
Pagi ini mereka sudah siap di ruang tunggu atau gold lounge bandar udara juanda kota Surabaya. Lima belas menit lagi pesawat akan berangkat, mereka memilih penerbangan first class seperti biasanya.
Agra duduk dengan nyaman di kursi tunggunya sambil melakukan video call pada Ara dan kedua anak kembarnya.
"Dad ...., are you coming? hari ini?" terdengar suara Sagara di sana. Rendi hanya meliriknya saja.
"Yes, son! Apa kau sudah menjaga mommy dan adikmu dengan baik?"
Terlihat Ara dan Sanaya berada di belakang Sagara.
"Aku sudah bisa di andalkan, dad ...! Don't worry, dad!"
"Ya sudah kalau begitu biarkan daddy bicara pada mommy mu, Okey!"
"Okey dad, see you!!"
Sagara dan Sanaya pun segera meninggalkan mommy nya. kini yang ada di layar ponsel Agra hanya wajah Ara yang tersenyum menatapnya.
"Sayang ... !"
"bby .....!"
"Apa kau begitu merindukanku?"
"Menurutmu ....??? Jangan membuatku menunggu lagi, aku akan sangat merindukanmu!"
"Tunggu aku ya!"
"Tapi bby, hari ini aku berencana bawa anak-anak ke taman bermain nggak pa pa ya?"
"Jadi harus aku tunda lagi nih ....?"
"Maaf ...., tapi aku harus membantu Nadin, bby! Kasihan kalau dia harus kerjakan sendiri, Frans juga sendiri! Nadin kan sedang hamil, jadi kasihan kalau dia datang ke sana sendiri! Lagian Nay dan Gara juga bersemangat sekali waktu aku bilang akan membantu Frans!"
"Benarkah?"
"Iya bby ....! Apalagi Gara, dia sepertinya sudah jatuh cinta sama Felicia!"
"Hahhhh ....., benarkah?"
"Iya ...., entah kenapa putramu itu begitu mengagumi wanita itu, untung saja Frans lebih tua jadi dia yang menangππππ!".
"Iya kau benar, kalau Gara seumuran dengan Frans pasti bakal jadi saingan berat!"
Di sudut lain ternyata Rendi tidak mau kalah, ia juga sedang memainkan ponselnya, ia mengirimkan pesan pada istrinya.
//Kamu tahu kan jika hari ini aku pulang?//
Memang balok es bukan orang yang romantis, seharusnya bukan seperti itu yang harus ia kirimkan, seharusnya, sambut aku ya sayang, hari ini aku pulang, aku merindukanmu. Tapi ia malah mengirimkan kata-kata terkesan begitu kaku itu pun butuh berkali-kali di hapus olehnya
Ting
Notif pesan masuk, bibir tipisnya sedikit melengkung sambil melirik sahabatnya yang sedang asik melakukan video call. Seakan mengatakan, aku juga bisa nih romantis-romantisan sama istri ku.
Rendi pun segera membaca pesan jawaban dari Nadin.
//Benarkah? Aku begitu merindukanmu mas! Elan juga! Dedek bayi juga! Pengen meluk mas Rendi sekarang, cepet pulang ya mas! Kami sangat merindukanmu ...., Jangan lupa oleh-oleh nya ya//
Nadin benar-benar istri pengertian, ia tahu jika suaminya bukan pria yang mudah berkata-kata romantis, untuk mengatakan jika begitu merindukannya saja butuh berjam-jam untuk mengetik nya.
Rendi pun segera mengetikkan balasannya, setelah mendengar jika Ara akan pergi ke taman bermain dulu, ia jadi begitu khawatir, mungkin dengan sedikit ancaman istrinya akan menurut.
//Jangan kemana-mana sebelum aku kembali atau aku akan memakan mu//
Jawaban pun terkirim, tak berapa lama terdengar lagi notif pesan masuk.
//Iya mas ...., tapi mas Rendi suka banget sih maksa, kalau gitu Nadin tunggu sampai sebelum makan siang, kalau sampai mas Rendi belum datang aku tinggal ya//
Agra segera mengakhiri panggilannya begitu pun dengan Rendi, ia segera meletakkan kembali ponselnya ke saku jasnya.
Mereka pun segera beranjak dari duduknya dan menunjukkan tiketnya pada pemeriksa tiket.
***
Akhirnya setelah melakukan penerbangan selama setengah jam mereka sampai juga fi badar udara Jakarta.
Anak buah mereka sudah menyambut kedatangan mereka di sana.
Ada pak Mun yang sudah siap menjemput Agra dan juga Ajun yang menjemput Rendi.
"Silahkan tuan!"
"Silahkan pak!"
Ucap pak Mun dan Ajun sambil membukakan pintu mobil untuk mereka. Agra memakai kaca mata hitamnya begitu pun dengan Rendi.
Saat hendak masuk ke dalam mobil, Agra menoleh pada Rendi yang mobilnya berada tepat di belakang mobilnya.
"Sampai jumpa di taman bermain!" ucap Agra. Rendi pun hanya mengangguk.
Agra segera melanjutkan langkahnya masuk ke dalam mobil, pak Mun segera berlari memutari mobil dan masuk melalui pintu lainnya.
Rendi masih tetap berdiri di tempatnya menunggu hingga mobil Agra benar-benar berjalan. Setelah mobil Agra tidak terlihat lagi barulah Rendi masuk ke dalam mobilnya.
Ajun segera menutup kembali pintu mobilnya dan melakukan hal yang sama seperti yang di lakukan oleh pak Mun.
Selain mobil yang di tumpangi Rendi, ada mobil lain yang sengaja Rendi datangkan untuk membawa semua oleh-oleh yang sudah ia beli dari Surabaya.
"Apa semua baik-baik saja selama saya tinggal?" tanya Rendi pada Ajun saat mobil sudah memecah padatnya jalanan ibu kota.
"Semua baik, pak!"
"Lalu bagaimana dengan tetangga baru itu?"
"Dia putra pak Tama yang kebetulan pindah tugas, usianya seumuran dengan saya pak!"
"Masih muda?" entah kenapa saat Ajun mengatakan jika Arjuna usianya seumuran dengan nya dan lebih muda dari dirinya ia jadi merasa khawatir.
"Lebih dua tahun dari usia saya, pak!"
"Masih dua puluh tujuh?"
"Iya, pak!"
"Apa Nadin sering mengunjunginya? Maksudku menceritakan tentangnya? Atau diam-diam ngobrol dengan nya?"
Ajun hanya bisa tersenyum tipis, samar nyaris tidak terlihat. Ia tidak mau membuat atasannya marah gara-gara ia ketahuan menertawakannya.
Hehhhh .....
Terdengar helaan nafas berat dari Rendi, sepertinya ia sekarang sedang cemas berlebih karena merasa punya saingan yang lebih muda darinya.
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
tri.ani.5249
Happy Reading π₯°π₯°π₯°