
🌷🌷🌷🌷
Setelah menyelesaikan makan malamnya, Rendi dan Nadin segera kembali ke dalam kamar.
"Aku ke kamar mandi dulu ya mas!" Rendi pun hanya mengangguk, Rendi sudah lebih dulu membersihkan diri, kini ia bisa bersantai di sana.
Nadin masuk ke dalam kamar mandi dengan membawa paper bag yang sengaja di kirim oleh kakaknya.
Rendi duduk di sofa, menopang dagunya dengan tangan sembari menatap layar laptopnya, mengawasi situasi di sekitar tempat tinggal Agra dan keluarga, memastikan tidak ada yang mencurigakan di sana. Layar monitor tak pernah lepas dari pandangannya.
Pengawasan untuk Agra adalah yang paling penting.
Nadin mencuci mukanya dan menggosok gigi, kemudian ia kembali mengamati paper bag yang ia letakkan di depan washtafel.
"Kenapa kakak memaksa sekali?"
Entah kenapa kakaknya bersikeras meminta Nadin untuk memakai baju itu, Ia teringat dengan pesan kakaknya sebelum paper bag itu datang ke kamarnya.
//Awas ya ....., harus di pakai kalau tidak, jangan harap kakak akan menemuimu besok .....//
Itu adalah ancaman Ara dalam pesannya bersama baju itu, Ara sengaja meminta seseorang untuk mengantar gaun itu pada Nadin.
Nadin pun mengambil gaun itu, dan merentangkannya.
"Apa kakak tidak salah? Ini transparan sekali!" tapi walaupun terus menggerutu ia tetap memakainya. Menatap pantulan dirinya di depan cermin membuatnya malu sendiri.
Nadin menatap wajahnya di cermin, menatap bajunya. Berdiri dan memiringkan badannya, menatap pantulan tubuhnya sendiri di cermin sungguh membuatnya takut.
Bukankah ini terlalu berlebihan ....., ini namanya baju apa lagi ...., aku merasa malu sendiri melihat tubuhku yang seperti ini ....
Ia merasa tidak nyaman dengan bajunya yang terlalu transparan itu.
Hehhhh
Nadin menghela nafas dalam, ia memutuskan untuk keluar dari dalam kamar mandi dan segera berlari ke arah tempat tidur tanpa di perhatikan oleh Rendi.
Nadin mengendap-endap, kepalanya yang ia keluarkan terlebih dulu dari dalam kamar mandi, memastikan bahwa Rendi masih sibuk dengan pekerjaannya. Setelah merasa aman, Nadin berjalan mengendap-endap agar tidak menimbulkan suara.
Rendi yang merasa terusik dengan tingkah Nadin, ia mengangkat kepalanya, dan melihat istri kecilnya itu,
Apa yang dia lakukan ....?
Rendi tersenyum, ia meletakkan laptopnya di atas meja, ia berjalan mendekati Nadin yang masih berada setelah perjalanan untuk sampai di tempat tidur.
"Mas ....., kenapa ke sini!" Nadin begitu terkejut saat mendapati Rendi sudah berdiri di depannya, ia memegangi dadanya karena begitu terkejut. Rendi menatap dada Nadin yang terlihat begitu menonjol di balik pakaian trasparannya.
Ada apa dengannya, apa dia sengaja menggodaku dengan baju seperti itu ....
Nadin yang menyadari arah tatapan Rendi segera menutupnya dengan kedua tangannya.
"Mas ...., kenapa melihatku seperti itu?" Nadin bertanya sembari mencoba menyembunyikan lekuk tubuhnya dari tatapan tajam Rendi, Rendi menarik tangan Nadin agar tidak melakukan hal yang sama.
Jangan berfikir bisa lepas dariku malam ini .....
Rendi tersenyum, senyum yang siapin melihatnya akan sangat takut. Senyum penuh kemenangan.
