MY BLOCK OF ICE

MY BLOCK OF ICE
Cintai Aku



Nadin begitu


terkejut saat di beri kabar oleh kakaknya, jika kakaknya kini tinggal di rumah


kontrakan. Tapi atas permintaan kakaknya, ia tidak boleh memberi tahu ayahnya.


Pagi ini ia


tidak ada jam kuliah. Walaupun begitu ia sudah bersiap-siap. Roy yang melihat


putrinya sudah rapi, menghampiri putrinya. Roy bukan orang tua yang hanya diam saja tanpa mencari tahu keseharian istrinya, bahkan Roy sangat hafal semua jadwal kuliah putrinya itu.


“Sayang ...,


mau kemana sepagi ini? Bukankaah hari ini tidak ada kuliah?” tanya Roy sambil


menghampiri putrinya yang mengenakan sepatu flat nya di ruang keluarga.


“Ayah ..., aku


harus bertemu dengan teman yah ..."


"Dengen Dio?" tanya Roy.


"Bukan Ayah ..., aku bertemu dengan Dini, nggak mungkin lah yah aku menemui kak Dio."


"Iya ..., ayah percaya ..., Ayah nggak mau jika kamu terlalu dekat dengan Dio. Dia sepertinya tidak terlalu baik."


"Iya ayah ...,maaf ya hari ini tidak bisa bantu ayah. Tapi


Nadin janji lain kali aku bakalan bantu ayah.” Ucap Nadin panjang lebar.


Membuat ayahnya hanya tersenyum dan mengacak rambutnya yang sudah di sisir


rapi.


“A-yah ...,


kebiasaan deh ..., aku sudah cantik yah, jangan di berantakin lagi. Ntar kalau


aku ketemu sama pangeranku bagaimana? Emang ayah mau putri ayah di bilang


jelek.” Ucap Nadin sambil memberengutkan bibirnya.


“Emang pangeran


dari mana yang bakalan menghampiri putri ayah yang cerewet ini ....”


“Ayah ...,


jangan menggodaku pagi-pagi ya ..., tuh di depan di cari tante Nuri ...” Goda


Nadin pada ayahnya.


“Jangan ngaco


kamu ..., ayah gini-gini nggak suka sama yang lebay kayak Nuri tuh ...”


“Iya Nadin


percaya ..., ya udah Nadin berngkat dulu ya. Assalamualaikum ayah ...” Nadin


pun beranjak dari duduknya dan mencium tangan ayahnya.


“Waalaikum


salam. Hati-hati .., cepetan pulang.”


Nadin pun cepat


berlari sambil meraih helm nya. Ia mengendarai motor maticnya. Menuju ke


kontrakan Ara. Setelah berkendara selama tiga puluh menit. Akhirnya Nadin


sampai di depan kontrakan kakaknya.


Nadin segera


melepas helm yang ada di kepalanya. Ia menaruh helmnya di atas spion. Kemudian


mengamati rumah itu. Ia benar-benar tak percaya jika kakaknya tinggal di situ.


Kontrakan yang sempit. Ia ragu untuk mengetuk pintu. Setelah melawan


keraguannya, akhirnya Nadin benar-benar mengetuk pintu itu.


Tok tok tok


“mudah-mudahan


nggak salah rumah.” Gumam Nadin sambil menunggu pintu terbuka. Tak perlu


menunggu lama. Akhirnya pintu pun terbuka. Dan benar di depan pintu ada


kakaknya.


“Kakak ...”


Nadin pun segera memeluk kakaknya. “Kenapa kakak nggak ngasih tau aku atau ayah


jika kalian pindah ke sini. Kalian kan bisa tinggal di rumah ayah.”


“Nggak mungkin


kakak ngasih tahu ayah dek. Lagian kak Agra juga nggak akan setuju.  Kamu pagi-pagi sudah kesini, nggak kuliah?”


“Ntar siangan


kak. Nggak ada jam. Cuma mau nyari referensi aja di kampus.”


“Ya udah ...,


masuk dek ...” Ara mempersilahkan nadin masuk. Nadin pun segera masuk dan


menyusuri kontrakan kakaknya. Ara henya mengikutinya dari belakang.


“Kakak lagi


apa? Kok baunya enak sekali ...?” tanya nadin saat hidungnya mencium bau yang


tidak asing dan begitu menggugah selera.


“oh iya ....,


nih kakak lagi buat cemilan. Cobain dek ...” Ara menyodoran satu nampan cemilan


di meja dapurnya. Dengan cepat Nadin mengambilnya dan memasukkan kedalam


mulutnya.


“Masih panas ,


Dek ..., pelan-pelan aja ...” ucap Ara saat melihat Nadin beberapa kali


mengipasi mulutnya karena kepanasan.


“Uah..., uahhh


..., uahhh ..., ini enak sekali kak.” Ucap Nadin dengan mulut yang masih penuh


dengan makanan.


