MY BLOCK OF ICE

MY BLOCK OF ICE
Dia itu konyol



  "Cinta tidak pernah menuntut, cinta selalu memberi. Cinta selalu menderita, tanpa pernah meratap, tanpa pernah mendendam." (Mahatma Gandhi)


*****


    Setiap hari Rendi turun langsung


mengawasi kafe baru milik Agra. Setelah keluar dari kantor ia akan menyempatkan


diri untuk sekedar duduk di taman depan kafe Agra.


Tapi kali ini bukan hanya kafe itu saja yang menjadi pusat


perhatiannya. Seorang gadis muda yang akhir-akhir ini sedikit mengganggunya


selalu saja muncul.


“Dia itu konyol.” Ucapnya sambil menatap gadis yang terlihat sedang


membuang sampah.


“Apa tuan butuh sesuatu?” tanya pengawalnya yang tanpa sengaja


mendengarkan gumaman Rendi.


“Tidak ....”


***


Nadin harus pandai membagi waktunya, apalagi hukuman dari pak


Nathan begitu menyita waktunya.


Setiap jam kuliah pak Nathan Nadin harus berangkat lebih pagi, ia


menyiapkan semuanya sebelum memulai perkuliahannya dan setelah pulang kuliah ia


harus segera ke kafe membantu kakaknya.


Hari ini saat hendak memasuki kafe, tanpa sengaja matanya menangkap


hal yang janggal, seseorang yang begitu ia kenal sedang duduk di salah satu


bangku taman sambil membaca koran, tapi tampak ia tidak fokus pada bacaannya,


karena sesekali pandangannya menghadap ke kafe. Nadin pun terpancing untuk


menghampirinya.


“Pak Rendi ....,’ ucap Nadin sambil membuka koran yang menutupi


wajah pria itu. “ Iya pak Rendi, kenpa pak Rendi di sini? Pak Rendi jadi


mata-mata ya? Sejak kapan?”


Seperti biasa belum sempat Nadin menyelesaikan ucapannya, Rendi


segera membekap mulutnya, karena jika di biarkan , Nadin tidak akan berhenti


bicara. Tapi karena salah perhitungan, tubuh Nadin malah terjerembak di atas


pangkuan Rendi.


“Ahh ... sial.” Gerutu Rendi. dngan cepat Rendi mendorong tubuh


Nadin hingga jatuh ke tanah.


Brukkk


“Auugh ...., sakit tahu pak.” Keluh Nadin sambil berusaha berdiri.


“Diam! Dan dengarkan aku!” ucap Rendi sambil menarik Nadin duduk di


sampingnya. Ia menatap tajam pada Nadin. “Jangan katakan pada siapapun jika aku


ada di sini.”


“Emangnya kenapa pak?” tanya Nadin.


“Bisa tidak sih, nggak usah banyak bertanya.” Ucap Rendi sambil


menghunuskan tatapan tajamnya.


“Iya ...” ucap Nadin kemudian mengacungkan kedua jarinya. “Janji.”


“Anak pintar ...” ucap Rendi sambil mengacak-acak rambut Nadin,


lalu meninggalkan tempat itu sambil memakai kembali kaca mata hitamnya. Nadin


hanya di buat terperangah dengan ucapan terakhir Rendi.


Anak pintar ...?”Hei ..., aku bukan anak-anak lagi, usiaku sudah dua puluh tahun,


sudah cukup matang untuk di buahi ...” teriak Nadin kesal.


***


Satu bulan sudah Rendi mondar-mandir di depan kafe Agra. Tak ada


niatan padanya untuk sekedar mampir.karena ia tidak bisa menyerahkan pengawasan


sepenuhnya pada anak buahnya.


Hari ini Ratih memintanya menemuinya di rumah besar. Rendi pun hari


ini harus absen tidak datang ke kafe Agra. Ia harus menemui nyonya besar.


Rendi segera masuk ke rumah itu, yang memang sudah sangat hafal.


Dia tumbuh besar di rumah itu.


“Selamat sore, nyonya ...” Sapa Rendi saat sudah masuk ke dalam


ruang tamu, saat ia melihat Ratih sedang bersantai di sana.


“Duduklah ...” perintah Ratih. Rendi pun tak menunggu perintah dua


kali. Ia segera duduk di sofa yang lebih kecil dari yang di duduki oleh Ratih.


“Bagaimana kabar, nyonya?” tanya Rendi.


“Seperti yang kamu lihat ...” ya wanita itu terlihat segar walau


tak ada senyum di bibirnya.


Ternyata Ratih meminta Rendi datang untuk menanyakan keadaan Agra


dan Ara, ia meminta Rendi untuk menjadwalkan pemeriksaan kandungan atas Ara,


tapi sayang karena dr. Frans masih di luar negri, pemeriksaannya harus di tunda


dua minggu lagi.


