
Davina segera mengambil HP milik Nadin yang berada di atas nakas tak jauh dari tempatnya. Tampak ia sedang mengotak-atik HP Nadin, ia membuka galeri milik Nadin. Ia melihat foto-foto di sana.
"Ini kak Ara ya?" tanya Davina saat melihat foto yang sama seperti yang ia lihat ei barang-barang peninggalan Dafian, ayahnya.
Nadin pun akhirnya menoleh, memperhatikan foto yang di tunjuk oleh Davina.
"Iya kak ...., itu kak Ara dan suaminya, namanya kak Agra. Dia atasannya pak Rendi. Kak Ara sudah punya baby twins ...., ah ... jadi kangen sama mereka ...."
Davina mengangguk mengerti dengan penjelasan yang di berikan Nadin. Davina lanjut melakukan pencariannya. Ia melihat foto-foto Rendi di sana, Foto seorang cowok bersama Nadin seperti di sebuah acara.
"Kalau ini foto siapa?" tanya Davina sambil menunjukkan foto itu.
"Oh ...., itu kak Jerry, dia teman masak kecil kami, aku dan kak Ara. Kami sudah lama tak bertemu ...., dulu dia gendut sekali, hingga kami memanggilnya embul. Tapi sekarang dia sangat tampan ...., itu aku ambil pas menghadiri acara peresmian pembukaan kafe kak Ara dan kak Agra."
Lagi-lagi Nadin menjelaskan panjang lebar, Davina kini setidaknya sedikit demi sedikit tahu orang-orang yang dekat dengan Nadin. Setiap menemukan foto seseorang Davina akan menanyakannya dan Nadin akan menjelaskannya.
"Hp kamu bagus ya Nad ....., tidak seperti Hp aku! Kameranya juga jernih ...." ucap Davina tiba-tiba sambil memainkan kamera hp milik Nadin.
"Itu hasil aku nabung kak ....., jadi kalau kakak kepengen punya hp kayak punya Nadin, kakak harus nabung .....!" jelas Nadin panjang lebar.
"Emang nggak bisa ya minta saja sama ayah Roy?" tanya Davina.
"Kayaknya nggak bisa, soalnya ayah selalu ngajarin dari kecil kalau harus mandiri dan tanggung jawab, jadi kalau pingin hp bagus, ya harus usaha sendiri, kalau hp yang hanya sesuai kebutuhan saja ayah akan belikan, kalau buat gaya ....., kayaknya ayah nggak akan ngasih deh ....., atau kakak coba aja ...."
Lagi-lagi Nadin menjelaskan panjang lebar, Davina terlihat tidak suka dengan penjelasan Nadin.
"Aku akan mencobanya .....!" ucap Davina yakin.
Sekalian aku mau ngebuktiin omongan Nadin, siapa yang akan bisa mmenolak permintaanku, termasuk ayah Roy .....
Tiba-tiba ia di kejudkan dengan hp milik Nadin yang bergetar.
"Paman tampan" siapa paman tampan?
"Siapa kak yang telpon?" tanya Nadin karena Nadin mendengar ponselnya berdering.
"Paman tampan" ucap Davina sambil menyodorkan hp milik Nadin.
Mendengar nama paman tampan, Nadin pun segera menghampiri ponselnya dan mengambilnya dari tangan Davina.
"Hallo paman ......!" sapa Nadin senang.
"Hallo Nadin ...." sapa di seberang sana.
Davina sudah menyiapkan telinganya agar dapat mendengar percakapan antara Nadin dengan 'paman tampan'.
"Ada apa paman?"
"Orang-orang paman besok akan mengantarkan gaun untukmu, bersiap-siaplah karena besok malam Rendi akan menjemputmu ke pesta."
"Pesta ....?!" tanya Nadin dan Davina bersama-sama.
"Kamu dengan Davina?" tanya Salman dari seberang sana karena mendengar suara Davina juga.
"Iya paman ...., kak Davina di sini ...." jawab Nadin.
"Mungkin kamu besok bisa mengajak Davina juga ke sana, paman akan menyiapkan dua gaun untuk kalian ...."
"Gaun ...., tapi pesta apa?" tanya Nadin masih bingung.
"Kamu lupa ....., bukankah paman sudah mengatakannya satu bulan yang lalu!" ucap Salman berusaha mengingatkan.
"Astaga ....., aku lupa ....., maaf paman ...."
"Tak pa pa ....., bagaimana, Nadin bisa kan??"
"Bisa paman ...."
"Kalau Davina mau ikut, kamu boleh mengajaknya juga ....."
"Baik paman ...."
"Ya sudah ....., selamat malam Nadin ...."
"Selamat malam paman ...."
Sambungan telpon pun terputus, menandakan jika pembicaraan mereka telah selesai.
Aduuuuhhhh ....., kenapa jantungku jadi dag dig dug ya .....
"Nadin ...."
Sebuah panggilan telah menyadarkannya bahwa kini dia sedang tidak sendiri.
