MY BLOCK OF ICE

MY BLOCK OF ICE
Aku juga bersalah



POV Nadin


Hatiku terasa sesak, melihat semua keluargaku


setelah sekian lama tidak bertemu membuatku merasa bersalah. Mereka tidak


bersalah, tapi aku memberi beban berat pada mereka dengan meninggalkannya. Aku


punya banyak tempat untuk pulang dan mengadukan keluh kesah ku, tapi ternyata


aku terlalu pengecut untuk bisa memahami kasih sayang mereka.


Kami sampai di rumah kembali, tapi hatiku masih belum baik-baik saja. Ku diamkan dia, aku belum bisa memaafkannya.


Jika pun aku bisa memaafkannya mungkin untuk mengiklaskan semuanya, aku cukup takut, aku takut jika aku tidak bisa. Aku tidak tahu apa yang bisa aku lakukan nanti jika


aku bertemu dengan mereka, apa yang akan aku katakan, dan apa yang akan aku


tanyakan.


Mas Rendi meninggalkan kami, dia meminta anak buahnya menemaniku, Ajun. Aku cukup mengenal Ajun, dia sudah seperti adik bagi


mas Rendi, dia masih seusiaku, tapi kemampuannya tak bisa di ragukan lagi.


Ku lihat mas Rendi pergi seorang diri, dia mungkin memang sangat sibuk. Entah pekerjaan apa yang sebenarnya sedang mereka


kerjakan, mas Rendi dan Alex.


Baby El sudah tidur, ku bawanya masuk dan segera ku tidurkan dia atas tempat tidur, ku pandangi wajah teduh baby El, wajah itu


selalu saja mengingatkanku pada mas Rendi.


“Sayang …., apa bunda egois?” itu yang selalu aku tanyakan pada anak itu, apa aku terlalu egois?


“Kau pasti akan marah sama bunda, karena sudah membuatmu terpisah dari ayahmu, bunda mu bukan wanita yang kuat, hingga bisa


menahan segala terpaan!”


Aku kembali mendesah, rasanya begitu berat hingga aku tak mampu membendungnya. Salah atau benar siapa yang tahu.


Aku memang sangat membutuhkan kepastian, hatiku terlalu lemah untuk terus berpura-pura marah dan membenci.


“Mungkin aku bisa bertanya sesuatu pada Ajun!”


Ya itu yang ku pikirkan sekarang, setelah sekian


lama, kenapa aku baru memikirkan hal itu.


Ku pastikan baby El tidak akan


terbangun, ku selimuti dia dan samping kiri kanannya ku taruh bantal dan guling


supaya tidurnya lebih nyenyak. Ku kecup keningnya dan dengan perlahan


meninggakannya ke luar.


Sebelum menemui Ajun aku terlebih dulu menuju ke dapur,


ku buat dua gelas minuman dingin dan segera ku bawa menemui Ajun.


“Ajun!”


“Bu Nadin!”


Ajun segera berdiri saat aku datang, ku letakkan


nampan yang berisi dua gelas jus buah dingin itu di atas meja kecil yang


memisahkan dua kursi kecil.


“Duduklah kembali …, aku hanya ingin berbicara


denganmu saja, jangan terlalu formal seperti itu!”


“Baik, bu!”


Ajun kembali duduk, aku pun ikut duduk di kursi


kosong.


“Bagaimana kabarmu?” tanyaku untuk membuka kata.


“Saya baik bu!” jawab Ajun dengan sopannya tanpa mengurangi ketegasannya.


“Mas Rendi?”


Mendengarkan pertanyaanku, pria itu mendongakkan kepalanya. Sepertinya dia terkejut aku menanyakan hal itu, aku saja tidak


menyangka jika aku juga menanyakan hal itu. Sebenarnya tujuanku tadi bukan


untuk menanyakan hal itu.


“Pak Rendi sangat menderita setelah kepergian bu Nadin, beliau seperti orang gila mencari-cari anda.


Pak Rendi keluar masuk


bandara, pergi ke luar negri, luar kota bahkan sampai ke tempat-tempat


terpencil demi menemukan anda, pak Rendi bahkan tidak pergi bekerja, mengurung


diri di rumahnya hingga berminggu-minggu, hingga ….!”


