
Nadin segera berdiri dari duduknya, Davina mengikuti langkah Nadin dari belakang, ia dengan sengaja menarik rok tutu yang di kenakan Nadin hingga tutu itu sobek hingga menampakkan paha Nadin.
"Kak ...., apa yang kakak lakukan?" ucap Nadin begitu terkejut, kini Rok Nadin hanya meninggalkan lapisan dalam dari gaun itu, kain tipis yang hanya beberapa centi menutupi paha Nadin, hingga menampilkan paha Nadin yang putih bersih.
"Maaf aku tidak sengaja ....!" ucap Davina.
Semua mata menatap ke arah mereka, tak terkecuali Rendi dan dr. Frans. Begitu juga dengan Jerry yang masih dengan ponsel yang menempel di telinganya.
Wajah Nadin sudah memerah menahan malu, ia menjadi pusat perhatian ...., Pahanya yang mulus kini menjadi konsumsi publik. Nadin hanya terpaku dengan mata yang berkaca-kaca, menatap tak percaya dengan apa yang di lakukan Davina.
Jerry segera menyakukan ponselnya, tapi saat hendak menghampiri Nadin langkahnya terhenti karena melihat orang lain berlari lebih dulu menghampiri Nadin.
Ya ...., Rendi dengan langkah cepat menghampiri Nadin, ia berdiri tepat di hadapan Nadin menghalangi pandangan Dar i semua orang. Ia tidak suka melihat tubuh Nadin jadi pusat perhatian
Nadin hanya bisa menatap Rendi dengan sendu, ia malu. Rendi segera melepaskan jasnya dan mengikatkan jasnya di pinggang Nadin hingga kini paha Nadin tertutup oleh jas Rendi.
Nadin tak bisa lagi menahan air matanya. Ia senang dengar perlakuan Rendi tapi dia juga malu dengan kejadian ini. Melihat Nadin menangis, Rendi segera menarik tubuh Nadin ke dalam pelukannya.
Tubuh Nadin menghangat, ia bisa mendengarkan detak jantung Rendi karena wajahnya tepat berada di dada bidang Rendi.
Entah apa niat kak Davina melakukan semua ini ...., tapi setidaknya karena perbuatan kakak, Rendi memelukku ....
Setelah lama Rendi memeluk Nadin. Rendi pun kembali melakukan hal yang membuat semua yang hadir di sana tercengang. Rendi mengangkat tubuh kecil Nadin dalam gendongannya, ya Rendi membopong tubuh Nadin. Nadin hanya bisa menyembunyikan wajahnya di balik dada bidang Rendi.
Rendi berjalan memecah kerumunan orang-orang yang sedang menonton pertunjukan itu.
"Gue pulang dulu ...., lo temenin Davina, gue bakal suruh orang gue buat nganter mobil buat lo ....!" ucap Rendi saat sampai di depan dr. Frans. Dr. Frans pun tersenyum.
"Ya ...., jaga dia ....!" Rendi hanya mengangguk dan meninggalkan pesta.
Sedangkan Davina, ia berusaha mengejar Rendi dan Nadin, tapi dr. Frans segera menahan tangan Davina.
"Dokter ...., lepaskan ...., aku ingin mengejar Nadin ...." ucap Davina salbil berusaha melepaskan tangannya dari genggaman dr. Frans.
"Tidak perlu di kejar ....!"
"Tapi ....." bantah Davina
"Rendi sudah menitipkanmu denganku!" ucapan dr. Frans segera menhentikan rontaan Davina. Ia begitu kesal dengan dr. Frans, lagi-lagi dr. Frans menggagalkan rencananya. Bukannya membuat Nadin malu rencananya malah memvuat Nadin lebih dekat dengan Rendi. Apa lagi sekarang dia tidak bisa berbuat apa-apa lagi karena ulah dr. Frans.
Kenapa malah jadi begini sih ......
"Aku mau pulang!" ucap ketus Davina pada dr. Frans.
"Mau jalan kaki ....?" ucap dr. Frans. " Mobilnya aja belum datang ....!"
Ucapan dr. Frans kembali membuat Davina kesal, ia mengeratkan kakinya ke lantai, lalu meninggalkan dr. Frans begitu saja, ia berjalan dengan kesal dan memilih duduk di salah satu kursi.
Dr. Frans tersenyum senang melihat hal itu.
"Lucu juga melihat dia marah ...., jadi suka ngegodain dia ......" ucap dr. Frans sambil menyusul Davina duduk.
"Jangan senyum-senyum ..., senyum dokter bikin aku muak ....!" ucap Davina ketus.