 Setelah percakapannya dengan


Ratih selesai, Rendi pun segera undur diri. Masih banyak yang harus ia kerjakan


sebelum malam tiba. Entah dia itu robot atau apa? Dia tidak pernah


mengistirahatkan tubuh dan pikirannya barang sejenak. Ia selalu menyibukan diri


dengan semua pekerjaannya tanpa memikirkan kehidupan pribadinya.


***


Dr. Frans sudah dua minggu di rumah, dan kini jadwalnya untuk


menemui Ara.Rendi sudah menjemputnya pagi ini.


“Lo semangat sekali bro ...?’ tanya dr. Frans yang sudah masuk ke


dalam mobil Rendi.


“Ini sudah menjadi tugas gue, jadi diam dan jangan cerewet ...”


Rendi pun segera menyalakan kembali mesin motornya. Mungkin ada alasan lain


kenapa dia sesemangat itu. Beberapa kejadian akhir-akhir ini cukup mempengaruhi


hidupnya.


Mereka menemui Ara tanpa sepengetahuan Agra.


 Agra sudah habis kontraknya


di kafe milik Jerry, walaupun sudah tak bekerja di kafe tapi ia lebih sering


keluar karena sedang gencar-gencarnya mencari klien untuk di promosikan


perusahaannya dan juga mencari infestor yang bersedia menyuntikkan dana bagi


usahanya yang akan di rintis. Hal itu di manfaat kan oleh Rendi untuk bisa


bertemu dengan Ara tanpa di ketahui oleh Agra.


Mobil mereka berhenti tepat di depan kafe baru milik Agra. Dr.


Frans dan Rendi pun segera turun. Mereka masuk ke dalam kafe


 “pagi nona ...” sapa Rendi


saaat memasuki toko karena kebetulan Ara sedang melayani pelanggan


“pak rendi, dokter Frans ...” Ara terkejut dengan kedatangan


tamunya secara tiba tiba “selamat pagi, ada apa kalian datang ke sini? Apa ada


yang bisa saya bantu?”


“boleh kita bicara sebentar nona” lagi-lagi Rendi bersikap formal


sedikit membuat Ara tidak nyaman


“baiklah, mari ke dalam ...” Ara mengajak dua sahabat suaminya ke


dalam ruangan yang di ubah sebagai kantor, Ara berjalan mendahului mereka


berdua. Pandangan Rendi sesekali mencari sosok yang cukup mengganggunya


akhir-akhir ini. Dimana dia? Hingga sampai di depan pintu, ia tak menemukannya.


Akhirnya Rendi memutuskan untuk masuk.


“silahkan duduk” Ara menyuruh Rendi dan Frans untuk duduk di sofa


ruangan itu


pemeriksaan kandungan Ara. Tapi karena terlalu mendadak, Ara pun meminta untuk


menundanya. Ia akan datang sendiri ke klinik dokter Frans besok.


“baiklah nona, kami permisi” Rendi pun segera beranjak dari


duduknya. Ia tidak ingin membuat hatinya menjadi dilema lagi. Hatinya sekarang


sudah cukup kuat untuk menerima semuanya. Ia tak mau hati yang belum tertutup


sempurna itu akan kembali terbuka.


“kenapa sih harus buru-buru, aku kan masih pengen ngobrol banyak


sama kakak ipar” tolak dr. Frans . ia tampak keberatan untuk meninggalakan Ara.


Maksudnya meninggalkan ruangan itu.


“mau gue jitak pala lo ....”bisik Rendi sambil menghunuskan tatapan


tajam. Membuat dr. Frans bergidik ngeri.


“ok bro santai bro ...., ya udah kakak ipar, kami permisi dulu”


“Mari saya antar ...” Ara mengantar mereka keluar dari dalam


ruangan hingga sampai di depan. Mata Rendi tidak fokus, ia seperti sedang


mencari seseorang. Seseorang yang beberapa bulan ini selalu mengganggunya.


Bohong bila Rendi bilang itu tidak ada pengaruhnya, bukan cinta tapi rasa


penasaran sejauh nana gadis itu akan memperjuangkan hatinya.


“kakak ...” Nadin yang baru saja sampai dari kampus tak menyadari


ke datangan tamu kakaknya, ia yang bermaksud ingin memeluk kakaknya segera di


urungkan. Ya sepertinya gadis yang sudah di tunggu nya datang juga.


Dia datang ...” Batin Rendi. entah kenapa hatinya


menghangat. Tapi segera ia alihkan kembali.


“siang ...” akhirnya mau tak mau Nadin menyapa kedua tamu kakaknya.


Dan seperti biasa , Rendi tak terpengaruh sama sekali dengan


kedatangan Nadin,mungkin. berbeda dengan dokter Frans, dia lebih humbel, ia


dengan senyumnya menyapa Nadin.


“ihhh..., dasar es batu ...,lihat aku sebentar saja kenapa sih ...?”batin nadin


bergidik ngeri menatap tatapan dingin Rendi. tapi kenapa dia begitu ingin di


perhatikan?


