MY BLOCK OF ICE

MY BLOCK OF ICE
Dia Calon Jodohku



Hari ini Rendi


sedang sibuk di ruangannya. Banyak sekali pekerjaan yang harus di selesaikan.


Ia tidak mungkin membebankan semua pekerjaan pada bosnya. Apa lagi setelah Ara


tak bekerja lagi. Agra tak berkeinginan mengangkat sekertaris baru. Di tengah


kesibukannya tiba-tiba pintu di ketuk.


Setidaknya kini dia bisa bernafas lega karena kehidupan Agra dan Ara sudah lebih baik. Banyak sekali yang harus di perjuangkan dan korbankan untuk itu.


Tok tok tok


Rendi pun


mengalihkan pandangannya ke arah pintu. Dan tak menunggu lama, pintu pun terbuka.


Vina, sekertaris Rendi masuk.


“Maaf pak


mengganggu.”


“Ada apa?”


“Nona Ara,


ingin bertemu.”


“Nona Ara ...?”


Rendi segera berdiri dari duduknya.


"Ada apa Ara kesini, bukankan Agra ada di ruangannya?" Batin Rendi.


“iya pak. Nona


Ara ingin bertemu dengan anda.”


“Persilahkan


dia masuk.”


“Baik pak ...”


Vina pun kembali


keluar. Dan tak berapa lama. Ada yang masuk lagi, dia adalah Ara.


“Nona ...”


Rendi pun segera menundukkan kepala memberi hormat.


“Bisa kita


bicara?” ucap Ara, setelah berhasil masuk.


“Silahkan


duduk, Nona ...!” Rendi meminta Ara untuk duduk.


“Bukan di


sini.” tolak Ara.


“Maksud, nona


...?” Rendi terlihat begitu bingung. Bagaimana bisa dia pergi bersama Ara


sedangkan Agra saja begitu posesif. Ia tak mau kejadian lalu terjadi lagi.


Dimana terjadi kesalah pahaman antara dirinya dan Agra.


“Kita bicara di


kafe depan.”


"Apa tidak masalah nona? Bagaimana jika ....?" ucapan Rendi menggantung karena Ara segera memotongnya.


"Aku sudah meminta ijin ..."


"Baiklah ...., mari nona ...!"


Akhirnya Rendi


pun menyanggupi permintaan Ara. Walau kini sedang was-was. Mereka pun menuju


kafe dekat kantor. Mereka menuju ke meja yang sudah di pesannya dari tadi.


Setelah


mendapatkan tempat duduk, dan memesan dua gelas minuman. Ara pun mulai bicara.


“Jika tidak


keberatan, tolong ceritakan masa lalu kalian.”


Rendi cukup


bingung dengan arah pembicaraan Ara. Maksud kalian? Kalian siapa?


“Maksud nona


...?”


“Aku ingin tahu


apa alasan ibu menaruh pak agra di panti asuhan.” Rendi begitu terkejut


mendengar ucapan Ara. Bagaimana bisa Ara mengetahui itu? Itu kejadian yang sudah


lama. Dan tak ada yang berusaha membahasnya lagi.


“Maaf nona ...,


tapi ini rahasia. Nyonya tidak akan suka jika kita membahasnya.”


“Tapi ini semua


demi kebaikan mereka. Aku tidak mau kebencian pak Agra berlarut-larut.”


Mendengar alasan Ara . Rendi pun berpikir keras. Akhirnya. Rendi pun memilih


untuk menceritakan kebenarannya.


Akhirnya Rendi dengan berat hati


menceritakan kebenarannya. Tapi tetap dengan beberapa syarat yang harus Ara


setujui.


Tapi ternyata


pertemuan mereka di ketahui oleh Agra, ya Agra memang sama seperti Rendi selalu menaruh mata-mata nya di mana saja, bagaimana dia tidak akan tahu?.


Agra datang dengan wajah yang tak


bersahabat.  Membuat Rendi sedikit


bingung harus berbuat apa. Karena berdasarkan perdebatan suami istri itu, dia


lah yang menjadi penyebabnya.


“aku harus


segera kabur dari sini , bagaimana dia bisa menyebalkan sekali jika sedang cemburu?...” Batin Rendi.


“Ini sudah


waktunya makan siang, kenapa kamu masih di sini? Apa kamu tidak tahu ada suami


istri yang sedang ingin makan siang bersama.” Ucap Agra dengan pandangan yang


tak bersahabat pada Rendi.


“Maaf, pak ...,


saya akan kembali ke kantor.” Rendi segera berdiri dari duduknya. Rasanya


enggan berlama-lama di situ. Atmosfirnya sudah berubah menjadi sesak.


