MY BLOCK OF ICE

MY BLOCK OF ICE
Si Pengacau



"Ungkapan kebenaran adalah kesederhanaan." - Seneca . Sesederhana itu ungkapan cinta.


****


Tak ada kabar keretakan hubungan Ara dan Agra. Hal itu membuat


Rendi tenang, ia pun bisa kembali fokus pada pekerjaannya untuk beberapa saat.


Ia tak mau membuat perusahan besar itu oleng karena kekosongan pemimpin.


Rendi menyibukkan diri untuk menangani beberapa proyek. Banyak


proyek yang harus dia handle sepeninggal Agra. Selain pekerjaan kantor, Rendi


juga masih harus mencari tahu semua yang berhubungan dengan keluarga besar


nyonya Ratih dan segala keamanannya. Walaupun anak buah ayahnya juga sudah di


sebar, tetap saja dia harus turun tangan.


Hari ini adalah akhir pekan. Hari yang menjadi hari untuk seorang


Rendi. ya hiri pribadinya, jika senin sampai sabtu tubuhnya hanya di gunakan


untuk bekerja. Maka di hari minggu Rendi akan sedikit memanjakan tubuhnya.


Setelah bangun tidur, Rendi akan membersihkan dirinya dan membuah


segelas susu hangat. Kemudian ia melakukan aktifitas selanjutnya, dia akan


pergi joging dengan memakai baju hudynya., ia menutup kepalanya dan menutup


telinganya dengan headset blutooth.


Rendi menuruni tangga apartemennya. Kemudian turun ke jalanan yang


terlihat sepi itu dengan sedikit berlari. Rendi berlari kecil sambil sesekali


terlihat meregangkan tangannya. Setelah tiga puluh menit. Rendi pun menduduk


kan bokongnya di sebuah pembatas jalan. Ia meneguk minumannya sambil


menselonjorkan kakinya.


Brukkk


Tapi ternyata ada seseorang yang tanpa sengaja tersandung oleh


kakinya, hingga air Rendi tumpah mengenai wajahnya. Rendi segera menajamkan


matanya. Ia begitu kesal.


“Aaughhh ...”


“Kau ...” Rendi begitu terkejut saat melihat orang yang sudah jatuh


di depannya.


“Pak Rendi ...”


“Kenapa setiap kali bertemu denganmu selalu saja sial ...” ucap


Rendi sambil berdiri dari duduknya.


“Aku kan nggak sengaja ..., kenapa anda marah ...?” tanya gadis


itu. Gadis itu adalah Nadin. Ya lagi-lagi mereka di pertemukan tanpa sengaja.


“Dasar bocah pengacau ....” ucap Rendi sembari meninggalkan Nadin


begitu saja.


“Tapi aku suka ini pak Rendi, di hari yang cerah ini aku di


pertemukan oleh pangeranku, walaupun judeh, dingin ..., dia tetap tampan.” Ucap


Nadin sambil bangun dari duduknya.


“Aku akan memuluhkan hatimu ..., balok es ...” ucap Nadin sambil


menatap punggung Rendi yang semakin menghilang.


***


Rendi pun kembali ke apartemennya, ia tidak mau kejadian tadi


membuat moodnya hari ini rusak.


“Tuan ..., tuan besar menyuruh anda datang ke rumah hari ini ...”


“baiklah ..., katakan pada beliau, hari ini saya akan datang


berkunjung.”


“Baik, tuan ...”


Rendi pun segera menuju ke kamar mandi, ia menanggalkan semua


pakaiannya dan mengguyur tubuhnya dengan air dingi. Rasa segar menjalar di


seluruh tubuhnya. Setelah tiga puluh menit ia menikmati guyuran air. Ia segera


meraih handuk yang tergantung di dinding, ia melilitkan handuk itu di


pinggangnya dan mengambul handuk yang lain untuk mengeringkan rambutnya.


