MY BLOCK OF ICE

MY BLOCK OF ICE
Ajun (Pengawal Pribadi)



Pagi ini sebelum berangkat kerja rendi mengantarkan Nadin ke


rumah ayah Roy. Memang sudah sangat lama nadin tidak berkunjung ke rumah


ayahnya, bahkan semenjak menikah, Nadin belum pernah ke sana, ia masih takut


kedatangannya akan membuat keributan di rumah itu, tapi semenjak Davina minta


maaf, keinginan untuk datang ke rumah ayah Roy begitu besar, rasanya sangat


merindukan mereka.


“Jika ada sesuatu segera hubungi aku!” ucap Rendi begitu


khawatir dengan istri kecilnya itu.


“Maaas …, aku cuma mau datang ke rumah ayahku, bukan untuk


bertempur melawan pasukan ular!”


“Memang bukan pasukan ular, tapi kau akan bertemu dengan


seekor  ular berbisa!” ucap Rendi sambil


mengelus pipi Nadin. “Ya sudah masuklah …, salam buat ayah, maaf aku tidak bisa


ikut masuk!”


“Baiklah …, hati-hati di jalan …!”


Nadin melambaikan tangannya, mobil Rendi melaju meninggalkan


halaman rumah ayah Roy. Setelah mobil Rendi tak terlihat lagi, Nadin segera


berbalik dan menatap rumah yang begitu ia rindukan itu.


Perlahan, Nadin melangkah mendekati rumah tempat dimana ia


tumbuh dan besar itu, nenek Nani sedang menyapu halaman.


“Nenek …!”


Wanita renta itu mendongakkan punggungnya yang sudah mulai


membungkuk, menatap Nadin dengan seksama.


“Nduk ayu …!”


Nadin segera memeluk neneknya yang sudah renta itu.


“Bagaimana kabar nenek?”


“Nenek baik nduk …, ayo masuk …, masuk …!”


Nenek Nani menarik tangan Nadin dan membawanya ke dalam


rumah,


“Roy …, nak …., lihat siapa yang datang!” teriak Nenek Nani


menghebohkan seisi rumah.


“Ada apa buk, pagi-pagi kok sudah heboh banget …!” Ayah Roy


keluar dari dapur. “Nadin …!”


“Ayah …!” Nadin berhambur memeluk ayahnya. “Nadin rindu


banget sama ayah …!”


“Ayah juga sayang …!” ucap ayah Roy sambil mencium kening putrinya itu.


“Kok sepi sih yah, Ibu di mana?” tanya Nadin sambil mengedarkan pandangannya ke seluruh rumah.


“ibu sedang ada acara sama ibu-ibu pengajian!”


“Kemana?”


“Ada kunjungan ke wali Sembilan!”


"Pantas ayah memasak sendiri!"


"Ya mau bagaimana, bibi juga ikut dengan ibumu!"


“Trus …, kak Davina?”


“Davina sudah kerja sayang …, dia memilih tinggal di


kontrakan katanya jaraknya agar tidak terlalu jauh!”


“Jauh banget ya yah tempat kerjanya?”


“Mungkin, karena katanya akan banyak membuang waktu jika


harus pulang ke rumah, kebetulan dia tinggal di dekat kantornya!”


Ini aneh sekali ….


“Apa kak Davina sering menghubungi ayah atau ibu?”


“Kau ini kenapa nak …, kakakmu hanya bekerja dan tinggal


sedikit jauh, selama ini kalian tidak terlalu dekat, kenapa sekarang kau jadi


begitu mengkhawatirkannya!”


“Bukan begitu yah …, ah ya sudah lah …., aku akan bertemu


Dini nanti siang tidak pa pa kan yah?”


“kenapa tanyanya pada ayah …? Kau ini sekarang sudah menjadi


istri dari seseorang nak, jadi ijinlah pada suamimu!”


“baik yah …!”


Siang ini setelah mendapat ijin dari suaminya, Nadin memesan


ojek online dan menemui Dini di sebuah kafe tempat Dini kerja.


“Dengan mbak Nadin!” tanya pria di atas motornya dengan jaket dan helm warna hijau khas ojek online.


“Iya …!”


“Silahkan helmnya mbak!” tukang ojek online itu menyerahkan


helm kepada Nadin.


“Terimakasih!”


Setelah


cukup lama akhirnya mereka sampai juga di kafe tempat Dini kerja. Ternyata


cukup jauh dari rumah ayahnya, karena ia butuh waktu satu jam untuk sampai di


tempat itu, Nadin hanya berbekal serlok dari Dini.


