MY BLOCK OF ICE

MY BLOCK OF ICE
Shopping dengan baby twins (5)



Setelah kepergian Jerry mereka pun melanjutkan acara jalan-jalan nya.


"Kapan kita pulangnya, sayang?" tanya Agra yang sudah begitu kesal karena istrinya terus saja mengajak berkeliling mall.


Ara sudah lama sekali tidak keluar rumah, jadi kesempatan seperti ini menjadi sangat langka.


"Aku masih mau nonton, makan es krim, berbelanja baju." ucap Ara, ia segera menarik tangan Nadin, baby twins sudah bersama baby sitter nya, jadi mereka dengan leluasa berbelanja.


Sambil menunggun para wanita berbelanja, para pria hanya bisa mengikutinya dengan belanjaan yang banyak di tangannya.


"Nad ...., ayolah ambil yang kamu mau, kakak iparmu tidak akan jatuh miskin jika kau memborong baju di sini." ucap Ara, sambil menempelkan beberapa baju ke tubuh adiknya.


"Kakak ...., ini nghak perlu ...!" ucap Nadin. Ia merasa tidak enak hati.


"Dek ....! Aku kakakmu ...., sudah lama sekali kakak tidak membelikanmu sesuatu, jadi terima saja ...., atau kau ingin seseorang yang membelikannya untukmu ....!" ucap Ara dengan tatapan yang menggoda.


"Ahhh ...., kakak ...., jadi kakak tahu sesuatu tentang kami?" tanya Nadin yang tak percaya.


"Hemmm ...!" jawab Ara singkat sambil terus sibuk memilah-milah pernak-pernik.


"Kakak tahu semuanya?" tanya Nadin tak percaya.


"Hemmm ....!"


Jadi kakak tahu kalau aku dan pak Rendi sudah jadian?


"Beneran kakak tahu semuanya?" tanya Nadin lagi, ia masih mencoba meyakinkan jika kakaknya tidak tahu semuanya.


"I...ya ...., dek ....!" jawab Ara gemas.


"Jadi kakak tahu kalau aku dan pak Rendi sudah ....!?" tanya Nadin lagi sambil menyatukan dua telunjuknya di depan Ara.


"Hah ...., maksudnya kalian sudah ....!" ucap Ara tak percaya, ia hampir saja teriak tapi berhasil di bekap oleh twlapak tangan Nadin.


"Jangan keras-keras kak .....!" bisik Nadin, ia tidak mau sampai orang lain mendengarnya.


"Aku kira kakak sudah benar-benar tahu ...., kakak menjebakku ya ...!" ucap Nadin sambil mengerucutkan bibirnya kesal dengan ulah kakaknya. Ara yang belum puas dengan jawaban Nadin, segera menarik tangan Nadin menuju tempat yang nyaman untuk mengobrol tanpa di dengar oleh dua pria yang terus saja mengikuti mereka.


"Jangan kenceng-kenceng kak nariknya, sakit ...!" keluh Nadin sambil memegangi pergelangan tangannya yang kelu akibat ulah kakaknya.


"Sekarang ceritakan sama kakak!"


"Apanya?"


"Tadi ....!"


"Yang mana?"


"Hehhhh ....!" Ara benar-benar gemas dengan adiknya itu. "Jadi benar kalian sudah jadian?"


"Jadi kakak beneran belum tahu?" tanya Nadin, dan Ara hanya mengangguk.


"Iiihhhhh, bodoh , bodoh ....!" keluh Nadin samhil memukuli kepalanya dengan kedua tangan nya.


Kenapa aku bisa sebodoh ini ...., ihhhh aku kelepasan lagi, bagaimana ini ...?


"Kamu harus jujur sama kakak!" ancam Ara.


"Iya kakak benar, kami sudah jadian..., tapi cuma untuk tiga bulan ini."


"Maksudnya?"


"Jadi pak Rendi ngasih syarat sama Nadin buat dia jatuh cinta dalam waktu tiga bulan, kalau sampai tiga bulan tidak terjadi apa-apa, aku harus menjauh darinya."


"Ini syarat apa-apaan ....., aku harus ngomong sama dia ...!" ucap Ara dengan begitu marah.


"Pliss kak ...., jangan marah. Ini Nadin yang mau ....!"


"Tapi ini nggak bener ....!"


"Nadin yang menyetujuinya kak, pliiissss ..., jangan bilang pada siapapun ya, termasuk kak Agra, plisss ....!" ucap Nadin sambil mengatupkan kedua tangannya di depan dada dengan wajah memohon.


"Baiklah ....., kakak akan bantu sebisa kakak, kau sih cari gara-gara ...., suka kok sama es batu."


"Emang siapa yang bisa memilih kak ....., Nadin bisa apa."


Di tempat yang tak begitu jauh dari mereka, Agra dan Rendi tampak sekali begitu bosan menunggu. Agra yang duduk di sofa sedangkan Rendi berdiri tepat di sebelah kanannya. Agra duduk dengan menyilangkan kakinya, beberapa kalia menatap layat ponselnya, mengambil beberapa gambara istrinya yang sedang berbelanja.


