MY BLOCK OF ICE

MY BLOCK OF ICE
Acara peresmian



Nadin ikut bersiap dengan Rendi, sebelum berangkat Rendi terlebih dulu menyantap sarapannya yang sudah di siapkan oleh Nadin. Sambil menunggu Nadin bersiap-siap


bersama dengan baby El.


“Mas …, kami sudah siap!” ucap Nadin saat keluar dari kamar, Nadin begitu cantik dengan gaunnya begitu juga dengan baby El yang


terlihat tampan dengan jas kecilnya.


“kalian luar biasa!” ucap Rendi.


Rendi segera bangun dari duduknya dan menghampiri Nadin dan baby El.


“Beruntungnya aku memiliki kalian!”


Ucapan Rendi selalu berhasil membuat Nadin tersipu, pipinya merona hingga ia harus mengalihkan wajahnya dari tatapan suaminya itu.


“Mas sudah siang, kita harus segera berangkat!” ucap Nadin mengalihkan perhatian Rendi dari menatapnya.


“Iya kau benar, baiklah kita berangkat!”


Untuk pertama kalinya setelah sekian lama Nadin tidak menolah duduk di samping Rendi, Ajun yang duduk di depan mengemudikan


mobilnya sambil terus tersenyum melihat atasannya terlihat bahagia dengan keluarganya yang utuh.


Mereka bertiga benar-benar seperti keluarga yang utuh, sesekali Rendi mengajak bicara putranya itu setiap kali baby El berceloteh. Nadin hanya bisa menanggapi ayah dan anak itu dengan senyum menawannya.


Setelah melakukan perjalanan cukup lama akhirnya mereka sampai juga di tempat acara. Kedatangan mereka langsung di sambut oleh


bidikan berpuluh kamera. Gambar mereka besok pasti berada di laman depan


pemberitaan.


Tapi dari sekian banyak orang itu, ada satu orang yang berhasil menarik perhatian mereka. Seseorang yang begitu mereka kenal.


“Frans!”


“dr. Frans!”


Pekik Nadin dan Rendi bersamaan dan pria itu hanya tersenyum dengan entengnya sambil merentangkan tangannya.


“Hai brother …, aku benar-benar merindukan kalian …!” sapa dr. Frans dengan gaya khasnya.


“kenapa lo ke sini?” Tanya Rendi pada dr. Frans.


“Gue ke sini bukan buat lo, buat orang di samping Lo .....!"


"Ada urusan apa sama istri gue?"


"Jangan curigaan begitu, gue cuma nggak sabar aja ketemu sama Nadin, bini lo bikin gue kangen! Lo lama banget sih bawa dia pulang, bikin gue gemes aja ...., pengen banget gue pukul pala Lo yang keras itu .....”


"Emang gue batu!?" gerutu Rendi kesal dengan ucapan sahabatnya itu.


"Lo bukan batu kali, tapi es batu ...., dingin dan keras .....!"


"Ngaco banget jadi orang!"


"Nadin ...., cantik! bagaimana kabarmu, partner mu ini sudah ngebet banget pengen ngerjain si balok es, kamunya nggak kembali-kembali .....!" goda dr. Frans pada Nadin hal itu berhasil membuat Rendi kesal.


“Awas ya jangan macem-macem!”


“Tetap aja lo, cemburuan…!”


“Nadin istri gue!”


‘Gue nggak amnesia ya, sudah sana lo di tunggu tuh sama rekan-rekan lo, biar Nadin sama jagoan kecil ini gue yang jagain!” ucap


dr. Frans sambil mengambil alih baby El ke dalam gendongannya.


“Aku tinggal ke sana dulu ya, kamu nggak pa pa kan aku tinggal sama Frans?” Tanya Rendi, ia masih enggan meninggalkan istri dan


putranya, tapi dia juga punya tanggung jawab lain.


Nadin pun mengangguk dengan


senyum nya yang semenjak pagi tadi sering muncul.


“Tolong jagakan mereka ya!” pesan Rendi pada dr. Frans.


“Iya …, ribet amet jadi orang, sudah sana pergi!”


