
Sepanjang perjalanan Nadin masih tetap terdiam, ia masih
begitu marah dengan kepolosan suaminya itu, apa lagi saat matanya tanpa sengaja
bertemu dengan pria yang sedang mengemudi di depan, wajahnya langsung memerah
karena malu.
Nadin memilih menatap ke luar, membuat Rendi kesal. Rendi
segera meletakkan layar datarnya di sampingnya dan menggeser duduknya agar lebih
dekat dengan Nadin.
“Memang apa yang menarik di luar?”
“Lebih menarik dari pada melihat seseorang!” jawab Nadin
ketus.
“Baiklah …, jangan melihatku!” ucap Rendi dingin.
Ah …, sial aku lupa kalau suamiku ini balok es …, mana tahu
dia kalau aku sedang marah …., bukannya membujukku dia malah balik mendiamkan ku
….
Nadin jadi kesal sendiri, awalnya ia hanya ingin memancing
suaminya untuk bisa bersikap romantis tapi ternyata salah. Dia malah kena
batunya sendiri.
Akhirnya Nadin tertidur, ia menyandarkan pundaknya pada
Rendi, Rendi segera menoleh ke istrinya. Melihat istrinya sudah tertidur, Rendi
mengelus kepala Nadin dan mengecupnya.
Perlahan Rendi memegang kepala Nadin dan merebahkannya ke
dalam pangkuannya, menaikkan kakinya hingga Nadin merasa nyaman, sepertinya
Nadin benar-benar kecapekan, hingga membuatnya tak terbangun walaupun Rendi
memindahkan Nadin hingga posisi tertidur.
Butuh waktu lima jam untuk sampai di Jakarta, Rendi
merasakan kakinya sudah kesemutan. Tapi Nadin tak juga bangun, masih lama untuk
sampai, kasihan kalau di bangunin.
“Memang senyaman itu ya , tidur di atas pangkuanku ….!” ucap Rendi sambil memperhatikan wajah tenang Nadin, bisa melihat wanita itu kembali dalam hidupnya adalah sebuah kebahagiaan.
Anak buahnya yang berada di balik kemudi, menatap Rendi dari
kaca depan, wajah Rendi sudah tidak setenang tadi.
“Apa perlu kita berhenti sebentar, pak?”
“Tidak usah, tinggal satu jam lagi kan?!”
“Iya pak!”
“pelan saja ….!” Rendi tidak mau membuat Nadin terbangun, walaupun kakinya sudah sangat kram.
“Baik!”
Kali ini Rendi tidak membawa Nadin ke apartemen, ia membawa
Nadin ke rumah Salman. Sebelum pulang ia sudah menghubungi keluarga, hingga
kini semua keluarga berkumpul di rumah Salman, begitu juga keluarga ayah Roy
yang tidak tahu menahu jika Nadin sedang di culik.
Mereka berhenti di depan rumah besar itu. Tepat saat Nadin
terbangun.
“hah …, kenapa aku tidurnya seperti ini?” ucap Nadin
terkejut saat mulai membuka matanya.
“Bangunlah …!” ucap Rendi dingin.
Nadin pun segera bangun dari atas pangkuan Rendi.
“kita sudah sampai ya mas? Kok cepet sekali sih …!”
“kau itu tidur, jangankan setahun, satu windu pun kalau kau
tidur akan terasa sebentar!”
“dia sewot sekali!” gumam Nadin kesal, ia pun hendak turun,
tapi saat sudah melangkahkan kakinya keluar, ia menoleh dan melihat Rendi
masih berada di posisinya.
“Mas …, kenapa tidak turun?”
“Turunlah dulu …!”
“Kenapa?”
“Jangan banyak bertanya!”
"Aku kan hanya Tanya!” gerutu Nadin sambil berjalan keluar
dari mobil. Rendi masih betah di dalam karena kakinya masih kesemutan, ia
bahkan kesulitan untuk menggerakkan kakinya.
Nadin melihat semua orang sudah menyambutnya di depan pintu,
ayah Roy yang baru saja tahu jika putrinya itu di culik segera memeluk
putrinya.
“Ayah …!”
“Maafkan ayah nak …, ayah nggak bisa jagain kamu, apa yang
sakit nak?”
“Ayah …, nadin nggak pa pa ….!”
Ara pun melakukan hal yang sama, ia memeluk adiknya itu dan
mencurahkan kekhawatirannya. Bahkan Agra tidak pernah menceritakan masalah
penculikan Nadin padanya, membuat Ara kesal dengan suaminya itu.
