MY BLOCK OF ICE

MY BLOCK OF ICE
Telur Rebus



Wajah tegang menghiasi setiap langkah pria dengan jas hitam yang


selalu melekat di tubuhnya, ia melangkah sedikit terburu-buru di ikuti beberapa


anak buahnya, entah apa yang di pikirkannya, tapi yang jelas ia sedang ingin


menemui seseorang. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi.


Ia berhenti di depan sebuah ruangan dengan pintu besar yang di


depannya sudah berjajar 4 penjaga dengan pakaian yang sama, jas hitam dan kaca


mata hitam.


“dimana tuanmu?” tanyanya gusar.


“Anda tidak di perbolehkan masuk.” Ucap penjaga itu.


“Aku akan memaksa masuk.”


Tapi tetap saja mereka menghalangi langkah Rendi dan anak buahnya,


mengakibatkan terjadi baku hantam.


Tiba-tiba pintu yang sedari tadi tertutup. Kini terbuka, dua pria


dengan wajah yang mirip itu keluar dari sana. Rendi segera mengentikan


perkelahiannya saat salah satu dari mereka menghentikan.


 “berhenti ...” teriakan


Divta mengentikan perkelahian mereka


Rendi pun segera menghampiri Agra yang berdiri tak jauh dari tempat


berdiri Divta


“lo nggak pa pa?” belum sempat Agra menjawab pertanyaan Rendi ,


Divta pun segera angkat bicara


“sebegitu pengecutnya ya ternyata singa yang di gadang gadang jadi


penerus finityGroup, sampai kemana-mana harus di lindungi oleh anjing


peliharaan ibunya, benar-benar anak mami” ucapan Divta seketika memancing emosi


Rendi, melihat Rendi yang hendak melayangkan tinjunya ke arah Divta, Agra pun


segera menangkisnya


“buat apa lo ke sini? Gue nggak butuh kalian” ucapan Agra sedikit


meredam amarah Rendi


“siapa yang nyuruh lo ke sini?” tanya Agra lagi pada Rendi, sedang


Divta sudah tersenyum puas melihat perdebatan dua sahabat itu


“tadi Ara yang menghubungi gue buat nyusul lo ke sini”


“Ara ...?” Agra mengerutkan keningnya


“oh jadi sekarang istri kamu juga jadi tameng ya ...” ucapa Duvta


segera membuat Agra dan Rendi mengalihkan pandangan mereka ke arah Divta, ada


sebuah pertanyaan dari pandangan mereka berdua


“wooo wooo wooo ...., sabar ......” ucap Divta santai menanggapi


tatapan mereka berdua.



“yah aku sudah ketemu sama istri kamu beberapa kali, PUTRI AULYA


ZAHRA, di panggil Ara, mantan sekertaris mu kan” Divta menatap Agra dengan


sedikit senyum licik di bibirnya


Mendengar ucapan Divta, Agra pun segera menghampiri Divta dan


menarik kerah baju Divta, mendorongnya hingga punggung Divta membentur ke


diding


“jangan macam-macam sama istri aku, urusan abang Cuma sama aku ...”


teriak Agra


“santai ...., aku belum melakukan apapun pada istrimu, aku Cuma


perkenalan saja dan sedikit peringatan, tapi aku tak janji untuk prtemuan kami


selanjutnya” ucap Divta sambil senyum , walaupun mata Agra sudah melotot,


dengan tangan yang mengepal sempurna siap di layangkan, dan benar saja


Bug


Sebuah tinjuan berhasil mendarat di pipi Divta, hingga ujung


bibirnya sedikit mengeluarkan darah, melihat majikannya di pukul, anak buah


Divta hampir menyerang Agra, tapi gerakan tangan Divta yang menyuruh mereka


tidak bertindak membuat mereka berhenti


“ini belum saatnya...” ucapnya dengan tangan sebelahnya mengusap


darah segar yang menggenang di sudut bibirnya


“ku peringatkan kau..., jangan libatkan Ara dalam urusan kita, jika


sampai itu terjadi, aku benar-benar tidak akan memaafkanmu” ucap Agra sambil


mendorong keras tubuh Divta hingga sedikit terhuyung tapi tak membuatnya jatuh


Agra pun segera meninggalkan tempat itu, di ikuti oleh Rendi dan


anak buahnya.