"Bagus dong ....., jadi aku nggak perlu ngejauhin kamu dari aku ...."
"Maksudnya ...?"
"Ya siapa tahu kamu pengen dekat sama aku ...., aku sih enggak. ..." ucap dr. Frans dengan senyum khasnya.
"Jangan Ge eR deh, dok ...., nggak banget ....!"
"Baguslah. ...!!!!"
***
Rendi yang sudah sampai di luar gedung segera membawa Nadin menuju ke mobilnya, ia membuka kunci mobil dengan remote , setelah itu membuka pintu dengan kakinya karena kedua tangannya sedang membawa Nadin.
Nadin masih terdiam di tempatnya, ia tidak percaya dengan apa yang di lakukan Rendi.Ia seperti melihat Rendi dari sisi yang berbeda.
Rendi segera menyalakan mesin mobilnya, dengan perlahan mobil melaju meninggalkan gedung yang menjulang menantang langit itu.
Tak ada kata yang keluar dari bibir Rendi, ia hanya fokus pada jalanan. Tapi tampak dari buku-buku jarinya yang mengeras bahwa pria itu sedang menahan amarahnya. Semantara Nadin hanya sibuk menduga-duga tapi tidak berani menebak atau menduga.
Nadin tak lagi fokus pada jalanan, ia tak peduli lagi Rendi akan membawanya kemana. Hingga mobil berhenti di tepi pantai.
Nadin memperhatikan sekitar, ia bisa mendengar deburan air laut dalam mobil. Ia. melihat pria di sampingnya masih terdiam.
"Pak ....." ucap Nadin melihat ke depan.
Rendi tidak menjawab ataupun menanggapi, mereka kembali terdiam, setelah melewati beberapa waktu akhirnya Rendi keluar dari mobil dan duduk di cap depab mobilnya.
Nadin mau tak mau mengikutinya keluar dari dalam mobil, dengan langkah ragu, ia hanya bersandar, karena untuk duduk di atasnya kakinya tidak akan sampai, jika ingin sedikit melompak ia takut jas yang melilit pahanya akan tersingkap.
Aaah ....., aku ingin ikut duduk, tapi apa daya. Dari pada horor .....
Tapi lagi-lagi Rendi mengejutkannya, Rendi turun dari duduknya dan mendekat di depan Nadin, tiba-tiba tangannya mengarah ke pinggang Nadin.
Apa yang akan pak Rendi lalukan? Apa dia akan menciumku,atau memelukku lagi ....
Tiba-tiba ia merasakan tubuhnya mengambang di udara, Rendi mengangkat tubuh Nadin dan memdudukkannya di cap mobil.
Rendi kembali duduk di sebelahnya. Mereka kembali terdiam.
Apa yang harus aku katakan ......? Tapi harus mulai dari mana?
"Nadin ...."
"Iya ....?" Nadin begitu terkejut mendengar Rendi mulai bicara, ia menyiapkan telingannya untuk mendengar.
"Bisakah kau tetap bertahan. ...?"
"Hah ...., maksudnya?" Nadin gagal mencerna ucapan Rendi.
"Aku akan memberimu kesempatan." ucap Rendi dingin.
"Haahhhh ....!"
"Bersabarlah denganku ...."
Astaga ...., apakah ini artinya dia menerima cintaku? Apa ini artinya kita sepasang kekasih?
"Sudah malam, aku akan mengantarmu pulang ...!" ucap Rendi, ia turun dan kembali menghadap Nadin, ia lagi-lagi menurunkan Nadin dari duduknya. Nadin dapat merasakan detak jantung Rendi.
"Terimakasih .....!" ucap Nadin saat tangan Rendi belum berpindah dari pinggangnya.
Rendi menatapnya, mata mereka beradu, degupan jantung terasa bergetar lebih cepat. Rendi mendekatkan wajahnya ke wajah Nadin.
lima ...., empat ....., tiga ...., dua ....., satu .....
Rendi memberikan kecupan singkat di bibir Nadin. Dengan segera Rendi menjauhkan diri dari Nadin, ia segera berlalu meninggalkan Nadin yang masih terpaku di tempatnya. Ia tak percaya Rendi menciumnya.
"Ayo masuk ....!" ucap Rendi yang sudah berada di dalam mobil.
Astaga ....., apa aku sudah gila, apa yang aku lakukan?
Nadin pun tak mau menunggu terlalu lama, ia segera menyusul Rendi masuk ke dalam mobil.
BERSAMBUNG
happy Reading 😘😘😘😘😘😘