MY BLOCK OF ICE

MY BLOCK OF ICE
Bonschap 58 ( Penyelamatan)



Setelah semuanya keluar, ini di sana tinggal Dini , ia membantu Ajun dan juna untuk melawan mereka sebisanya hingga pasukan Juna datang.


Ajun dan Juna sudah hampir kewalahan karena mereka membawa senjata tajam dan juga senjata api, beberapa kali bahkan Ajun dan Juna mendapat sabetan senjata tajam, bahkan anak buah Ajun juga ada yang terkena luka tembak.


"Dini awas ....!" teriak Juna saat pria bermata satu itu melayangkan sebuah pisau ke arahnya, untunglah Ajun dengan cepat menarik tubuh Dini hingga pisau itu hanya mengenai lengannya.


"Ajun ....!" pekik Dini saat melihat lengan Ajun mengeluarkan darah segar.


"Tetaplah di sini, jangan kemana-mana!" ucap Ajun dan Dini hanya mengangguk.


Dini terus saja mengawasi mereka dari balik karung itu, ia beberapa kali harus menyembunyikan wajahnya saat seseorang menembakkan timah panas.


pasukan Juna cukup membantu, para mafia itu terlihat kuwalahan saat menghadapi pasukan Juna.


Tapi Dini begitu tercengang saat melihat pria bermata satu itu mengarahkan senjatanya kepada Ajun dan Juna secara bergantian. Kemudian terfokus pada satu orang, yaitu Ajun.


"Ajun ......! Awaaaaasss .....!" teriak Dini membuat Ajun dan Juna menoleh padanya.


Juna melihat arah tatapan Dini dan ternyata timah panas itu sudah melayang di udara mengarah pada Ajun.


"Aaaaaaaa .....!"


Juna berhasil menghalau peluru itu dengan tubuhnya sendiri, ia memeluk tubuh Ajun dengan menjadikan tubuh ya sebagai tameng hingga peluru itu berhasil menembus punggungnya.


Ajun dapat merasakan darah itu merembes dari pria yang mengorbankan dirinya demi melindunginya.


"Juna apa yang kamu lakukan?" teriak Ajun, anak buah Juna juag tidak kalah terkejut.


"Kapten!"


"Tidak pa pa !" ucap Juna dengan tersenyum, walaupun ia tidak dapat berdiri tegak lagi.


"Jangan bodoh ...., bertahanlah ...!"


Dini pun juga segera menghampiri mereka, "Mas Juna ....!"


"Hei cengeng kenapa menangis!" goda Juna pada Dini yang terus saja menangis karena luka yang di derita kedua pria itu cukup serius.


Untung saja tidak berapa lama bantuan dari aparat desa dan beberapa polisi juga ikut datang untuk meringkus mereka.


Ambulan pun datang tepat waktu, banyak anak buah Ajun yang terluka berat, bahkan terkena tembakan.


Mereka harus di bawa ke rumah sakit terdekat di daerah itu, tidak memungkinkan untuk di bawa kembali ke Jakarta karena terlalu jauh.


Ajun dan Juna segera mendapatkan penanganan intensif begitu juga dengan yang lainnya, sedangkan Dini hanya mengalami luka ringan di beberapa bagian tubuhnya saja.


"Kalian pulanglah, aku akan tetap di sini sampai mereka benar-benar sudah lebih baik ...!" ucap Dini pada teman-teman nya.


"Tapi kami tidak mungkin membiarkan mbak Dini sendiri di sini!"


"Siapa bilang aku sendiri, lihat, ada banyak tentara di sini, aku tidak mau tahu pokoknya kalian harus membuka kafe dalam waktu dekat, ok!"


"Baiklah ...., tapi mbak Dini beneran nggak pa pa di tinggal di sini!"


"Iya ....!"


Akhirnya teman-teman Dini pun meninggalkan puncak dengan menumpang mobil milik tentara.


Dini benar-benar tidak tenang sebelum memastikan jika Juna selamat, Juna sedang menjalani operasi pengangkatan timah panas yang bersarang di punggung nya.


"Bagaimana dok?" tanya Dini saat dokter keluar dari ruang operasi.


