
Surabaya
Akhirnya pak Rahman memberikan sewa rumahnya dalam satu tahun ke depan dengan harga yang lumayan murah. Pak Rahman menyewakan
rumahnya seharga 20 juta setahun ke depan.
“Ini kuncinya mbak!" Pak Rahman menyerahkan kunci rumah itu pada Nadin saat sudah menemukan kesepakatan harga.
“Terimakasih pak!” jawab Nadin sambil menerima kunci itu.
“Semoga betah ya! Kalau begitu saya permisi dulu, hubungi saya kalau ada apa-apa!"
Pak Rahman meninggalkan Nadin bersama ibu Santi dan Aisyah.
“Mari masuk bu!”
Nadin membuka pintu rumah yang akan menjadi rumahnya, rumahnya hanya berjarak dua rumah dari rumah bu Santi. Rumahnya juga seukuran dengan rumah bu Santi,
yang membedakan hanya warna catnya, warna cat rumah yang akan di tinggali Nadin
adalah putih salju.
“Rumahnya bersih sekali kak!”Aisyah mengelilingi rumah itu, walaupun sering melintas di depan rumah itu, tapi ia tidak pernah masuk ke dalamnya.
“Terimakasih ya kalian sudah mau jadi keluarga di tempat asing ini!”
“Nak Nadin adalah sahabat Dini, kau pantas
mendapatkannya!”
“Terimakasih bu!”
Nadin memeluk bu Santi dengan erat, ia senang
setidaknya ada orang-orang yang menyayanginya di tempat asing ini.
Keluarga Bu Santi begitu baik dengan Nadin, janda dengan dua anak itu setiap hari menyempatkan diri untuk berkunjung ke rumah Nadin hanya untuk menanyakan keadaannya, Aisyah, putri sulung Bu Santi juga selalu menemani Nadin saat ia sudah pulang sekolah atau setelah membantu Bu Santi dengan pekerjaannya, Nadin pun sering membatu Bu Santi berjualan.
Setelah merasa kenal dengan lingkungan sekitarnya, Nadin pun memutuskan untuk mencari pekerjaan, ia mengirimkan beberapa CV nya ke beberapa perusahaan dan akhirnya salah satu dari mereka mengirimkan jawabannya dan meminta Nadin untuk datang interview.
Pagi ini Nadin menyiapkan semuanya, ia akan memulai hari barunya, ia harus melakukan interview dengan salah satu perusahaan. Ia melihat penampilannya di cermin.
“Perfect …! Semangat Nadin, semua akan baik-baik saja!”
Nadin keluar dari rumah, ia akan melakukan
interview.
Ia harus berjalan cukup jauh ke jalan raya.
Langkahnya terhenti di persimpangan saat matanya menemukan sosok yang ia
kenal.
“Aisyah!”
“kak, mau kemana?” gadis berjilbab itu berlari menghampiri Nadin.
“Aku mau interview kerja, berangkat sekolah?”
“Iya …, kakak mau naik apa?”
“Angkot sepertinya menyenangkan!” ucap Nadin dengan senyum ringannya.
“Baiklah …, kakak punya buku dan bolpoin?”
“untuk apa?” walaupun bertanya, Nadin tetap
menyerahkan sebuah buku kecil dan bolpoin dari tasnya. Anak itu menerimanya dan
menuliskan beberapa huruf di sana seperti sebuah kode.
“Ini …, kakak harus mengingat semua kode angkot ini
jika ingin ke tempat-tempat ini, jadi jangan sampai tersesat, ok!” gadis itu
membentuk huruf o dan k pada jarinya dan ia angkat setinggi daun telinga dengan
mata berkedip, begitu menggemaskan, gadis berhijab itu sangat manis.
“Terimakasih!”
Gadis itu menarik tangan Nadin saat sebuah angkot berhenti di ujung gang.
“Ayo kak lebih cepat!”
“Iya …, biar aku masukkan dulu bukunya!”
Akhirnya mereka naik angkot yang sama, mereka
berpisah di depan sekolah Aisyah. Nadin masih harus berada di angkot itu untuk
beberapa meter lagi, Aisyah sudah memberi arahan pada Nadin.
Hanya selang sepuluh menit, Nadin menghentikan
angkot itu tepat di depan sebuah gedung perkantoran. Cukup besar tapi tidak
sebesar perusahaan suaminya.
“Ya Allah bantu aku …!”
Nadin melakukan wawancara, cukup lama dan akhirnya
lamarannya di terima. Ia mulai bekerja di tempat itu, bukan jabatan yang
tinggi hanya sebagai karyawan biasa. Karena ia juga tidak punya pengalaman
yang banyak di dunia perusahaan. Waktu magangnya juga tidak banyak di gunakan
untuk bekerja, ada banyak insiden waktu itu.
Nadin menikmati hari-harinya, siang hari ia bisa
lupa dengan segala masalahnya. Tapi jika tiba waktu malam ia akan kembali dalam
kesedihannya. Ada banyak teman baru di sana, di ruangannya ada sepuluh orang
dalam satu tim.
