MY BLOCK OF ICE

MY BLOCK OF ICE
pengunduran diri Rendi (Bagian dari Rencana)



Merry menatapku dari sana, ku pejamkan mataku, mencoba


menghilangkan rasa kesalku pada pria yang akan aku temui, aku sudah berjanji


pada Merry untuk bersikap biasa saja sampai waktu itu tiba.


“Tuan Alex sudah menunggu anda di ruang makan, nona!”


“Baik!” aku berdiri dari dudukku, kembali menatap


penampilanku di cermin, walaupun aku mencoba menutupi lingkar hitam di area


mataku, tapi samar masih bisa terlihat.


Aku mengikuti Merry, kami menuruni tangga, langkah lunglaiku mungkin begitu terlihat.


Seseorang sudah


duduk di meja makan, menatapku sambil menyilangkan tangannya, pria arogan itu


benar-benar menyusahkan ku.


“Selamat malam, nona cantik!” sapanya saat aku sampai di dekat meja makan,


ia juga menggeser kan kursi untukku.


Aku tak peduli dengan pria itu, yang aku


tahu sekarang aku hanya ingin makan, mengumpulkan tenaga jika sewaktu-waktu ada


kesempatan untuk kabur, aku tidak akan kehabisan tenaga.


Karena tak mendapatkan jawaban dariku, ia pun ikut duduk.


Melihatku sudah mengambil berbagai macam  makanan, ia hanya diam. Mungkin ia berfikir jika aku adalah wanita yang


tak tahu malu, biarlah masa bodo dengan anggapannya, siapa yang peduli, yang penting


aku kenyang.


“Apa kau sangat lapar?” tanyanya. Pria arogan ini benar-benar membuatku muak, aku hanya memicingkan sebelah mataku, sudah tahu aku seperti kesetanan makannya, masih juga tanya.


“Ya!” jawabku singkat sambil terus menjejali mulutku dengan


makanan, kalau dia ilfeel aku rasa itu malah lebih bagus dari pada ia


menyukaiku.


“Aku suka gayamu yang seperti ini!”


Seketika ucapannya membuatku terkejut, aku salah prediksi.


Hugggkkk hughhhkk


Ucapannya benar-benar berhasil membuatku tersedak, bukannya


tidak suka, pria arogan itu malah mengatakan suka. Dasar pria aneh …


Pria itu menyodori ku segelas air mineral, dengan cepat aku


meminumnya hingga habis. Tenggorokanku benar-benar sakit.


“Suamimu itu sepertinya benar-benar mencintaimu ya …, dia


rela mengundurkan diri demi kamu!”


“Maksudnya?” aku kembali di buat terkejut dengan ucapannya. Aku tak mengerti dengan apa yang di maksud, bukan ..., aku bukan tak mengerti, hanya saja aku harus meyakinkan jika yang aku dengar itu benar.


“Dia mengundurkan diri dari finityGroup demi kamu, pria yang


luar biasa kan!”


Aku menajamkan mataku dan telingaku, dia benar-benar berhasil membuat acara makanku berantakan.


“mas Rendi!”


Aku tak percaya secepat ini, jadi ini rencana pertamanya.


Meminta mas Rendi lepas dari finityGroup. Walaupun aku tahu mas Rendi ingin


lepas dari finityGroup, tapi jika caranya seperti ini aku tidak bisa


menerimanya, lalu apa rencana keduanya?


🌺🌺🌺🌺


Di tempat lain, Davina dan Divta yang sudah menginap selama


satu minggu di Villa, memutuskan untuk kembali ke Jakarta. Selama di Villa


mereka melakukan hubungan layaknya suami istri, karena Divta berjanji akan


menikahi Davina, membuat Davina percaya.


Divta berencana akan menemui keluarga Davina setelah sampai


di Jakarta. Walaupun tak ada kata cinta, tapi sebuah komitmen untuk bersama


sudah mereka rancang.


“Davina…, nggak pa pa ya aku antar sampai sini, soalnya ada


rapat penting di kantor, aku harus datang!” ucap Divta saat hendak menurunkan


Davina di depan rumah.


“Iya nggak pa pa Div, mungkin itu rapat benar-benar penting,


jadi jangan khawatir!”


Divta mengusap kepala Davina, meninggalkan kecupan di kening


Davina. “Salam ya buat paman Roy, nanti kalau waktunya sudah pas, aku akan


menemuinya!”


“Iya!”


Davina melambaikan tangannya saat mobil Divta mulai melaju


meninggalkan halaman rumah Davina, saat Davina berbalik hendak masuk ke dalam


rumah, langkahnya terhenti karena ayah Roy sudah berdiri di ambang pintu.


“Nak …., sudah pulang!”


