
Hari ini seharian Rendi dan Nadin sengaja menghabiskan waktu berdua saja, apa yang gagal tadi malam akhirnya terealisasi siang ini. Akhirnya Rendi bisa buka puasa juga dengan cara yang di sarankan oleh dokter Frans agar tidak menyakiti bayi dalam kandungan Nadin.
"Mas ...., kapan kita jemput Elan?" tanya Nadin yang sudah menyandarkan kepalanya di dada bidang suaminya itu.
"Ayah akan mengantarnya lagi nanti!"
"Hehhhh ....., pasti sangat merepotkan sekali!"
Rendi mengusap puncak kepala Nadin dan mengecupnya.
"Mas apa yang kamu rasakan saat menyadari jika kau telah jatuh cinta?"
"Apa harus aku jawab?"
"Ya ...., wajib dan harus atau aku dan debay akan marah padamu!"
"Setiap kali aku memikirkan mu, aku hanya ingin bertanya, sedang apa kau? Dengan siapa kau saat ini? Apakah kau mengingatku?"
"Begitu banyak yang ingin kau tahu?"
"Begitu banyak hingga aku tidak mampu mengungkapkannya!"
"Ohhhhhh ....., so sweet ....., my husband!" Nadin segera mengeratkan pelukannya pada suaminya itu, ternyata ada sisi dimana suaminya itu akan sangat romantis.
"Oh iya, tadi pagi ibu ke sini!" ucap Rendi saat ia mengingat sesuatu.
"Ibu ....? Ibu siapa?"
"Nyonya Ratih!"
"Hah ...., ada apa mas?"
"Seperti yang ayah katakan semalem, nyonya Ratih merencanakan acara empat bulanan untuk debay kita, beliau mengundang kita makan malam besok!"
"Ihhhh ....., kenapa tidak memberi tahuku dati tadi!"
"Kau menanyaiku banyak hal!" gerutu Rendi.
***
Semalam ayah Salman sudah menelpon mereka jika Elan sudah di ambil oleh ayah Roy ke rumahnya. Elan memang seperti primadona yang dibawa kemana-mana.
"Kenapa aku jadi ngerasa kalah jadi ayah ya!" gerutu Rendi sambil menghabiskan air mineralnya yang baru saja di tuangkan oleh Nadin.
"Jangan menggerutu terus seperti itu, lagian kita juga sudah lama kan tidak berkunjung ke rumah ayah, nenek nani pasti senang sekali!"
"Tapi jika hari libur, Elan selalu saja berkeliling seperti ini, lalu kapan waktuku bersamanya!"
"Jangan begitu, lagian kan kita bisa mempersiapkan untuk makan malam sebelum ke rumah ayah, iya kan!"
"Iya ...., ya sudah bersiaplah, aku akan menemui Ajun dulu!"
"Siap mas!"
Mereka pun bersiap untuk ke butik langganan mereka. Ia keluar dari komplek, tapi lagi-lagi mereka melihat ayah mertua dokter Frans di sana.
Nadin segera menurunkan kaca mobilnya, saat Rendi hendak mencegahnya, ternyata sudah terlambat, kepala Nadin sudah keluar dari mobil.
"Pak Dul ....!"
"Eh ...., ibu Nadin! Pak Rendi!"
"Senang bisa bertemu dengan pak Dul, apa dokter Frans masih tinggal di rumah pak Dul?"
"Mereka sudah pindah ke rumahnya kemarin sore!"
"Benarkah ....?"
"Iya bu!"
"Kalau ada waktu mampirlah ke rumah kami pak Dul, iya kan mas!"
"Iya pak!"
"Terimakasih atas tawarannya!"
"Ya sudah kami pergi dulu ya pak!"
Mobil mereka pun segera melaju meninggalkan pak Dul yang masih berdiri di bahu jalan menatap mobil mereka dengan senyumnya.
"Mas!" ucap Nadin saat meeka tidak bisa melihat pak Dul lagi dari kaca spion.
"Hemmm?"
