
Pagi ini sebelum berangkat kerja rendi mengantarkan Nadin ke
rumah ayah Roy. Memang sudah sangat lama nadin tidak berkunjung ke rumah
ayahnya, bahkan semenjak menikah, Nadin belum pernah ke sana, ia masih takut
kedatangannya akan membuat keributan di rumah itu, tapi semenjak Davina minta
maaf, keinginan untuk datang ke rumah ayah Roy begitu besar, rasanya sangat
merindukan mereka.
“Jika ada sesuatu segera hubungi aku!” ucap Rendi begitu
khawatir dengan istri kecilnya itu.
“Maaas …, aku cuma mau datang ke rumah ayahku, bukan untuk
bertempur melawan pasukan ular!”
“Memang bukan pasukan ular, tapi kau akan bertemu dengan
seekor ular berbisa!” ucap Rendi sambil
mengelus pipi Nadin. “Ya sudah masuklah …, salam buat ayah, maaf aku tidak bisa
ikut masuk!”
“Baiklah …, hati-hati di jalan …!”
Nadin melambaikan tangannya, mobil Rendi melaju meninggalkan
halaman rumah ayah Roy. Setelah mobil Rendi tak terlihat lagi, Nadin segera
berbalik dan menatap rumah yang begitu ia rindukan itu.
Perlahan, Nadin melangkah mendekati rumah tempat dimana ia
tumbuh dan besar itu, nenek Nani sedang menyapu halaman.
“Nenek …!”
Wanita renta itu mendongakkan punggungnya yang sudah mulai
membungkuk, menatap Nadin dengan seksama.
“Nduk ayu …!”
Nadin segera memeluk neneknya yang sudah renta itu.
“Bagaimana kabar nenek?”
“Nenek baik nduk …, ayo masuk …, masuk …!”
Nenek Nani menarik tangan Nadin dan membawanya ke dalam
rumah,
“Roy …, nak …., lihat siapa yang datang!” teriak Nenek Nani
menghebohkan seisi rumah.
“Ada apa buk, pagi-pagi kok sudah heboh banget …!” Ayah Roy
keluar dari dapur. “Nadin …!”
“Ayah …!” Nadin berhambur memeluk ayahnya. “Nadin rindu
banget sama ayah …!”
“Ayah juga sayang …!” ucap ayah Roy sambil mencium kening putrinya itu.
“Kok sepi sih yah, Ibu di mana?” tanya Nadin sambil mengedarkan pandangannya ke seluruh rumah.
“ibu sedang ada acara sama ibu-ibu pengajian!”
“Kemana?”
“Ada kunjungan ke wali Sembilan!”
"Pantas ayah memasak sendiri!"
"Ya mau bagaimana, bibi juga ikut dengan ibumu!"
“Trus …, kak Davina?”
“Davina sudah kerja sayang …, dia memilih tinggal di
kontrakan katanya jaraknya agar tidak terlalu jauh!”
“Jauh banget ya yah tempat kerjanya?”
“Mungkin, karena katanya akan banyak membuang waktu jika
harus pulang ke rumah, kebetulan dia tinggal di dekat kantornya!”
Ini aneh sekali ….
“Apa kak Davina sering menghubungi ayah atau ibu?”
“Kau ini kenapa nak …, kakakmu hanya bekerja dan tinggal
sedikit jauh, selama ini kalian tidak terlalu dekat, kenapa sekarang kau jadi
begitu mengkhawatirkannya!”
“Bukan begitu yah …, ah ya sudah lah …., aku akan bertemu
Dini nanti siang tidak pa pa kan yah?”
“kenapa tanyanya pada ayah …? Kau ini sekarang sudah menjadi
istri dari seseorang nak, jadi ijinlah pada suamimu!”
“baik yah …!”
Siang ini setelah mendapat ijin dari suaminya, Nadin memesan
ojek online dan menemui Dini di sebuah kafe tempat Dini kerja.
“Dengan mbak Nadin!” tanya pria di atas motornya dengan jaket dan helm warna hijau khas ojek online.
“Iya …!”
“Silahkan helmnya mbak!” tukang ojek online itu menyerahkan
helm kepada Nadin.
“Terimakasih!”
Setelah
cukup lama akhirnya mereka sampai juga di kafe tempat Dini kerja. Ternyata
cukup jauh dari rumah ayahnya, karena ia butuh waktu satu jam untuk sampai di
tempat itu, Nadin hanya berbekal serlok dari Dini.
