
Rendi pun segera mencari benda pipih itu, yang ternyata berada di sebelahnya. Ia segera melakukan panggilan. setelah melakukan panggilan beberapa kali barulah tersambung.
"Gila lo ya ...., malam-malam gini masih ngganggu gue ...., gue ngatuk .....!" cerocos dr. Frans dari seberang sana, terdengar dari suaranya ia baru bangun tidur, terbangun karena panggilan dari Rendi.
"Gue butuh psikolog ....., lo ada rekomendasi nggak?"
"Emang lo kenapa?"
"Gue ngrasa akhir-akhir ini, gue bukan gue lagi ...."
"Maksudnya?"
"Gue nglakuin hal-hal di luar kehendak gue ...."
"Wahhh serius kayaknya nih masalah lo ....., ya udah besok lo datang ke temapt praktek gue ...., gue bakal ngantar lo ke psikiater kenalan gue ...., sekarang gue mau tidur ngantuk ....!"
Ucap dr. Frans, sambil memantikan sambungan telponnya, ia tidak tahu jika di seberang sana Rendi sedang memakinya karena mematikan telponnya sembarangan.
****
Hari ini seperti yang di katakan, Rendi datang menemui dr. Frans setelah semua pekerjaannnya selesai.
Rendi memacu kendaraannya menuju ke tempat praktek dokter Frans. Dengan langkah lebarnya ia melangkahkan kakinya dengan pasti.
Tampak sekali dari raut wajahnya kalau dia tidak sabar.
"Hai bro ...., cepet bangen kesininya?" sapa dr. Frans yang tiba-tiba datang entah dari mana asalnya, dr. Frans masih mengenakan jas putih kebesarannya, tampak jika dia baru saja menangani pasiennya dengan stetoskop yang masih menggantung di saku jasnya.
"Mana psikiater yang lo katakan ...?" tanya Rendi.
"Sabar dong ...., kita langsung menuju tempat prakteknya saja, tapi gue taruh jas gue dulu."
"Jadi nggak di sini?"
"Ya nggak lah ....!"
"Kenapa nggak bilang dari tadi ...., ayo cepatan. ...!"
Tanpa memberi kesempatan dr. Frans untuk berkilah lagi, ia sudah menarik tangan dr. Frans dan tak memperdulikan ocehan dr. Frans.
"Masuk ....!" perintah Rendi.
"Wah ..., gila lo ya ...., emang sudah gila kayaknya lo ..., bisa-bisa nya lo culik gue, gue ini cowok ya ....!" maki dr. Frans karena Rendi tak memberinya kesempatan untuk mengganti pakaiannya atau hanya sekedar menyimpan jas dan stestoskopnya.
"Sudah diam dan masuklah, kalau nggak mau gue iket dan gue seret ke dalam mobil."
"Jahat banget lo jadi sahabat ....!"
Walaupun terus membantah, tapi dr. Frans tetap menurut untuk masuk ke dalam mobil.
"Sekarang tunjukkan alamatnya!" perintah Rendi.
Senang sekali dia memerintah ... ,mungkin emang kayak gini ya kalau orang sedang jatuh cinta ...., tapi seingetku Agra dulu nggak seheboh ini. ...
"Lo nggak sabaran banget jadi orang, sabar napa?"
Mendengar ucapan dr. Frans, Rendi hanya memutar bola matanya. Dr. Frans pun mau tak mau menunjukkan alamatnya pada Rendi. Rendi pun dengan gerakan cepat menginjak pedal gasnya, mobil melaju dengan sangat cepat membiat dr. Frans kembali mengomeli Rendi.
Hanya dalam waktu lima belaa menit saja mereka susah sampai di alamat yang di tunjukkan dr. Frans. Sepanjang jalan yang keluar dari mulut dr. Frans hanya makian saja pada Rendi.
"Gila lo ...., lo bener-benar mau bikin gue mati ....!" getutu dr. Frans saat sudah turun dari mobil.
"Ayo tunjukkan di mana ruangannya!"
Cinta bener-benar membuatnya gila ...., god job adik kecil ...., sepertinya usahamu berhasil ....!
Mau tak mau dr. Frans pun menunjukkan ruanga psikiater kenalan dr. Frans.
Tok tok tok
Dengan tak sabar Rendi segera mengetuk pintu itu.
"Silahkan masuk ...!" terdengar suara dari dalam.
Rendi dan dr. Frans pun segera masuk, di dalam ruangan itu duduk seorang pria yang seumuran dengan mereka.
"Hai dr. Frans, lama kita tidak bertemu ya ....!"
"Hai dokter Adit, kenalkan ini Rendi sahabat saya ...!" ucap dr. Frans sambil memperkenalkan Rendi.
"Hai pak Rendi ...., ada masalah apa ini dokter kok tiba-tiba dayang ke sini?" tanya Adit.
