MY BLOCK OF ICE

MY BLOCK OF ICE
Kenapa aku kesal?



Malam ini Nadin


tak bisa tidur. Ia dengan setia menemani Ayahnya yang sedang sakit. Ia


sebenarnya sudah mengabari kakaknya. Tapi ia tak mau terlalu berharap banyak


kedatangan kakaknya. Ia sudah melihat sendiri bagaiman susahnya kakakny keluar


dari rumah besar itu.


Tapi tiba-tiba


ia di kejutkan dengan suara ketukan pintu.


Tok tok tok


“Siapa


malam-malam kesini? Jangan-jangan kakak nekat datang malam-malam ...” gumam


Nadin sambil berjalan menuju ke arah pintu. Kemudian ia menoleh ke arah jam


dinding.


“jam sepuluh


malam.”


Suara pintu di


ketuk kembali terdengar. Mengharuskan Nadin mempercepat langkahnya.


“ya ...,


sebentar ...”


Nadin pun


segera membuka pintu. Ia begitu terkejut saat melihat siapa yang datang. Pria


itu, pria yang akhir-akhir ini memenuhi pikirannya. Kenapa dia datang kemari?


“Pak- Pak Rendi


...” ucap Nadin begitu gugup, entah kenapa hatinya menghangat.


“selamat malam


. maaf mengganggu istirahat anda. Saya kesini membawa dokter untuk ayah anda.”


Ucap Rendi dingin.


“Dokter ...?”


“Perkenalkan


nona cantik, saya dokter Frans.” Dokter Frans tiba-tiba muncul di belakang


Rendi. membuat Nadin mengalihkan tatapannya dari pria di depannya.


“Apa kita akan


tetap di luar?” pertanyaan dokter Frans seketika menyadarkan Nadin. Nadin pun


segera mempersilahkan mereka masuk.


Saat dokter


Frans sendang memeriksa ayahnya. Ia menemani Rendi di luar kamar. Karena kamar


ayahnya sempit. Akan sangat sempit jika semua masuk ke dalam kamar.


“Pak Rendi ...,


apa kau mengingatku?” tanya Nadin tiba-tiba.


“Tidak.” Ucap


Rendi singkat. Membuat Nadin sedikit kecewa.


“Benarkah ...?”


Nadin memastikan.


“ya ..”


lagi-lagi Rendi hanya menjawab singkat tanpa menatap Nadin.


“kenapa dia


kaku sekali, masak dia tidak ingat pernah menabrakku. Seharusnya dia ingak


kan.” Batin Nadin kecewa.


Tapi belum


sempat Nadin melontarkan pertanyaan lagi. Dokter Frans sudah lebih dulu keluar


dari dalam kamar.


“Ini resep obat


untuk ayah anda nona manis.” Ucap Dokter Frans sambil menyerahkan selembar


kertas.


“Terimakasih


dokter.”


“ya sudah kami


harus pergi.” Ucap Rendi dingin. Nadin pun segera mengantar mereka ke depan


rumah. Tapi langkah mereka terhenti saat melihat sosok yang tidak asing sedang


duduk di teras rumah Nadin.


“kak Dio ...”


“Nadin ....,


aku dapat kabar dari karyawan ayah kamu. Katanya ayah kamu sakit. Makanya aku


datang ke sini.” Ucap Dio sambil menunjukkan wajah simpatinya.


“terimakasih


kak, karena kakak peduli pada ayah..., tapi saat ini ayah sedang istirahat. Kak


Dio bisa kembali besok ...” ucap Nadin. Ia menatap wajah dingin Rendi. ia


merasa tidak enak pada Rendi dan Dokter Frans.


“Mereka ...?”


tanya Dio saat menatap Rendi dan dokter Frans. Emosinya cukup terpancing saat


mengenali Rendi.


“kenapa dia di


sini? Apa dia menyukai Nadin?” batin Dio.


“Dia dokter


Frans. Dokter yang memeriksa ayah.” Nadin berusalah menjelaskan.


“Lalu dia?


Kenapa dia juga di sini?” Dio menunjuk tidak suka pada Rendi. rendi pun


demikian, ia memberi tatapan permusuhan pada Dio.


“Dia pak Rendi.


tangan kanan kak Agra. Suami kak Ara.”


“Aku sudah tahu


..., maksudku kenapa dia di sini?”


“Saya rasa itu


bukan urusan anda. Saya tak ada urusan dengan anda.” Ucap Rendi setelah sekian


lama terdiam. Mendengarkan bagaimana cara gadis kecil di depannya itu bisa


menjelaskan.


“Dan anda ....,


saya lihat anda cukup pandai untuk bisa memahami ucapan Nadin ..., akan sangat


tidak etis jika anda berlama-lama di sini. Saya permisi ...” ucap Rendi yang


terkesan menyindir Dio. Rendi pun meninggalkan Nadin dan Dio. Dokter Frans


hanya bisa mengikuti Rendi dengan gerutunya.


Setelah Rendi


menaiki mobilnya dan meninggalkan halaman rumah Nadin. Nadin pun kembali


menatap Dio.


“Kak ....,


sebaiknya kakak pulang deh ..., ini sudah malam.” Minta Nadin.


“Baiklah ...,


aku akan kembali besok pagi ... aku pamit, jaga dirimu.” Nadin pun hanya


mengangguk dan membiarkan Dio berlalu dari hadapannya.


***


Di dalam mobil.


Dokter Frans tak hentinya menggerutu.