Srrekkkk
Rendi menarik tangan Nadin, ia mengunci tubuh Nadin hingga berputar, Rendi duduk di atas tempat tidur dan Nadin sudah duduk di pangkuannya. Rendi menarik pinggang Nadin hingga mereka begitu dekat. sangat erat.
"Duduk diam di sini ...."
"Tapi kenapa harus seperti ini? Aku bisa duduk sendiri!" Nadin berusaha melepaskan diri dari pangkuan Rendi.
"Jangan bergerak!"
"Kenapa?" tanya Nadin dengan wajah polosnya.
Rendi menatap wajah polos istrinya. Kemudian ia menggunakan jari telunjuknya untuk mengukir sesuatu di sana. Di pipi istrinya.
"Karena kau akan membangunkannya lebih cepat!" Rendi mengarahkan matanya pada benda yang di duduki oleh Nadin, membuat Nadin hampir saja berteriak.
"Ahhhh ..., Ups ....!" dengan cepat tangannya menutup mulut agar tidak menimbulkan suara teriakan yang akan mengusik orang lain.
Rendi pun mendekatkan wajahnya, mengusap pipi Nadin dengan jari-jarinya, menjadi dekat dan semakin dekat.
"Stop ....!" teriak Nadin.
"Jangan teriak, kau membuat orang berfikir aku menyakitimu!" gerutu Rendi.
"Apa yang mau mas lakukan?" tanya Nadin gugup, jantungnya serasa mau meledak oleh perlakuan Rendi yang seperti itu, rasanya sudah seperti mau di hukum pancung saja.
Apa yang ingin ia lakukan, ia bahkan tidak pandai membuat suasana menjadi menyenangkan ....
Kenapa dia tersenyum seperti itu ....? Membuatku takut saja ....
"Yang berguna itu seperti apa?" Nadin menatap curiga pada suaminya itu.
"Mau tidak?" Nadin pun menganggukan kepalanya bersemangat.
Dengan cepat rendi merengkuh tubuh Nadin, menatap dalam pada wajahnya, mendekatkan wajahnya hingga nafas itu mampu menyapu bulu kuduk Nadin. Ia sedikit merebahkan tubuh Nadin dan menyangga punggung Nadin dengan tangan satunya, menciumi leher dan dada atas Nadin,
"Baiklah ...., aku menyerah!" Nadin bangun dan sedikit menjauhkan wajah Rendi dari dadanya dengan kedua tangannya.
"Maksudnya?" Rendi kembali mendekatkan wajahnya, ia menahan bibir Nadin, ia mengusap bibir Nadin dengan bibirnya, mengusap-usapnya dengan lembut, Nadin yang tak mampu mengelak lagi, ia mulai hanyut dalam permainan Rendi, ia merasakan seperti berada di tempat yang oksigennya sangat tipis.
"M-mas..., Kita ke tempat tidur!" Nadin hendak beranjak dari pangkuan Rendi, menurutnya seperti ini membuatnya tidak nyaman. namun, Rendi menarik tangan Nadin dan menahan tubuhnya.
"Kau terlihat begitu menginginkannya ya ...." Rendi tersenyum sengir,
"Bukan seperti itu!"
Dia benar-benar membuatku sebal jika seperti ini, aku kan cuma mau membantunya saja ....
Nadin mengerucutkan bibirnya, kesal dengan kata-kata suaminya itu.
"Lalu?" Rendi tersenyum menggoda, seakan melihat istrinya yang seperti itu begitu menyenangkan.
"Aku akan bersiap!" Nadin begitu grogi, ia seperti menghadapi dosen yang killer saja, Peluh itu berjatuhan membasahi dahinya.
Sudah lama ia tidak berinteraksi secara intens seperti ini dengan Rendi beberapa Minggu membuatnya begitu gugup.
"Iya, Lalu ....?" Rendi memainkan rambut Nadin, ia menggulungnya sesuka hati. Memainkan rambut Nadin seperti ini begitu menyenangkan.
