
Setelah Nadin kembali ke tempatnya, Rendi pun kembali mengancingkan kemejanya, kini penampilannya tak Serapi sebelumnya.
Nadin sudah mendengus kesal, padahal ia ingin sekali berlama-lama berada di dekat rendi.
Dasar pria dingin, masih aja dingin ....., Nadin ...... kamu harus pasang kompor besar buat nglelehin hati manusia es ini .....
Nadin hanya bisa menggerutu dalam hati, ia segera menaruh kantong infusnya di penyanggah, ponsel yang tadinya di letakkan begitu saja segera di ambilnya kembali. Ia meminta beberapa foto dari dr. Frans dan sekarang ia sedang mengeditnya.
Sedangkan Rendi masih saja duduk di tempatnya. uIa bingung harus melakukan apa, ia tidak paham dengan hubungan barunya.
Nadin merasa kesal sekaligus resah, berada dalam suasana canggung seperti ini membuatnya merasa kehabisan oksigen. Nadin bukan orang yang tahan untuk tetap diam dalam waktu yang lama.
Ya ampun ....., kenapa dia betah sekali diam, mulutku bisa kaku kalau lama-lama seperti ini .....
Nadin menaruh kembali ponselnya, ia mengamati pria dingin yang sedang sibuk dengan layar kecilnya itu. Sepertinya ia sedang bekerja.
Dasar penggila kerja ....., bagaimana bisa romantis jika di nama pun yang di pikirkan cuma kerjaan
Rendi yang sedari tadi sebenarnya tidak terlalu fokus pada pekerjaannya pun terpancing untuk mengangkat kepalanya dan sejenak memperhatikan istri kecilnya itu.
Nadin yang sadar sudah di perhatikan, segera memanfaatkan kesempatan itu.
"Pak Rendi marah ya?" Tanya Nadin lagi, ia masih duduk di tempat tidurnya. Ia tidak mau sampai pria dingin itu kabur gara-gara ia terlalu agresif.
"Menurutmu?" Tanya Rendi dingin. Tapi keningnya tampak berkerut, ia sebenarnya tidak paham dengan apa yang ditanyakan oleh Nadin.
"Marah!" Jawab Nadin dengan polosnya. Baginya diam adalah cara nya untuk mengungkapkan rasa marah dan kesal. Mungkin dia juga menganggap pria dingin itu sedang marah padanya.
"Ya sudah anggak saja seperti itu!" ucap Rendi lagi, ia pun meletakkan i-pad nya yang berada di tangannya di atas meja.
"Kenapa marah?" tanya Nadin dengan wajah memelasnya.
Astaga ....., dia banyak sekali bicara ....
"Sudah diam aku mau tidur!" ucap Rendi ketus. Bukan karena ia marah, tapi ia bingung harus mengatakan apa. Ia tidak biasanya di beri pertanyaan, ia terbiasa memberi pertanyaan bukan menjawab pertanyaan. Menurutnya menjawab adalah hal yang sulit dilakukan.
Lebih baik diam dari pada terus di tanya, ia suka memiliki jawaban yang pasti. Tapi saat bersama Nadin, ia merasa selalu tidak memiliki jawaban yang pasti. Segala pertanyaan Nadin memberinya jawaban yang vivti vivti, double , antara ya dan tidak, antara benar dan salah, atau antara yakin dan tidak.
Ia selalu terjebak dalam lingkungan yang sama, berada dalam keraguan dan tanpa kepastian, saat bersama Nadin ia merasa menjadi pria yang bodoh dan tak memiliki pendirian.
Ia mengatakan ingin menjauh, tapi nyatanya hal itu malas semakin membuatnya dekat.
Ia ingin marah tapi kenyataannya malah membuat dirinya menginginkannya.
Ia mengatakan tidak apa-apa, tapi nyatanya ia begitu membutuhkannya berada di sampingnya.
Rendi tak mampu menguasai dirinya sendiri, ia merasa jika separuh dari dirinya telah di kuasai oleh Nadin, gadis itu seperti memiliki remote kontrol untuk bisa mengendalikan dirinya.