“Hingga ibu Davina melahirkan seorang putri …!”


“Pasti mas Rendi sangat bahagia!”


“Iya …, tapi percayalah bu Nadin. Pak Rendi tidak sebahagia saat berhasil menemukan anda dan tuan muda. Pak Rendi seperti kembali


mendapatkan hidupnya setelah sekian lama seperti mayat hidup!”


Benarkah …., benarkah seperti itu , apa aku tidak salah dengar? Mas Rendi berusaha keras untuk mencariku, dia juga terluka saat


aku pergi. Apa aku masih begitu berharga di hati mas Rendi, atau mas Rendi


hanya menginginkan putranya.


“Sudah malam, tapi maaf aku tidak mengijinkanmu masuk ke dalam rumah, tidak enak dengan tetangga!”


“Nggak pa pa bu Nadin. Saya akan berjaga di depan rumah saja!”


“Jangan …! Kamu pulang saja, itu kan rumahnya Mas Rendi. Dia pasti tidak akan keberatan jika kamu di rumahnya!” ucapku sambil


menujuk rumah yang berada di depan rumahku.


“Tidak pa pa bu, saya di sini saja. Pak Rendi


memberi tanggung jawab atas keselamatan bu Nadin dan tuan muda!”


“Baiklah jika kau keras kepala, aku akan


meninggalkanmu di sini, pintuku ku kunci ya!”


“Iya bu!”


Sebenarnya tidak tega, tapi aku juga tidak mau mas Rendi tidur di rumahku lagi seperti waktu itu. Aku mulai berjalan menuju ke


pintu.


“Bu Nadin!”


Aku kembali menoleh padanya, ada keraguan di


matanya.


“Apa?” tanyaku tanpa merubah posisiku, aku hanya sedikit memutar kepalaku agar bisa melihatnya.


“Maaf jika saya terlalu ikut campur dalam kehidupan rumah tangga bu Nadin dan pak Rendi, tapi aku Cuma ingin mengatakan bahwa …!”


“Katakan saja, jangan ragu!”


“Bahwa pak Rendi tidak pernah sekalipun menghianati bu Nadin, selama ini bu Nadin hanya salah paham saja!”


Hatiku bergetar mendengar ucapannya, aku percaya pada pria itu, tapi kenapa aku sampai tidak percaya pada suamiku. Lalu siapa


yang salah di sini? Dia suamiku atau aku yang terlalu egois dan terlalu takut


menerima kebenarannya.


Aku hanya tersenyum pada Ajun, hatiku masih belum


siap menenrima semuanya. Aku tahu Ajun tidak berbohong, walaupun dia setia pada


mas Rendi tapi dia juga menganggapku sebagai temannya.


Ku tinggalkan Ajun di luar rumah dengan pintu yang terkunci. Aku segera menyusul Elan ke tempat tidur, rasanya hari ini sangat


panjang.


Aku berusaha memikirkan semuanya, kebenaran yang


bagaimana, jika mas Rendi tidak pernah menghianatiku, berarti mas Rendi tidak


pernah menikah dengan kak Davina. Lalu anak siapa yang di kandung kak Davina?


Di mana kak Davina?


Mataku sampai tak mampu terpejam walaupun rasanya aku sangat mengantuk. Mataku menatap langit-langit kamar, menghitung setiap


inci lembaran langit-langit kamar, cicak yang saling berlarian di sana seakan


menertawakan betapa bodohnya aku yang tidak mempercayai suamiku. Sebelumnya aku


tidak pernah meragukan kejujurannya, tapi kenapa saat itu aku begitu di butakan


oleh amarahku.


Hingga larut malam mataku mulai berair, pedih. Aku sangat mengantuk. Ku rebahkan tubuhku di samping Elan. Mataku semakin lama


semakin berat. Dan tanpa sadar aku mulai masuk kea lam mimpi.


Bersambung


Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya


Follow Ig aku ya


tri.ani.5249


Happy Reading 😘😘😘😘