MY BLOCK OF ICE

MY BLOCK OF ICE
aku tahu semuanya



"Aku tahu kamu alergi seafood." ucap Rendi sambil menyantap somaynya. Seketika Nadin lagi-lagi di buat tak percaya.


"Pak Rendi tahu?" tanya Nadin tak percaya. Pria dingin itu ternyata memperhatikannya. Sejak kapan?


"Ya semuanya ....!" ucap Rendi dengan santai, saat ia menyadari dengan apa yang ia katakan barulai ia segera meralatnya. "Sudah cepat makan! Jangan banyak bertanya ....!" ucapnya lagi ketus.


Dasar balok es ....., tapi nggak pa pa deh ...., aku senang, my pacar ....


Nadin pun segera melahap siomay yang ada di mangkuknya.


"Aku sudah kenyang ....!" ucap Nadin sambil menunjukkan mangkuknya yang telah kosong.


Rendi yang melihatnya hanya geleng kepala, tapi sejurus kemudian tangannya mengambang di udara dan


plek


mendarat tepat di sudut bibir Nadin, ada saus kacang yang menempel di sana, mata mereka lagi-lagi bertemu.


Nadin terperangah saat tangan Rendi menyentuh sudut bibirnya. Dadanya tiba-tiba bergetar kencang. Ia pun memalingkan mukanya begitupun dengan Rendi.


Deg deg deg deg


Seandainya ada pendeteksi detak jantung di sama, pasti suaranya akan sangat terdengar.


Apa aku sudah gila, kenapa aku lagi-lagi menyentuh bibirnya. Apa yang akan dia pikrkan tentangku ....


Rendi tidak berani mengintip untuk melihat reaksi wajah Nadin. Dia pun berusaha menahan debaran yang ada di dadanya.


Apa yang di lakukan pak Rendi. Apa dia mulai menyukaiku ...., aku tidak berani menatapnya, jantungku serasa ingin melompat dari tempatnya ....


"Ada saus di situ ....!" ucap Rendi setelah menarik tangannya kembali, dan segera memalingkan wajahnya ke sembarang arah.


Nadin segera menyentuh sudut bibirnya dan iya, masih ada di sana. Tapi wajahnya memanas, serasa ingin mencelupkannya kedalam kulkas.


Rendi segera beranjak dari duduknya dan menghampiri pemilik kedai siomay.


"Berapa mbak?" tanya Rendi.


"Tiga puluh ribu kak ....!" ucap pedagang siomay. Rendi pun segera menyerahkan satu lembar uang lima puluh ribu untuk pedagang itu dan segera meninggalkannya.


"Ayo pulang ....!" ucap Rendi mengambil ponsepnya yang masih ia tinggalkan di meja.


"Tapi ..., itu ....!" ucap Nafin sambil menunjuk ke pedagang siomay.


Rendi tak menjawab, tapi malah meraih tangan Nadin, Padangan siomay yang menyiapkan kembalian segera memetiaki meraka.


"Kak ...., kak ...., kembaliannya."


"Ambil untukmu ....!" ucap Rendi sambil berlalu.


"Terimakasih kakak, selamat datang kembali ....!"


Walaupun yang di ajak bicara sudah tidak mendengarnya, tapi tetap saja pedagang siomay itu mengatakannya. (Author mau nih setiap hari di datengin sama balok es, bisa untung banyak ......)


***


Di dalam mobil itu, kembali terjadi kecanggungan. Mereka sama-sama memilih diam. Berada dalam kecanggungan. Nadin bisa mendengarkan Rendi menarik nafas kuat-kuat, begitu juga dirinya. Ia tidak tahu apa yang sebenarnya di pikirkan oleh pria es itu.


"Hemmm, kenapa pak Rendi tidak menyukaiku?" tanya Nadin. Jika melihat perlakuan Rendi pada kakaknya begitu berbeda dengan Rendi memperlakukannya. Dulu Rendi begitu manis memperlakukan kakaknya.


"Aku tidak suka melihatmu tersenyum pada semua orang dengan entengnya." ucap Rendi lagi-lagi dengan menarik nafasnya kuat-kuat.


"Memang kenapa dengan senyumku, bukankah bagus tersenyum pada semua orang?" tanya Nadin dengan polosnya.


"Aku tidak suka .....!"


"Baiklah aku tahu ....!"


Ya aku tahu, kamu sudah mengatakan itu beberapa kali, kalau aku tanya sebabnya pasti kamu juga nggak akan jawab, malah muter-muter kayak roler koster ....


"Pak ....., turun di sini saja ....!" teriak Nadin, seketika Rendi pun menginjak pedal rem.


ciiiitttt


"Ada apa?" tanya Rendi yang terlihat marah.