“Ayo kita makan siang!” ajak salah satu temannya.
“Baiklah!”
Nadin tidak bisa menolak, ini teman barunya,
kehidupan barunya. Tapi belum sampai ke dalam kantin, langkahnya langsung
terhenti, ia merasakan bau yang menyengat dari berbagai makanan membuatnya
mual.
“Sepertinya aku harus ke kamar mandi!
“Kau kenapa?”
“tidak pa pa, kalian duluan saja!”
Nadin langsung berlari ke kamar mandi dan
“Apa yang terjadi denganku, kenapa badanku lemas sekali?” Nadin memegangi tengkuknya yang terasa berat.
Hampir setiap pagi ia harus merasakan hal yang sama
dan akan sembuh sendiri saat siang hari, tapi jika mencium bau yang menyengat
membuatnya muntah.
Ini adalah akhir bulan, dia hanya karyawan baru, mau bagaimanapun keadaannya ia tidak bisa ijin tidak masuk kerja. Hari ini ia harus
lembur, besok akan ada rapat akhir bulan yang melibatkan pemilik perusahaan
ini. Ia punya tanggung jawab untuk menyelesaikan beberapa bekas. Nadin pulang
hingga larut malam dan pagi nya harus berangkat lagi.
Ia hanya bertugas membawa berkas-berkas itu dan berdiri di belakan ketua tim, mereka sengaja meminta Nadin karena sebagian dari
training yang di berikan kepada karyawan baru. Nadin sudah menyiapkan semua
berkas yang akan di buthkan oleh ketua timnya, ketua timnya namanya Adam, pria
dengan kaca mata dan perut yang sedikit buncit, dia ramah sebenarnya kalau
bukan soal pekerjaan.
Pagi ini kepala Nadin sudah cukup pusing karena
kurang istirahat, lingkar matanya menghitam persis panda, keadaan itu di
perburuk saat ia tahu dengan siapa sebenarnya ia bekerja. Dengan seseorang yang
pernah menculiknya, dia adalah Kevin Alexander.
Pria arogan itu memulai meetingnya, sepertinya pria itu tidak melnyadari keberadaan Nadin, Nadin terus menutupi wajahnya dengan map
map yang ada di tangannya. Tangannya sudah bergetar hingga ia tidak menyadari
jika Adam ketua timnya telah memanggilnya beberapa kali untuk meminta map yang
di butuhkan untuk di tunjukkan kepada big bos.
“Nadin, mana berkasnya!”
Tapi belum sempat Nadin menyerahkan map itu, tubuhnya lebih dulu terhuyung, Nadin tidak sadarkan diri.
Ia hanya mengingat semua orang mengerubutinya,
memanggil-manggil namanya. Lalu menghilang.
Nadin kembali terbangun tapi di tempat yang berbeda,
ia tidur di tempat yang berbeda bukan rumahnya, bukan kamarnya. Tepat ini
begitu asing.
“Nad …, kamu sudah bangu?” pertanyaan seseorang
membuatnya tersedar bahwa ini bukan mimpi.
“Aku di mana?”
“Kau di rumah sakit!”
“Mirna …, aku kenapa?"
Mirna adalah temannya satu tim.
“Kau tadi pingsan dir uang rapat, kau tahu apa yang terjadi?"
“Apa?”
“Pak Alex begitu khawatir, dia menggendongmu sampai di rumah sakit, apa sebelumnya kalian kenal?”
“Alex!”
Jadi benar apa yang aku lihat tadi, aku melihat Alex
di sini …
Ceklek
Suara pintu di buka mengalihkan perhatian mereka.
Pria Arogant itu sedang berdiri di depan pintu. Mirna segera berdiri dari
duduknya.
“Nad, aku pulang dulu ya, semoga cepat sembuh!”
Mirna segera meningglkan ruangan Nadin.
Setelah Mirna pergi dari ruangan Nadin, Alex segera
menghampiri Nadin, ia duduk di tempat dimana Mirna duduk, menatap Nadin dengan
tatapan yang sulit di artikan.
“Apa yang kau lakukan di sini?”
“Aku?”
“Ya!”
“Aku bekerja!’
“Apa suamimu bangkrut hingga membuatmu bekerja kesar
saat hamil!”
“Hamil?”
Alex berdecak mendengarkan pernyataan Nadin yang
sepertinya belum tahu kalau sedang hamil.
“Iya nona, kau sedang hamil! Bagaimana bisa setrelah
dua bulan kau tidak menyadari jika kau sedang hamil?”
“Aku hamil!” Nadin bukannya menjawabpertanyaan Alex,
ia malah memegangi perutnya yang masih rata itu, air matanya mengalir tanpa
komando, ada senyum bahagia tapi juga luka di sana.
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
tri.ani.5249
Happy Reading 😘😘😘😘