“Kakak harusnya


jualin aja kuenya ini. Ini beneran enak lo kak. Ntar aku bantuin deh kak


jualnya. Gimana?”


“Iya ya ...,


kakak kok nggak kepikiran ya ...”


“kakak mah


payah ...”


“Ihhhh ...,


jahat kamu dek ...”


Nadin pun


memfoto kue-kue hasil buatan kakaknya. Kemudian ia memfostingnya ke beberapa


medsos miliknya.


“Kak ...,


beneran nih ..., responnya positif. Banyak yang minta aku buat jualin.”


“Beneran dek


...?”


“Bener kak ...,


liat saja nih ...” Nadin pun menunjukkan ponselnya. “besok kita mulai jualan


aja kak. Aku bakalan ke sini pagi buat ambil pesenan temen-temen aku. Gimana


kak, kakak setuju kan?”


“Iya ..., besok


kakak bakalan buat ...”


“ya udah aku ke


kampus dulu ya kak ..., besok kita ketemu lagi.”


“Iya ...,


makasih ya dek ...”


“sama-sama kak.


Ya udah assalamualaikum.”


“Waalaikum


salam ...”


***


Seperti yang di


ucapkan pada kakaknya kemarin.Nadin pagi ini kembali ke kontrakan kakaknya


untuk mengambil kue. Nadin membawa kue-kue itu ke kampus dan menitipkannya di


kantin.


“Nad ....”


Nadin yang hendak ke kantin langkahnya segera terhenti. Saat seseorang


memanggilnya. Suaranya sangat familiar.


“kak Dio ...”


“kamu bawa


apa?”


“Ini ..., aku


bawa kue.”


“Kue ...?” Dio


tampak bingung. “Kamu jualan kue?”


“Iya ...”


“Kenapa?”


“Maaf kak ...,


aku ada kelas. Jadi aku harus antar ini ke kantin. Dan kembali ke kelas. Bye


...” Nadin pun segera meninggalkan Dio yang masih bingung.


Nadin terlambat


masuk ke kelas, gara-gara Dio. Ia sudah terlambat lima menit. Nadin


mengendap-endap hendak masuk. Tapi ternyata langkahnya kalah cepat dengan dosen


yang dengan cepat menatap ke arahnya.


“Siapa kamu?”


tanya dosen.


“Maaf pak. Saya


Nadin ..., saya terlambat.”


“Seperti


kesepakatan yang kita buat, sebelum memulai pembelajaran pada mata kuliah saya.


Siapapun yang terlambat. Bererti wajib menyalin materi yang ada di papan


sebanyak jumlah menit. Jadi karena anada terlambat lima menit, berarti anda


harus menyalinnya lima kali. Apa anda mengerti?”


“Mengerti pak


...”


...”


“Makasih pak”


“Mari kita


lanjutkan pembelajaran kita.”


Saat dosen


sibuk dengan penjelasannya. Nadin malah sibuk mengobrol dengan Dini.


“Lo dari mana


aja?” tanya Dini sedikit berbisik.


“Entar gue


ceritain. Pinjem catatan lo ...” Dini pun segera menyerahkan catatannya.


Bukannya mendengarkan penjelasan dosen selanjutnya. Nadin sibuk menyalin


tulisan-tulisan itu sebanyak lima kali.


Setelah jam


kuliah berakhir. Barulah Dini kembali menghampiri Nadin.


“Lo kenapa


terlambat?”


“tadi aku


ketemu dulu sama kak Dio.”


“kenapa lagi


dia nemuin lo? Bukankah kakak lo sudah nikah?”


“Iya ..., nggak


tau ...” akhirnya Nadin berhasil menyelesaikan hukumannya. “ ya udah aku ke


ruang dosen dulu. Ntar keburu pak Nathan pulang.”


“Ok ..., aku


tunggu di kantin ya ...”


“Ok ..., bye


...” Nadin pun berlalu meninggalkan Dini. Dengan langkah cepatnya Ia menuju ke ruang dosen. Ia


menyusuri lorong kampus, hingga sampai di ruangan paling ujung yang bertuliskan


Ruang Dosen.


“kok sepi ya


...” ucap Nadin. “seumur-umur baru kali ini masuk ruang dosen.”


Tok tok tok


“masuk ...”


Ada sahutan dari dalam, suara seorang perempuan, Nadin pun


segera masuk ke ruangan itu.


“Bu ..., saya


mau ketemu sama pak Nathan. Apa beliau masih ada?” tanya Nadin  pada seoranmg dosen wanita yang sepertinya


bersiap-siap untuk pulang.


“masih di


ruangannya. Tapi sepertinya sedang ada tamu.”


“ya udah bu,


kalau gitu boleh aku nunggu di sini.”


“oh iya


silahkan ...”


“oh ..iya bu


.., ruangan pak Nathan yang mana ya?”


“itu ...” bu


dosen itu menunjuk pada sebuah ruangan yang pintunya hanya tertutup sebagian.


“ya sudah ..., ibu tinggal ya ...”