“kenapa aku


jadi kesal sendiri ya sama dia?.” Ucap dokter Frans setelah capek menggerutu.


Sedangkan orang di sebelahnya hanya diam saja.


“Kenapa kau


diam saja?” tanya dokter Frans yang menyadari jika sahabatnya itu tak


“aku sedang


malas bicara.”


“jangan bilang


kau juga kesal pada pria itu?” tanya dr. Frans


“Sedikit.”


Lagi-lagi jawaban irit keluar dari mulut Rendi.


"Kenapa aku kesal padanya?


“Kenapa?”


Hening


Hening


Hening


“Kenapa kau


tidak menjawabku?’ tanya dr. Frans kesal.


“Ngak perlu di


jawab juga.”


“heh ..., dasar


kau ini ..., nggak seru ..., ternyata adik kakak ipar cantik juga ya, manis,


lucu ...” ucap dr. Frans sambil membayangkan wajah Nadin.


“ya ...”


ternyata Rendi meresponnya tanpa sadar. Membuat dr. Frans terkejut. Ia segera


menatap Rendi yang fokus dengan jalanan.


“apa kau


menjawabku tadi ...?’ tanya dr. Frans tak percaya.


“tidak ....”


tapi lagi-lagi Rendi tak mengakuinya. Membuat Frans begitu kesal.


***


Ya seperti yang


di katakan Dio pun keesokan harinya datang lagi. Tapi untung saja kedatangannya


tidak bersamaan dengan kedatangan kakak dan suaminya.


Nadin yang


hendak pergi ke luar, harus terhenti karena Dio.


“Mau ke mana


Din?” tanya Dio yang menghentikan motornya tepat di samping Nadin.


“kak Dio ...”


Nadin pun menghentikan langkahnya. “aku mau ke pasar.”


“Biar aku antar


ya ...?” tawar Dio. Nadin enggan untuk menerima tawaran Dio. Ia berusaha


mencari alasan. Dan tepat saat itu sebuah mobil yang sangat Nadin kenal


melintas di depannya.


“Nggak usah


kak, itu udah di jemput.”


Tanpa berpikir


panjang. Nadin pun segera menghentikan mobil yang sedang melaju itu. Untung


saja mobil tidak melaju terlalu kencang. Membuat pengemudinya dengan mudah


menginjak pedal rem.


Pengemudi mobil


pun segera membuka kaca mobil. Ternyata seorang berwajah dingin itu yang tampak


di sana. Nadin tersenyum.


“Kak ..., aku


duluan ya ...” pamit Nadin pada Dio. Sedangkan Rendi masih di buat bingung.


Sebelum kebingungannya hilan. Kaca sebelahnya sudah di ketuk.


“Pak buka ...”


ucap Nadin sedikit berbisik dengan mendekatkan wajahnya pada kaca mobil di


sampingnya. Mau tak mau Rendi pun membukanya. Tak butuh waktu lama gadis kecil


itu sudah duduk di sampingnya.


“ayo berangkat


...” ucap Nadin tampa mempedulikan wajah Rendi yang masih terlihat bingung.


Rendi pun


akhirnya menjalankan mobilnya. Saat sudah jauh dari jangkauan Dio. Rendi pun


menepikan mobilnya kembali.


“Kenapa


berhenti pak?” tanya Nadin bingung.


“seharusnya


saya yang bertanya. Kenapa tiba-tiba ...” belum selesai Rendi bicara . Nadin


sudah lebih dulu memotong.


“STOP pak ...,


maaf pak, sebenarnya aku tak ada cara lain. Aku bingung. Aku nggak mau bareng


sama kak dio. Kebetulan pak Rendi lewat. Makanya aku langsung menghentikan


mobil bapak. Kalau sampai aku bareng sama kak Dio lagi aku takut baper. Aku


pernah cinta sama dia pak.  Tapi kak Ara


sudah melarangku dekat dengannya. Jadi aku harus bagaimana dong kak.”


Ucapan Nadin


yang panjang lebar seketika membuat Rendi syok.


“sungguh


cerewet sekali bocah ini ...., ampun deh ..., kenapa pagi-pagi sudah ketemu


sama yang beginian.”Batin Rendi. Rendi memijat keningnya. Merasa pusing mendengar


ucapan Nadin.


“Lalu sekarang


mau ke mana?”


“Jadi bapak mau


mengantarku?”


“Ya ...”


“Kalau begitu


aku ikut bapak saja ya ...” ucap Nadin sambil mengerlingkan matanya.


“TIDAK .” jawab


Rendi tegas.


“Yah ...,


padahal aku tadi berharap sekali ...”


“Berharap apa?”


“bisa bareng


sama pak Rendi. ya udah deh antar aku ke mana saja. Asal nggak ketemu sama kak


Dio.”


“dasar bocah


labil ..., memang aku beby sisternya apa.”


“aku antar kamu


ke kampus.”


“Baiklah


...” Akhirnya Nadin menyerah. Setidaknya ia bisa duduk satu mobil sama


idolanya.


****


“Pernah berjuang lalu dipatahkan, pernah berharap lalu dikecewakan. Sakitkah? Bersabarlah. Tuhan tak tidur, hidupmu sudah diatur. Berusaha saja, berdoa saja. Semuanya akan baik-baik saja.”


BERSAMBUNG


JANGAN LUPA LIKE , KOMENT DAN VOTE NYA YA


PLIIIIIISSSSS 🙏🙏🙏🙏🙏