“Terimakasih
ya mas!” ucap Nadin sambil menyerahkan helmnya sambil menyerahkan beberapa uang untuk ojek online itu.
"Sama-sama mbak!"
Nadin
menatap kafe itu, menghela nafas. Membenarkan rambutnya yang sedikit
berantakan. Belum sempat kakinya melangkah, Dini sudah lebih dulu
menghampirinya.
“Nadin
…, aku sudah lama sekali menunggumu!” keluh wanita dengan perawakan imut itu
sambil memeluk sahabatnya itu.
“Bukan
yang jauh sekali seperti ini?” Nadin mengeluh mengenai jarak yang sangat jauh itu.
“Memang aku harus apa, jika ayahku yang meminta. Ini kafe milik tanteku, ia memintaku untuk
menjalankannya!”
Nadin
memperhatikan tempat itu, luas, sejuk dan strategis, berada di daerah
perkantoran, banyak pegawai kantor yang memilih tempat itu untuk makan siang.
Di antara para pekerja kantor yang lalu lalang itu, ada satu orang yang mencuri
perhatiannya.
“Nad …,
hoe …, apa sih yang kau lihat …?” teriak Dini.
“Dini …,
coba lihat, apa itu kak Davina ya ….!”
Dini
melihat ke arah yang di tunjuk oleh Nadin. “Iya …, itu Davina, kenapa di sini?”
Bukannya
menjawab pertanyaan dini, Nadin sudah berlalu menghampiri kakaknya itu.
“Kak …,
kak Davina!”
Davina
yang merasa namanya di panggil pun menoleh ke sumber suara, ia cukup terkejut
saat melihat Nadin sudah berdiri di sana.
“Na-nadin
…!”
“Siapa
Dav…, apa kau mengenalnya?” Tanya salah satu teman Davina.
“Iya …,
dia sudaraku. Kalian duluan saja!”
Dan
teman-teman Davina pun berlalu meninggalkannya, mereka sepertinya hendak
kembali ke kantor, karena waktu makan siang sudah akan habis. Nadin mendekati
Davina.
“Kenapa
kak Davina kerjanya jauh banget?, nggak pulang lagi!”
“Nggak
pa pa …, pengen suasana yang beda aja, bagaimana kabar kamu?”
“Aku
baik kak …! Kakak benaran nggak pa pa? Nggak sedang menyembunyikan masalah
kan?”
“Nggak!”
“Tapi
kak Davina kelihatan gemukan!”
“Ya …,
aku lagi suka banyak makan akhir-akhir ini, ya udah aku kerja dulu …!”
Davina
meninggalkan Nadin begitu saja, melihat Davina sudah pergi. Dini pun
menghampiri Nadin.
“sudah
nggak usah di pikirin …, ayo masuk!”
Nadin
mengangguk, ia mengikuti Dini yang mengajaknya masuk ke dalam kafe.
Rendi
siang ini begitu kesal karena beberapa pekerjaannya tak juga selesai. Ia ingin
sekali segera menemui istrinya di rumah mertuanya, memikirkan Nadin akan
bertemu dengan Davina sudah membuatnya kesal, ia benar-benar takut jika wanita
ular itu akan menyakiti Nadin.
Yang
ngefans sama anak buah Rendi yang selalu mengikuti Rendi kemanapun, sekarang
author kasih namanya. Namanya Ajun, dia masih sangat muda. Pernah menjadi
seorang agen militer, ia memilih mengundurkan diri dan terpilih menjadi salah
satu pengawal pribadi Rendi dengan berbagai tes yang cukup berat, usianya masih
begitu muda, 23 tahun. Seusia dengan Nadin. Maka banyak orang yang
menganggapnya seperti adik dari pria dingin itu. Ia mulai menjadi pengawal Rendi
sejak usia 19 tahun. Berkat kecerdikan ia lulus SMA di usia 15 tahun.
“Apa ada
masalah pak?”
“Tidak
pa pa, biarkan aku sendiri!”
“Baik
pak!”
Ajun
meninggalkan ruangan atasannya. Rendi kembali memeriksa berkas yang ada di
hadapannya, tapi lagi-lagi perhatiannya teralih pada ponselnya.
“Kenapa
dia tidak menghubungiku?”
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
Tri.ani5249
Happy Reading 😘😘😘😘