***


Nadin yang mendengar dari kakaknya bahwa Rendi baru saja berkelahi


karena membela Agra, ia pun meminta ijin untuk tidak datang ke kafe. Ia mencari


tahu keberadaan Rendi dari kakaknya dengan berbagai alasan.


Akhirnya Nadin menemukan apartemen Rendi. Nadin pun segera mengetuk


pintu apartemen milik Rendi. dan tak lama pintu pun terbuka.


“Siapa ya?” tanya seorang yang membukakan pintu. Wanita paruh baya


itu nampak seperti asisten rumah tangga.


“Saya Nadin bik, apa benar ini apartemen pak Rendi?”


“Iya ...”


“Boleh saya masuk?”


“Tapi maaf nona, pak Rendi tidak pernah mau menerima tamu.”


“Sebentar saja bik, aku Cuma mau melihat keadaan pak Rendi saja.”


Di tengah perdebatan di depan pintu itu. Rendi yang baru saja


membersihkan badannya, karena mendengar keributan segera keluar dari kamarnya.


“Ada siapa bi?” tanya Rendi sambil berjalan menuju ke arah pintu,


karena tidak fokus menahan Nadin agar tidak masuk. Nadin pun memanfaatkan


kesempatannya untuk masuk ke dalam apartemen.


“Saya pak, saya mau lihat keadaan bapak.” Ucap Nadin dengan senyum yang selalu merekah di bibirnya.


“Kamu ...” Rendi terkejut dengan kedatangan Nadin, bagaimana dia


bisa tau alamat apartemennya?


“Maaf tuan, saya sudah berusaha menahannya, tapi nona ini keras


kepala.” Ucap asisten rumah Rendi.


“Tidak pa pa, jika pekerjaan bibi sudah selesai, bibi boleh pergi.”


“Baik tuan, saya permisi.” Bibi itu meninggalkan Nadin dan Rendi.


ya Rendi hanya menyewa asisten rumah untuk membersihkan rumah saja, jika sudah


selesai dengan pekerjaannya maka asisten itu akan meninggalkan apartemen, Rendi


tidak suka banyak orang di apartemennya. Ia lebih suka melakukan semuanya


seorang diri.


“Kenapa kau ke sini?’ tanya Rendi sambil berjalan menuju ke sebuah


sofa, ia segera mendudukkan bokongnya.


sangat bagus, pak Rendi sendiri ya yang merancang arsiteknya?” ucap Nadin


sambil berjalan mengitari apartemen Rendi tanpa memperdulikan pertanyaan Rendi..


membuat Rendi begitu kesal.



“Jawab pertanyaanku” ucap Rendi tegas. Nadin pun mau tak mau


berjalan mendekati Rendi. ia duduk di depan Rendi, ia berjongkok di depan


Rendi.


“Aku mendengar dari kakak, jika pak Rendi baru saja berkelahi,


makanya aku segera ke sini, apa pak Rendi baik-baik saja?” tanya Nadin sambil


mengamati wajah Rendi, ada sedikit lebam di sana.


“Seperti yang kamu lihat, aku baik-baik saja. Jadi sekarang kamu


boleh pergi.’ Ucap Rendi.


“Aku nggak akan pergi sebelum memastikan semuanya baik-baik saja.


Lihat ada lebam di pipi pak Rendi, biar aku obati dulu, aku akan mengambilkan


P3Knya, di mana obatnya pak?” ucap Nadin sambil berdiri dari duduknya.


“Hentikan.” Ucap Rendi sambil menahan tangan Nadin, sehingga Nadin


tak bisa berpindah dari tempatnya. “Sebenarnya apa yang kau inginkan?”


Nadin terdiam, ia menatap Rendi dengan sendu. Keceriaannya hilang


saat melihat Rendi yang seperti itu.


“Ada banyak yang aku inginkan, pak. Tapi untuk saat ini aku yakin


pak Rendi tidak akan bisa memberikannya.” Ucap Nadin, lalu melepaskan genggaman


tangan Rendi. “Biarkan aku mengobatimu.” Ucap Nadin lagi, lalu berjalan mencari


kotak P3K.


“Kotaknya ada di laci paling atas di samping meja dapur.” Ucap


Rendi saat melihat Nadin kebingungan mencari kotak obatnya.nadin tersenyum saat


Rendi mau memberi tahunya.


