MY BLOCK OF ICE

MY BLOCK OF ICE
Di gigit Ular



  Cinta tak tahu kapan datangnya, sebesar apapun kota mencoba menghidar, tetap saja cinta itu akan mendekat jika memang cinta itu sudah di takdirkan untukmu.


***


              Akhirnya


setelah perjalanan yang cukup membuat kuping rendi pengangg itu, mereka sampai


juga di tepi danau. Dan benar saj tak jauh dari mereka berdiri, ada seseorang yang


sedang duduk di sana, seorang pria yang sedang duduk di pinggir danau. Rendi


masih bisa mengenali pria itu walaupun sudah lima belas tahun mereka berpisah.


Pria itu adalah Divta.


Rendi pun


segera menahan tangan Nadin supaya menghentikan langkahnya. Nadin yang


tiba-tiba tangannya di tarik begitu terkejut, membuat tubuhnya tidak seimbang,


hingga membuat tubuhnya terbenturb oleh dada bidang Rendi, wajahnya tepat


mengenai dada Rendi, hingga Nadin bisa mendengar detak jantung Rendi yang


bekerja lebih keras. Mereka terdiam dalam posisi berpelukan.


“Pak ..., apa


bapak deg degan ...?” tanya Nadin tiba-tiba saat sudah sekian detik mereka


saling berpelukan, membuat Rendi segera menjauhkan tubuhnya dari Nadin.


“Omong kosong


...!” ucap Rendi mengalihkannya, ya benar. Kenapa jantungnya bekerja lebih


keras saat berdekatan dengan perempuan?


“ Tetap di sini, ada yang harus aku


lakukan ...” ucap Rendi lalu berlalu meninggalkan Nadin. Nadin yang penasaran


tetap menatap kemana Rendi pergi. Ya Rendi menghampiri seseorang. Siapa orang


itu? Nadin terus bertanya-tanya. Karena begitu penasaran membuat Nadin


mengikuti Rendi tanpa di ketahui oleh Rendi. Nadin bersembunyi di balik semak


tak jauh dari mareka, hingga pembicaraan mereka dapat di dengar oleh Nadin.


Rendi langsung


bediri di samping Divta dengan menyakukan kedua tangannya di kedua saku


celananya. Ia menatap mentari yang sudah condong ke barat, sayup-sayup angin


menelusup menciptakan suara bisikan-bisikan merdu.


“Angin


Indonesia berhasil membuat seseorang bisa kembali.” Ucap Rendi.


Merasa ada yang


berada di sampingnya, Divta pun segera menengadahkan kepalanya, berusaha


mencapai wajah orang yang berada di sampingnya. Divta tampak mengamati dengan


seksama, siapa yang sedang dia hadapi saat ini.


“Rendi?”


Rendi pun


segera maju satu langkah di depan Divta, dan melemparkan sebuah kerikil yang


sudah semenjak tadi ia genggam.


“ya ...,


ternyata lima belas tahun tak membuatmu lupa, oh bukan ..., kita bertemu


delapan tahun yang lalu ya ...? tapi dalam keadaan yang kurang menyenangkan.”


Kini Divta pun


beranjak dari duduknya, tampak tangannya yang sudah mulai mengepal ia


sembunyikan di balik saku celananya. Kini kedua pria dewasa itu tampak berdiri


berjejer.


“Astaga ...,


aku kesulitan mendengarkan pembicaraan mereka ...” gerutu Nadin yang terus


berusaha mendengarkan penbicaraan dua pria dewasa itu. "Siapa pria itu? Kenapa wajahnya mirip sama kak ...." ucap Nadin sambil terus berfikir.


“Ada apa kau ke


sini?” tanya Divta.


“Seharusnya aku


yang bertanya, kenapa kembali?” Rendi malah balik bertanya.


“Aku mencari


yang seharusnya sudah aku dapatkan sejak dulu.”


“Jangan memaksakan


yang bukan menjadi hakmu.”


“Ya ..., aku


tahu kau berada di pihak lawan, jadi aku akan bertarung denganmu.” Ucap Divta.


“Aku akan


dengan senang hati menerima tantanganmu, tapi apakah tidak bisa kita bertarung


secara gentel, tidak ada kecurangan di dalamnya.”


“Aku tidak


janji ..., tapi aku suka gaya kamu ..., bagaimana bisa kau masih menyembunyikan


adikku itu setelah bertahun-tahun, apakah dia kurang cukup kuat?” tanya Divta.


“Itu bukan hal


yang menjadi pertimbanganmu bukan, aku harap kamu tidak mengikuti jejak ibumu


itu.”


“Mamaku adalah


nyawaku, dia yang memberiku kekuatan...”


