
Setelah menunggu cukup lama akhirnya pintu ruang teather terbuka, film sebentar lagi di mulai.
Nadin dan Rendi mengambil duduk di urutan tengah. Keduanya terlihat begitu serasih. Mereka benar-benar seperti sepasang kekasih pada umumnya.
Rendi segera menyerahkan semua makanan yang telah ia beli di pangkuan Nadin. Lampu teather mulai redup dan gelam bersamaan dengan di mulainya film.
"Aku benar-benar penasaran dengan film ini ....!" ucap Nadin.
Memang itu film apa?
Rendi sudah mulai terlihat bosan. Melihat judulnya saja Rendi sudah tidak tertarik.
***Pengorbanan cinta**...., sungguh film yang tidak menarik*.
Nadin begitu terkesiap dengan adegan demi adegan dalam film itu, sambil memakan popcornnya Nadin menikmati setiap adegan yang ada dalam film.
Ha ha ha ha
Nadin tertawa terbahak-bahak ketika ada adegan yang lucu, tentu hal itu menarik perhatian Rendi, Rendi yang sedari tadi mengamati layar besar itu sama sekali tidak membuatnya terpengaruh, ia malah merasa bosan, tapi gadis kecil di sampingnya malah bisa tertawa lepas.
Dasar gadis aneh ....
Rendi hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya heran.
Nadin kadang tertawa, kemudian tegang, marah dan yang terakhir menangis.
Rendi sepanjang jalannya film bukan memperhatikan film yang di putar, tapi segala perubahan ekspresi yang di keluarkan oleh Nadin.
Sebenarnya apa yang di lakukan gadis kecil ini .... ,dengan mudahnya dia berekspresi seperti ini ...
"Hiks hiks hiks ...!"
Rendi kembali di kejutkan kan oleh Nadin, gadis itu tiba-tiba menangis, membuat Rendi tercengang, ia bingung harus berbuat apa.
Apa yang membuatnya menangis?
Rendi dengan bergantian menatap layar besar di depan dan kembali menatap Nadin yang sedang sesenggukan dengan air mata yang berlinang di pipinya.
Astaga ...., apa yang harus aku lakukan ...?
Rendi masih bingung, kemudian ia melihat di layar besar itu, dalam film itu saat sang gadis sedang menangis, makan si pria di sana memberikan dadanya sebagai sandaran si gadis.
Apa aku juga harus melakukan hal itu? Ahhh ...., baiklah aku akan mencoba melakukannya ...
"Nadin..."
"Hemmm?" ucap Nadin sambil menengadahkan wajahnya yang sudah di penuhi air mata. Matanya memerah karena terlalu banyak menangis.
"Kau boleh memakai dadaku ini sebagai ....!" belum sampai selesai Rendi dengan ucapannya, tapi Nadin dengan cepat sudah berada dalam dada bidangnya. Membuat Rendi terdiam, ia merasakan hal yang aneh di dalam dirinya, rasa yang belum pernah ia rasakan, rasa yang nyaman, bukan nyaman yang sama seperti pelukan dari seorang ibu, ayah atau sahabat.
Ini pelukan yang berbeda, jantungku berdetak lebih kuat ...., apa ini akan aman? Apa kesehatanku sedang terganggu?
Tangannya yang masih mengambang di udara, ia bingung harus menaruhnya di mana, dengan perlahan ia menempatkan tangannya di punggung Nadin. Rendi memejamkan matanya, menikmati setiap detik waktunya yang ia rasakan saat ini. Seakan bumi berhenti berputar, alunan lagu nan merdu merasuk di telinganya.
"Yah ..,., sudah selesai ....!"
Ucapan Nadin segera menyadarkan Rendi. Alunan musik yang ia dengarkan tadi sekarang entah pergi ke mana bersamaan dengan kembali terang ruangan itu. Rendi pun segera menyingkirkan tangannya dari punggung Nadin.
"Hemmmm ....., ya udah kita keluar!" ucap Rendi dengan nada dinginnya. Nadin pun segera menjauhkan kepalanya dari dada Rendi.
"Maaf ya pak Rend, kaos bapak jadi basah ....!" ucap Nadin saat melihat kaos yang di kenakan Rendi basah kerana air matanya.
Mereka pun keluar dari ruang teather, Rendi yang memperhatikan wajah Nadin yang berantakan segera menarik tangan Nadin.
"Pak ...., kita kemana?" tanya Nadin.
