
Hari ini Rendi
sedang sibuk di ruangannya. Banyak sekali pekerjaan yang harus di selesaikan.
Ia tidak mungkin membebankan semua pekerjaan pada bosnya. Apa lagi setelah Ara
tak bekerja lagi. Agra tak berkeinginan mengangkat sekertaris baru. Di tengah
kesibukannya tiba-tiba pintu di ketuk.
Setidaknya kini dia bisa bernafas lega karena kehidupan Agra dan Ara sudah lebih baik. Banyak sekali yang harus di perjuangkan dan korbankan untuk itu.
Tok tok tok
Rendi pun
mengalihkan pandangannya ke arah pintu. Dan tak menunggu lama, pintu pun terbuka.
Vina, sekertaris Rendi masuk.
“Maaf pak
mengganggu.”
“Ada apa?”
“Nona Ara,
ingin bertemu.”
“Nona Ara ...?”
Rendi segera berdiri dari duduknya.
"Ada apa Ara kesini, bukankan Agra ada di ruangannya?" Batin Rendi.
“iya pak. Nona
Ara ingin bertemu dengan anda.”
“Persilahkan
dia masuk.”
“Baik pak ...”
Vina pun kembali
keluar. Dan tak berapa lama. Ada yang masuk lagi, dia adalah Ara.
“Nona ...”
Rendi pun segera menundukkan kepala memberi hormat.
“Bisa kita
bicara?” ucap Ara, setelah berhasil masuk.
“Silahkan
duduk, Nona ...!” Rendi meminta Ara untuk duduk.
“Bukan di
sini.” tolak Ara.
“Maksud, nona
...?” Rendi terlihat begitu bingung. Bagaimana bisa dia pergi bersama Ara
sedangkan Agra saja begitu posesif. Ia tak mau kejadian lalu terjadi lagi.
Dimana terjadi kesalah pahaman antara dirinya dan Agra.
“Kita bicara di
kafe depan.”
"Apa tidak masalah nona? Bagaimana jika ....?" ucapan Rendi menggantung karena Ara segera memotongnya.
"Aku sudah meminta ijin ..."
"Baiklah ...., mari nona ...!"
Akhirnya Rendi
pun menyanggupi permintaan Ara. Walau kini sedang was-was. Mereka pun menuju
kafe dekat kantor. Mereka menuju ke meja yang sudah di pesannya dari tadi.
Setelah
mendapatkan tempat duduk, dan memesan dua gelas minuman. Ara pun mulai bicara.
“Jika tidak
keberatan, tolong ceritakan masa lalu kalian.”
Rendi cukup
bingung dengan arah pembicaraan Ara. Maksud kalian? Kalian siapa?
“Maksud nona
...?”
“Aku ingin tahu
apa alasan ibu menaruh pak agra di panti asuhan.” Rendi begitu terkejut
mendengar ucapan Ara. Bagaimana bisa Ara mengetahui itu? Itu kejadian yang sudah
lama. Dan tak ada yang berusaha membahasnya lagi.
“Maaf nona ...,
tapi ini rahasia. Nyonya tidak akan suka jika kita membahasnya.”
“Tapi ini semua
demi kebaikan mereka. Aku tidak mau kebencian pak Agra berlarut-larut.”
Mendengar alasan Ara . Rendi pun berpikir keras. Akhirnya. Rendi pun memilih
untuk menceritakan kebenarannya.
Akhirnya Rendi dengan berat hati
menceritakan kebenarannya. Tapi tetap dengan beberapa syarat yang harus Ara
setujui.
Tapi ternyata
pertemuan mereka di ketahui oleh Agra, ya Agra memang sama seperti Rendi selalu menaruh mata-mata nya di mana saja, bagaimana dia tidak akan tahu?.
Agra datang dengan wajah yang tak
bersahabat. Membuat Rendi sedikit
bingung harus berbuat apa. Karena berdasarkan perdebatan suami istri itu, dia
lah yang menjadi penyebabnya.
“aku harus
segera kabur dari sini , bagaimana dia bisa menyebalkan sekali jika sedang cemburu?...” Batin Rendi.
“Ini sudah
waktunya makan siang, kenapa kamu masih di sini? Apa kamu tidak tahu ada suami
istri yang sedang ingin makan siang bersama.” Ucap Agra dengan pandangan yang
tak bersahabat pada Rendi.
“Maaf, pak ...,
saya akan kembali ke kantor.” Rendi segera berdiri dari duduknya. Rasanya
enggan berlama-lama di situ. Atmosfirnya sudah berubah menjadi sesak.