Setelah merasa tubuhnya telah kering. Rendi segera mencari


pakaiannya. Kali ini rendi tidak mengenakan kemeja dan jasnya. Ia memilih


memakai kaos putih dan celana hitam. Kaosnya begitu melekat di badannya.


Setelah siap dengan penampilannya. Rendi segera meraih dompetnya


yang ada di atas nakas dan menyelipkannya di kantong celananya begitu juga


Rendi menghampiri mobilnya yang sudah terparkir di depn apartemennya. Ia kali


ini tidak menggunakan sopir. Rendi segera menyalakan mesin mobil dan


melajukannya. Tujuan kali ini adalah ke kediaman ayahnya.


Tak butuh waktu lama, kira-kira dua puluh menit Rendi sudah sampai


di depan rumah besar milik ayahnya. Rendi segera keluar dari mobil.


“Selemat datang, tuan muda ...”


“Terima kasih ...”


Setelah bersapa dengan pelayan, rendi pun melanjutkkan langkahnya.


Tapi setelah berjalan cukup jauh masuk ke dalam rumah. Rendi kembali


menghentikan langkahnya.


“Dimana ayah?” tanya Rendi pada pelayan yang sedari tadi


mengikutinya.


“Beliau di taman belakang, tuan ...”


Rendi pun segera menuju ke taman belakang. Taman yang di tunjuk


oleh pelayan itu. Setelah Rendi sampai di taman, pelayang yang mengikutinya


sedari tadi meninggalkannya bersama ayahnya.


“Ayah ...” sapa Rendi pada ayahnya.


“kau sudah datang ...”


“Iya ...”


“Duduklah ...”


Rendi pun segera duduk di kursi yang ada di samping ayahnya. Ia


menatap taman itu, taman yang menyisakan banyak kenangan. Di taman itulah ia


bisa mengenang masa-masa indah bersama ibunya.


“Bagaimana pekerjaanmu?” tanya Salman pada putra semata wayangnya


itu.


“Semuanya baik, selua proyek lancar dan ada beberapa proyek baru


yang akan saya tangani.”


“Sesekali berkunjunglah ke perusahaan ayah ..., walau tak sebesar


FinityGroup, tetap saja perusahaan itu butuh perhatiah darimu.”


“Maaf ayah ..., tapi belum sekarang waktunya. Masih banyak yang


harus saya kerjakan. Jika semua ini belum selesai, aku sudah berjanji tidak


akan meninggalkan Agra.”


“Tapi ingatlah ..., kau juga harus memikirkan masa depanmu.”


“Maksud ayah ...?”


“Carilah juga pendamping hidup, usiamu sudah cukup matang untuk


itu.”


“Maaf ayah ..., untuk saat ini aku belum memikirkannya. Aku harus


fokus pada apa yang menjadi janji ayah pada tuan Wijaya.”


“Terserah kau saja ..., aku tidak bisa memaksamu ..., asalkan jika


nanti waktunya telah tiba. Aku harap kau akan memperkenalkannya padaku.”


***


Akhirnya hari minggu ini Rendi menghabiskan waktunya bersama


ayahnya. Mereka bermain catur dan membicarakan beberapa hal.


Hari sudah mulai petang. Rendi pun berpamitan pada ayahnya. Ia


harus segera pulang karena harus menyiapkan beberapa berkas untuk pekerjaannya


besok.


Hari senin adalah waktunya untuk kembali beraktifitas. Ya,


kehidupan Rendi begitu membosankan, tak ada warna di dalamnya. Atau memang


Rendi yang mencegah warna itu hadir dalam hidupnya.


***


"**Semua hal besar itu sederhana, dan banyak yang bisa diungkapkan dalam satu kata: kebebasan, keadilan, kehormatan, tugas, belas kasihan, harapan." - Winston Churchill


BERSAMBUNG


JANGAN lupa kasih dukungan dengan memberikan LIKE dan KOMENTARnya ya


kasih Vote juga ya


terimakasih


Happy Reading 😘😘😘😘😘**