Siapa juga yang


mau berlama-lama di sini, membuat darah tinggi saja ..., batin Rendi .


rendi pun segera meninggalkan kafe.


masih jam makan siang. Rendi pun memutuskan untuk makan siang di luar sambil


menyelidiki sesuatu.


“Bawa mobil


kesini.” Perintah Rendi pada ajudannya.


“Baik tuan ...”


Dan tak perlu


menunggu terlalu lama. Mobil pun sudah menghampirinya lengkap dengan sopirnya.


“Kita ke kafe X


...”


“Baik tuan ...”


Mobil pun


melaju memecah keramaian kota. Hanya dalam waktu lima belas menit mobil sudah


berhenti tepat di depan sebuah kafe yang terlihat tak begitu ramai.


Ajudannya tahu jika bosnya itu tidak terlalu menyukai keramaian.


“Apa perlu kita


menyewanya tuan?” tanya ajudannya.


“Tidak perlu,


aku mencari seseorang di sini ..., aku perlu topi dan kaca mata” Rendi pun


melepas jas dan kemejanya. Menyisakan kaos putih ketat yang membalut tubuhnya.



“Baik tuan ...”


ajudannya menyerahkan sebuah kaca mata dan topi pada Rendi. Rendi pun segera


memakainya dan segera keluar dari mobil.


“Tunggu saya


agak jauh dari sini. Jika ada yang mencurigakan segera beritahu saya.” Ucap


Rendi sebelum meninggalkan mobil.


“Baik tuan ...”


Rendi pun masuk


ke dalam kafe dengan sangat santai. Ia duduk di salah satu kursi yang dapat


menjangkau semua ruangan. Seorang pelayan memberikan buku menu pada Rendi.


setelah Rendi memilih beberapa menu makanan, pelayan itu meninggalkan Rendi.


Rendi memulai pengamatannya.


Benar saja tak berapa lama Rendi menyantap makanannya. Orang yang sedari


tadi  di tunggu telah datang.


Beruntunglah mereka duduk tak jauh dari tempat duduk Rendi. jadi Rendi dapat


dengan mudah mendengarkan pembicaraan mereka.


“putriku


dengarkan ibu..., besok kau harus melancarkan rencana ini. Langkah kita hanya


tinggal beberapa langkah saja. Setelah itu kau harus bisa mengambil hati nyonya


rumah itu.” Ucap wanita paruh baya yang terlihat begitu modis.


Apa yang


sebenarnya mereka rencanakan. Aku harus tahu rencana mereka... batin Rendi


“Baik ibu ...,


aku besok akan ke rumah besar itu bersama dokter itu.”


“Bagus sayang


...”


Sekarang


sedikit informasi itu memberi petunjuk pada Rendi. Rendi keluar dari kafe,


menunggu mereka keluar terlebih dahulu. Setelah di rasa sudah aman. Rendi pun


memanggil pelayan untuk meminta bill pembayaran. Setelah menyelesaikan


pembayarannya. Rendi segera melangkah keluar.


Brug


Tapi tanpa


sengaja ia menabrak seseorang hingga terjatuh.


“Auhgg ....”


“Kamu tidak pa


pa, Nad?” tanya temannya yang mencoba membantu gadis itu untuk berdiri.


“sakiiiittt


...” gadis itu pun segera berdiri sambil mengelus sikunya yang sepertinya


terbentur lantai. Sedangkan Rendi, masih terdiam menatap gadis itu dengan


tajam.


“mas kalau


jalan tuh liat-lita. Nggak tau apa orang segede gini di depan mata. Main tabrak


ajah, sakit tahu ...” tapi ucapan gadis itu nggak sampai berlanjut, ucapannya


terhenti saat mengetahui siapa yang ada di depannya.


“Pak Rendi ...”


“Kamu ..., apa


yang kamu lakukan di sini? Bukannya belajar malah keluyuran.” Ucap Rendi dingin


dan berlalu begitu saja meninggalkan Nadin yang masih terpaku di tempatnya.


“Dasar bocah


..., kenapa aku selalu saja sial setiap kali bertemu dengannya ..” Gerutu


Rendi.


“Siapa cowok


tampan itu, Nad? Di mana kamu mengenalnya?” tanya Dini. Teman Nadin.


“Dia calon


jodohku ...” ucap Nadin tanpa beralih dari menatap punggung Rendi yang semakin


menghilang di telan keramaian.


***


BERSAMBUNG


di episode-episode awal ini cerita Nadin dan Rendi masih bercampur sama Agra dan Ara ya


soalnya awal mereka bertemu saat masalah Agra dan Ara jadi nggak bisa ujuk-ujuk nyantol ya


Happy Reading 😘😘😘😘😘