Wangi sekali rambut ini ...., kenapa aku baru menyadarinya .....
Rendi mengendusnya dan menikmati aroma sampoo yang keluar dari rambut Nadin.
"Ya ..., kita tidur!" Nadin tak tahu harus mengatakan bagaimana, tapi ia tahu maksud Rendi, ia cukup malu untuk mengatakan secara terang-terangan.
"Tidur?"
"Bukan seperti itu!"
"Lalu, bukankah sekarang bukan waktunya untuk tidur?" Rendi kembali mengusapkan bibirnya, seakan bibir itu adalah magnet baginya.
"Iya, maksudku tidur yang begitu!" Nadin begitu gugup, sebelumnya ia hanya sibuk menggoda suaminya itu, tapi kini ia harus benar-benar melakukannya. Rasanya sangat aneh, begitu membuatnya sangat bergetar.
"Jangan membuatku bingung!" gerutu Rendi.
"Baiklah ...., baiklah .....!" Nadin bangun, ia menatap dalam pada suaminya.
"Maksudku tidur yang penuh dengan gairah!" mendengar ucapan Nadin, Rendi pun segera mendekat pada Nadin dan merengkuh tubunya, Nadin membulatkan kedua matanya dan tak berkutik saat bibir Rendi tiba tiba mencium dan ********** begitu saja.
"Mas ....." Nadin berusaha untuk bisa mengimbanginya. Rendi sibuk ******* bibirnya, kehangatan bibir pria yang kini menjadi suaminya itu begitu ia rindukan, rasanya sudah lama sekali.
"Ueghh ...., Mas ....." Nadin mencoba menahan suara itu agar tidak keluar, ia begitu malu menyadarinya, tapi Rendi tak menghiraukan Nadin. ia masih sibuk menikmati bibir yang ia rasa begitu manis.
Ia sudah sangat lama menahannya untuk tidak mencium paksa Nadin setelah kejadian itu, ia sudah sangat merindukan ingin menjamah bibir itu lagi. Dan sekarang Nadin sendiri yang menginginkannya.
Rendi merebahkan tubuh Nadin ke atas tempat tidur, dan ia pun mengungkung tubuh Nadin, menopang tubuhnya dengan satu tangan.
"Apa kau yakin?" tanya Rendi. Ia ingin berusaha meyakinkan Nadin. Ia akan memikirkan tentang janjinya pada ayah Roy nanti. yang terpenting sekarang ia harus bisa memiliki Nadin seutuhnya, kemarahan Nadin membuatnya sadar bahwa dia tidak bisa jauh dari Nadin.
"Iya,...!"
"Kau sudah benar-benar siap?" Tanya Rendi dan Nadin lagi-lagi hanya bisa mengangguk.
"Aku akan melakukan tugasku sebagai seorang suami!" Nadin menatap Rendi, hatinya bergemuruh, seakan ia tidak percaya pria dingin ini akan mengatakan semuanya seperti ini. Rendi mengusap wajah Nadin, menusuk-nusuk pipinya dengan jari.
Nadin menggigit bibirnya dengan begitu bingung, ia tidak yakin tapi ia ingin melakukannya. Bukankah hal ini yang di inginkan orang setelah menikah, lalu apa, Nadin meyakinkan dirinya, ia mengangguk pelan.
Rendi tersenyum, ia mendekatkan wajahnya kembali, ia ******* dengan lembut bibir Nadin. Nadin mencoba membalas ciuman itu, pengalaman berciuman beberapa kali dengan Rendi membuatnya sedikit bisa membalas, walaupun tidak bisa selihai Rendi. Entah ia dapat kelihaian dari mana, aku rasa karena naluri kelelakiannya membuat Rendi bisa melakukan semua ini, benar-benar memanjakan Nadin.
**Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan ke author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
Tri.ani5249
Happy Reading 😘😘😘😘😘**