"Saya yang ada masalah, bisakah saya mengetahui riwayat pendidikan anda?" tanya Rendi dengan tegas, membuat Adit hanya tersenyum.
"Maaf dok, sahabat saya ini memang agak songong oranganya, jadi jangan di masukin ke hati ya ,...."
"Bagus ...., sekarang periksa saya ....!"
"Silahkan duduk pak Rendi, di sana ....!"
Dokter Adit meminta Rendi untuk duduk di sebuah kursi yang bisa untuk bersender dan menselonjorkan kakinya. Rendi pun menurut, dia duduk di tempat itu.
"Duduk dengan nyaman ya pak!" perintah dokter Adit.
"Sekarang katakan pada saya, apa keluhan anda?"
"Saya akhir-akhir ini melakukan hal-hal yang di luar kehendak saya."
"Seperti?"
"Sesuatu yang bahkan tidak pernah aku bayangkan sebelumnya, peduli pada seseorang tanpa ikatan apa-apa, kadang aku marah tanpa alasan, tersenyum juga tanpa alasan."
"Sejak kapan hal itu terjadi?"
Rendi pun tanpa terasa menceritakan semuanya, keluh kesahnya dan segala yang dia rasakan.
Setelah melakukan pemeriksaan selama satu jam, dokter Adit menyudahi pemeriksaanya.
"Sudah cukup pak Rendi."
Rendi pun kembali menghampiri dr. Frans, ia duduk di samping dr. Frans dan di ikuti oleh dr. Adit.
"Apa yang terjadi denganku?" tanya Rendi setelah dr. Adit ikut bergabung dengan mereka.
"Semuanya baik-baik saja pak Rendi, sepertinya anda sendiri yang harus di mencari tahu, ini berhubungan dengan hati ....!"
"Masak tidak ada obat yang bisa saya minum atau sebuah terapi, kadang aku merasa jantungku begitu sakit, atau berdebar dengan sangat hebat ....!" ucap Rendi dengan terus memaksa.
"Ya ...., itu gejala yang biasa jika seseorang sedang jatuh cinta." ucap dr. Adit dengan senyum yang di sambut tawa oleh dr. Frans.
Apa-apa psikiater ini ...., dia sepertinya kurang berpengalaman, jelas aku merasakan semuanya, dia bilang aku tidak bermasalah .....
"Aku rasa salah dalang ke sini ...., mungkin aku harus datang ke dokter spesialis jantung....., saya permisi ....!" ucap Rendi lalu berlalu meninggalkan dr. Adit dan dr. Frans.
Ya. .., mungkin aku harus datang ke dokter spesialis kantung ....
Mereka pun hanya bisa tertawa melihat tingkah Rendi.
"Kalau begitu saya juga permisi, dok ...., maaf atas kelakuan teman saya ...., maklum dia bary saja merasakan jatuh cinta yang cintanya di sambut. ...!"
"Iya ....., sungguh saya maklum ...., siapa yang tak kenal pak Rendi ...., tak adanyang tahu pasangannnya hingga kini ...., beliau terlalu dingin ....!"
"Iya ..., dokter benar. ..., dia manusia kulkas, makanya aki harus sering-sering memanaskannya agar mencair ....!"
Akhirnya dr. Frans berpamitan dan menyusul Rendi yang sudah lebih dulu keluar dari klinik itu.
"Kenapa lama sekali sih?" keluh Rendi setelah ia duduk menunggu di dalam mobil selama sepuluh menit.
"Bawel amet ....!" jawab dr. Frans dan segera masuk ke dalam mobil.
"Sekarang antar gue ke dokter spesialis jantung!”
"Lagi .....?" tanya dr. Frans tak percaya.
"Iya ...., gue membutuhkannya ...!"
"Lo itu nggak perlu ke psikiater atau dokter spesialis jantung, yang lo butuhkan itu terapi ....!"
"Terapi apa?"
"Terapi cinta ...!"
"Omong kosong ....!"
"Yang lo butuhkan itu, membuat lo lebih peka dan membuka hati, nggak usah aneh-aneh ...., aku sudah capek ...., jadi sekarang antar aku pulang saja ....!"
Apa benar yang di katakan Frans ,jika yang ku butuhkan sebenarnya cinta, aku jatuh cinta ...., lalu aku jatuh cinta dengan siapa? Nadin? Tidak mungkin dia bukan tipe ku ..., dia terlalu manja ....!
"Sudah bengongnya ...., kalau sudah, nyalakan mesin mobilnya ...., dan antar aku pulang ...!" gerutu dr. Frans yang sudah kesal dengan tingkah tidak masuk akal dengan sahabatnya itu.
**BERSAMBUNG
Jangan lupa kasih dukungan ke Author dengan memberikan LIKE dan KOMENTARnya ya
Kasih Vote juga ya yang banyak
Terimakasih ......
Happy Reading 😘😘😘😘😘😘**