MY BLOCK OF ICE

MY BLOCK OF ICE
Bonschap 20 (Dini)



Setelah mengakhiri panggilannya dengan Nadin, Dini yang masih awut-awutan akibat bangun tidur segera menyambar handuknya dan berlari ke kamar mandi.


Hari ini ia memang sedang libur kerja, dan kebetulan sekali Nadin menelponnya untuk jalan. Sudah lama ia tidak ke rumah sahabatnya itu karena kafe tempatnya bekerja sedang ada promo besar-besaran dengan di bukanya beberapa jabang di daerah Bandung. Sehingga ia sangat sibuk, saat ia sudah mendapat libur Dini malah merasa bingung karena tidak punya teman untuk di ajak jalan.


Setelah selesai mandi, ia segera memilih baju yang pas untuk jalan.


Dini memakai celana panjang warna hitam dengan kaos yang di luarnya memakai cardigan waran senada. Menyambar tas kecilnya dan juga helm yang ada di atas meja.


Motor matic itu sudah berada di teras rumahnya, karena tadi pagi sudah ia panasi mesinnya.


Setelah mengunci rumah kontrakannya, ia segera menaiki motor maticnya dan melaju menyusuri jalanan ibu kota yang cukup ramai, tapi keuntungan memakai motor, ia bisa menyelip di sela-sela mobil yang bahkan tidak bisa bergerak dari tempatnya.


Akhirnya motor Dini sudah melewati pos penjagaan depan, ada pak Dul juga di sana. Dini begitu santai melewati setiap gang, tapi matanya tertegun saat ia melihat seseorang melintas tepat di samping motornya.


Hal itu membuat Dini kehilangan keseimbangan, ia sampai tidak melihat jika di depannya ada pot bunga.


Brakkkkk


"Aughhhhh .....!"


motor Dini nyumsep begitu saja bersama pot bunga yang sudah tidak berbentuk. Dini memegangi pinggangnya yang terasa sakit.


"Mbak nggak pa pa?" tanya seseorang, membuat Dini mendongakkan kepalanya. dia pria yang tadi yang sudah membuat Dini kehilangan keseimbangannya.


Ya ampun ....., ganteng nya ......


Dini malah bengong menatap pria itu. "Mbak ...., ada yang luka nggak?"


"Ahhh .....!" Dini tersadar, "Iya mas ..., ini tanganku sakit deh, kayaknya kesleyo!"


"Mbak mau ke mana? Biar aku antar ya!"


"Tapi aku nggak bisa nyetir mas, tanganku kesleo!"


"Mbak buru-buru nnggak?"


"Nggak!"


"Kalau gitu, nggak pa pa ya ikut aku bentar, biar aku pijit pakek minyak!"


"Hahhhh?"


Gila nih cowok baru ketemu udah ngajak ke rumah aja .....


"Eh maaf maaf ...., nama ku Juna! Arjuna, tapi panggil aku Juna saja!"


"Mas Juna tinggal di kompleks ini juga?"


"Iya ....!"


"Baiklah kalau gitu, aku ikut mas Juna aja!"


"Baiklah ...., mari mbak saya bantu!"


Akhirnya Juna memapah Dini hingga ke motornya, untung saja motornya tidak pa pa hanya ada lecet-lecet sedikit.


Yang sakit tangannya tapi jalannya ikut pincang, bisa aja nih Dini. Juna pun membawa Dini ke rumahnya, tapi Dini begitu terkejut saat motornya berhenti tepat di depan rumah Nadin.


"Mas ...., kok di sini?" tanya Dini.


"Ada apa? Rumahku ini ...!" ucap Juna sambil menunjuk rumah yang berada tepat di depan rumah Nadin.


""Ohhh ...., tidak pa pa, bagus rumahnya!"


"Rumah bapak saya, ayo masuk ....!"


untung Nadin tidak di luar rumah ....., ih bisa gagal nih berduaan sama cowok ganteng, gagah lagi .....


Dini sedikit menutupi wajahnya agar tidak di kenali oleh anak buah Rendi terutama Ajun. Bisa laporan tuh anak sama komandan, batin Dini.


"Duduklah ...., biar aku ambilkan minyaknya dulu!" ucap Juna Setelah meminta Dini duduk di kursi ruang tamu.


