MY BLOCK OF ICE

MY BLOCK OF ICE
bonschap 14 (si cuek)



Setelah puas berbicara berdua di ruang kerja mereka memutuskan untuk turun dan bergabung dengan yang lainnya.


"Apa Frans belum datang?" tanya Agra yang berjalan di depan.


"Aku rasa belum!"


"Iiisssttt ...., kau masih saja suka berjalan di belakangku!" keluh Agra karena Rendi terus saja berjalan di belakangnya.


"Menghilangkan kebiasaan yang sudah lama terbangun hanya dalam waktu singkat itu mustahil!" jawab Rendi dengan tegas.


"Issstttt .....!" Agra hanya bisa berdecak, ia tidak begitu suka dengan sikap sahabatnya yang terkesan kaku itu walau sekarang mereka sudah sepadan dengan memimpin perusahaan yang sebanding.


Mereka melanjutkan langkahnya, saat melihat Divta. Agra segera menghampirinya, cukup sulit sekarang menemui abangya itu.


"Bang .....!" panggil Agra, Divta yang sedang bermain dengan Sagara segera beralih pada Agra.


"Gra ...., lama kita tidak bertemu ya!"


"Bagaimana kabar abang?" Agra segera memeluk abangnya itu.


"Aku baik, Kau semakin berisi saja!"


"Ya beginilah jika istri ku selalu memintaku untuk makan ....ha ha ha ....!" Agra menanggapinya dengan candaan.


"Kau ini tetap saja seperti anak kecil, ingat bapak dua anak ....!" Divta mengusap kepala Agra persis seperti mereka waktu kecil, sebelum. tragedi itu terjadi.


"Apa abang masih menemui nyonya Aruni? Bagaimana kabarnya?"


"Dia baik, aku tidak tahu ibu Ratih melakukan apa tapi kata petugas, mama akan bebas dua tahun lagi!"


"Syukurlah ...., semoga saja dia berubah!"


"Pap ....., apa kau akan menahan uncle Div?" Sagara begitu kesal karena papy nya menghentikan permainannya.


"Maaf sayang, tapi pappy juga merindukan uncle Div!"


"Kenapa hari ini Abimanyu tidak datang, aku sangat kesepian pap!"


"Tanyakan itu pada mommy mu, tapi baiklah lanjutkan obrolan kalian, pap yang akan mengalah!"


Agra tersenyum pada abangnya dan meninggalkannya bersama putranya, putranya itu memang paling pintar membuat lawan bicaranya tercekat


Agra menjatuhkan tubuhnya di sofa, sementara ibunya belum keluar ia bisa sedikit santai.


Rendi juga melakukan hal yang sama tapi jelas. Rendi lebih elegan.


"Diaman sebenarnya anak itu? Suka sekali datang terlambat!" gerutu Agra mengingat jika ia sudah lama tidak bertemu dengan sahabatnya yang selengean itu.


"Dia jadi begitu sulit ditemui!" ucap Rendi menanggapi.


"Aku tahu!"


Dokter Frans dan Felic datang terlambat, setelah melakukan pembicaraan ringan, pembicaraan di lanjut ke meja makan.( untuk lebih lengkapnya bisa di baca di dokter tampan itu suamiku ya )


***


Pagi ini Rendi sedikit lebih sibuk ia sampai membawa pekerjaannya di meja makan.


"Mas ....., sarapannya jangan pakek lauk kertas kayak gitu!" keluh Nadin yang sedari tadi begitu kesal melihat suaminya terus saja bekerja tanpa memperhatikan sarapannya, ia hanya memakan beberapa suap saja dan melanjutkan pekerja.


"Maaf, tapi aku harus menyelesaikannya lebih cepat!"


"Apa ada masalah?"


"Sedikit!" Rendi terus saja memperhatikan berkas-berkas di depannya tanpa menatap Nadin.


"Apa masalahnya sangat serius hingga mas Rendi tidak mempedulikan ku?"


"Apa ada masalah?"


"Tidak, hanya saja mas Rendi mengabaikan ku saja!"


"Maaf ...., tapi aku harus membantu Agra!"


"Kak Agra kenapa?"


"Ada masalah dengan proyeknya di Surabaya!"


"Surabaya?"


"Iya ....! Apa tidak pa pa jika aku pergi dua hari saja menemani Agra?"


Nadin merasa bersalah karena terlalu menekan suaminya, ia pun berdiri dari duduknya tapi Rendi segera mencegahnya.


"Tetaplah di situ ....!" ucap Rendi sambil memberi isyarat pada tangannya agar tetap duduk di tempatnya.


Nadin mengurungkan niatnya untuk berdiri, Rendi segera menghampiri Nadin, ia menggeser tempat duduk agar lebih dekat dengan Nadin.


Rendi menggenggam tangan istrinya itu. "Apa kau ingin ikut?"


"Tidak, tapi maafkan aku!"


"Kenapa?"


"Karena aku selalu menekan mu dengan berbagai pertanyaan, pasti sulit ya memiliki istri cerewet seperti aku?"


Rendi malah tersenyum geli mendengar pengakuan Nadin, ia mencubit pipi Nadin begitu manja.


"Aughhhh ....., Sakit tahu!" keluh Nadin sambil memegangi pipinya yang di cubit Rendi.


"Kenapa kau selalu menggemaskan?"


"Karena aku masih muda!"


"Jadi kau bilang aku tua!"


"Tiiiidakkk .....! Tapi jika kau merasa mungkin iya ....!"


"Kau ini!"


Rendi mengusap kepala Nadin dengan begitu manja.


"Jadi kau ijinkan aku pergi?"


"Iya!"


"Besok aku akan berangkat, jadi ada tugas penting untukmu!"


"Apa?"


"Senang kan aku malam ini!" bisik Rendi membuat Nadin tersipu malu.


Bersambung


Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya


Follow Ig aku ya


tri.ani.5249


Happy Reading 🥰🥰😘😘