
Dini pun meninggalkan mereka kembali. tapi ia terus mengawasi mereka dari balik meja untuk meracik minuman.
Sesekali ia meremas kain lapnya saat melihat Juna dan wanita itu terlihat begitu akrab, saling tertawa dan sesekali Juna mengusap pundak wanita itu.
"Mbak Dini kenapa?" tanya Mei yang terus mengamati tingkah Dini yang aneh itu.
"Lagi pengen buat rujak pakek cabe sepuluh!" ucap Dini tanpa menoleh ke Mei yang ada di sampingnya. Ia terus sibuk mengamati Juna yang asik dengan teman perempuannya tanpa menoleh ke Dini sekalipun.
"Jangan mbak, itu pedes banget ....!" ucap Mei.
"Iya ....., emang! Pedes banget ...., perih banget ....!" ucap Dini semakin meremas kain lap yang ada di tangannya.
"Apanya mbak yang perih?" tanya Mei lagi, kali ini Dini mulai terpancing dan menoleh pada Mei yang berdiri di sampingnya.
"Bawel banget sih kamu ....!" ucap Dini kesal sambil mengusap kan kain lap itu ke wajah Mei yang terus saja bertanya.
"Kok marah sih mbak!?"
"Bodo ...., udah ah aku cuci piring aja, di sini gerah banget ....!" ucap Dini dan memilih untuk pergi ke dapur saja dari pada ngeliatin pemandangan yang bikin panas.
"Ada AC mbak, masak sih gerah ...., aku dingin-dingin aja ....!" ucap Mei saat Dini lebih memilih masuk ke dalam.
***
Sore ini sebelum ke rumah Ajun, Dini masih ada waktu untuk ke rumah orang tuanya. Ia mungkin tidak akan bisa ikut makan malam, tapi ia punya waktu untuk mendengarkan ceramahnya papa dan mamanya.
Mobil yang di kendarai Dini masuk halaman rumah orang tuanya. seorang satpam sudah membukakan pagar untuknya, ia pun memarkir mobilnya di halaman karena tidak akan lama.
"Dini ....!" ucap wanita paruh baya yang kebetulan keluar dari dalam rumah, ia segera menghentikan langkahnya saat melihat Dini turun dari mobil.
"Assalamualaikum ma!" sapa Dini dan segera berjalan menghampiri mamanya.
"Waalaikum salam!" Dini segera meraih tangan mamanya dan mencium punggung tangannya. mama Dini memperhatikan mobil yang barus saja di tumpangi putrinya itu.
"Mobil siapa?" tanya mama nya. Dini pun ikut menoleh ke mobil itu, ia harus mencari alasan.
"Oh ..., itu ....! Mobil temen ma!"
"Baik banget temen kamu, pinjemin mobil! Kamu nggak ngapa-ngapain kan?"
"Ya nggak lah ma ....!"
"Ya udah ayo masuk!" ajak mamanya dan Dini pun mengikutinya.
Mereka masuk ke dalam rumah, cukup besar tapi tidak sebesar rumah Nadin tentunya. Rumah itu tampak sepi,
"Denis sama Rara nggak pulang ya ma?" tanya Dini setelah mereka duduk di ruang keluarga.
"Ya nggak lah, Din! Mereka kan baru berangkat bulan lalu! Seharusnya kamu ikut ke sana, ambil S3 nya di sana aja!"
"Nggak lah ma ...., Dini lebih suka di sini!"
"Terserah kamu, asal belajarnya yang bener!"
"Emang kapan Dini nggak pernah bener! Dini mah lempeng-lempeng aja orangnya!"
"Nah karena kamu nya terlalu lempeng jadinya mama sama papa malah khawatir!"
"Khawatir kenapa sih ma?"
"Lihat tuh Nadin, dia udah mau dua aja anaknya, nah kamu pacar aja nggak ada! Masih suka sama cowok kan?"
"Mama nih apa-apaan sih, masak anaknya di katain kayak gitu!" keluh Dini. Dia bukannya nggak punya pacar tapi lagi berburu cowok ganteng aja.
"Ngomongin apa sih serius banget kayaknya ....?" tanya seorang pria yang sedang menuruni tangga.
