MY BLOCK OF ICE

MY BLOCK OF ICE
Bonschap 27 (Dini)



Gadis bertubuh mungil itu tiba-tiba saja menjadi begitu rajin mengunjungi sahabatnya semenjak kejadian waktu itu.


Alih-alih berharap bisa bertemu pujaan hati tapi takdir malah selaku mempertemukannya dengan orang yang sudah puluhan kali menolak cintanya.


"Kenapa sih ...., aku harus selalu bertemu dengan mu? Ya ampun salahku ini apa denganmu?!" keluh Dini saat tanpa sengaja bertemu dengan Ajun yang kebetulan lewat saat motornya tiba-tiba berhenti di tengah jalan karena bannya bocor terkena paku.


"Ya sudah berarti tidak butuh bantuan ku kan!" ucap Ajun, ia pun memutuskan untuk kembali masuk ke dalam mobil dan melajukan mobilnya meninggalkan Dini yang begitu kesal.


"Dasar pria nggak peka ......!" maki Dini sambil melepas dan melempar sepatunya, mungkin karena Ajun tidak begitu cepat melajukan mobilnya, sepatu Dini yang ia lempar asal berhasil mengenai kaca mobil Ajun.


Karena kebetulan gadis mungil itu memakai sepatu hag tinggi, hingga menciptakan retakan di kaca belakang mobil Ajun.


"Upsss ......!" Dini seger menutup mulutnya, "Aku pasti sudah gila nih ...., benaran nih ...., si kardus marah nih ....!"


Ajun pun kembali menghentikan mobilnya dan menoleh ke belakang, ia melihat retakan itu.


"Ampun .....!" Dini segera memutar motornya berbalik arah dan menuntunnya sedikit berlari ke arah lainnya agar tidak di kejar oleh Ajun.


Ajun yang menyadari apa yang terjadi begitu syok, cicilan mobilnya belum lunas dan gadis mungil itu dengan sengaja merusak kaca mobilnya.


"Dia benar-benar cari gara-gara denganku!"


Ajun pun segera turun dari mobilnya dan melihat bagaimana kaca belakangnya, retak membetuk lubangan seperti bekas peluru.


Ia mengambil sepatu yang hanya sebelah itu tergeletak di bawah mobilnya.


"Aku harus buat perhitungan sama dia!"


Ajun membawa sepatu yang hanya sebelah itu di tangannya dan mengejar gadis bertubuh mungil itu, langkahnya yang lebar tentu bukan hal yang sulit untuk mengejar gadis itu.


saat sudah berada di belakang gadis itu, ia segera menarik besi belakang motor Dini hingga gadis itu kesulitan untuk berjalan maju.


"Kenapa jadi berat banget gini sih!?" keluh Dini karena belum menyadari jika Ajun sudah menahan motornya agar tidak bisa berjalan.


"Mau kemana? hah .....?" tanya Ajun sambil sedikit mengangkat dagunya,


"Ya cari bengkel lah ....!" ucap Dini pura-pura tegar padahal mah aslinya panik banget.


"Apa begitu caranya meminta maaf?" tanya Ajun tanpa melepaskan motor Dini.


"Memang aku salah apa?" Dini masih tetap pura-pura bodoh.


" Jangan coba-coba kabur dariku, okey ....!" Ajun mencoba memberi peringatan pada gadis itu.


"Memang apa salahku? Aku nggak salah kenapa juga kabur!" Dini memang suka banget ya ngelesnya.


"Jangan pura-pura tidak salah, Lihat di setiap sudut jalan ini ada cctv, jadi saya tinggal menelpon polisi dan mengatakan kalau di sini ada orang yang sengaja melakukan penyerangan pada mobil saya!"


"Memang apa yang aku lakukan? Aku nggak melakukan apa-apa!"


"Aku punya buktinya, sepatu ini!" ucap Ajun sambil menunjukkan sepatu sebelah kiri yang ada di tangannya,


"Dan itu!" kemudian menunjuk sepatu sebelah kanan yang menggantung di dasbor motor Dini.


"Bisa menjadi bukti jika sepatu itu memang benar-benar milikmu!"


Melihat keseriusan pria di depannya mengusut kasus insiden sepatu hag tinggi, membuat nyalinya ciut.


"Aku tidak sengaja tadi, jadi aku minta maaf ya!" ucap Dini dengan di buat semanis mungkin.


"Enak aja minta maaf, kamu harus ganti rugi!"


"Ganti rugi????? Uang?" tanya Dini memastikannya.


"Iya ...., semacam itu!"


Hehhhh ....


Dini menghela nafas kasar, ia tidak yakin dengan keputusannya.


"Sepuluh juta!"


"Hahhhh ....!" Dini benar-benar terkejut kali ini. "Masak cuma kaca kayak gitu aja sepuluh juta sih?!" protes Dini.


"Itu mobil mahal!"


"Mahal apanya kayak gitu aja!"


"Terserah, mau gati rugi atau aku laporin ke kantor polisi!"


"Jangan dong ....! Plissss ...., tapi aku nggak punya uang sebanyak itu!"


"Ngakunya kaya, tapi uang sepuluh juta aja nggak punya!"


"Yang kaya orang tua ku, emang aku harus minta mereka? ya nggak lah!"


"Ya udah aku punya penawaran menarik buat kamu!"


"Apa?"


"Selama kamu belum bisa membayar hutang kamu, berarti kamu harus membayarnya dnegan bekerja di rumahku sebagai asisten rumah tangga ku selama empat bulan!"


"Hah .... ,lama banget!"


"Terserah ...., ini penawaran menarik tahu, jadi hitungannya gini, aku bayar kamu satu bulannya dua setengah juta buat bayar utang kamu ke aku! beres kan?"


"Beres apa-nya, enak di kamu nggak enak di aku!"


"Terseeah kamu, mau pilih yang mana! kantor polisi, atau bayar dengan uang tunai atau di cicil hingga empat bulan!"


Ahhhh kalau ke kantor polisi ya enggak mau, masak cantik-cantik masuk penjara, ke dua juga tidak mungkin ...., aku nggak punya uang segitu. Mau tidak mau aku harus milih yang terakhir nih ....


"Gimana?"


"Ya udah deh, aki setuju yang terakhir saja!"


"Kalau begitu mana ktp mu!"


"Buat apa?"


"Ya buat jaminan lah! Takut kalau kamu bakal kabur aja!"


"Nggak ya ...., aku tuh orangnya tanggung jawab!"


"Tanggung jawab apaan, siapa yang barusan mau kabur, hantu ....?!"


"Nih ....!"


"Nah gitu dong bagus, besok aku tunggu di apartemenku jam lima sore!"


"Iya bawel ...., ya udah sekarang bantu aku ngurus motorku!"


"Bodo amet ....!"


Ajun melenggang begitu saja meninggalkan Dini yangs edang kesal.


"Dasar pria kardus, nggak punya hati nurani! Nggak tahu apa nih capek mendorong motor, bukannya di bantuin malah di tinggalin!"


Bersambung


Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya


Follow Ig aku ya


tri.ani.5249


Happy Reading 🥰🥰🥰