"Apa menurutmu, dokter Frans dan istrinya ikut juga dalam makan malam nanti?"
"Hemmm!"
"Pasti seru nanti, aku bisa ngobrol banyak sama dokter Frans, kangen banget sama dia! Lama tidak mengobrol dengannya!"
"Kenapa?"
"Jangan memikirkan pria lain selain suamimu!"
"Istttt ......, posesif sekali suamiku ini!" gumam Nadin.
Akhirnya mobil mereka sampai juga di sebuah butik langganan keluarga finityGroup. Mereka tidak perlu memperkenalkan diri, semua sudah tahu siapa Rendi, tangan kanan presdir yang baru, Agra Anugra putra.
"Selamat datang tuan Rendi, nyonya. Ada yang bisa kami bantu?" sapa seseorang yang sepertinya pemilik butik itu.
"Carikan baju untuk makan malam, untuk ibu hamil!"
"Baik tuan, mari nyonya!" wanita itu segera mengajak Nadin berkeliling melihat koleksi baju mereka.
Setelah puas memilih dan pastinya sesuai dengan pilihan Rendi juga, mereka pun segera meninggalkan butik.
"Kita akan ke rumah ayah sekarang?"
"Hemmm!" jawaban singkat yang selalu menjengkelkan.
Mereka pun menuju ke rumah ayah Roy tidak lupa mereka membawakan oleh-oleh. Mobil pun berhenti tepat di depan rumah ayah Roy, tapi ada mobil lain juga di sana selain mobil ayah Roy.
"Mas ...., kayaknya ayah ada tamu deh!"
"Divta!"
"Heh?" Nadin tidak begitu mendengarkan apa tang di ucapakan oleh suaminya.
"Itu mobil Divta!"
Rendi menghentikan mobilnya dan segera turun, berlari memutari mobil dan segera membukakan pintu mobil untuk Nadin.
"Turunlah!"
Nadin pun segera turun, tapi Rendi segera menarik pinggangnya.
Ahhhh ...., dia benar-benar pecemburu .....
"Assalamualaikum .....!"
"Walaalaikum salam!" sahutan dari dalam, pintu pun segera terbuka.
"Nadin ...., Rendi ...., ayo masuk!" ia adalah bu Dewi, menyebut kedatangan mereka dengan begitu hangat.
"Apa pak Divta juga di sini, bu!"
"Iya nak, karena baru saja keluar kota jadi menitipkan Divia di sini, mari ini menjemputnya!"
"Apa Elan nakal bu?"
"Mana ada Elan nakal, anak itu benar-benar menggemaskan!"
Mereka terus saja berbincang sambil berjalan masuk rumah. Sedangkan Rendi hanya sibuk mengedarkan tatapannya, ia juga merindukan gadis kecil itu, sudah lama semenjak Divia bersama Divta mereka jadi jarang bertemu.
"Ayah Lendi ....!" sapa gadis kecil itu begitu menyadari kedatangan mereka.
"Divia sayang ....., ayah merindukanmu!" Rendi segera berjongkok dan menyambut pelukan gadis kecil itu.
Di belakang gadis itu, ternyata ada Divta yang juga berjalan menghampiri mereka, Rendi pun kembali berdiri dan menatap pria yang pernah menjadi rivalnya itu.
"Apa kabar?" sapa Rendi.
"Baik, kami baik ....! Bagaimana keluargamu!"
"Sangat baik!"
Ayah Roy yang juga baru saja dari belakang dengan menggendong Elan juga ikut menghampiri mereka.
"Kalian datang lebih cepat ternyata, baguslah kita bisa makan siang bersama!"
"Ayah ....., aku sungguh merindukanmu!" Nadin segera menghampiri ayahnya dan memeluknya.
"Putri kecil ayah!"
Mau sebesar apapun seorang putri, dia tetaplah jadi putri kecil seorang ayah. Maklum jika ayah akan tetap memperlakukannya seperti putri kecilnya.
BERSAMBUNG
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
tri.ani.5249
Happy Reading 🥰🥰😘😘