“Terimakasih


ya mas!” ucap Nadin sambil menyerahkan helmnya sambil menyerahkan beberapa uang untuk ojek online itu.


"Sama-sama mbak!"


Nadin


menatap kafe itu, menghela nafas. Membenarkan rambutnya yang sedikit


berantakan. Belum sempat kakinya melangkah, Dini sudah lebih dulu


menghampirinya.


“Nadin


…, aku sudah lama sekali menunggumu!” keluh wanita dengan perawakan imut itu


sambil memeluk sahabatnya itu.


“Bukan


yang jauh sekali seperti ini?” Nadin mengeluh mengenai jarak yang sangat jauh itu.


“Memang aku harus apa, jika ayahku yang meminta. Ini kafe milik tanteku, ia memintaku untuk


menjalankannya!”


Nadin


memperhatikan tempat itu, luas, sejuk dan strategis, berada di daerah


perkantoran, banyak pegawai kantor yang memilih tempat itu untuk makan siang.


Di antara para pekerja kantor yang lalu lalang itu, ada satu orang yang mencuri


perhatiannya.


“Nad …,


hoe …, apa sih yang kau lihat …?” teriak Dini.


“Dini …,


coba lihat, apa itu kak Davina ya ….!”


Dini


melihat ke arah yang di tunjuk oleh Nadin. “Iya …, itu Davina, kenapa di sini?”


Bukannya


menjawab pertanyaan dini, Nadin sudah berlalu menghampiri kakaknya itu.


“Kak …,


kak Davina!”


Davina


yang merasa namanya di panggil pun menoleh ke sumber suara, ia cukup terkejut


saat melihat Nadin sudah berdiri di sana.


“Na-nadin


…!”


“Siapa


Dav…, apa kau mengenalnya?” Tanya salah satu teman Davina.


“Iya …,


dia sudaraku. Kalian duluan saja!”


Dan


teman-teman Davina pun berlalu meninggalkannya, mereka sepertinya hendak


kembali ke kantor, karena waktu makan siang sudah akan habis. Nadin mendekati


Davina.


“Kenapa


kak Davina kerjanya jauh banget?, nggak pulang lagi!”


“Nggak


pa pa …, pengen suasana yang beda aja, bagaimana kabar kamu?”


“Aku


baik kak …! Kakak benaran nggak pa pa? Nggak sedang menyembunyikan masalah


kan?”


“Nggak!”


“Tapi


kak Davina kelihatan gemukan!”


“Ya …,


aku lagi suka banyak makan akhir-akhir ini, ya udah aku kerja dulu …!”


Davina


meninggalkan Nadin begitu saja, melihat Davina sudah pergi. Dini pun


menghampiri Nadin.


“sudah


nggak usah di pikirin …, ayo masuk!”


Nadin


mengangguk, ia mengikuti Dini yang mengajaknya masuk ke dalam kafe.


Rendi


siang ini begitu kesal karena beberapa pekerjaannya tak juga selesai. Ia ingin


sekali segera menemui istrinya di rumah mertuanya, memikirkan Nadin akan


bertemu dengan Davina sudah membuatnya kesal, ia benar-benar takut jika wanita


ular itu akan menyakiti Nadin.


Yang


ngefans sama anak buah Rendi yang selalu mengikuti Rendi kemanapun, sekarang


author kasih namanya. Namanya Ajun, dia masih sangat muda. Pernah menjadi


seorang agen militer, ia memilih mengundurkan diri dan terpilih menjadi salah


satu pengawal pribadi Rendi dengan berbagai tes yang cukup berat, usianya masih


begitu muda, 23 tahun. Seusia dengan Nadin. Maka banyak orang yang


menganggapnya seperti adik dari pria dingin itu. Ia mulai menjadi pengawal Rendi


sejak usia 19 tahun. Berkat kecerdikan ia lulus SMA di usia 15 tahun.


“Apa ada


masalah pak?”


“Tidak


pa pa, biarkan aku sendiri!”


“Baik


pak!”


Ajun


meninggalkan ruangan atasannya. Rendi kembali memeriksa berkas yang ada di


hadapannya, tapi lagi-lagi perhatiannya teralih pada ponselnya.


“Kenapa


dia tidak menghubungiku?”


Bersambung


Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya


Follow Ig aku ya


Tri.ani5249


Happy Reading 😘😘😘😘