Rendi tak mau berlama-lama menatap Nadin, ia masih begitu takut jika berada lama kendali Nadin.
Ia pun melepas sepatunya dan merebahkan tubuhnya di tempat tidur. Mencoba menghilangkan pengaruh Nadin dari pikirannya, bukan dia yang harusnya terpengaruh tapi Nadin.
Pemikiran-pemikiran seperti itu membuatnya tetap bersikap dingin. Ia terlalu takut mengakui bahwa dia begitu membutuhkan istri kecilnya itu.
Tapi belum sampai memejamkan matanya tiba-tiba pintu di ketuk oleh seseorang. Membuat Rendi membuka matanya kembali.
Betapa terkejutnya dia saat melihat siapa yang datang.
"Divta?"
"Rendi, kamu di sini?" Tanya Divta yang terkejut melihat Rendi di kamar rawat Nadin dengan penampilan yang acak-acakan. Kemeja yang di keluarkan, dan tanpa alas kaki.
Nadin tak kalah terkejutnya. Ia segera menjatuhkan ponselnya, ia tidak menyangka akan secepat ini pria itu datang.
Astaga ....., kenapa dia harus datang sih, situasinya sekarang sedang sulit dan dia pasti akan mempersulitnya lagi ....
Nadin juga bisa memperhatikan wajah terkejut dari pria dingin itu.
"Masuklah ....!" perintah Rendi, Divta pun segera masuk sedangkan Rendi kembali menutup pintunya.
Rendi yang sadar akan penampilannya segera memperbaikinya agar sedikit rapi. Ia kembali ke sofa untuk mengenakan sepatunya.
Sedangkan Divta, ia sudah berjalan mendekati tempat tidur Nadin.
Divta datang dengan membawa seikat bunga dan juga buah untuk Nadin.
Rendi yang sudah selesai mengenakan sepatunya segera mendekati Divta. Ada sesuatu yang membuatnya tidak suka saat pria itu berada terlalu dekat dengan istrinya.
"Hai Nad, maaf ya seharian ini aku tidak bisa menjengukmu, nggak tahu nih Agra sama Rendi kemana saja, semua pekerjaan di limpahkan padaku seharian ini!" ucap Divta sambil menatap Rendi yang sudah berada di sampingnya.
Untung saja nggak kesini, bisa kacau kalau ada kamu ....
Nadin menatap pria dingin itu, ia tidak bisa mencerna segala ucapan Divta, karena fokus pandangannya pada pria dingin itu.
"Bagaimana keadaanmu?" Tanya Divta lagi, Nadin pun hanya bisa tersenyum canggung dia menatap pria yang kini sudah sah menjadi suaminya itu. Pria itu masih berdiri terpaku di tempatnya dengan begitu kesal.
Ayo dong pak Rendi, bicaralah ....., kau benar-benar membuatku berada di situasi yang serba salah ...,
"Div sepertinya kita harus bicara!" ucap Rendi.
"Kita kan bisa bicara lain waktu, untuk saat ini aku sedang tidak tertarik untuk membicarakan pekerjaan, kau bisa meninggalkan kami jika kau mau!" ucap Divta, ia mengira jika Rendi akan bicara perihal pekerjaan karena begitu banyak pekerjaan yang seharusnya di kerjakan oleh Rendi hari ini dan di handle oleh Divta.
"Bukan tentang pekerjaan!" ucap Rendi lagi.
"Ya sudah nanti dulu, biarkan aku bicara dengan Nadin sebentar saja, setengah jam saja!" ucap Divta memaksa.
"Baiklah .....!" akhirnya Rendi menyerah, ia beralih ke sisi lain tempat tidur Nadin, ia duduk di kursi kecil di sana, mengamati apa yang akan di bicarakan Divta pada istri kecilnya itu.
Divta pun juga mengambil tempat duduk yang sama, ia meletakkan keranjang buah di atas nakas, dan tangannya masih memegang seikat bunga mawar.
**Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan ke author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya
follow juga Ig aku ya
Tri.ani.5249
Happy Reading 😘😘😘😘**