MY BLOCK OF ICE

MY BLOCK OF ICE
Aku ciptakan sendiri deritaku



Aku terbangun dari tidurku saat merasakan hal yang janggal di atas tempat tidurku, ku gerakkan tubuhku, ku raba-raba sampingku,


tapi aku tidak menemukan siapa pun.


Biasanya ada Elan, lalu di mana Elan? Walaupun masih begitu berat, ku paksakan


mataku untuk segera ku buka, rasa kantukku seketika menghilang saat aku tidak


menemukan Elan di sampingku.


Perasaan semalam aku tidur di samping Elan, tapi sekarang Elan di mana?


Aku segera terperanjat, jantungku sudah mau copot, hal-hal menakutkan mulai berkelebat di pikiranku.


“Elan ….!” Pekikku, perasaanku begitu kalut.


Pemikiran yang tidak-tidak tentang Elan mulai hinggap di pikiranku. Rasa trauma


atas sebuah penculikan sering kali membuatku takut, jika hal itu juga akan terjadi pada putraku.


"Astaga ...., Elan jangan buat bunda takut ....!"


Ku edarkan pandanganku ke seluruh ruangan, aku turun dari tempat tidur dan segera ku ikat rambutku asal.


Tapi langkahku terhenti saat aku melihat Elan di bawah, tertidur di kasur lipat itu. Dia tertidur pulas bersama ayahnya.


“Mas Rendi!” pekik ku lagi.


"Kenapa mas Rendi bisa di sini? Sama El!"


Ku lihat jam yang menggantung di dinding jarum jam masih menunjuk ke jam tiga pagi, sejak kapan dia pulang dan bagaimana?


“Bagaimana mas Rendi bisa masuk?”


seingat ku, aku sudah mengunci semua pintu, seharusnya mas Rendi tidak bisa masuk. Tapi


sepertinya aku telah lupa, aku menikah dengan seorang Narendra Rendiansyah,


apapun bisa ia lakukan. Termasuk mendapatkan hatiku kembali.


Ku dekati pria dingin itu, dia sedang tertidur


pulang bersama Elan. Aku duduk di samping mereka, ku pandangi wajah dingin yang


tenang itu.


Wajahnya begitu tampan, tanpa ku sadari tangan ini sudah menyentuh


pipinya. Pipinya begitu lembut, wajahnya yang tenang menampakkan betapa lelahnya


dia.


“Maafkan aku Mas …, aku yang salah …, aku bersalah karena tidak  mendengarkan mu dulu …!”


air mataku tanpa terasa mulai menetes. Aku benar-benar bodoh, setelah apa yang kami


alami bersama, kenapa aku baru menyadarinya sejauh ini, akulah yang menciptakan


sendiri semua derita ini.


“Aku tahu Ajun tidak pernah berbohong, tapi


seharusnya aku lebih tahu kalau kau juga tidak mungkin menghianati ku!”


Mataku kemudian tertuju pada bibir itu, bibir yang selalu berhasil membuatku tak mampu menolak. Jariku mulai mengabsen setiap inci


wajahnya, wajah tegas yang selalu membuatku terpukau.


Ku ambil ponselku yang berada tak jauh dari sana, ku abadikan moment indah itu, dua orang yang paling aku cinta berada di tempat yang sama dan berbagi oksigen yang sama. Ku jadikan sebagai layar wallpaper ponselku.


Ku ambil selimut dan dengan perlahan selimuti tubuh itu, kembali ku tatap bibir itu, entah magnet seperti apa yang telah menarik


tubuhku hingga membuatnya semakin dekat. Ku kecup bibir itu, cukup lama ku


terdiam di atas bibirnya, merasakan nafas tenangnya.


Sudah jam 4, aku putuskan untuk tidak kembali tidur. Aku segera mencuci muka dan melaksanakan sholat subuh, lalu ku sibukkan diriku di dapur hingga matahari sudah menampakkan sinarnya kembali.


Terlalu asik di dapur membuatku lupa jika di dalam kamar ada Mas Rendi yang harus segera pergi bekerja. Walau bagaimana pun Mas Rendi tetap gila kerja, dia tidak mungkin bangun kesiangan kalau semalam dia tidak mengajak bermain Elan.


Ku lihat jam sudah menunjuk ke angka 7. Seharusnya mas Rendi sudah bersiap-siap. Segera ku siapkan sarapan di meja dapur dan meninggalkannya ke kamar. Ku lihat mas Rendi


masih tertidur pulas dengan baby El. Ku goyangkan tubuhnya agar terbangun.


Aku terpekik saat tanganku di tarik olehnya, seakan jantungku berhenti berdetak saat ku tatap matanya. Mata kami saling bertemu,


lagi-lagi ia mencuri ciumanku tapi aku juga tak mampu menolaknya. Tubuhku terlalu lemah untuk bisa menolaknya. Aku tidak bisa membohongi diriku sendiri jika aku mencintai suamiku.


Tubuhku begitu menghangat saat itu, aku ingin terus merasakan sentuhan itu. Sentuhan yang di berikan oleh mas Rendi.


Bisakah tetap seperti ini lebih lama lagi, aku merindukanmu mas Rendi, aku sangat merindukanmu ....


Bersambung


Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya


Follow Ig aku ya


tri.ani.5249


Happy Reading 😘😘😘😘