"Iya ....?"
"Aku boleh ikut ya ......!???"
"Iya kak ...., paman akan menyiapkan dua gaun untuk kita."
"Terimakasih ....., kamu baik deh ....."
Aaah ....., mungkin ini akan jadi kesempatan buat aku ...
Davina tersenyum puas karena Nadin menyetujui permintaannya.
Siang ini sesuai dengan apa yang di katakan Salman. Anak buahnya telah mengirimkan dua buah kotak yang sudah di beri nama pada masing-masing kotak.
"Permisi ....."
"Iya ....?" jawab Dewi yang sedang asik membaca majalahnya di depan rumah.
"Saya di minta pak Salman untuk mengatarkan ini pada nona Nadin dan Davina." ucap orang itu sambil menyerahkan kedua kotak itu.
"Terimakasih ....!" Dewi pun segera menerimanya.
"Kalau pegitu saya permisi nyonya .....!"
Dewi pun hanya mengangguk, ia masih bingung dengan kedua kotak itu, bersamaan dengan itu. Nadin dan Davina sudah turun dari motornya.
"Assalamualaikum ibu .....!" sapa Nadin memberi salam, seeangkan Davina seperti biasa, hanya diam tanpa menyapa atau memberi salam pada ibunya.
"Waalaikum salam ..., eh putri-putri ibu sudah pulang ...." jawab Dewi dengan senyum keibuannya.
"Itu apa bu?" tanya Davina.
"Ohhh ..., ini ....., ini katanya dari pak Salman buat kalian ...."
"Itu pasti gaunnya ....!" Davina secara tak sabar segera meraih kotak itu dan berlari masuk ke dalam rumah.
Nadin yang masih tak percaya dengan tingkah Davina hanya bisa bengong.
"Sayang ...., ini punyamu ....!" ucap Dewi sambil menyerahkan kotak yang masih tertinggal.
"Aah iya ...., terimakasih bu ...., Nadin masuk kamar dulu ya bu ...!"
"Iya sayang .....!"
Nadin pun menganbil kotak itu dan meninggalkan Dewin yang masih di luar rumah. Tiba-tiba ia mendengar notifikasi pesan dari ponselnya. Ia mencari-cari benda pipih itu di dalam tasnya. Ia melihat ada satu pesan di sana.
"Paman sudah kirimkan dua gaun untukmu dan Davina ...., jangan lupa siap-siap nanti jam tujuh Rendi akan menjemputmu ...."
Nadin tersenyum senang mendapat pesan itu, ia segera mengetikkan pesan pada Salman sebagai jawaban.
"Siap paman .....,😘😘😘"
Nadin pun segera masuk ke dalam kamar, ia melihat Davina sudah berputar-putar di depan kaca dengan menempelkan daunnya pada tubuhnya.
"Bagus nggak .....?" tanya Davina.
"Bagus baget kak .....!"
Davina kembali tersenyum. Sedangkan Nadin segera duduk di atas tempat tidur, ia membuka kotaknya, ia tersenyum saat mendapati gaun itu. Gaun itu begitu sesuai dengan Nadin yang ceria.
****
Saat yang di tunggu pun telah tiba, mereka sudah bersiap-siap dengan gaunnya. Mereka tinggal menunggu jemputan saja.
"Sepenarnya putri-putri ayah ini mau ke mana si?" tanya Roy yang melihat kedua putrinya sudah berdadan begitu cantiknya.
"Apa Nadin belum cerita ya sama ayah ...?"
"Belum ....!" jawab Roy.
"Maaf ayah ...., Nadin sampai lupa, jadi gini yah ...., beberapa waktu lalu paman Salman meminta Nadin buat menemani pak Rendi dalam acara nikalahnya saudaranya paman Salman."
"Oh ...., jadi gitu ...!?"
"Iya yah ....., ayah ijinkan kan?"
"Kalau sama nak Rendi, ayah ijinkan, ayah percaya sama dia."
"Aaah .... ,syukurlah .....!"
"Lalu ...., Davina?" tanyanya karena melihat Davina juga Bersiap-siap.
"Jadi gini yah ...., paman Salman mengijinkan kak Davina juga ikut ...."
"Oooh ...., ya sudah kalian tunggu di luar, biar nak Rendi tidak perlu mengetuk pintu."
"Siap ayah. .....!"
Mereka pun akhirnya berpamitan, dan menunggu di teras rumah, setelah setengah jam menunggu akhirnya mobil yang di tunggu-tunggu sudah datang.
Tapi kali ini Rendi tidak datang sendiri, ia bersama seseorang. Seseorang yang paling tidak di sukai oleh Davina. Dia adalah dr. Frans.
Begini kira-kira penampilan Nadin dan Davina ya .....
**BERSAMBUNG
Jangan lupa kasih dukungan ke Author dengan memberikan LIKE dan KOMENTARnya ya
Kasih Vote juga ya yang banyak
Happy Reading 😘😘😘😘😘**