“hai ...., adiknya kakak ipar ya, kita ketemu lagi” sapa dokter


Frans dengan senyum yang tak pernah memudar dari bibirnya.


“iya dokter ...” jawab Nadin dengan senyum yang di paksakan karena


senyum  yang sesungguhnya sudah terlanjur


menguap bersama tatapan dingin Rendi. orang yang di harapkan tersenyum padanya


tak pernah memberikan  padanya. Sakit


memang jika orang yang kita harapkan menyapa kita, tak sedikitpun senyum ia


berikan. Tapi itu tantangannya.


“kenalkan saya dokter Frans, jika kamu lupa” dokter Frans


mengulurkan tangannya tangan dokter Frans , Nadin hampir saja meraih tangan dr.


Frans, tapi Rendi sudah terlebih dulu menarik bahu dokter Frans untuk menjauh.


“kami permisi dulu nona” seakan tak mendengarkan gerutu dan cacian


dokter Frans, Rendi terus saja menarik tubuh dokter Frans ke dalam mobil.


Ayo ..., sekarang liat aku ...., jika sekali saja kamu berbalik


liat aku. Maka aku anggap kau setuju jika aku mengejar cintamu..., ayo ...ayo


...” Batin


Nadin yang terus menatap kepergian Rendi dan dr. Frans. Ara yang melihat


tingkah adiknya hanya bisa menerka-nerka apa yang terjadi.


Dan ternyata harapannya tak sia-sia. Rendi membuka pintu mobilnya.


Tapi tanpa aba-aba, dia menoleh menatap Nadin. Mata mereka bertemu sejenak.


Nadin seperti telah mendapat jawaban, ia tersenyum bahagia. Sedang Rendi


kembali melanjutkan untuk masuk ke dalam mobil.


“kamu kenapa dek ...?” pertanyaan ara membuyarkan lamunan Nadin


yang terus menatap ke arah mobil yang di tumpangi Rendi dan dokter Frans hingga


menghilang di ujung jalan


“aku kesel banget kak, tiap kali liat es batu tuh bawaannya pengen


ngejambak rambutnya yang nggak pernah berantakan biar berantakan”


“kesel kok senyum-senyum sih dek, siapa sih dek?”


“enggak siapa yang senyum? ya itu siapa lagi, si es batu...,


detektifnya kak Agra”


“Rendi?”


‘iya ....”


“kakak sebenernya juga sebel sih kak, dia kayak robot”


“Iya ..., tapi bikin penasaran.”


 “Penasaran.?” tanya Ara.


“Enggak ..., lupakan”


“Awas ..., nanti jatuh cinta ...”


“Nggak mungkin ....” Nadin pun segera berlalu meninggalkan


kakaknya. Ia tidak mau kakaknya menyadari bahwa dia menyukai Rendi. “Tidaaak


....!”


“Apa wajahku tampak jelas ...” gumam Nadin sambil mengenakan


clemeknya setelah menaruh tasnya. Ia kan memulai perannya sebagai pelayan kafe.


***


“eh ..., cewek manis itu, terus menatap lo ..., apa lo nggak


sadar?” tanya dr. Frans .


“Nggak ...” jawab Rendi singkat.


“Lo nggak peka atau apa sih ...?” tanya dr. Frans gemas pada


tingkah sahabatnya. Tapi sahabatnya itu memilih diam tak menanggapi ucapannya,


membuat dr. Frans begitu kesal.


“Terserah lo lah ..., masa bodo ..., hidup hidup lo, kenapa gue


yang repot ...”


***


“Turun ...” ucap Rendi setelah meminggirkan mobilnya.


Dr. Frans pun mengedarkan pandangannya. “Ini di mana?”


“Di jalan ...”


“Lo tega nurunin gue di jalan?”


“Gue ada urusan, lo naik taksi aja pulangnya ...”


“Lo bener-bener tega ya ...” gerutu dr. Frans sambil membuka pintu


mobil. “Lo beneran nurunin gue di sini ...?”


“Iya ..., ayo cepetan turun. Ada hal penting yang harus gue


kerjakan.”


Mau tak mau dr. Frans pun turun dari mobil sambil mengutuki tingkah


sahabatnya itu. Rendi pun segera menjalankan kembali mobilnya.


“Dasar ..., nggak waras lo ...., gue harus naik apa ini? Ini juga


di mana lagi?” gerutu dr. Frans sambil mencar-cari kontak seseorang.


***


"**Cinta itu layaknya angin, aku tidak bisa melihatnya tetapi aku bisa merasakannya." (Nicholas Sparck)


. "Cinta bukanlah bertahan seberapa lama. Tetapi seberapa jelas dan ke arah mana"


BERSAMBUNG


Jangan lupa kasih dukungan ke Author dengan memberikan LIKE dan KOMENTARnya ya


Kasih Vote juga ya


Terimakasih


Happy Reading 😘😘😘😘😘**