“Mana Rendi?” Tanya Ara saat tak mendapati Rendi turun dari
mobil.
“Masih di mobil!”
“kenapa?”
“Aku nggak boleh banyak Tanya!”
tertawa, Agra yang tak kalah hebohnya tertawa. Sagara dan sanaya segera lengket
sama auntynya.
🌺🌺🌺🌺🌺
Setelah kepulangannya, Rendi sengaja mengajak menginap nadin
di rumah ayahnya untuk sementara waktu, ia harus memulai bekerja di perusahaan
ayahnya. Walaupun awalnya ia mengundurkan diri karena Alex, tapi akhirnya Rendi
yakin untuk lepas dari finityGroup. Ia memilih melanjutkan perusahaan milik
ayahnya, walaupun tak sebesar finityGroup tapi perusahaan milik Salman cukup
di segani di dunia bisnis. Ia yakin untuk mengundurkan diri karena merasa Agra
sudah cukup tangguh dalam menghadapi segala masalah, walaupun ia masih
mengawasi dan membantu Agra, tapi tak bisa seperti sebelumnya.
Ayah salman memperlakukan Nadin begitu baik, ia bahkan
sangat memanjakan Nadin, berbeda sekali dengan Rendi. Dulu masa kecil Rendi
bahkan ayah Salman mendidik Rendi begitu keras, hingga Rendi tumbuh menjadi
pribadi yang sangat dingin.
Sebelum pergi Divta menemui Nadin di rumah ayah Salman,
walaupun ia tahu mungkin Rendi tidak akan suka, tapi ia melakukannya juga. Sore
nanti ia akan berangkat, ia tidak bisa menunda lagi.
Divta duduk di sofa ruang tamu, ia menunggu seseorang yang
sedang di panggilkan oleh art rumah itu. Ayah salman yang baru saja selesai
berolah raga hendak menuju ke dapur menghentikan langkahnya saat melihat Divta
di sana.
“Divta ….!’
“Paman!”
Divta berdiri dari duduknya dan menyambut ayah salman yang
menghampirinya.
“Ada apa?”
“maaf paman menggangu pagi paman, saya kesini untuk bertemu
dengan Nadin sebelum saya pergi!”
“Kenapa?”
“Ada yang ingin saya katakana!”
Ayah Salman tampak termenung, ia sebenarnya tidak rela
membiarkan menantunya bertemu dengan pria lain yang ia tahu menaruh hati
terhadap menantunya itu. Tapi ia termasuk atasannya karena bagian dari keluarga
Wijaya.
Rendi yang baru saja selesai mandi , ia mengeringkan
rambutnya dengan handuk yang masih melilit bagian bawah rubuhnya. Sedangkan
Nadin sedang sibuk merapikan tempat tidur tiba-tiba pintu di ketuk membuat
keduanya menghentikan aktifitasnya.
Rendi memberi isyarat pada nadin untuk diam di tempat, ia
yang akan membuka pintu itu. Tapi saat melihat penampilan Rendi, Nadin langsung
berlari menghampiri pintu terlebih dulu.
“Ada apa?’ Tanya Rendi tak mengerti.
“Lihat …, mas Rendi masih telanjang, mau menggoda bi Surti?”
ucap Nadin dengan memelototkan matanya. Rendi hanya tersenyum tipis seperti
biasanya.
Nadin pun segera membuka pintu, dan menutup tubuh Rendi agar
tidak terlihat dari luar, bahkan ia hanya membuka separoh pintunya.
“Ada apa bi?”
“Maaf non menggangu, di bawah tuan Divta menunggu anda!”
“Saya?”
“Iya!”
“Ya udah saya akan ke bawah!”
Setelah bibi itu berlalu, Nadin kembali menutup pintu.
Melihat Rendi menatapnya begitu tajam. Ia tahu pasti masalah Divta yang ingin
menemuinya.
“Dia cuma pengen bertemu mas!”
“Denganku!”
“Dia maunya bertemu denganku mas!”
“Boleh …, tapi bertiga!”
‘terserah lah …!”
Akhirnya Rendi dengan cepat memakai bajunya, ia tidak mau
sampai Nadin menemui Divta sendiri. Setelah selesai mereka pun segera turun.
Ayah Salman masih bersama Divta, tapi saat melihat Rendi dan Nadin turun, ayah
salman pun berpamitan ke dalam.
“Itu Nadin dan Rendi sudah turun, kalian mengobrolah dengan
santai, saya ke dalam dulu …!”
“iya paman, terimakasih!”
Bersambung
Follow Ig aku ya
Tri.ani5249
Happy Reading 😘😘😘😘