"Iya mas ....!"


Dini mengamati rumah itu, luas dan rapi. ada Foto Juna juga di atas meja kecil dengan seragam tentaranya.


"Astaga ....., dia tentara ....! Mau ah jadi nyonyanya .....!"


Dini jadi membayangkan jadi ibu-ibu persit, Dini jadi tersenyum sendiri.


"Mbak ...., ada apa?" tanya Juna yang sudah kembali, Dini sampai tidak sadar jika Juna sudah kembali.


"Ahhhh .... , nggak pa pa! Oh iya kenalin aku Dini, Andini!"


"Namanya bagus!"


"Terimakasih!"


"Maaf ya, tangannya aku urut nggak pa pa ya!"


"Nggak pa pa mas Jun! Dengan senang hati!"


Juna pun mulai mengoleskan minya urut ke tangan Dini yang terkilir, dan memijatnya perlahan.


"Nggak pa pa kalau Dini mau teriak, ini yang paling sakit!"


"Hahhh?"


krekkkkkk


Belum sampai Dini siap-siap tiba-tiba Juna menarik begitu saja tangannya.


"Aughhh ....., hiks hiks hiks .....!"


"Maaf ...., maaf ....., sakit ya ....!"


Bukannya menjawab Dini malah memeluk Juna membuat Juna bingung.


"Dini .....! Din ....., kamu nggak pa pa?" Juna menepuk-nepuk punggung Dini.


"Hehhh .....!" Dini menggerak-gerakkan tangannya yang ternyata sudah tidak sesakit tadi, "Hah ...., sudah nggak sakit!"


"Ya udah kalai udah nggak sakit, bisa lepasin pelukannya nggak?!"


"Aahh ...., iya maaf ...!" Dini pun segera menjauhkan tubuhnya.


"Makasih ya ....!"


"Nggak pa pa , sama-sama!"


"Mas Juna tinggal sendiri di sini?"


"Engak! Sama bapak aku! Tapi sepertinya bapak sedang pergi!"


Mereka pun mengobrol cukup lama sampai Dini lupa dengan tujuannya datang ke tempat itu.


***


Nadin yang sudah menunggu sangat lama begitu bingung, tidak biasanya Dini terlambat.


Sudah lebih dari dua jam tapi Dini tidak juga datang.


"Ajun ...., aku lihat keluar dulu ya, Dini kok nggak datang-datang!"


"Iya bu!"


Nadin pun keluar dari pagar, ia begitu terkejut saat melihat motor Dini sudah ada di depan pagar tapi bukan pagar rumahnya, pagar tetangga sebelah.


"Ini kan motornya Dini, Lalu orangnya kemana?"


Saat bersamaan, Dini keluar dengan Juna.


"Makasih ya mas Juna, senang bisa ketemu sama mas Juna!"


"Sama-sama, aku juga senang!"


Nadin yang melihatnya sudah berkacak pinggang dengan wajah kesal.


"Diniiiiiiiiii .....!" teriak Nadin. membuat Dini dan Juna menoleh ke Nadin bersamaan.


"Nadin .....!"


"Ngapain kamu di situ, lupa ya sama rumahku?" tanya Nadin masih dengan berkacak pinggang.


"Maaf ya mas Juna, saya pamit dulu! Sampai jumpa lagi!"


Dini segera mengajak Nadin masuk kembali ke dalam rumahnya meninggalkan Juna yang masih bingung.


"Maaf Nad ...., tadi itu ada insiden sedikit!"


"Insiden apa?"


"Aku jatuh dari motor!"


"Lalu mana yang sakit?" tanya Nadin begitu khawatir.


"Sudah nggak ada, kan udah di sembuhin sama mas Juna yang ganteng! Kamu kok nggak ngomong-ngomong sih kalau punya tetangga seganteng itu, tau gitu setiap hari aku ke rumahmu!"


"Dia orang baru, anaknya om Tama!"


"Om tama yang serem itu?"


"Iya ....! Masih berani deketin anaknya?"


"Demi mas Juna, Dini pasti berani, pantang mundur deh pokoknya!"


Bersambung


Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya


Follow Ig aku ya


tri.ani.5249


Happy Reading 🥰😘😘❤️