
Setelah menghadiri acara Rendi, dr. Frans memutuskan untuk pulang terlebih dulu karena ada acara seminar dokter.
sebenarnya ia ingin sekali berlama-lama dengan putra Rendi, tapi apa daya ia harus menjadi pembicara di acara seminar itu.
"Maaf ya gue nggak bisa bareng kalian, gue tunggu kalian di Jakarta!" ucap dr. Frans sambil menepuk punggung sahabatnya itu dan memeluknya.
"Baiklah ...., makasih ya udah datang!"
Dr. Frans segera meninggalkan mereka, Sedangkan Rendi segera mengajak Nadin dan Elan pulang. Rendi sudah mempersiapkan semuanya untuk Nadin dan Elan.
🌺🌺🌺
Rendi sudah tidur di rumah Nadin, ia akan kembali ke rumahnya saat pagi hari untuk ganti baju, begitu pun dengan hari ini, ia sengaja tidak meminta Ajun untuk mengambilkan baju, ia mengambil bajunya sendiri sekalian bersiap-siap.
Setelah berganti baju, Rendi pun kembali ke rumah Nadin. hanya butuh lima langkah untuk ke rumah yang di tempati Nadin.
Rendi tanpa mengetuk pintu masuk ke dalam kamar dan melihat Nadin sudah duduk di depan cermin sambil menyisir rambutnya, mengikatnya asal seperti biasa.
Rendi pun segera mendekat dan berdiri di belakang Nadin hingga Nadin bisa melihat pantulan Rendi dari cermin di depannya.
"Kamu lebih cantik jika di biarkan begini saja!" ucap Rendi sambil menarik kembali tali rambut Nadin, hingga rambut Nadin kembali terurai. Nadin tersenyum, ia menarik tangan Rendi yang masih mengelus rambut nya, ia mengecup tangan itu.
“Apa kalian sudah siap?” Tanya Rendi. Rendi sudah siap dengan baju santainya, ia tidak lagi mengenakan jas. Begitu tampan, senyumnya menghiasi bibirnya tipis.
“Tunggu sebentar ya mas, aku harus menemui keluarga Aisyah dulu sebelum pergi!”
“Kenapa sebentar?!" mendengar tanggapan Rendi membuat Nadin berdiri dan berbalik menatap Rendi, ia mengerutkan keningnya.
"?????"
"Kalau pun aku harus menunggu ribuan
tahun, aku akan melakukannya untukmu!” ucap Rendi sambil mengecup kening Nadin. Cukup lama bibirnya menempel di sana.
Mendengar ucapan Rendi membuat hati Nadin kembali menghangat, ia jadi salah tingkah, pipinya merona, membuat Rendi begitu gemas. Rendi pun mendekap tubuh istrinya itu dan merasakan kehangatan yang sudah lama ia nantikan, ia berjanji dalam hati jika di lain waktu, atau waktu yang akan datang tidak akan pernah membuat wanita yang berada dalam pelukannya itu mengeluh sedikitpun tentangnya.
“Kau dan putra kita adalah segalanya bagiku, kau lebih tahu diriku dari pada aku sendiri. Jadi jangan biarkan keraguanmu menang
oleh cintamu! Dan berjanjilah satu hal lagi setelah ini!"
"Apa?" tanya Nadin sambil mendongakkan kepalanya mencoba menggapai wajah suaminya.
"Apapun itu, selalu buat aku sadar jika kamulah yang paling penting dalam hidupku, tidak ada yang lain, tidak tugas dan janjiku, hanya kamu!"
Hati Nadin menghangat, ia seperti mendapatkan cintanya kembali, walaupun apapun yang terjadi nanti, ia berjanji akan menyerahkan semuanya pada cintanya.
"Aku mengerti!"
Mereka pun segera melepaskan pelukannya setelah cukup lama, Nadin kembali salah tingkah begitu pun dengan Rendi, mereka bingung harus melakukan apa. akhirnya Rendi memilih untuk menghampiri putranya yang sedang asik dengan mainannya.
“Mas …, biarkan aku pergi sebentar!” pamit Nadin setelah berhasil menguasai hatinya. Rendi mendongakkan kepalanya, ia pun segera berdiri dan kembali menghampiri Nadin.
“Aku akan mengantarmu!” ucap Rendi, membuat Nadin cukup terkejut.
“Hah?”
“Aku ingin berkenalan dengan mereka, keluarga yang telah baik dengan keluargaku!” alasan Rendi cukup masuk akal. Selama ini Rendi belum pernah bertemu dengan keluarga Aisyah.
“Baiklah …, ayo!”
Mendengar Nadin menyetujuinya, Rendi pun kembali menghampiri Elan dan menggendongnya. Mereka tidak mungkin meninggalkan Elan.
Mereka pun segera menuju ke rumah bu Santi,
sepertinya Nadin sudah memberitahu sebelum ia akan datang, karena di sana
Aisyah dan bu Santi masih lengkap di rumah dan juga adik laki-lakinya Aisyah.
Tok tok tok
Nadin mengetuk pintu sebelum masuk, bu Santi langsung menyambut mereka.
“Mari masuk ….!”