"Aku turun di sini saja, besok jemputnya juga di sini aja ...!" ucap Nadin sambil membuka pintu mobil. Tapi tangan Rendi segera meraih tangannya, membuat Nadin terhenti.


Nadin pun menoleh ....,


"Kotak makanmu ...!" ucap Rendi sambil menyodorkan kotak makan warna pink itu.


Iihhhh ...., aku kira apa, padahal aku sudah ngarep banget ....!"


"Iya ....!" jawab Nadin ketus, sambil mengambil kotak makan itu, ia berlalu pergi tanpa permisi pada Rendi, ia begitu kesal.


Rendi yang masih memperhatikan Nadin, tercenung.


"Kenapa dengan dia?"


"Ah ...., masa bodoh lah ...!" gumam Rendi sambil melqjukan kembali mobilnya.


****


Hari-hari Nadin berlalu, dengan beberapa aktifitas yang sama, berangkat dan pulang tetap di jemput Rendi dengan wajah dinginya. Nadin tak henti-hentinya memberi perhatian-perhatian kecil pada Rendi, memberi makan siang, mengirim pesan, menemani Rendi jika lembur.


Tanpa terasa sudah satu minggu Nadin menjalani masa magangnya.


Davina, bagaimana ya dengan Davina? Emang pantas julukan kelinci kecil di sematkan kepada Nadin, Davina selalu saja bisa di bodohi oleh Nadin.


"Pak Rendi!" sapa Nadin saat sampai di parkiran. Rendi tidak mau menunggu di depan gadung karena tidak mau jadi pusat perhatian.


"Kenapa lama sekali?" tanya Rendi ketus.


"Kenapa tanyanya selalu sama? Tanyanya itu harus gini pak, Nadin pacarku ..., bagaimana pekerjaanmu hari ini? Begitu lebih baik."


Bukannya menanggapi ucapan Nadin, Rendi malah memutar bola matanya malas.


Iiih ...., dasar balok es nggak peka ...!


"Mau tetap di situ atau mau masuk?" tanya Rendi.


"Iya ....!"


Nadin pun segera masuk ke dalam mobil dan memakai sabuk pengamannya. Tapi saat hendap menyalakan mesin mobilnya, tiba-tiba kaca mobil di ketuk dari luar. Mau tak mau Rendi pun menurunkan kaca mobilnya.


"Div-ta ...!" ucap Rendi terkejut. Ia menoleh pada Nadin.


"Maaf, saya ada perlu sebentar dengan Nadin. Nanti biar aku aja yang antar dia pulang ....!" ucap Divta sambil menatap Nadin.


Nadin segera menatap Rendi, seperti mengatakan untuk tidak membiarkannya bersama Divta, tapi apa daya, ia pacaran sama es batu. Mana peka.


"Baiklah ...!" ucap Rendi dingin.


Iiihhh ...., sebal deh sama es batu ...., pengen aku getok deh kepalanya biar sedikit mencair ....


"Terimakasih Rend ...., ayo Nad ...!"


Nadin pun mau tak mau kembali turun dari mobilnya. Ia menghampiri Divta yang sudah beralih mendekatinya. Saat hendak menarik tangan Nadin, Nadin sagera menghindarinya.


"Jangan pegang ....!" ucap Nadin sambil melirik Rrndi, ia tahu pria es itu sudah memberi tatapan yang menusuk. Lalu mobilnya berlalu meninggalkan mereka.


"Ada apa?" tanya Divta ketus.


"Hemmmm ...., bisa kita bicara sambil ngopi di kafe?!" ucap Divta sambil pura-pura berpikir.


"Emang harus ya ...?" tanya Divta lagi.


"Ya ...., sebagai penebusan dosa mu karena telah terlalu banyak membohongiku."


"Kapan???" tanya Nadin yang sudah begitu kesal dengan pria di depannya itu.


"Mau aku hitung? Apa kau bisa membalas semuanya dengan menemaniku makan siang setiap hari?"


Ah...., bisa gawat nih ..., mending aku nyerah aja deh ...., baiklah hanya sekali saja .....


"Ya udah ayo ....!" Akhirnya Nadin pun menyerah. Ia mengikutiblangkah Divta menuju ke mobilnya.


****


Sesampai di kafe terdekat, mereka mencari tempat duduk.


"Mau minum apa mbak, mas?" tanya pelayan kafe.


"Kamu mau minum apa Nad?" tanya Divta pada Nadin.


"Samain aja sama kak Divta." ucap Nadin enggan, ia begitu malas menanggapi, pikirannya kini sedang tertuju pada pria es yang sudah meninggalkannya.


**BERSAMBUNG


jangan lupa kasih dukungan ke Author dengan memberikan LIKE dan KOMENTARnya ya


kasih Vote juga ya yang banyak


Happy Reading 😘😘😘😘😘**