
Merry menatapku dari sana, ku pejamkan mataku, mencoba
menghilangkan rasa kesalku pada pria yang akan aku temui, aku sudah berjanji
pada Merry untuk bersikap biasa saja sampai waktu itu tiba.
“Tuan Alex sudah menunggu anda di ruang makan, nona!”
“Baik!” aku berdiri dari dudukku, kembali menatap
penampilanku di cermin, walaupun aku mencoba menutupi lingkar hitam di area
mataku, tapi samar masih bisa terlihat.
Aku mengikuti Merry, kami menuruni tangga, langkah lunglaiku mungkin begitu terlihat.
Seseorang sudah
duduk di meja makan, menatapku sambil menyilangkan tangannya, pria arogan itu
benar-benar menyusahkan ku.
“Selamat malam, nona cantik!” sapanya saat aku sampai di dekat meja makan,
ia juga menggeser kan kursi untukku.
Aku tak peduli dengan pria itu, yang aku
tahu sekarang aku hanya ingin makan, mengumpulkan tenaga jika sewaktu-waktu ada
kesempatan untuk kabur, aku tidak akan kehabisan tenaga.
Karena tak mendapatkan jawaban dariku, ia pun ikut duduk.
Melihatku sudah mengambil berbagai macam makanan, ia hanya diam. Mungkin ia berfikir jika aku adalah wanita yang
tak tahu malu, biarlah masa bodo dengan anggapannya, siapa yang peduli, yang penting
aku kenyang.
“Apa kau sangat lapar?” tanyanya. Pria arogan ini benar-benar membuatku muak, aku hanya memicingkan sebelah mataku, sudah tahu aku seperti kesetanan makannya, masih juga tanya.
“Ya!” jawabku singkat sambil terus menjejali mulutku dengan
makanan, kalau dia ilfeel aku rasa itu malah lebih bagus dari pada ia
menyukaiku.
“Aku suka gayamu yang seperti ini!”
Seketika ucapannya membuatku terkejut, aku salah prediksi.
Hugggkkk hughhhkk
Ucapannya benar-benar berhasil membuatku tersedak, bukannya
tidak suka, pria arogan itu malah mengatakan suka. Dasar pria aneh …
Pria itu menyodori ku segelas air mineral, dengan cepat aku
meminumnya hingga habis. Tenggorokanku benar-benar sakit.
“Suamimu itu sepertinya benar-benar mencintaimu ya …, dia
rela mengundurkan diri demi kamu!”
“Maksudnya?” aku kembali di buat terkejut dengan ucapannya. Aku tak mengerti dengan apa yang di maksud, bukan ..., aku bukan tak mengerti, hanya saja aku harus meyakinkan jika yang aku dengar itu benar.
“Dia mengundurkan diri dari finityGroup demi kamu, pria yang
luar biasa kan!”
Aku menajamkan mataku dan telingaku, dia benar-benar berhasil membuat acara makanku berantakan.
“mas Rendi!”
Aku tak percaya secepat ini, jadi ini rencana pertamanya.
Meminta mas Rendi lepas dari finityGroup. Walaupun aku tahu mas Rendi ingin
lepas dari finityGroup, tapi jika caranya seperti ini aku tidak bisa
menerimanya, lalu apa rencana keduanya?
🌺🌺🌺🌺
Di tempat lain, Davina dan Divta yang sudah menginap selama
satu minggu di Villa, memutuskan untuk kembali ke Jakarta. Selama di Villa
mereka melakukan hubungan layaknya suami istri, karena Divta berjanji akan
menikahi Davina, membuat Davina percaya.
Divta berencana akan menemui keluarga Davina setelah sampai
di Jakarta. Walaupun tak ada kata cinta, tapi sebuah komitmen untuk bersama
sudah mereka rancang.
“Davina…, nggak pa pa ya aku antar sampai sini, soalnya ada
rapat penting di kantor, aku harus datang!” ucap Divta saat hendak menurunkan
Davina di depan rumah.
“Iya nggak pa pa Div, mungkin itu rapat benar-benar penting,
jadi jangan khawatir!”
Divta mengusap kepala Davina, meninggalkan kecupan di kening
Davina. “Salam ya buat paman Roy, nanti kalau waktunya sudah pas, aku akan
menemuinya!”
“Iya!”
Davina melambaikan tangannya saat mobil Divta mulai melaju
meninggalkan halaman rumah Davina, saat Davina berbalik hendak masuk ke dalam
rumah, langkahnya terhenti karena ayah Roy sudah berdiri di ambang pintu.
“Nak …., sudah pulang!”