“iya bu ...,


makasih ...”


Setelah bu


dosen itu keluar dari ruangan. Nadin memilih untuk duduk di kursi besi yang ada


di ruangan itu. Tapi belum sempat ia mendudukkan bokongnya. Pintu yang sedari


tadi menjadi pusat perhatian terbuka. Nadin kembali berdiri.


“Pak Rendi ...” ucap Nadin tanpa suara, tapi mata mereka bertemu sejenak. Sebelum sebuah suara membuyarkannya.


“ada perlu apa


anda kemari?” tanya Nathan saat melihat Nadin di ruang dosen.


“maaf pak, saya


mau mengumpulkan ini ..., hukuman tadi.” Nadin menyerahkan lembaran kertasnya.


“lain kali


jangan terlambat lagi di jam saya ...” ucap Nathan sambil mengambil kertas-kertas itu dari tangan Nadin.


“baik pak,


kalau begitu saya permisi ...” Nadin pun segera meninggalkan ruangan. Tapi ia


masih tetap berdiri di depan ruang dosen. Ia penasaran kenapa Rendi berada di


ruangan pak Nathan.


Nadin terus


mondar-mandir di depan ruang dosen. Lima menit kemudian pintu yang sedari tadi


tertutup kemudian terbuka. Nadin segera menyembunyikan diri di balik dinding.


“udah lo antar


sampek sini aja...” ucap Rendi.


“Ngak pa pa nih


...”


“Udah jangan


sungkan.”


“ya udah gue


masuk ke dalam ya ..., soalnya ada pekerjaan yang harus gue selesaiin sebelum


gue berangkat ke Surabaya besok.”


“ok ...,


masuklah..., bye ...”


Setelah Nathan


kembali masuk ke dalam ruangannya. Barulah nadin berani menghampiri Rendi yang


sudah berjalan menjauh menyusuri lorong.


“Pak ..., pak


Rendi ...” panggil Nadin sambil mengejar Rendi. walaupun baru saja berjalan


tapi langkah lebarnya dapat dengan cepat membuat Rendi menjauh. Merasa namanya


di panggil Rendi pun menghentikan langkahnya.


“Pak Rendi


kenal sama pak Nathan?” tanya Nadin saat sudah bisa mengikis jarak di antara


mereka. Kinihanya tersisa satu meter jarak mereka.


“Bukan urusan


kamu ...” jawab Rendi dingin dan kembali melanjutkan langkahnya. Lagi-lagi


Nadin masih tetap mengejarnya.


“aku lihat


kalian dekat, apa kalian berteman. Aku seneng pak Rendi berteman sama pak


Nathan.”


Rendi pun


kembali menghentikan langkahnya. Kali ini dengan mendekat ia balik mengikis


jarak mereka. Hingga membuat Nadin memundurkan langkahnya. Langkah Nadin


terhenti saat punggungnya sudah membentur tembok. Rendi mendekat pada Nadin dan


mengungkung Nadin dengan kedua lengannya di samping kiri kanan Nadin. Hingga


Nadin tak bisa bergerak lagi.


Rendi menatap


tajam ke arah Nadin. “Apa yang sebenarnya kau inginkan? Aku tidak suka sama


orang yang terlalu ikut campur urusan orang. Kau punya satu kesempatan untuk


menjelaskan urusanmu denganku?”


Saat seperti


ini, Nadin malah terdiam. Ia seperti tersihir dengan ucapan dan tatapan Rendi.


hening beberapa saat.


“Sudah cukup


waktu kamu untuk menjelaskan sudah habis. Jadi jangan menggangguku lagi ...” ucap Rendi


yang kemudian meninggalkan Nadin yang masih terdiam. Tapi saat Rendi sudah


mulai menjauh. Nadin pun tersadar.


“Pak ....”


teriak Nadin. Tapi Rendi tak juga menghentikan langkahnya.


“Aku Cuma ingin


pak Rendi mencintai aku sama seperti pak Rendi mencintai kak Ara.” Mendengar


ucapan Nadin , langkah Rendi terhenti sebentar. Tapi seperti biasa Rendi hanya


bersikap dingin. Ia kembali melanjutkan langkahnya. Meninggalkan Nadin yang


hanya terdiam.


“ahhhh ..., apa


yang sudah aku katakan ...., aku seperti cewek gampangan, masak aku nembak


cowok duluan sih ...” ucap Nadin sambil mengutuki kebodohannya sendiri. Ia tak


tahu harus bagaimana bersikap jika bertemu dengan Rendi lagi.


“mudah-mudahan


dia tidak mendengarnya ...”


 ****


Seseorang dicintai karena ia dicintai. Tak ada alasan yang dibutuhkan untuk mencintai.” - Paulo Coelho, The Alchemist


BERSAMBUNG


**Jangan lupa bayar Author dengan memberikan like dan komentarnya ya, kasih Vote juga


terimakasih


Happy Reading ...,😘😘😘😘❤️❤️❤️❤️❤️**