Siapa juga yang
mau berlama-lama di sini, membuat darah tinggi saja ..., batin Rendi .
rendi pun segera meninggalkan kafe.
masih jam makan siang. Rendi pun memutuskan untuk makan siang di luar sambil
menyelidiki sesuatu.
“Bawa mobil
kesini.” Perintah Rendi pada ajudannya.
“Baik tuan ...”
Dan tak perlu
menunggu terlalu lama. Mobil pun sudah menghampirinya lengkap dengan sopirnya.
“Kita ke kafe X
...”
“Baik tuan ...”
Mobil pun
melaju memecah keramaian kota. Hanya dalam waktu lima belas menit mobil sudah
berhenti tepat di depan sebuah kafe yang terlihat tak begitu ramai.
Ajudannya tahu jika bosnya itu tidak terlalu menyukai keramaian.
“Apa perlu kita
menyewanya tuan?” tanya ajudannya.
“Tidak perlu,
aku mencari seseorang di sini ..., aku perlu topi dan kaca mata” Rendi pun
melepas jas dan kemejanya. Menyisakan kaos putih ketat yang membalut tubuhnya.
“Baik tuan ...”
ajudannya menyerahkan sebuah kaca mata dan topi pada Rendi. Rendi pun segera
memakainya dan segera keluar dari mobil.
“Tunggu saya
agak jauh dari sini. Jika ada yang mencurigakan segera beritahu saya.” Ucap
Rendi sebelum meninggalkan mobil.
“Baik tuan ...”
Rendi pun masuk
ke dalam kafe dengan sangat santai. Ia duduk di salah satu kursi yang dapat
menjangkau semua ruangan. Seorang pelayan memberikan buku menu pada Rendi.
setelah Rendi memilih beberapa menu makanan, pelayan itu meninggalkan Rendi.
Rendi memulai pengamatannya.
Benar saja tak berapa lama Rendi menyantap makanannya. Orang yang sedari
tadi di tunggu telah datang.
Beruntunglah mereka duduk tak jauh dari tempat duduk Rendi. jadi Rendi dapat
dengan mudah mendengarkan pembicaraan mereka.
“putriku
dengarkan ibu..., besok kau harus melancarkan rencana ini. Langkah kita hanya
tinggal beberapa langkah saja. Setelah itu kau harus bisa mengambil hati nyonya
rumah itu.” Ucap wanita paruh baya yang terlihat begitu modis.
Apa yang
sebenarnya mereka rencanakan. Aku harus tahu rencana mereka... batin Rendi
“Baik ibu ...,
aku besok akan ke rumah besar itu bersama dokter itu.”
“Bagus sayang
...”
Sekarang
sedikit informasi itu memberi petunjuk pada Rendi. Rendi keluar dari kafe,
menunggu mereka keluar terlebih dahulu. Setelah di rasa sudah aman. Rendi pun
memanggil pelayan untuk meminta bill pembayaran. Setelah menyelesaikan
pembayarannya. Rendi segera melangkah keluar.
Brug
Tapi tanpa
sengaja ia menabrak seseorang hingga terjatuh.
“Auhgg ....”
“Kamu tidak pa
pa, Nad?” tanya temannya yang mencoba membantu gadis itu untuk berdiri.
“sakiiiittt
...” gadis itu pun segera berdiri sambil mengelus sikunya yang sepertinya
terbentur lantai. Sedangkan Rendi, masih terdiam menatap gadis itu dengan
tajam.
“mas kalau
jalan tuh liat-lita. Nggak tau apa orang segede gini di depan mata. Main tabrak
ajah, sakit tahu ...” tapi ucapan gadis itu nggak sampai berlanjut, ucapannya
terhenti saat mengetahui siapa yang ada di depannya.
“Pak Rendi ...”
“Kamu ..., apa
yang kamu lakukan di sini? Bukannya belajar malah keluyuran.” Ucap Rendi dingin
dan berlalu begitu saja meninggalkan Nadin yang masih terpaku di tempatnya.
“Dasar bocah
..., kenapa aku selalu saja sial setiap kali bertemu dengannya ..” Gerutu
Rendi.
“Siapa cowok
tampan itu, Nad? Di mana kamu mengenalnya?” tanya Dini. Teman Nadin.
“Dia calon
jodohku ...” ucap Nadin tanpa beralih dari menatap punggung Rendi yang semakin
menghilang di telan keramaian.
***
BERSAMBUNG
di episode-episode awal ini cerita Nadin dan Rendi masih bercampur sama Agra dan Ara ya
soalnya awal mereka bertemu saat masalah Agra dan Ara jadi nggak bisa ujuk-ujuk nyantol ya
Happy Reading 😘😘😘😘😘