Akhirnya dengan berat hati Rendi meninggalkan Nadin bersama dr. Frans, ia harus menyelesaikan tugasnya.


“Kita duduk di sana ya!” dr. Frans mengajak Nadin duduk di salah satu tempat duduk, sedikit menjauh dari keramaian supaya baby El


lebih nyaman.


“Bagaimana kabar kalian?”


“Seperti yang dokter lihat, kami baik-baik saja!”


“jagoan kecil...., apa kau nakal selama dalam kandungan bundamu?” Tanya dr. Frans pada baby El,dan sepertinya Elan memahami dengan apa yang di katakana oleh dr. Frans, Elan terus saja berceloteh di pangkuan dr.


frans.


“Bagaimana kabar semuanya di Jakarta, dokter?”


dari mulutnya.


“Semua baik, mereka menati kepulangan kalian!”


“Kak Davina?”


“Aku tidak bisa mengatakannya di sini, tapi saat


nanti kau kembali. Kau akan tahu semuanya sendiri!”


“Maksud dokter?”


“Apa cintamu sudah sangat lemah sehingga kau tidak


bisa mengenali kebenarannya, bukankah dulu kau pernah mengatakan jika cinta


yang kau dapat dengan begitu susah tidak akan cepat melemah!”


“Iya!”


“lalu kenapa kau pergi jika keyakinanmu dengan cintamu itu masih sama?”


“Aku hanya kecewa!”


“aku tahu Rendi juga bersalah di sini, tapi


hukumanmu terlalu besar untuknya karena sebuah kesalahan yang sebenarnya tidak


ia sengaja. Berhentilah menghukumnya dan dirimu sendiri, segeralah kembali!”


“Iya dokter benar, aku terlalu kejam pada mas Rendi. Walaupun hatiku mengatakan jika mas Rendi tidak bersalah, tapi egoku telah


merampas kebahagianku sendiri!”


“baguslah kalau begitu, kalian sudah sama-sama menyadari kesalahan kalian , aku ikut bahagia untuk kalian!”


Tak berapa lama Rendi menghampiri mereka kembali, rekan-rekan Rendi ingin berkenalan dengan Nadin sebagai istri Rendi. Dr. Frans


meminta mereka untuk pergi dan meningglkan baby El bersamanya, sepertinya baby


El begitu nyaman dengan dr. frans.


“Perkenalkan ini istri saya!” rendi mengandeng Nadin dan memperkenalkan pada teman-temannya.


Selama ini teman-temannya tahu jika


Rendi sudah menikah tapi tidak pernah melihat Rendi membawa istrinya ke acara


apapun dan ini untuk pertama kalinya.


“Istri pak Rendi cantik sekali!”


Di sisi lain terlihat Alex sedang mengepalkan


tangannya kesal, ia bahkan tidak bisa menyapa Nadin ataupun baby El. Ia begitu


merindukan baby El, tapi setiap kali hendak mendekati baby El anak buah Rendi


selalu saja menghalangi.


“Rendi benar-benar melakukan apa yang si katakana,


dia benar-benar tak memberiku celah untuk mendekati mereka. Aku harus apa


sekarang!” Alex teus saja mengukl minuman, hingga beberapa gelas telah habis ia


minum.


Melihat senyum lebar nadin, sebenarnya hatinya


menghangat. Setelah sekian lama ia tidak pernah melihat senyum yang seperti


itu. Tapi kenapa harus bersamanya? Alex merasa tidak terima, tapi ia juga sadar


dia hanya orang luar yang tidak memiliki apapun untuk memintanya tetap tinggal.


“Apa aku harus menikah dulu hanya untuk bisa bertemu dengan Elan? Itu ide gila!”


gerutu Alex sambil mengepalkan tangannya kesal.


Bersambung


Maaf ya kalau akhir-akhir ini up-nya cuma satu-satu dan konfliknya lumayan lama, bikin bosan. soalnya kan sudah mau end jadi sedikit cari mood biar ceritanya nggak melebar banget dan kalau di paksain takutnya malah nggak nyambung 🥰🥰🥰


Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya


Follow Ig aku ya


tri.ani.5249


Happy Reading 😘😘😘😘