Tapi belum


sampai mereka menyelesaikan pembicaraannya, tiba-tiba mereka di kejutkan oleh


teriakan seseorang yangmencoba keluar dari semak di samping mereka.


teriak Nadin. ya Nadin begitu terkejut saat merasakan kakinya tersa dingin. Ia pun memeriksa kakinya, ternyata seekor ular sudah melintas di atas kakinya. Karena reflek Nadin pun menggerakkan kakinya, gerakan tiba-tiba Nadin membuat ular merasa terncam dan dengan cepat berbalik menggingit kaki kanan Nadin.


Mendengar


teriakan itu, dengan cepat Rendi merlari ke arah semak, ia dengan cekatan


mengangkat tubuh Nadin yang sudah lemah karena kakinya di gigit ular yang


berada di dalam semak.


“Pak ..., aku


takut ...” ucap Nadin. Tenaganya hampir habis karena begitu takit dan rasa sakit di kakinya.


"Kau di gigit ular." ucap Rendi saat sadar ada luka di kaki Nadin.


“tetaplah


sadar..., aku akan mengeluarkan bisa ularnya ...., jangan tidur!”


Dengan cepat


Rendi menurunkan kembali Nadin di atas rerumputan, kakinya tampak gigitan ular


disana, Divta pun ikut mendekat. Rendi menarik dasi dari lehernya dan


mengikatkannya di pergelangan kaki Nadin. Dengan tanpa takut, ia menghisap


racun di kaki Nadin dan berkali-kali memuntahkannya. Nadin hanya bisa diam


menyaksikan perlakuan Rendi yang begitu tak punya rasa takut.


Divta hanya


bisa diam menyaksikan bagaimana Rendi berusa mengeluarkan bisa itu dari kaki


Nadin.


“Bawa dia ke


rumah sakit ...” ucap Divta setelah berdiam cukup lama. Rendi tidak menyangka


jika orang angkuh di sampingnya itu akan mengatakan hal itu, Rendi pun hanya


menganggu. Rendi kembali membopong Nadin, ia berlari menuju ke mobilnya,


pakaiannya sudah tak serapi tadi. Ia memasukkan Nadin ke dalam mobil dan


memasangkan sabuk pengaman.


“Jangan tidur


sampai kita di rumah sakit.” Itu yang terus di ucapkan Rendi di sepanjang jalan


menuju ke rumah sakit. Sesekali ia juga memnepuk pipi Nadin agar tetap sadar.


“Bertahanlah


...” Rendi terlihat begitu khawatir. Ya tanpa sadar ia begitu khawatir dengan gadis kecil di sampingnya itu.


Akhirnya dalam


waktu lima belas menit mereka sampai di klinik terdekat. Perawat sudah siap


dengan berbagai peralatannya. Nadin di bawa ke ruang perawatan IGD, tangannya


tak pernah melepaskan tangan Rendi.


“Pak ...” ucap


Nadin


“Iya?”


“Jangan beri


tahu siapapun, ayah, kakak atau siapapu ya, aku mohon aku nggak mau mereka ...”


“Hussst ....,”


belum selesai Nadin bicara, Rendi sudah menghentikannya. “ Diam..., dan biarkan


dokter menanganimu, aku tidak adan bicara pada siapapun.”


Setelah selesai


bicara, perawat meminta Rendi meninggalkan ruangan karena Nadin akan segera di


tangan oleh Dokter. Rendi pun akhirnya mau tak mau menunggu di luar ruang IGD.


Rendi menunggu


hingga satu jam, hingga seorang dokter keluar dari dalam ruangan. Rendi pun


segera berdiri menghampiri dokter itu.


“Dokter ...”


“Iya ..?”


“Bagaimana


keadaannya?”


“Anda sangat


cekatan, istri anda terhindar dari bisa ular yang mematikan karena tindakan


pertama anda. Istri anda sudah melewati masa kritisnya, karena racun hanya


tinggal sedikit di tubuhnya sehingga tidak sampai menrambat ke organ vitalnya.”


“Terimakasih


dok, tapi dia bukan istri saya.”


“Ooh , maaf..,


saya kira dia istri anda.”


“Tidak pa-pa,


boleh saya melihatnya?”


“Sebentar lagi


pak, saat sudah di pindahkan ke ruang perawatan.”


“Baik


terimakasih dok.”


***


**Banyak hal yang bisa membuat seseorang dekat dengan cintanya, tapi siapa yang menyadarinya?


BERSAMBUNG


jangan lupa kasih dukungan ke Author dengan memberikan LIKE dan KOMENTARnya ya


Kasih Vote juga ya


Terimakasih


Happy Reading 😘😘😘😘😘**