"Iya pak!" jawab Rendi.


"Jangan memuji istriku ...., hanya aku yang boleh melakukannya ...!" ucap Agra lagi, Rendi pun hanya bisa memutar bola matanya.


Terserah lah ...., dia istrimu ...., mau dia cantik dia jelek, tetaplah istrimu ...., siapa juga yang tak tahu hal itu, asal jangan di beri tanda pengenal saja ....


"Apa menurutmu jika keluar seperti ini, para pria itu akan melirik istriku?" tanya Agra lagi. "Dia begitu menarik untuk di lihat, aku tidak suka mereka menatap istriku seperti itu ...!" ucap Agra lagi sambil menunjuk segerombolan anak muda yang memang sedang memperhatikan ke arah Ara dan Nadin.


Kenapa tidak kau bungkus saja istrimu dengan mantel, biar tidak ada yang memperhatikannya.


Rendi hanya bisa diam, ia takut salah bicara jika menanggapinya.


"Menurutmu apa sebaiknya aku mencarikan pasangan untuk Nadin ya?" tanya Agra tiba-tiba.


"Hukkk hukkk hukk ....!" tiba-tiba Rendi tersedak salivanya sendiri mendengar perkataan Agra.


"Kamu kenapa? Minumlah ...., sepertinya kamu perlu minum air putih yang banyak, kau kurang fokus." ucap Agra sambil menyerahkan sebotol air mineral pada Rendi.


"Tidak pak, saya tidak pa pa ...!" ucap Rendi yang menolak menerima botol itu, ia sudah terlalu banyak meneguk airnputih sedari tadi karena merasakan perasaan yang tidak nyaman.


"Ya sudah .....!" ucap Agra sambil menarik botolnya kembali.


Di jodohkan ....? Nadin ...., dengan siapa? Kenapa aku tidak suka dengan kata-kata itu, kenapa hatiku takut jika itu sampai terjadi. ...


"Aku takut jika ia salah memilih pria, dia sudah seperti adikku sendiri, aku tidak mau dia di manfaatkan oleh pria hidung belang." ucap Agra lagi sambil menatap adik iparnya yang tampak begitu polos itu.


Jika denganku ...., apa kau juga akan menolaknya? Jika aku dekat dengannya apa kau akan setuju?


Ucapan Agra benar-benar berpengaruh, ia hanya bisa diam tidak menanggapi, batinnya terlalu sibuk dengan menilai dirinya sendiri.



Ara dan Nadin menyudahi percakapannya mereka kembali menghampiri kedua pria itu dengan berbagai belanjaan di tangannya.


"Sudah selesai belanjanya?" tanya Agra pada Ara.


"Sudah ...., tapi hari ini kita nggak usah jadi nonton ya, aku capek." ucap Ara lagi.


"Tapi kan sudah terlanjur beli tiket kak...!" ucap Nadin sambil menunjukkan tiket di tangannya.


"Kan kalau tiketnya di buang begitu saja sayang, gimana kalau kalian saja yang nonton, kakak sama baby twins pulang duluan. Nggak pa pa kan Rend, nemenin Nadin nonton ...., jarang-jarang loh ....!" ucap Ara.


"Baik nyonya ....!" ucap Rendi.


"Ya udah kami pulang dulu ya..., nikmati filmnya berdua." ucap Ara.


"Beneran nghak pa pa ninggalin mereka berdua, apa perlu aku suruh bang Divta nyusul kalian?" tanya Agra. Ia tidak tega jika harus meninggalkan Nadin hanya berdua dengan Rendi. Ia tahu sifat Rendi sejak dulu. Ia tidak suka bicara ataupun bercanda, ia takut jika Nadin akan bosan.


"Jangan ....!" lagi-lagi Ara dan Nadin berteriak bersama-sama.


"Kalian ada apa sih kok bisa kompak gini?" tanya Agra yang heran.


"Pokoknya jangan ...., biarkan mereka berdua saja ...., lagian kak Divta pasti juga sibuk." ucap Ara mencari alasan.


"Baiklah terserah kalian saja ....!" ucap Agra pasrah. "Rend, kamu ingat ya ...., jangan buat Nadin menangis atau bosan, aja dia bicara ...., awas saja kalau sampai aku mendapat keluhan dari Nadin ....!" ancam Agra pada Rendi.


"Baik pak ...., seperti yang anda inginkan." ucap Rendi patuh.


"Bagus ...!" ucap Agra sambil menepuk bahu Rendi.


Ara yang hendak meninggalkan mereka segera mendekat pada Nadin.


"Manfaatkan dengan sebaik-baiknya ...!" bisik Ara di telinga Nadin.


"Kami pergi dulu ....!" ucap Ara sambil melambaikan tangan, Agra pun hanya bisa mengikuti istrinya.


Kini tinggal Nadin dan Rendi di tempat itu, keadaan kembali hening hingga beberapa saat.


**BERSAMBUNG


Jangan lupa kasih dukungan ke Author dengan memberikan LIKE dan KOMENTARnya ya


Kasih Vote juga ya yang banyak


Happy Reading 😘😘😘😘😘😘**