
Hari ini Dini menyampaikan niatnya kepada teman-teman nya untuk mengadakan acara ke puncak selama tiga hari.
"Setuju mbak, kapan nih acaranya?"
"Gimana kalau besok?" tanya Dini meminta pendapat, ia juga sudah ijin sama papa dan mamanya untuk pergi ke vila.
"Iya kami setuju mbak, kami setuju!"
"Baiklah deal ya besok ya ...., pagi-pagi sekali kita bersiap-siap di sini!" ucap Dini lagi.
Saat mereka masih sibuk membicarakan hal itu tiba-tiba Ajun datang, kedatangan Ajun berhasil mencuri perhatian semua orang, pasalnya mereka tahu jika pria yang sedang berdiri di depan pintu masuk itu akhir-akhir ini begitu dekat dengan Dini.
Dini pun segera membubarkan meetingnya dengan teman-temannya, semua kembali ke posisinya masing-masing.
" Hai Ajun ....!" sapa Dini sambil melambaikan tangannya.
Ajun tidak menjawab sapaan dari Dini, ia memilih berjalan mendekati Dini dan duduk di bangku kosong di sampingnya.
"Ada apa kesini? Kamu nggak kerja?" tanya Dini lagi.
"Aku ijin!" ucap Ajun. Mei kembali dengan membawa minuman yang biasa di pesan oleh Ajun tanpa perlu memesannya.
"Silahkan mas ....!" ucap Mei.
"Bisa pergi dengan aku?" tanya Ajun. Mei yang terkejut segera menoleh pada Ajun.
"Saya maksudnya?" tanya Mei.
"Mei ....!" ucap Dini sambil melotot ke arah Mei.
"Maaf mbak, khilaf ....!"
"Cuma sebentar!" ucap Ajun lagi sambil menatap Dini.
Dini pun terlihat bingung, iya masih banyak pekerjaan, apa lagi besok akan pergi, ia harus melakukan pembukuan akhir bulan.
"Pergi saja Mbak Din nggak pa-pa, biar saya yang berjaga di sini!" ucap Mei yang belum meninggalkan Dini.
"Tapi ....!"
"Nggak usah bingung!" ucap Mei lagi.
"Beneran nggak apa-apa?" tanya Dini lagi memastikan.
"Siapa juga mbak yang mau gotong nih kafe kalau mbak Dini nggak di sini, semut juga nggak bakalan kuat!"
"Baiklah ....!" Akhirnya Dini bersedia pergi dengan Ajun, "Tunggu sebentar ya!"
Dini pun segera masuk meninggalkan Ajun, ia segera mengganti bajunya dengan baju yang ia kenakan tadi pagi.
Setelah memastikan semuanya sudah rapi, ia kembali menghampiri Ajun.
"Sudah ....!" ucap Dini.
"Ayo ....!" Ajun pun berdiri dan mengajak Dini pergi.
Sesampai di luar kafe, Ajun segera membukakan pintu mobil untuk Dini, Dini pun segera masuk ke dalam mobil.
Setelah memastikan Dini masuk ke dalam mobil, Ajun pun segera berlari mengitari mobil dan masuk dari pintu lainnya, ia duduk di balik kemudi.
"Emang kita mau kemana sih kardus?" tanya Dini sebelum Ajun menghidupkan mesin mobilnya.
"Nggak usah bawel ikut aja denganku!"
Ajun pun segera menghidupkan kembali mesin mobilnya, mobil mulai melaju perlahan meninggalkan kafe.
Mereka pun saling diam sepanjang perjalanan, Dini memilih melihat ke luar, ia sudah kesal dengan sikap dingin Ajun.
"Baiklah kita sampai!" ucap Ajun saat mobil berhenti di depan sebuah toko perhiasan ternama.
Dini pun menurunkan kaca mobil dan mengeluarkan kepalanya saja, melihat ke luar.
"Kardus ...., kita ngapain ke sini?"
"Beli bawang!"
"Emang bawang di jual di sini ya sekarang?" tanya Dini dengan polosnya.
"Jangan banyak bertanya, cepetan turun jangan sampai aku turun sendiri!" ucap Ajun.
Dini pun akhirnya turun, mereka segera masuk ke dalam toko dan benar di dalam hanya ada berbagai macam perhiasan.
"Kenapa kita kesini? Di sini nggak ada bawang?" tanya Dini dengan berbisik.
"Bawang adanya di pasar, kenapa cari di sini?" tanya Ajun.
"Tadi katanya mau beli bawang?!"
"Hehhhh .....!" Ajun hanya bisa menghela nafas sambil tersenyum karena semua pegawai toko melihat ke arah mereka.
"Aku mau beli cincin!" ucap Ajun lalu menarik Dini ke sebuah etalase yang memajang berbagai macam cincin dengan berbagai model.
"Mbak saya mau cincin yang modelnya tidak pasaran! Kalau bisa hanya sekali produksi!" ucap Ajun.
"Silahkan ke sini mas!" pegawai toko mengajak Ajun dan Dini ke etalase yang lain dengan harga yang fantastis.
