
Rendi segera masuk ke dalam lift yang di sediakan khusus untuk petinggi perusahaan. ternyata di dalam lift itu sudah berdiri Divta.
"Kamu kenapa Rend, buru-buru sekali ...?" tanya Divta yang melihat Rendi sedikit berlari, ia juga hendak menuju ke ruang paling atas itu.
"Ada yang harus segera aku selesaikan." jawab Rendi singkat, ia tidak mau jika sampai Divta tahu jika Nadin berada di dalam ruangannya.
"Boleh aku ikut ke ruanganmu ....?"
"Jangan!" teriak Rendi. Sejurus kemudian ia sadar bahwa ucapannya akan membuat Divta curiga. "Hgremmm ...., maksudku, jangan ke ruanganku, aku sebentar lagi ada urusan di luar ...!"
"Yah ...., sayang sekali ya ...., padahal aku sedang bosan dan aku butuh teman ....!" ucap Divta dengan wajah sedikit kecewa.
"Maafkan saya ...., mungkin lain kali kita bisa mengobrol bersama ...!"
"Iya tidak pa pa ..., mungkin aku bisa bertemu dengan Frans, aku akan ke tempat prakteknya saja ....!" ucap Divta sambil menepuk bahu Rendi, memang tempat praktek dr. Frans juga di gedung yang sama sebagai petugas medis di perusahaan, selain itu ia jiga mengelola rumah sakit ternama di Jakarta di bawah naungan Finity Group juga.
Pintu lift pun terbuka, Divta berpamitan pada Rendi untuk menuju ke ruang praktek dokter Frans.
Setelah Divta meninggalkan Rendi. Rendi pun bisa bernafas lega, ia dengan langkah cepat menuju ke ruangannya.
*****
Nadin sedang asik bermain tebak kata dengan dokter Frans saat tiba-tiba pintu itu kembali terbuka. Nadin dan dr. Frans menoleh ke sumber suara secara bersama-sama.
"Pak Rendi ...!"
Nadin segera menghampiri Rendi yang masih berdiri di depan pintu, sedangkan dr. Frans masih tetap duduk di tempatnya.
"Lo boleh pergi dari ruangan gue ....!" ucap Rendi dingin.
"Lo gila ya ...., benar-benar habis manis sepah di buang ya ...., bilang terimasih kek karena gue sudah jagain pacar lo ...., nih malah ngusir ...!"
Mendengar dr. Frans mengungkit kata pacar, seketika tatapan Rendi beralih pada Nadin yang sedang berdiri di depannya, ia menatap Nadin tajam. Seolah meminta penjelasan atas perkataan dr. Frans.
"Maaf ....! tapi janji cuma cerita sama dr. Frans saja ...., janji ...!" ucap Nadin sambil mengangkat dua jarinya dengan wajah memelas.
"Lo jangan marahin Nadin, dia nggak salah, tapi lo yang salah ..., bisa-bisanya lo menyembunyikan semua ini dari gue ....!" ucap Dr. Frans sambil berdiri dari duduknya. Ia menatap Rendi dengan tatapan yang tak kalah tajamnya, bukan seperti dr. Frans yang biasanya, ia terlihat begitu serius.
(kira-kira begini nih wajah serius dr. Frans)
"Ini bukan urusan lo ...!" ucap Rendi dengan wajah marahnya.
"Gue tahu bukan urusan gue ..., tapi gue sahabat lo, jadi gue berhak ngingetin lo sebagai sahabat. Lo bisa bilang kalau saat ini lo nggak cinta sama Nadin, tapi nanti saat Nadin sudah sampai di titik jenuh dan berpaling dari lo ...., gue orang pertama yang bakal ngedukung Nadin ...., gue pergi ....!"
Dr. Frans pun berjalan hendak meninggalkan ruangan itu, saat sampai di samping Nadin, Nadin pun segera menahan dr. Frans, dr. Frans menatapnya dengan tatapan penuh dengan simpati, ia memegang bahu Nadin sejenak lalu melepaskan genggaman tangan Nadin dan berlalu keluar dari dalam ruangan.
Kini hanya tinggal Rendi dan Nadin dalam ruangan itu. Rendi segera mendekatkan tubuhnya pada tubuh Nadin, membuat Nadin memundurkan langkahnya. Tapi tetap saja walaupun Nadin sudah mundur beberapa langkah, jarak mereka masih sama, begitu dekat.
Rendi terus saja memojokkan Nadin. Ia menatap Nadin dengan tatapan mengitimidasi. Kini tubuh bagian belakang Nadin sudah membentur meja kerja Rendi, ia tidak bisa mundur lagi.
Tubuhnya tertahan oleh meja, Rendi tetap menekannya hingga Nadin mencondongkan tubuhnya ke belakang.
Rendi segera menarik pinggang Nadin ke dalam pelukannya. hingga tak ada lagi jarak diantara mereka.
"Pak ...., apa yang akan pak Rendi lakukan?" tanya Nadin dengan suara yang tertahan di tenggorokan. Entah kenapa ia merasa saat ini untuk bernafas saja ia merasa kesusahan.