"Papa ....! Papa juga di rumah?" tanya Dini yang seketika itu segera berdiri dan menghampiri pria yang di panggil papa itu, ia segera memeluk papanya dan mencium pipi papanya itu.
"Dini kangen deh sama papa!" ucap Dini lagi sambil menggandeng papanya untuk ikut duduk bersama mereka.
"Bohong banget ngomongnya! Nggak mempan kalau mau gombalin papa!" ucap papanya yang sudah duduk di samping sang mama.
"Rumah kamu itu kalau ke sini nggak perlu naik pesawat, nggak nyampek satu jam juga udah nyampek! Kalau nggak di suruh ke sini nggak pernah jengukin papa sama mama!"
He
Dini hanya bisa nyengir kuda, dia memang jarang berkunjung ke rumah orang tuanya. Ada aja alasannya.
"Ada apa sih serius banget ngundang Dini nya?" tanya Dini.
Papa Dini segera menyilangkan kakinya, jika sudah begitu ini tandanya papa nya sudah mau bicara hal yang serius.
"Papa sama mama ada rencana buat kamu, itu pun kalau kamu nya setuju!"
"Apa pa?" tanya Dini yang sudah begitu penasaran.
"Kemarin papa ketemu sama teman lama papa, kebetulan orangnya juga asli orang jawa, kami nyambung banget ngobrolnya!"
"Lalu?" tanya Dini.
"Kami ngobrol-ngobrol ..., ke sana kemari, ngobrolin ini itu, dan akhirnya kami saling menanyakan anak-anak!"
"Trus pa?"
"Ternyata teman papa ini punya anak cowok, usianya juga sudah mapan!"
"Wahhhh ....., Dini tahu nih kalau sudah sampek sini, arah pembicaraannya sampek mana!" ucap Dini yang sudah mulai menduga-duga.
"Ya kan nggak ada salahnya, Din! Kalian berkenalan dulu, siapa tahu cocok! Kalau nggak cocok mama sama papa juga nggak akan maksa!"
"Tapi pa! Pendidikan Dini aja belum selesai, nggak mungkin lah Dini mikirin nikah, pakek di jodohin lagi! Ya entar kalau cowoknya ganteng, kalau nggak?"
"Makanya papa pengen kalian makan malam berdua, gimana setuju ya?"
"Baiklah ....! Kapan?"
"Besok malam ya?"
"Ya udah! ntar papa kirim aja alamat di mana kita janjian aja deh!"
"Di kafe aja lah Din, papa sudah ngomong sama anaknya!"
Dini begitu terkejut ternyata papanya sudah sejauh ini, "Jadi papa sudah ketemu sama orangnya?" tanya Dini.
"Iya ...., pas papa ketemuan sama temennya papa, putranya yang ngantar jadi sekalian kita ngobrol-ngobrol!"
***
Setelah meninggalkan rumah orang tuanya, Dini bergegas ke apartemen Ajun karena sudah sangat terlambat, sebelumnya ia mampir dulu ke rumahnya untuk mengambil baju ganti.
Dini sedikit berlari menyusuri lobby dan memencet tombol lift dengan begitu terburu-buru.
"Kardus pasti ngoceh nih ....!" gumamnya sambil menunggu pintu lift terbuka.
Ia segera masuk ke dalam lift saat pintu terbuka, tapi langkahnya melambat saat dua pria yang sama, berjalan keluar dari pintu lift.
Setelah benar-benar masuk Dini dengan cepat menekan tombol menutup pintu, untung saja pintu lift tertutup tepat waktu, sebelum dua pria itu kembali masuk, ia bisa melihat jika dua pria itu berusaha untuk bisa masuk.
"Astaga ....., aku selamat!" ucap Dini sambil menjatuhkan tubuhnya ke lantai lift, jantungnya begitu memburu. Ia bisa melihat senjata api dari balik jaket pria tadi.
"Ajun!?"
Dini segera beranjak saat mengingat pria itu, pikirannya sudah buruk jika mengingat dua pria tadi.
"Lama banget sih .....!" ucap Dini sambil memencet tombol agar pintu segera terbuka.
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Happy Reading 🥰🥰🥰