"Kardus ..., yang ini mahal semua, emang kamu punya uang sebanyak itu!" bisik Dini sambil menarik bahu Ajun agar sedikit merendah, agar ia bisa menjangkau telinga Ajun.
Ajun hanya tersenyum,
"Masnya mau beli buat istrinya ya, kalau pengantin baru biasanya suka yang seperti ini, ini lebih terlihat romantis dan menggambarkan ungkapan cinta!" ucap pegawai toko sambil menunjuk kan beberapa cincin yang ada bentuk hatinya.
"Saya coba lihat yang itu mbak!" Ajun menunjuk ke sebuah cincin dengan permata satu di tengah, terlihat anggun dan indah.
Pegawai toko pun mengambilkan untuk Ajun dan meletakkannya di atas etalase.
"Mana jarimu!" ucap Ajun.
"Hehhhh?"
"Kesinikan jarimu!" ucap Ajun sambil meraih tangan Dini dan memasangkan sebuah cincin di jari manis Dini.
"Gimana? Apa ini bagus?" tanya Ajun.
"Bagus ..., tapi terlalu polos!" ucap Dini.
"Maksudnya kamu mau melamar aku ya, iya kan Kardus? Kamu mau melamar aku kan?" goda Dini sambil menatap Ajun yang salah tingkah karena terus di goda oleh Dini.
"Jangan PD ....!"
"Nggak ...., tapi lihat wajahmu itu!"
"Memang kenapa dengan wajahku?" tanya Ajun sambil memegang pipinya yang memang terasa panas.
"Ayo ngaku dulu baru deh aku mau milih cincinnya!"
"Aku cuma pengen kamu pilih salah satu untukku!" ucap Ajun.
"Buat apa cowok pakek cincin, kalau cowok tuh cincinnya perak bukan emas!"
"Terserah lah, cepetan!" ucap Ajun yang mulai kesal.
"Pasti untuk aku, kalau bukan untukku lalu untuk siapa dong, nggak mungkin kan untuk bi Surti!"
"Jangan banyak bicara, cepetan pilih aja yang kamu suka!" ucap Ajun, ia benar-benar malu karena mereka jadi pusat perhatian, bahkan ada beberapa yang mengabadikan mereka dengan kamera ponselnya.
"Nggak romantis banget!" keluh Dini sambil memilih cincin yang ia sukai, sebenarnya yang ia pilih yang harganya paling rendah, ia tahu Ajun membelikannya untuk dirinya.
Cuma bilang cinta aja apa susahnya sih ...., kardus ...., kardus ....
"Aku sudah dapat!" ucap Dini.
"Yakin yang itu?" tanya Ajun.
"Ya yakinlah ...!"
"Tapi itu tidak terlalu bagus!" ucap Ajun.
"Ya terserah aku dong!"
"Baiklah ...!"
Ajun pun segera melakukan pembayaran.
Sepanjang perjalanan pulang Dini terus saja menatap jarinya yang kini sudah melingkar sebuah cincin.
"Jangan di pandang terus seperti itu, kebakar nanti jarinya!" ucap Ajun yang tetap fokus dengan jalanan.
"Biarin, aku suka!"
"Itu nggak terlalu bagus, kenapa pilih yang itu?"
"Karena aku suka sama yang ngasih!"
"Cuma suka?"
"Iya ....!" ucap Dini tanpa beralih dari menatap cincinnya,
"Oh iya ini maksudnya apa ya?" tanya Dini kemudian, ia hanya terlalu fokus pada cincin itu tapi lupa dengan maksudnya.
"Itu berarti ...., kalau sudah ada cincin dariku nggak boleh ada cincin dari orang lain yang melingkar di sana!" ucap Ajun, ucapan Ajun yang panjang berhasil membuat Dini menoleh padanya.
"Jadi maksudnya melamar?"
"Terserah bagaimana kamu lah!"
"Kok gitu sih, romantis dikit dong, kalau ngasih cincin itu di kasih surprise, sambil dinner kek ...., atau gimana gitu ....!"
Mereka pun akhirnya sampai kembali di depan kafe. Ajun ikut turun dan membukakan pintu untuk Dini.
"Kuda....!" ucap Ajun sebelum Dini meninggalkannya.
"Apa?"
"kapan kamu berangkatnya?" tanya Ajun.
"Besok pagi!"
"hati-hati ya, aku pergi ...!" ucap Ajun dan hendak masuk kembali ke dalam mobil.
"Cuma itu doang nggak mau bilang yang lainnya?"
"Apa?"
"Ya apa gitu, cinta kek, aku akan merindukanmu, atau gimana gitu!"
"Nggak usah ngelunjak!"
"Jahat banget!"
"Ada lagi!"
"Apa?"
"Malam ini enggak usah ke apartemen, cepat istirahat dan jangan menghubungi siapapun kecuali aku!"
"kenapa seperti itu?"
"Kalau mau menghubungi orang lain, lihat cincin di jarimu!"
"Hehhhhh ....!"
"Jangan banyak protes!"
dasar orang aneh .....
"Bye ...., sampai jumpa 3 hari kedepan!" ucap Dini lalu berlalu meninggalkan Ajun.
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
tri.ani.5249
Happy Reading 🥰🥰🥰