“Iya ayah …, maaf Davina nggak kasih tahu ayah kalau pulangnya


agak telat!”


“Itu tadi nak Divta, kenapa nggak mampir?”


“Katanya ada rapat penting di kantor yah, Divta juga titip


salam buat ayah, nanti kalau ada waktu akan menemui ayah!”


“Oh …, baguslah …., ya sudah bersih-bersih sana, ayah keluar


Percakapan ayah dan anak itu terhenti di persimpangan, ayah


roy keluar rumah sedangkan Davina masuk ke dalam rumah.


Sesampai di kantor, Divta sudah mendapati ruang rapat yang


ramai, rapat ternyata di pimpin langsung oleh nyonya Ratih, sungguh hal yang


langka, pasti ada sesuatu yang sangat penting.


Divta memasuki ruang rapat itu, ia mengedarkan tatapannya,


formasinya lengkap. Ada Agra, Rendi, paman Salman, Nyonya Ratih dan dirinya


sendiri.


Sebenarnya ada apa


ini?


“Selamat siang …., saya sengaja mengumpulkan kalian semua di


sini karena ada hal penting yang ingin saya sampaikan!” ucap nyonya Ratih


memulai pokok pembicaraannya.


“Sebelumnya saya sebagai perwakilan dari finityGroup ingin


mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya pada tuan Rendi, karena


dedikasinya yang sangat tinggi pada perusahaan ini umumnya dan khususnya pada


keluarga Wijaya. Hingga detik ini pun dia masih setia di belakang finityGroup.”


Mendengar pidato dari nyonya Ratih, para peserta rapat yang


terdiri dari para pemilik saham dan beberapa kolega saling berbisik, banyak


dari mereka yang sudah saling menduga, dan sebagian besar dari dugaan mereka


adalah benar.


“dan dengan berat hati saya sebagai perwakilan dari


finitygroup akan membebas tugaskan taun Rendi dari segala macam tugas yang


menjeratnya di finitygroup. Biarkan dia memulainya dari awal dengan merintis


perusahannya sendiri.”


Setelah pidato panjang dari nyonya Ratih, sekarang semua


faham, ada banyak yang protes dengan keputusan yang di ambil Rendi. Banyak yang


menyayangkan hal itu terutama Divta, ia benar-benar terkejut dengan keputusan


Rendi, walaupun baru sebentar mengenal sosok Rendi, tapi dia tahu seberapa


cintanya rendi pada keluarga Wijaya, bahkan jika harus di tukar dengan


nyawanya pun dia rela.


Setelah rapat selesai, Divta segera mengejar Rendi. Ia


menghadang langkah rendi, menggiringnya ke ruangan Rendi.


“Ada apa ini sebenarnya?” Tanya Divta dengan sangat


berapi-api.


“Ada beberapa hal yang tidak dapat aku jelaskan padamu!”


ucap Rendi dengan nada dinginnya, ia membetulkan jasnya yang sedikit berantakan


karena telah di tarik oleh Divta.


“Ayolah men …, ini bukan kamu, kasih aku alasan yang masuk


akal!” Divta tetap memaksa.


“nanti kamu juga akan tahu, tapi  bukan saat ini!” setelah mengakhiri ucapannya,


Rendi meninggalkan Divta begitu saja, membuat Divta begitu kesal.


“Dasar balok es …, keputusan macam apa ini?”


Divta terus menggerutu, ia sampai lupa untuk menanyakan


keadaan Nadin. Walaupun bagaimana, Nadin tetap di hatinya. Divta pun kembali


mengejar Rendi, tapi sayang, ia tidak berhasil mengejar Rendi.


“Aku harus cari tahu penyebabnya, pasti bukan seperti yang


ia katakan di ruang rapat alasannya!”


Divta melambaikan tangannya pada seseorang yang sedang


berdiri tak jauh darinya. Tak berapa lama pria itu mendekat dan memberi salam.


“Tolong ambilkan mobilku!”


“Baik pak!”


Tak butuh waktu lama, pria itu sudah kembali dengan


mobilnya, Divta segera menggantikan tempat kemudinya, sepertinya dia tahu harus


berbuat apa.


Mobil pun berhenti tepat di depan apartemen milik


Rendi,  Divta segera memarkirkan


mobilnya, ia sengaja tidak memberi tahu tentang kedatangannya, supaya Rendi


tidak bisa menghindarinya.


Tapi saat hendak memasuki lobi, langkahnya terhenti karena


melihat Agra juga menuju ke tempat Rendi, Divta memilih mengikuti Agra dari


belakang.


Bersambung


Jangan lupa untuk kasih dukungan ke author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya


Follow Ig aku ya


Tri.ani5249


Happy Reading 😘😘😘😘