"Untung saja peluru itu tidak merobek bagian vitalnya, hanya beberapa centi dari kulit luarnya, tapi pasien masih harus melewati masa kritisnya, jika dalam waktu dua belas jam kapten Juna sadar, berarti berhasil melewati masa kritisnya!"


"Terimakasih dokter!"


"Sama-sama, saya permisi!"


Setelah dokter meninggalkan Dini, Dini kembali menghampiri Ajun yang keadaannya tidak kalah memprihatinkan, pria itu juga begitu banyak perban yang melilit tubuhnya.


"Dini ...!" ucap Ajun saat melihat Dini berada di ambang pintu, Dini pun segera masuk menghampirinya.


"Bagaimana keadaanmu?" tanya Dini, ia duduk di bangku kecil yang ada di samping tempat tidur Ajun.


"Bagaimana Juna?" tanya Ajun.


"Apa kau baik-baik saja?" tanya Ajun lagi.


"Seperti yang kamu lihat, Aku baik-baik saja!"


"Boleh aku memelukmu?" tanya Ajun lagi, membuat Dini terkejut, tapi Dini segera tersenyum dan memeluk Ajun.


"Tentu ....!" ucap Dini dalam pelukan Ajun.


"Aku begitu takut, aku tidak bisa membayangkan jika terjadi sesuatu padamu, bisakah kau tidak akan pernah berada di situasi yang sam seperti itu lagi, atau bisakah kau untuk jangan pernah terluka?"


"Mana bisa seperti itu!" keluh Dini.


"Jangan pernah lagi ...., kau benar-benar membuatku takut!" ucap Ajun.


"Aku tahu ....!"


"Maafkan aku karena telah membuatmu berada dalam posisi seperti itu, maafkan aku!"


"Tidak pa pa, asal setelahnya aku akan mendapatkan pelukan yang seperti ini!" ucap Dini dengan becanda.


"Aku serius!"


"Aku juga lebih serius!"


Mereka pun akhirnya saling bercanda kembali, Ajun begitu bersyukur karena masih di beri kesempatan untuk bisa melihat wajah wanita yang sangat ia cintai itu, seandainya saja terjadi sesuatu dengan Dini ia tidak tahu apa yang akan terjadi padanya.


...***...


Kabar tentang penyanderaan Dini akhirnya sampai juga di telinga orang tua Dini, mereka pun segera bergegas ke rumah sakit tempat Ajun dan Juna di rawat.


Ia ingin segera melihat keadaan putrinya itu.


Dini saat ini sedang berada di ruang Ajun, ia mengupas kan buah untuk Ajun. Masih sangat pagi, sebenarnya Ajun sudah ingin bertemu dengan Juna setelah mendapat kabar jika Juna sudah sadar tapi Dini menahannya karena Juna masih di tangani oleh dokter.


"Dini .....!"


Suara itu berhasil membuat Dini menoleh, ada papa dan mama nya di sana.


"Papa ...., mama ....!"


Dini segera berdiri dan memeluk kedua orang tuannya itu.


"Bagaimana keadaanmu sayang, apa nya yang sakit? Katakan sama mama!"


"Dini tidak pa pa, ma! Lihat Dini bisa berjalan dengan sangat normal!"


Papa Dini pun segera menghampiri Ajun yang masih duduk di atas tempat tidur.


"Selamat pagi, om ..., tante ...!" sapa Ajun.


"Bagaimana keadaanmu?" tanya papa Dini.


"Saya sudah lebih baik om!"


"Tidak pa pa, begitu saja!" ucap papa Dini saat melihat Ajun hendak bangun dan duduk tegak. Papa Dini segera duduk di bangku yang tadi di tempati oleh Dini.


"Maafkan saya om karena telah membuat semua kekacauan ini!"


"Tidak pa pa! om bangga sama kamu, om sudah mendengar bagaimana heroiknya kamu saat menyelematkan putri om, om salut dengan keberanian mu!"


"Terimakasih om!"


Bersambung


Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya


Follow Ig aku ya


tri.ani.5249


Happy Reading 🥰🥰🥰🥰