Tak berapa lama, Nadin sudah kembali dengan kotak obatnya. Ia


kembali berjongkok di depan Rendi, Nadin mengambil alkohol dan kapas. Dengan


telaten Nadin mengoleskan alkohol itu ke luka Rendi dan mengoleskan salep agar


lebam dan lukanya cepat mengering.


Rendi hanya bisa diam-diam memperhatikan Nadin.



Kenapa perhatian ini ..., aku menyukainya, mata itu..., kenapa


begitu lembut? Batin Rendi.


“Sudah selesai ...” Nadin sudah memberi obat luka supaya lukanya


cepat kering. Ucapan Nadin segera menyadarkan Rendi.


“Jika sudah selesai, kau boleh pergi.” Ucap Rendi dingin. Dan


mencoba menghindari tatapan Nadin. Ia takut terjebak dalam tatapan itu.


“Tidak ..., aku belum selesai, aku tadi lihat di dapur tak ada


makanan, jadi aku harus memasak dulu untuk pak Rendi, soalnya kata ayah, jika


membantu orang harus sampai tuntas nggak boleh setengah-setengah.”


Nadin pun tanpa menunggu persetujuan Rendi, ia segera menuju ke


dapur, ya ruangan dapur dan sofa yang di duduki Rendi tidak ada sekat sama


sekali, jadi dapat dengan leluasa menatap Nadin.


Nadin terlihat bingung di sana. Ia tidak tahu harus memasak apa. Ia


pun menoleh pada Rendi.


“Pak ..., apa makanan kesukaan pak Rendi?’ tanya Nadin.


“Terserah ...” ucap Rendi.


“Baiklah ..., aku akan memasak apa yang aku bisa.”


Nadin tampak menggunakan clemeknya, membutuhkan waktu tiga puluh


menit untuk menyelesaikan masakannya.


“Tralala ..., makanan sudah siap ...” ucap nadin. Ia membawa


makanannya ke meja dapur. Setelah menyiapkan semuanya, Nadin pun menghampiri


Rendi yang sedari tadi duduk di sofa.


“Pak Rendi mau makan sekarang?’ tanya Nadin.


“Nggak, aku belum lapar ..., kamu boleh pulang sekarang.”


“Nggak bisa gitu dong pak, aku nggak akan pulang sebelum pak Rendi


makan.”


“Dasar keras kepala.”


“Aku akan menonton tv jika pk Rendi belum mau makan.”


“baiklah ..., aku akan memakannya.” Ucap Rendi sambil bangun dari


duduknya, ia pun berjalan menuju ke meja dapur.


Rendi kembali duduk dan di ikuti oleh Nadin.


“Biar aku ambilkan, ya ...” ucap Nadin sambil menyiapkan piring


untuk Rendi.


Nadin pun menuangkan nasi ke dalam piring rendi.


“Sudah, biar aku ambil sendiri.” Ucap Rendi. ia mengambil piringnya


dan membuka lauk yang berada di sebuah mangkuk yang dari tadi di tutup.


Apa yang sebenarnya ia masak ..., batin Rendi penasaran.


Rendi pun segera membukanya,


“Hahhh ..., telur rebus ...?” Rendi begitu terkejut dengan apa yang


ia lihat. Di dalam mangkuk itu hanya ada dua telur rebus yang sudah di kupas.


“Iya ....!” ucap Nadin dengan senyum yang tak pernah hilang dari


bibirnya.


“Kenapa telur rebus?” tanya Rendi.


“Aku Cuma bisa memasak itu, telur rebus, mie instan, telur ceplok,


telur dadar. Kalau kue aku bisa, tapi nggak banyak.”


Astaga anak ini ..., bagaimana aku hanya di suruh makan nasi dengan


telur rebus.


“Makanlah pak!”


Kenapa tanya makanan kesukaanku, kalau yang ia bisa hanya masak


telur rebus. Batin Rendi.


Dengan terpaksa Rendi pun memakannya agar Nadin cepat pergi dari


rumahnya.


***


**Cinta itu bagaikan angin, kau hanya bisa merasakannya tanpa mampu menggenggamnya.


BERSAMBUNG


Jangan lupa kasih dukungan ke Author dengan memberikan LIKE dan KOMENTARnya ya


Kasih Vote juga ya yang banyak ......


Sugeng Maos .....🙏🙏🙏


Matuh nembahnuwon 😘😘😘😘**