Oksigen ....., mana oksigen .....? Aku butuh oksigen untuk bernafas ....
Rendi benar-benar marah, bukan karena Nadin telah melanggar kesepakatan mereka, tapi ia marah dengan kata-kata yang di ucapkan dr. Frans. Entah kenapa hatinya tidak tenang mendengar ucapan terakhir dari dr. Frans.
Lo bisa bilang kalau saat ini lo nggak cinta sama Nadin, tapi nanti saat Nadin sudah sampai di titik jenuh dan berpaling dari lo ...., gue orang pertama yang bakal ngedukung Nadin ....
Kenapa aku begitu marah .....? Apa benar kau akan menyerah, seharusnya aku senang saat kau menyerah, tapi kenapa aku marah?
Rendi menatap wajah Nadin dari dekat, ia bisa merasakan hembusan nafas Nadin, ia bisa melihat lekuk wajah Nadin, entah kenapa saat menatap wajah itu, rasa marah di hatinya seketika menghilang.
Hingga kini tubuh Nadin berada di bawah kungkungan tubuh kekar Rendi. Tak ada jarak di antara mereka.
Cklek
Tiba-tiba pintu terbuka.
"Maaf saya akan keluar ...!" Vina sekertaris Rendi hendak masuk ruangan, seketika Rendi mengalihkan pandangannya ke sumber suara sedangkan Nadin segera membuka matanya.
Melihat atasannya seperti hendak berciuman Vina pun kembali keluar, ia mengutuki kebodohannya karena tidak mengetuk pintu dulu.
"Astaga ....., pak Rendi pasti marah besar ....!" gumam Vina sambil memegangi dadanya karena terlalu terkejut, ia sudah pasrah jika setelah ini Rendi akan memecatnya. Ia pun segera mengemasi barang-barangnya dan meninggu titah dari atasannya itu untuk angkat kaki dari kantor itu.
Di dalam, setelah Vina keluar Rendi pun segera melepaskan tangannya yang mengait pinggang ramping Nadin, ia menjauh dari Nadin dan membenahi jasnya yang sedikit berantakan.
"Ayo aku antar pulang!" ucap Rendi kemudian tanpa menatap Nadin. Jantungnya beketja ekstra jika harus berlama menatap Nadin, menurutnya itu tidak akan baik untuk kesehatannya (Rendi kan belum sempat datang ke spesialis jantung hahaha ....).
Nadin pun juga sama, segera bangun dari tempatnya. Ia butuh waktu untuk menormalkan jantungnya kembali.
"Tapi aku belum menemui bu Tami, menyerahkan suratku ...!" jawab Nadin.
"Mana suratmu ...!"
Mendengar perintah seperti itu, Nadin pun segera mencari keberadaan tasnya dan mengambil sebuah amplop warna coklat kecil dan kembali mendekati Rendi fan menyerahkannya padanya.
Rendi pun segera mengambil amplop itu, kemudian ia menarik tangan Nadin.
"Kemana pak?" tanya Nadin lagi saat langkahnya sudah sampai di ambang pintu.
"Aku akan mengantarmu pulang!" ucap Rendi, akhirnya Nadin pun hanya bisa pasrah. Ia tidak mau membuat Rendi kembali marah, apa lagi setelah kejadian tadi, sekertarinya melihat mereka.
Rendi pun tetap menarik tangan Nadin hingga keluar dari ruangannya. Saat mereka melewati meja sekertaris, Rendi segera menghentikan langkahnya. Vina sudah tertunduk pasrah dengan keputusan bosnya.
"Saya benar-benar minta maaf pak, saya rela di pecat oleh bapak ...!" ucap Vina gugup.
"Serahkan surat ini pada devisi HRD!" perintah Rendi pada Vina sambil menyetahkan amplop yang sama yang di berikan oleh Nadin.
"Baik pak ....!"
Rendi pun hendak berbalik meninggalkan meja itu saat Vina kembali menghentikan langkahnya.
"Tapi pak bagaimana dengan saya, apakah saya di pecat?" tanya Vina ragu.
Rendi pun menghentikan langkahnya dan berbalik menatap Vina tanpa melepas tangan Nadin.
"Besok berangkat lebih pagi ....., dan lagi jangn bicarakan apa yang kamu lihat pada orang lain. Jika sampai orang lain mengetahuinya aku anggap kamulah yang bertanggung jawab."
"Baik pak saya mengerti ...., terimakasih ....!" ucap Vina sambil menunduk, hatinya begitu lega karena atasannya tidak berkeinginan memecatnya.
Rendi dan Nadin segera menuju ke pintu lift. Entah sadar atau tidak tangan mereka masih saling bertaut, kalau Nadin sih sadar, karena kini tangannya menjadi dingin karena sentuhan si balok es. Sedangkan Rendi, entahlah? Dia sadar tapi pura-pura tidak sadar atau memang kehangatan tangan Nadin membuatnya nyaman.
**BERSAMBUNG
Jangan lupa kasih dukungan ke Author dengan memberikan LIKE dan KOMENTARnya ya
Kasih Vote juga ya yang banyak
Happy Reading 😘😘😘😘😘😘**