"Kita ke sini!" ucap Rendi sambil menunjukkan toilet perempuan. "Bersihkan wajahmu, jika pak Agra melihatnya, dia akan memarahiku."
Nadin pun memperhatikan wajahnya di kaca besar di depan toilet.
Nadin memegangi wajahnya yang kacau.
"Tunggu aku ya pak ...!"
Nadin pun segera masuk ke dalam toilet itu. Rendi menunggu di depan toilet membuat beberapa perempuan yang masuk ke dalam toilet membicarakan tentang Rendi, si pria dingin nan tampan itu.
Setelah merapikan penampilannya, Nadin segera keluar dari dalam toilet, dan benar saja Rendi sedang di kerubuti tiga perempuan tadi.
"Kak minta nomor telponnya dong?" ucapnya membuat Rendi mengangkat kedua alisnya. "Ayo dong kak, kenalan ...., kita tukeran nomor hp ya ...!"
"Maaf saya sudah memiliki istri ....!" ucap Rendi dingin membuat para wanita itu semakin meleleh saat mendengar kata-kata yang keluar dari mulut Rendi.
Ahhh senangnya pak Rendi pakai alasan yang sama seperti yang aku lakukan, aku jadi serasa istrinya pak Rendi .....
"Ya ampun ...., kakak ini dingin tapi menggoda ....!"
Rendi menatap Nadin dengan tajam saat melihat Nadin sudah keluar dari dalam toilet, bukannya segera menghampiri nya tapi malah terdiam di tempatnya sambil senyum-senyum sendiri.
"Maaf saya permisi ...!" ucap Rendi sambil mendekati Nadin dan segera menggandeng tangannya.
Nadin terkejut, ia benar-benar tidak percaya tangannya sudah beberapa kali di pegang oleh pria dingin itu tapi tetap saja rasanya sama, jantungnya seperti sedang disko.
"Setelah ini kita pulang?" ucap Rendi menggunakan nada bertanya.
"Iya ...!" jawab Nadin. Nadin masih terlalu uforia untuk mencerna segala ucapan Rendi.
"Aku tanya, bukan mengajak!" ucap Rendi ketus. Rendi sebenarnya masih mengharapkan hal lain, bukan jawaban itu. Tapi ternyata rasa gengsinya mengalahkan semuanya. Apa yang ingin dia katankan tidak sesuai dengan kenyataannya.
"Trus kita kemana lagi dong?" tanya Nadin bingung. Seharusnya ini jadi kesempatan baik buatnya tapi ia malah kehabisan akal. Mereka terdiam, menunggu merencanakan acara selanjutnya. Tepatnya Nadin, kalau Rendi mah boro mikir, ia cuma bisa diam seribu bahasa tanpa ekspresi.
"Nadin .....!"
Tiba-tiba suara seseorang membuat mereka menoleh dengan cepat ke sumber suara.
"Kak Davina ....!" Nadin benar-benar terkejut saat melihat Davina berjalan mendekat ke arah mereka. Davina memisahkan diri dari teman-temannya.
Aduh kenapa sih pakek ketemu sama kak Davina segala .....
"Kak Rendi ....!" ucap Davina saat juga melihat Rendi bersama Nadin.
"Kak Davina kok bisa di sini sih?" tanya Nadin.
"Kamu nggak suka lihat aku?"
"Bukan seperti itu kak, tapi ...!"
"Kak Rendi, aku seneng deh bisa ketemu sama kakak, bagaimana kalau kita jalan bareng?" tanya Davina sambil bergelayut manja di lengan Rendi dan menggeser tubuh Nadin untuk menjauh dari Rendi, Davina memberi tatapan tajam pada Nadin, agar Nadin mau meninggalkan mereka.
"Maaf tapi saya tidak bisa!" ucap Rendi sambil menyingkirkan tangan Davina.
"Tapi jalan sama Nadin saja mau, masak sama aku nggak mau sih kak, sekali ini saja ...., aku mau ngomong sesuatu sama kak Rendi."
"Maaf tapi aku nggak bisa!"
"Ayolah kak, sebentar saja ....!"
"Baiklah ....!" ucap Rendi, akhirnya ia menyetujuinya.
"Nad, kamu pulang duluan nggak pa pa kan?" tanya Davina dan Nadin hanya bisa mengangguk.
**BERSAMBUNG
Jangan lupa kasih dukungan ke Author dengan memberikan LIKE dan KOMENTARnya ya
Kasih Vote juga ya yang banyak
Happy Reading 😘😘😘😘😘**