Nadin dan Rendi masuk setelah bu Santi
mempersilahkan mereka masuk. Nadin dan Rendi duduk di kursi panjang sedangkan
bu Santi duduk di depannya. Aisyah sedang menyiapkan minuman untuk mereka.
“Nak Nadin benarkah mau kembali ke Jakarta?” Tanya bu Santi.
“iya bu! Kami akan kembali siang ini!"
“Syukurlah ....., ibu ikut senang jika hubungan rumah tangga kalian sudah kembali baik, ibu cuma bisa mendoakan yang terbaik untuk kalian!”
“terimakasih bu!”
“Saya sebagai suami Nadin, juga mengucapkan
terimakasih karena selama ini keluarga bu Santi sudah banyak membantu istri dan
putra saya, setelah ini bu Santi bisa meminta apapun pada saya sebagai
gantinya!”
“Tidak perlu pak Rendi, kami iklas …, Nadin adalah teman Dini, kami sudah menganggak Nadin seperti keluarga kami sendiri!”
Nadin juga berpamitan kepada Aisyah, mereka sangat dekat selama ini. Nadin sudah mengaggap Aisyah seperti adiknya sendiri.
Setelah selesai urusannya dengan keluarga bu Santi. Rendi segera mengajak Nadin dan Elan ke bandara. Ajun sudah bersiap di sana
dengan memesan tiket untuk mereka. Sesampai di bandara, mereka tidak perlu
menunggu lama karena pesawat sudah akan berangkat. Selama perjalanan Rendi sama
sekali tidak melepaskan tangan Nadin. Apapun yang terjadi nanti, Rendi berjanji
Dalam waktu satu jam mereka sudah sampai di Jakarta, untuk sekian lama akhirnya Nadin bisa menghirup kembali udara Jakarta.
“kau senang?” Tanya Rendi saat melihat Nadin
memejamkan matanya sambil meregangkan tangannya.
“Iya …, aku merindukan semuanya …!”
“Semua juga merindukanmu!”
“Aku tahu …!” ucap Nadin sambil membuka matanya dan
tersenyum pada suaminya yang sedang menggendong putranya itu.
Dari kejauhan tampak gadis mungil itu celingukan seperti sedang mencari-cari sesuatu, hal itu membuat senyum Nadin semakin melebar.
“Dini …..!
teriak Nadin memanggil sahabatnya itu,
sudah lama sekali semenjak kelahiran Elan meeka tidak bertemu lagi.
Gadis imut itu pun menoleh ke arah Nadin, senyumnya juga tak kalah mengembang, ia berlari secepat mungkin untuk bisa menghampiri sahabatnya itu.
“Nadin .,…., aku merindukanmu!”
Dini segera memeluk
Nadin, mereka saling berpelukan cukup lama. saling menumpahkan rasa rindu.
“Mana yang jemput kamu?”
Tanya Dini saat melihat
taka da siapapun di sana selain Nadin dan Rendi.
“Mas Rendi tidak meminta mereka menjemput kami!”
Dini menatap suami sahabatnya itu dengan penuh intimidasi, selama ini ia juga tidak tahu apa yang terjadi sebenarnya, tapi ia
berharap ini yang terbaik untuk sahabatnya.
“Ini kartu Atm kamu aku kembalikan!” ucap Dini sambil menyerahkan kartu yang dulu pernah Nadin berikan pada Dini, Nadin masih beberapa kali menggunakan uang yang ada di dalamnya tapi dengan bantuan Dini.
Itu salah satu hal yang membuat Rendi sulit melacak keberadaan Nadin, dini melakukan penarikan uang di beberapa tempat yang berbeda. Dan mengirimkan uang itu ke Nadin.
“Makasih ya Din!”
“Nggak usah sungkan gitu sama aku! Oh iya boleh aku bicara sebentar sama suami kamu?”
“Tentu …, ya udah aku tinggal ke mobil dulu ya!”
“Iya!”
Nadin pun mengambil alih baby El dari gendongan Rendi. Nadin segera meninggalkan Dini dan suaminya.
“Ada apa?” Tanya Rendi sambil memakai kaca mata hitamnya.
“Aku tidak tahu mana yang benar atau yang salah, tapi saya sebagai sahabat Nadin tidak akan tinggal diam jika anda menyakitinya
lagi!”
“Aku tahu, dan kamu bisa pegang janjiku!”
“Baiklah …, aku percaya! Maaf aku tidak bisa ikut bersama kalian, tolong sampaikan maafku sama Nadin, lain waktu aku akan
menemuinya!”
Rendi mengangguk, Dini pun berlalupenasaran.
Dini meninggalkan Rendi ke arah yang berlawanan
dengan arah Nadin. Rendi segera menyusul Nadin, melihat Rendi hanya datang
sendiri membuat Nadin
Dimana Dini?
Rendi segera masuk ke dalam mobil duduk di samping
Nadin dan segera melepas kaca mata hitamnya, lagi-lagi tangannya menggenggam
tangan Nadin.
“Mas!”
“Iya?”
“Dini?”
“Dia ada urusan lain, dia juga minta maaf sama kamu karena tidak bisa ikut!”
“Tapi tidak ada masalah kan?” Tanya Nadin khawatir.
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
tri.ani.5249
Happy Reading 😘😘😘😘