“Iya ayah …, maaf Davina nggak kasih tahu ayah kalau pulangnya
agak telat!”
“Itu tadi nak Divta, kenapa nggak mampir?”
“Katanya ada rapat penting di kantor yah, Divta juga titip
salam buat ayah, nanti kalau ada waktu akan menemui ayah!”
“Oh …, baguslah …., ya sudah bersih-bersih sana, ayah keluar
Percakapan ayah dan anak itu terhenti di persimpangan, ayah
roy keluar rumah sedangkan Davina masuk ke dalam rumah.
Sesampai di kantor, Divta sudah mendapati ruang rapat yang
ramai, rapat ternyata di pimpin langsung oleh nyonya Ratih, sungguh hal yang
langka, pasti ada sesuatu yang sangat penting.
Divta memasuki ruang rapat itu, ia mengedarkan tatapannya,
formasinya lengkap. Ada Agra, Rendi, paman Salman, Nyonya Ratih dan dirinya
sendiri.
Sebenarnya ada apa
ini?
“Selamat siang …., saya sengaja mengumpulkan kalian semua di
sini karena ada hal penting yang ingin saya sampaikan!” ucap nyonya Ratih
memulai pokok pembicaraannya.
“Sebelumnya saya sebagai perwakilan dari finityGroup ingin
mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya pada tuan Rendi, karena
dedikasinya yang sangat tinggi pada perusahaan ini umumnya dan khususnya pada
keluarga Wijaya. Hingga detik ini pun dia masih setia di belakang finityGroup.”
Mendengar pidato dari nyonya Ratih, para peserta rapat yang
terdiri dari para pemilik saham dan beberapa kolega saling berbisik, banyak
dari mereka yang sudah saling menduga, dan sebagian besar dari dugaan mereka
adalah benar.
“dan dengan berat hati saya sebagai perwakilan dari
finitygroup akan membebas tugaskan taun Rendi dari segala macam tugas yang
menjeratnya di finitygroup. Biarkan dia memulainya dari awal dengan merintis
perusahannya sendiri.”
Setelah pidato panjang dari nyonya Ratih, sekarang semua
faham, ada banyak yang protes dengan keputusan yang di ambil Rendi. Banyak yang
menyayangkan hal itu terutama Divta, ia benar-benar terkejut dengan keputusan
Rendi, walaupun baru sebentar mengenal sosok Rendi, tapi dia tahu seberapa
cintanya rendi pada keluarga Wijaya, bahkan jika harus di tukar dengan
nyawanya pun dia rela.
Setelah rapat selesai, Divta segera mengejar Rendi. Ia
menghadang langkah rendi, menggiringnya ke ruangan Rendi.
“Ada apa ini sebenarnya?” Tanya Divta dengan sangat
berapi-api.
“Ada beberapa hal yang tidak dapat aku jelaskan padamu!”
ucap Rendi dengan nada dinginnya, ia membetulkan jasnya yang sedikit berantakan
karena telah di tarik oleh Divta.
“Ayolah men …, ini bukan kamu, kasih aku alasan yang masuk
akal!” Divta tetap memaksa.
“nanti kamu juga akan tahu, tapi bukan saat ini!” setelah mengakhiri ucapannya,
Rendi meninggalkan Divta begitu saja, membuat Divta begitu kesal.
“Dasar balok es …, keputusan macam apa ini?”
Divta terus menggerutu, ia sampai lupa untuk menanyakan
keadaan Nadin. Walaupun bagaimana, Nadin tetap di hatinya. Divta pun kembali
mengejar Rendi, tapi sayang, ia tidak berhasil mengejar Rendi.
“Aku harus cari tahu penyebabnya, pasti bukan seperti yang
ia katakan di ruang rapat alasannya!”
Divta melambaikan tangannya pada seseorang yang sedang
berdiri tak jauh darinya. Tak berapa lama pria itu mendekat dan memberi salam.
“Tolong ambilkan mobilku!”
“Baik pak!”
Tak butuh waktu lama, pria itu sudah kembali dengan
mobilnya, Divta segera menggantikan tempat kemudinya, sepertinya dia tahu harus
berbuat apa.
Mobil pun berhenti tepat di depan apartemen milik
Rendi, Divta segera memarkirkan
mobilnya, ia sengaja tidak memberi tahu tentang kedatangannya, supaya Rendi
tidak bisa menghindarinya.
Tapi saat hendak memasuki lobi, langkahnya terhenti karena
melihat Agra juga menuju ke tempat Rendi, Divta memilih mengikuti Agra dari
belakang.
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan ke author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
Tri.ani5249
Happy Reading 😘😘😘😘