MY BLOCK OF ICE

MY BLOCK OF ICE
Bonschap 38 (Dini)



Ia segera ke kafe melakukan pekerjaan seperti biasanya, tidak ada yang istimewa hari ini, kecuali acara makan malam yang di rencanakan oleh orang tuanya.


"Mbak Dini!" sapa Mei yang melihat Dini sedang istirahat.


Dini mengalihkan matanya dari ponsel yang sedang ia pegang, "Iya! Ada apa Mei?"


"Tadi pagi sebelum mbak Dini datang, ibu ke sini!"


Dini mengerutkan keningnya, jika yang di maksud ibu itu mama nya, lalu kenapa mama nya ke kafe pagi-pagi, "Mama?"


Mei mengangguk-anggukkan kepalanya cepat, "Iya!"


"Ngapain?" tanya Dini lagi.


"Dia titip ini buat mbak Dini!" ucap Mei sambil menyerahkan dua paper bag di tangannya kepada Dini.


"Ini apa?"


"Katanya gaun sama sepatu buat mbak Dini, untuk acara nanti malam!"


Serius banget mama ....., jadi penasaran seperti apa orang ya ....., batin Dini.


"Ohhhh ...., makasih ya!" ucap Dini sambil menerima paper bag itu dan meletakkan kembali di sampingnya tanpa berniat untuk membukanya.


Mei mengangguk dan meninggalkan Dini, langkah kakinya sudah hampir mencapai tangga tapi segera kembali lagi.


"Oh iya mbak!" ucap Mei lagi.


Dini dengan malas menatap Mei, "Ada apa lagi?"


"Tadi mamanya mbak Dini tanya, kenapa mbak Dini akhir-akhir ini sering datang telat!"


"Trus kamu jawabnya apa?"


"Nggak tahu mbak!"


"Ok ...., makasih ya! ntar aku yang akan jawab sendiri sama mama!"


"Baik mbak! Aku kerja lagi ya!"


"Iya sudah sana, jangan ganggu!" ucap Dini sambil mengibaskan tangannya, dan Mei hanya menanggapinya dengan tertawa.


Sore ini seperti yang di rencanakan, Dini tidak pulang atau ke rumah Ajun. Ia sudah berganti baju menggunakan gaun yang di belikan mamanya,


"Wiiissss ....., mbak Dini cantik banget!" ucap Mei saat melihat penampilan Dini yang sudah berubah.


"Makasih ....., tapi memang aku orangnya cantik cuma nggak pernah bilang-bilang aja!" ucap Dini menyombongkan diri. Tuh kan di ampasin, rugi muji orang kayak Dini.


Jarum jam sudah menunjuk ke angka setengah tujuh, setengah jam lagi orang yang akan makan malam dengannya datang. Dini sudah tidak sabar menunggunya.


Dini duduk di salah satu kursi dan beberapa kali meminum air putih yang sudah ia siapkan, grogi banget.


Ting


Ponselnya yang ia letakkan di atas meja tiba-tiba memunculkan notifikasi pesan masuk. benda tipis yang di bungkus dengan gambar Doraemon itu segera ia sambar dan melihat siapa yang mengirimkan pesan untuknya.


"Nomor nggak di kenal!" gumam Dini, ia mendapat pesan dari nomor nggak di kenal. Hampir saja ia abaikan tapi ternyata rasa penasarannya yang menang.


//Saya peringatkan pada anda, jika saat ini pacar anda sedang dalam masalah, kalau nggak mau terjadi sesuatu dengan pacar anda, datang ke jalan xx no 05, nggak usah bawa teman atau kami akan menghabisinya//


Ha ha ha ....


Setelah membaca pesan itu, Dini malah tertawa terbahak-bahak.


"Ada-ada aja nih orang kalau mau ngeprank orang tuh lihat-lihat!" ucap Dini di sela tawanya.


"Kenapa mbak Dini tertawa kayak gitu?" tanya Mei yang kebetulan berada tidak jauh dari Dini.


"Ada orang yang nge-Prank aku, masak dia bilang nyulik pacar aku, padahal aku kan nggak punya pacar ha ha ha ...!" ucap Dini lagi masih dengan tawanya.


"Emang ya mbak, sekarang itu ada-ada aja jalan modus cuma buat orang lain cemas!" ucap Mei menanggapi ucapan Dini.


