"Iya ...., paman juga senang ada yang menemani main catur, semenjak anak paman ke luar kota, paman jadi kesepian!"
"Sabar paman, kami, aku dan mas Rendi akan sering-sering datang kemari paman, iya kan mas?" Rendi yang marasa di tanya malah bingung menjawabnya, bakal tambah ribut jika Nadin setiap malam mengajak ke rumah pak Tama.
"I-iya ....! Tapi sudah makan rujaknya!"
"Sayang mas, atau gini aja mas Rendi yang habisin ya, demi debay!"
"Turuti saja apa mau istrimu, nggak akan rugi!" ucap pak Tama menasehati Rendi.
Akhirnya Rendi menyerah ia tidak lagi meminta Ajun untuk menghabiskan rujak itu, Rendi sendiri yang turun tangan, butuh waktu lama untuk menghabiskan nya. Karena Rendi tidak biasa makan asam yang begitu asam dan juga pedas.
Biasanya ia melakukan semua itu demi Agra dan sekarang ia juga harus melakukannya demi istrinya yang sedang ngidam. Sebagai sekretaris kompleksnya ia harus serba bisa dan sekarang jadi suami siaga ia juga harus melakukan hal yang sama tanpa mengeluh.
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
tri.ani.5249
Happy Reading 🥰😘❤️