Tapi tiba-tiba Dini mengakhiri tawanya saat mengingat sesuatu. Ia jadi teringat dengan dua orang yang bersenjata yang selalu mengikuti Ajun.


"Ajun!"


Dini pun segera berdiri dan menyambar ponselnya.


"Mbak Dini mau ke mana?" tanya Mei saat melihat Dini berlari meninggalkannya.


"Aku ada urusan!" teriak Dini sambil terus berlari, ia menuju ke mobil Ajun dan segera menumpanginya.


Ia mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi menembus ramainya jalanan. Tidak mempedulikan lagi sekitar.


Dari mobil lain tampak seseorang mengawasi gadis itu.


"Dia benar-benar mau merusak mobilku!" gumamnya, pria itu adalah Ajun.


"Dia siapa?" tanya rekannya yang sedang mengantarnya pulang.


"Itu mobilku!" ucap Ajun lagi.


"Siapa yang pakek?"


"Ikuti mobil itu!" ucap Ajun pada lawannya itu.


"Baiklah ...., sepertinya seru!" ucap temannya sambil menambah kecepatan mobilnya mengejar mobil yang di kendarai Dini.


"Dia mau ke mana dengan kecepatan seperti itu!?" ucap Ajun lagi terus mengawasi mobil di depannya.


Mobil Dini pun akhirnya berhenti di daerah yang sangat asing. Alamat yang di tunjuk itu sepertinya sebuah gudang kosong. Tidak ada siapapun di sana, bahkan jauh dari pemukiman.


"Kenapa dia turun di sini?" gumam Ajun lagi sambil mengawasi gerak-gerik Dini.


"Iya ...., ini tempat terpencil!" ucap temannya


"Kita turun saja, dan panggil beberapa orang untuk berjaga-jaga!" perintah Ajun.


"Baik!" ucap temannya dan segera menghubungi beberapa temannya, mau bagaimanapun Ajun adalah orang kepercayaan Rendi jadi ia akan lebih di hormati oleh teman-teman sesamanya. Bisa di bilang jika Ajun adalah senior dan punya wewenang untuk menerima atau memecat beberapa anggotanya.


Ajun dan rekannya itu segera turun dari mobil. Dari kejauhan mereka bisa melihat Dini mulai memasuki gudang yang lama kosong itu. Ajun mempercepat langkahnya dan berusaha untuk menahan Dini, tapi terlambat Dini sudah terlanjur masuk ke dalam.


"Siiirrrrrtttttt !" umpat Ajun, ia tidak bisa bergerak bebas dan gadis kuncir kuda itu mencari masalah.


Dini tidak menemukan siapapun di tempat itu hingga ia terus melanjutkan langkahnya, masuk dan masuk hingga ia menemukannya beberapa orang yang seperti nya sedang menunggu kedatangan Dini, saat Dini hendak muncul dengan cepat Ajun berhasil menarik tangannya.


"Ahhhhh ....!" Dini terpekik dan dengan cepat Ajun membekap mulutnya agar Dini tidak berteriak. Kini tubuh Dini sudah berada di dalam kungkungan Ajun dan bersembunyi di balik tong-tong besar yang sepertinya kosong.


"Suara apa tadi?" teriak seseorang yang sepertinya mendengar teriakan Dini.


"Ayo cepat cari!"


"Baik boss!"


Orang yang lebih dari lima orang itu memeriksa setiap tempat di dalam gudang itu.


***


Di tempat lain, di kafe itu seorang pria sedang duduk menunggu seorang gadis yang akan di jodohkan padanya. Ia duduk di tempat yang sama di mana Dini duduk tadi.


Sudah satu jam ia menunggu tapi Dini tidak kunjung datang.


"Mas ...., minumnya biar saya ambilkan lagi ya?" tanya Mei yang merasa kasihan pada pria itu.


"Dia bilang nggak perginya ke mana?" tanya pria itu.


"Nggak mas, tapi katanya sebentar!"


"Sepertinya dia tidak akan kembali, kalau gitu salam saja ya buat dia! Kapan-kapan pasti bisa ketemu lagi!"


"Iya mas, pasti saya sampaikan!"


Pria itu berdiri dan meninggalkan selembar uang seratus ribuan di bawah cangkirnya. Mei hanya menatap kasihan pada pria itu. Padahal lima menit setelah Dini pergi, pria itu datang, seandainya pria itu datang lebih cepat pasti ia bisa bertemu dengan Dini.


Bersambung


Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya


Happy Reading 🥰🥰🥰